
Temen-temen, maafin Senja ya, soalnya ini kan ganti HP ceritanya, dan mau log in sempet nggak bisa, jadi bolong-bolong deh updatenya.
Untung akhirnya bisa pake PC, jadi Rina dan Dika bisa lanjutin deh, ehm, ehmnya.
xexexe
*HAPPY READING*
Di dalam ruangan minimalis ini, Dika dan Rina masih berpacu untuk menuntaskan hasrat yang menuntut untuk segera dituntaskan. Mereka tak lagi peduli terhadap setting tempat lokasi kejadian, yang penting ada mereka berdua itu sudah lebih dari cukup untuk menyelesaikan segalanya.
Namun tiba-tiba Rina merasa ada yang aneh dengan dirinya. Ia segera menahan dada Dika, agar sedikit memberikan jarak pada keduanya.
“Sayang, gempa, ya ampun,” panic Rina saat merasakan getaran di tempat mereka.
“Gempa lokal sayang,” balas Dika yang masih santai melakukan aktivitasnya. Ia sama sekali tak menggubris kepanikan istrinya dan terus saja memompa.
Rina masih berusaha melawan.
“Astaga, ayo keluar.”
“No way. Gak bisa,” tolak Dika tanpa menghentikan aktivitasnya.
“Bahaya sayang.”
Tina-tiba Dika langsung menghentikan gerakannya.
“Lebih bahaya kalau kamu keluar dalam keadaan telanjang.”
Dengan cepat Dika kembali pada aktivitas yang sempat terjeda. Rina masih berusaha mendorong suaminya namun sama sekali tak membuatnya berhenti memompa.
“Gedung inih, punyah, system pangamanan gempah, jadih, ggak akan langsung roboh, kalau hanya begini sajah,” ucap Dika dengan nafas tersengal karena ia sama sekali tak menghentikan atau mengurangi tempo
gerakannya.
“Say, hmmmbb….”
Dika segera membungkam mulut istrinya dengan ciuman. Ia tak ingin Rina terus mengacau konsentrasinya yang akan menghambat pelepasannya. Dia terus menyerang berbagai titik lemah istrinya ini hingga kepanikan yang sempat muncul berubah menjadi desahan dan erangan yang bersahutan dari kedua anak manusia yang tengah memadu cinta.
“Sayangh, jangan ditahan…” ucap Dika di sela nafasnya yang ngos-ngosan.
Rina memang suka ngeri saat Dika mengajaknya beradegan dewasa di kantor seperti ini. Ia takut akan ada yang mendengar desahan mereka dan lebih parahnya lagi jika ada yang memergoki mereka. Meskipun keduanya sudah sah sebagai suami istri, namun adegan seperti ini bukanlah hal yang layak dikonsumsi oleh public.
Dika tak kehabisan cara. Ia terus menyerang istrinya hingga suara yang ia inginkan keluar juga. Rina menyerah. Ia tak akan pernah bisa melawan Dika dalam hal apapun. Dan akhirnya percintaan mereka berakhir setelah lenguhan panjang dan lunglainya tubuh mereka secara bersamaan. Dengan tubuh bermandikan keringat, mereka saling berpelukan.
“Love you sayang.”
Dika mencium kening istrinya dalam.
“Gempanya udah kan?” tanya Rina yang juga dengan nafas ngos-ngosan.
__ADS_1
“Udah sayang. Tugas kamu sekarang tinggal diam dan menemaniku tidur sejenak.”
“Tapi sayang…”
“Aku nggak mau dibantah. Kamu tinggal merem dan diem saat aku peluk.”
Rina tahu betapa padatnya jadwal Dika hari ini. Bukan salah Dika juga untuk mengajaknya bercinta di saat seperti ini. Dika mau Rina mau, dan ini memang kebutuhan biologis yang sudah sepantasnya untuk mereka penuhi selagi mereka punya pasangan yang halal seperti ini..
Rina sempat melihat mata Dika yang sudah terpejam, dan ia pun turut memejamkan mata kemudian.
***
Dika sudah rapi dengan setelan jasnya, sementara Rina masih bergelung dengan selimutnya. Dika segera bergegas meninggalkan Rina, setelah sebelumnya sempat mencium kening istrinya yang tengah terlelap.
Andre sudah bersiap saat Dika muncul dari ruang istirahatnya.
“Yang anda minta sudah bersiap di depan ruangan ini,” ujar Andre saat Dika baru saja menutup pintunya.
“Minta mereka masuk.” Dika segera duduk di kursi kebesarannya.
“Baik…”
Andre segera keluar dan kembali masuk bersama dua orang yang dimaksud sebelumnya.
“Tugas kalian hanya berjaga di depan pintu ruangan saya. Jangan izinkan siapapun masuk ke ruangan ini selama saya tidak ada. Mengerti?”
“Dan satu lagi. Jika istri saya keluar, tolong kalian kawal tapi jangan terlalu dekat. Istri saya tidak suka. Paham?”
"Paham Pak.”
“Oke, go on.”
Kedua orang tersebut keluar dan mulai berjaga di depan pintu.
“Maaf Pak, sudah waktunya,” ucap Andre setelah memastikan waktu dari jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Andre mengernyit saat Dika belum juga bergerak dari tempatnya.
“Berikan kemanan berlapis untuk istri saya. Saya nggak pengen kecolongan dan sampai terjadi apa-apa sama Rina.”
Dika bangkit setelah menyelesaikan ucapannya. Ia berjalan dengan Andre di belakangnya. Saat hampir menjangkau pintu, Andre berjalan terlebih dahulu untuk membuka pintu, dan kembali berjalan di belakang Dika
setelah menutup pintunya. Sambil berjalan ia mulai menghubungi seseorang untuk melaksanakan perintah Dika.
Dika sebenarnya tak menginkan pertemuan bisnis ini, namun sepertinya mereka kekeh sekali. Dika tak ingin melanjutkan persaingan ini, karena sudah terlalu lama benteng ini dibuat. Sejak mendiang
papanya masih ada, hingga kini ia telah menjadi generasi kedua.
“Siapa saja yang datang kali ini?” tanya Dika sambil berjalan dengan gagahnya.
__ADS_1
“Ada Galih Raharja, dan Raihana juga.”
“Rio?”
“Galih dan Rio masih belum bersedia bergabung sampai sekarang,” jelas Andre.
Dika mengangguk. Di saat tak ada perusahaan manapun yang bersedia menerimamu, akhirnya kamu pulang dan berjuang bersama papa kamu.
For your information, Hana memang tidak dijebloskan ke dalam penjara dengan berbagai tuduhan yang dilayangkan padanya. Hal ini bukan karena apa-apa namun murni karena Rina yang terlalu baik saja dan terus memohon pada suaminya.
Namun sebagai gantinya, Dika memblack list nama Hana dan membuat gadis ini tak diterima untuk bekerja di perusahaan mana pun. Hingga akhirnya ia kembali ditarik oleh Galih untuk berkiprah di perusahaannya yang tengah berada di ujung kehancuran.
Saat tiba di ruang pertemuan, Dika melawati Galih dan dua orang yang bersamanya begitu saja. ia kemudian duduk di tempat yang khusus di sediakan untuk dirinya.
“Apa kabar Pak Galih…” sapa Dika tanpa menanggalkan rasa hormatnya pada orang yang lebih tua darinya.
“Seperti yang kamu lihat.”
Dika masih setia dengan wajah datarnya. Ia merasa rasa sungkannya tak perlu ditunjukkan di depan orang seperti Galih ini.
Oke. Kamu mau jenis permainan seperti apa?
“Kenapa kamu diam saja? apa begini cara kamu bersikap dengan orang yang lebih tua.”
Dika masih diam saja. Ia sudah hafal karakter Galih yang satu ini. Memancing lawan kemudian dijatuhkan jika umpannya sudah termakan. Dan Dika tak berminat sedikitpun untuk memakan unpan ini. Jadi dia memilih diam agar Galih memakan balik umpan yang dia pasang sendiri.
Dan benar saja, Galih mulai emosi saat Dika terlihat begitu tenang di hadapannya.
“Sebenarnya mau kamu apa anak muda?” Galih berusaha menjaga intonasinya agar tak naik.
“Maksud Pak Galih?” akhirnya Dika mengeluarkan suaranya untuk bertanya.
Galih menghela nafas.
“Kamu sudah mengambil Rio dari saya, sekarang kamu memblokir akses Hana untuk dapat masuk dan mencari perkerjaan di perusahaan lain, selanjutnya apa? Kamu ingin mengakuisisi persahaan saya?”
“Maaf Pak, tapi Rio yang datang kepada saya, bukan saya yang memintanya. Dan untuk masalah Hana, yang dia lakukan adalah tindakan criminal. Seharusnya ia dipenjara, namun saya masih berbaik hati
dengan membiarkannya bebas.”
"Kriminal dari mana? Apa ada yang dirugikan
di sini?”
Dika menghela nafas, orang tua ini boleh juga.
“Lalu menurut anda Hana ini tipe apa?”~~~~
TBC
__ADS_1