
HAPPY READING
“Kami permisi dulu…” pamit Rina pada Nuke.
“Iya Nona. Terimakasih banyak karena sudah bersedia mampir di toko kecil kami,” ujar Nuke dengan hormat.
“Saya yang berterimakasih karena saudari Nuke mau memasarkan produk kami…” balas RIna berusaha merendah.
Saat mengantar Hana tadi, kebetulan Nuke juga baru tiba di tokonya, sehingga mereka sempat berbincang dan menceritakan alasan keterlambatan Hana sebagai wujud tanggung jawab Rina.
Akhirnya Hana juga memperkenalkan Rina sebagai istri dari bos Surya Group sehingga membuat Nuke paham mengapa Hana harus memenuhi permintaan wanita ini. Selanjutnya ia langsung segan seketika karena tokonya dikunjungi orang besar seperti Rina.
“Hana, kita harus bicara sebentar.”
Nuke masih berdiri di depan pintu menunggu Hana yang baru saja mengantar Rina ke depan..
“Iya Mbak…” Hana langsung mematuhi perintah atasannya dan mengikuti Nuke masuk lagi ke dalam ruangannya.
“Pasti Hana kena teguran,” gumam Haning namun diacuhkan oleh -rekan-rekannya. Hal ini tentu saja membuat wanita ini tak senang karena merasa semua begitu membela Hana.
Sementara di dalam ruangan, Hana tak langsung berbincang dengan Nuke. Kedua wanita ini duduk di dua kursi yang berbeda dalam kondisi sama-sama diam.
“Maaf Mbak, Mbak Nuke ingin membahas apa ya memanggil saya?” tanya Hana akhirnya.
Nuke sesekali menatap karyawannya ini sembari menggerak-gerakkan pulpen di tangan.
“Sebenarnya kamu punya niat apa bekerja di tempat saya?” tanya Nuke degan wajah seriusnya.
“Saya tidak punya niat apa-apa Mbak. Saya hanya ingin bekerja untuk bertahan hidup. Tapi untuk pagi ini maaf sekali saya harus datang terlambat karena menuruti keinginan Nona Rina yang tengah mengidam,” jelas Hana.
“Bukan, bukan itu maksud saya. Tapi dengan latar belakang dan koneksi kamu, terlalu tak pantas kamu bekerja di tempat seperti ini dengan gaji yang sangat kecil pula.”
“Tapi saya benar-benar senang bekerja di sini Mbak.”
“Tapi saya merasa tak pantas mempekerjakan kamu Hana. Saya benar-benar tak nyaman dengan pak Andre yang ternyata adalah sekertaris utama Surya Group. Ditambah kamu juga kenal dengan baik istri dari Bos Surya Group yang baru saya sadari tadi.”
“Tapi saya dan Andre…” Hana menggigit bibirnya karena
__ADS_1
fakta yang sebenarnya tak ingin dibahasnya ini. “Kami hanya mantan atasan dan bawahan,” lanjut Hana akhirnya. Ia tak sepenuhnya berbohong bukan, karena itu adalah faktanya. Untuk masalah hubungan pribadi, sekuat tenaga masih ia rahasiakan karena tentunya ia tak mau membuat kebohongan lagi.
Namun beda bagi Nuke. Meskipun Hana tak mengakui hubungannya dengan Andre, namun semua juga sadar akan kedekatan diatara mereka yang tak biasa. Bahkan jika boleh jujur, terbesit di pikiran Nuke bahwa Hana merupakan wanita Andre. Terserah bagaimana menafsirkan dugaan ini, yang jelas entah itu resmi atau tidak, ia yakin ada hubungan special antara mereka berdua. Nuke tak naïf, karena skandal semacam ini sering kali terjadi di kalangan orang-orang besar. Andre punya uang, kekuasaan, di tambah ketampanan. Dan Hana punya raga yang pantas bersanding dengannya.
“Hana, saya harap kamu mengerti bagaimana kondisi saya.”
Hana menghela nafas berkali-kali, memikirkan cara yang paling tepat untuk menyikapi masalah ini. “Apa Mbak Nuke ingin saya berhenti dari sini?” tanya Hana setelah berhasil mengumpulkan segenap keyakinannya.
Nuke membalas tatapan serius Hana. “Tidak sepenuhnya, tapi saya harap kamu tahu kegundahan yang saya rasa karena saya memiliki pegawai seperti kamu.”
Kepala Hana tertunduk perlahan. Ia memang tak akan mati kelaparan jika ia berhenti bekerja dari toko ini. Tapi bagaimana ia bisa membuktikan diri jika ia punya kemampuan meski tanpa Andre. Karena hanya mempertahankan pekerjaan semacam ini ia bahkan tak bisa.
Hana kembali mengagkat wajahnya dan berusaha mengerti jika ia berada di posisi Nuke. “Kalau sudah tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, saya mau permisi Mbak…”
Nuke mempersilahkan Hana hanya dengan gerakan kepala. Hana lantas bangkit dan pergi meninggalkan ruangan Nuke.
Di luar, ia tak langsung bergabung dengan rekan-rekannya. Ia langsung ngeloyor ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Ia memang tak menyalahkan Nuke. Bahkan mungkin jika ia adalah Nuke, ia akan mencak-mencak sejak awal karena kecewa dan merasa dibohongi.
“Aku harus gimana? Kenapa juga aku harus terjebak cinta dengan orang kaya…” lirih Hana sambil menatap bayangan dirinya di cermin..
Hana terkejut dengan kemunculan Haning yang tiba-tiba.
“Mbak…” sapanya dengan menarik paksa kedua sudut di bibirnya.
“Kenapa nangis? Apa orang seberuntung kamu masih ada celah untuk meneteskan air mata?” sarkas Haning.
Hana mengeringkan kedua tangannya dan menatap wanita yang sering sensi terhadapnya ini.
“Mbak Haning mau ke kamar mandi?” tanya Hana dengan ramah.
“Enggak. Aku cuma ingin mencuri resep keberuntungan dari kamu saja,” ujarnya seenak hati.
“Saya permisi Mbak…” Hana tak ingin berdebat. Menghindari Haning sepertinya adalah pilihan yang paling tepat.
Saat Hana hendak melewati Haning, tanpa diduga wanita ini justru menahannya. “Kalau ada masalah itu cerita, jangan dipendem sendiri. Siapa tahu aku bisa bantu nertawain…” ujar Haning masih tanpa simpati.
Hana menatap serius wanita yang masih melajang diusia menjelang 30 tahun ini. “Nanti malam kita jalan bareng ya kalau Mbak nggak keberatan?”
__ADS_1
“Dalam rangka apa?” tanya Haning dengan mata memicing curiga.
“Entahlah, tapi aku ada uang kalau untuk sekedar mentraktir makan…” jawab Hana.
Haning melepaskan cekalannya. “Oke. Cepet sana kerja.”
Hana melewati Haning dan berniat bergabung dengan kedua rekannya yang lain. Ia tak tahu bagaimana nasibnya setelah hari ini, yang jelas ia tak mau pergi dengan meninggalkan kesan buruk termasuk pada Haning yang selama ini sering terlibat masalah dengannya.
“Kamu kenapa?” tanya Risma saat melihat wajah Hana murung begitu bergabung bersama mereka.
“Nggap apa-apa, cuma ngantuk saja,” jelas Hana dengan senyum yang terlihat sekali dipaksa.
“Emang semalem kamu ngapain?” tanya Eka sambil mencatat pesanan masuk.
“Aku mulai sekitar jam dua aku sudah berjibaku dengan tepung telur dan gula untuk memenuhi keinginan Nona Rina yang sedang ngidam.”
“Kok tumben manggilnya Nona, biasanya Rina aja?" kaget Risma karena ia tahu Rina yang tadi mengantar Rina adalah orang yang sama dengan yang beberapa kali ditemuinya.
“Iya. Rina yang sangat cantik dan berhati malaikat itu adalah istri dari pemilik Surya Group.” Hana merasa sudah waktunya ia membongkar masalah ini dengan rekan-rekannya.
“Apa?!”
Risma dan Eka begitu serempak mengungkap keterkejutannya. Mereka sempat beradu pandang sebelum serempak melempar pandangan kepada Rina.
“Kamu nggak salah?” tanya Eka dengan mata yang masih membulat sempurna.
Hana menggeleng dengan senyum yang terlihat hambar. “Makanya aku nggak pernah bisa nolak permintaannya meski aku sudah tak ada hubungannya dengan perusahaan mereka lagi.”
“Ya kamu nggak ada tapi Andre…”
Hana meringis kala Risma secara spontan berceletuk.
“Jadi benar kamu dan Andre ada hubungan special?” tanya Eka yang dalam beberapa waktu terakhir sangat penasaran masalah ini.
Inilah istimewanya otak manusia, meski keterangan belum lengkap tapi manusia sudah bisa menarik kesimpulan.
Bersambung…
__ADS_1