
^^^Dewasa itu tak melulu soal usia. ^^^
^^^Berada pada range usia yang sama belum tentu cara menghadapi masalah juga akan sama. ^^^
Dika sama Rina lagi ngapain sih?
Sebegitunya Rista pengen deketan sama Dedi, ðŸ¤
...*H A P P Y R E A D I N G*...
"Dik, adik lu nggak mau gue anter ke rumah Om Rudi."
"Terus pengennya gimana?"
"Dia bilang pengen di rumah, tapi lu tega apa ngebiarin dia sendiri?"
"Ya kan ada kamu. Nggak usah balik kantor deh, temenin dia tolong ya, sampai aku pulang."
Damn it!! Dedi hanya mampu mengumpat dalam hati. Gue mesti gimana ya Tuhan. Gue jujur nggak ya? Tapi kalau jujur jangan-jangan Dika bakal ngelarang gue buat deket sama adiknya. Kalau nggak jujur Rista yang bahaya. Ya Tuhan, cobaan-Mu berat sekali pada hamba.
"Ded, Dedi. Kamu masih dengerin aku kan?"
"Iya, iya. Masih ada."
"Kamu nggak lagi cari alasan buat ngehindarin Rista kan? Atau jangan-jangan kamu nggak serius lagi sama dia."
Astaga, gue pengen nolak tu karena gue saya banget sama adik elu to**l. Dedi hanya mampu mengacak rambutnya frustrasi. "Gue sayang beneran sama Rista Andini calon kakak ipar, jadi oke calon adik iparmu yang baik hati tidak sombong dan rupawan ini akan stay di istana kamu sampai kamu pulang. Puas!"
"Hahaha, yakin deh. Nggak kebayang kalau kita jadi ipar," ucap Dika di sela tawanya.
"Ya nggak usah dibayangin. Beres."
"Oke deh oke. Nitip para wanita ya. Masih banyak banget yang harus aku kerjain. Makasih banyak ya Ded."
"Thanks kepercayaannya."
"Sama-sama."
Dedi menatap nyalang ponsel di genggamannya. "Ya Tuhan, segera datangkanlah kantuk saat kewarasanku mulai kabur. Aamiin..."
"Kamu kenapa Ded?" tanya Rina yang tiba-tiba muncul.
Dedi terkesiap. "Lu tadi denger apa?" bukannya menjawab, Dedi malah balik bertanya.
Rina menggeleng. "Barusan banget aku datengnya, jadi nggak sempat denger apa-apa."
Rista datang tiba-tiba dan langsung duduk di samping Dedi.
"Gimana tadi Kak, udah jinak?"
Dedi terbelalak mendengar pertanyaan Rista.
"Apanya Ris yang jinak?" tanya Rina.
"Pel..., hmfftt."
Cepat-cepat Dedi membungkam mulut Rista.
__ADS_1
"Eemmphh...!" Sekuat tenaga Rista menyingkirkan tangan Dedi dari mulutnya. "Kak. Kamu apa-apaan sih!" protes Rista setelahnya.
"Iya. Emangnya apaan yang belum jinak?" lanjut Rina yang masih penasaran.
"Emm, kamu..." Dedi benar-benar dibuat frustrasi. "Kamu siap-siap Rin ya," ucap Dedi sambil cepat-cepat menarik tubuh Rista dan membawanya menjauh.
"Kalian mau kemana?!" tanya Rina yang ditinggal begitu saja.
"Bentar...!" teriak Dedi yang terus membawa Rista menjauh.
"Kenapa sih Kak...?" Rista masih berusaha menyeimbangkan langkahnya dengan langkah panjang Dedi.
Tepat di tepi kolam Dedi berhenti. Ia membawa Rista ke hadapannya dan memegang erat kedua pundaknya.
"Ta, look at me..." Dedi membawa wajah Rista untuk mendongak menatapnya. "What do you think on me?"
Mata keduanya saling menatap. "Aku ini siapa untuk kamu?" Dedi melanjutkan tanyanya.
"Kak..." Rista memutuskan kontak matanya dan menatap ke sembarang arah.
"Hey..." Dedi kembali membawa wajah Rista untuk menatapnya. "Answer my question honey." Ya Tuhan, apakah benar jika aku membuat Rista mengerti tentang batasan ini?
"Apa?"
"Kamu pacar aku, benar?"
Rista mengangguk.
"Hubungan macam apa sih yang kamu mau?"
Rista memutar tubuhnya dan kini ia berdiri membelakangi Dedi. "Aku milik kakak dan kakak milik aku..."
"Ris, pinjam mukena!" teriak Rina dari dalam.
"Ambil aja di lemari Kak!" jawab Rista juga dengan berteriak.
"Kamu mau sholat juga?" tanya Dedi dengan melepas kedua tangan yang tertaut di depan perut ramping Rista.
Baru saja terlepas, namun Rista segera kembali menautkannya. Dedi paham dan kembali memeluk Rista dari belakang.
"Aku lagi datang bulan Kak..."
Dedi menghela nafas. Tuhan, bagaimana caranya aku memberi tahu pada dia, terkait jarak yang harus tegas dibuat antara pria dan wanita.
"Kamu sudah tahu kalau ada batasan antara pria dan wanita sebelum menikah?"
"Ya kalau belum nikah tinggalnya sendiri-sendiri, kalau udah nikah tinggal bareng," jawab Rista lugas.
"Dan emang nggak boleh serumah sayang..." Dedi mencium singkat pipi kiri Rista.
"Emangnya kenapa?" Rista perlahan menoleh ke kiri dan kini wajah mereka berhadapan dengan jarak yang sangat dekat.
Dedi menyambar bibir Rista. "Pelukan ciuman adalah dosa jika kita lakukan sebelum menikah, tapi akan jadi ladang pahala jika kita sudah bersaksi untuk bersama di depan Tuhan," kata Dedi setelah melepas pagutannya.
Dedi menelusupkan wajahnya di ceruk leher Rista. Awalnya hanya menghirup aroma tubuhnya, namun kemudian bibirnya juga ikut mendarat di sana.
"Berarti kita sekarang..." Rista menggantungkan ucapannya.
Dedi mengangguk. "Kita lagi nabung dosa," kata Dedi yang makin ganas bermain di leher Rista.
Rista membalik tubuhnya. Kini keduanya berhadapan. "Bisa diampuni nggak?"
__ADS_1
"I don't know..." Dedi mulai tak waras, terlebih Rista sama sekali tak menolaknya. "Ta..." suara Dedi terdengar berat. Ia menarik wajahnya dan menatap lekat wajah gadis kecil di hadapannya.
Rista balas menatap Dedi. Matanya yang sipit membuat Dedi menggila. Dedi membawa Rista untuk duduk di kursi santai yang tak jauh dari sana. Mengangkat gadis kecil ini untuk duduk di pangkuannya.
"Kak, ini..." tanya Rista saat menemukan sesuatu yang keras menyentuh bagian bawah tubuhnya.
"Ssttttt... Jangan berdiri." Nafas Dedi terdengar berat. "Itu adalah bagian tubuh aku yang sangat menginginkan kamu."
"Maksudnya?"
"Ta, kita nggak boleh selalu berdua, karena dia bisa saja nyakitin kamu sekarang."
"Kalau yang Kakak bilang suka ngamuk?" tebak Rista.
Dedi mengangguk. "Benar."
"Cara ngejinakinnya gimana?"
"Cukup dengan menyapa dan mengajaknya bermain." Dedi memejamkan mata dengan mulut terkatub segera. Ia baru sadar kesalahan yang baru saja diucapkannya.
"Ta..." Dedi harus melawan egonya saat merasa tangan Rista perlahan turun.
"Aku cuma mau bantu Kak..."
Dedi menggeleng. "Ini adalah dosa besar Ta..."
"Lalu?"
Dedi menghela nafas beratnya. "Yang bisa kita lakukan sekarang adalah berusaha agar dia tak banyak bertingkah." Dedi kembali meletakkan dagunya di ceruk leher Rista. "Ta, kamu ngerti kan kenapa aku suka banyak alasan kalau harus berdua sama kamu?"
Rista diam.
"Karena aku terlalu menginginkan kamu. Kamu ngerti ya?" ucap Dedi lembut.
"Berarti kita nggak boleh ketemu?" tanya Rista yang terdengar kecewa.
"Nggak gitu juga sayang, kita cuma harus sedikit aja ngatur jarak."
Hanya helaan nafas yang menjadi jawaban Rista.
"Dan satu lagi..., jangan pernah bahas ini sama orang lain ya. Itu namanya privasi. Sesuatu yang harus kita tutup dari orang lain. Ngerti?"
Rista mengangguk.
Dedi memajukan wajahnya dan membawa Rista untuk menghadapnya.
"Dosa Kak..." cegah Rista saat Dedi hendak meraup bibirnya.
Dedi mundur, namun sedetik kemudian Rista justru menahan tengkukknya dan memimpin c**man dalam antara keduanya. Sepertinya mereka lupa akan dosa yang baru dibahasnya.
Dari balik jendela Rina merasa dirinya harus muncul dengan segera.
"Dedi, Rista!" Rina sengaja berteriak agar dua sejoli ini menyadari kedatangannya.
Benar saja, Dedi dan Rista langsung melepaskan diri kemudian bangkit dan berlagak mencari sesuatu yang sebenarnya entah apa.
Rina tersenyum. "Jalan sekarang?"
"I, iya. Aku siapin mobil." Dedi cepat-cepat berjalan keluar meninggalkan Rista dan Rina di sana.
TBC
__ADS_1