Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Orang Besar


__ADS_3

Ada yang kangen crazy up?


HAPPY READING


Andre benar-benar tak nyaman berlama-lama di kosan Risma. Mau marah juga percuma, karena Hana sudah terlanjur pernah tinggal di sana. Akhirnya kini ia memaksa untuk membawa Hana serata ketiga rekannya untuk makan malam di luar saja.


Semula hanya ada Lutfi pria yang muncul di dekat Hana, namun ternyata ada satu lagi yaitu Bayu yang rupanya juga cukup dekat dengan Hana. Meski di serang cemburu pada awalnya, namun Hana berhasil meyakinkan Andre jika tak terjadi apa-apa diantara mereka.


“Wah, jadi malu saya…” ujar Lutfi saat ia merasa tak nyaman bersama empat orang yang diam saja sejak mereka tiba di tempat makan mewah yang dipilih Andre untuk acara malam ini.


“Kenapa Luth?” tanya Hana yang sejak tadi tak berani bergeser dari samping Andre yang sebenarnya sudah kembali tenggelam dalam pekerjaannya.


“Ya kita memperlakukan kamu seperti duafa, nggak tahunya kamu calon istri orang besar seperti pak Andre ini,” jelas Lutfi melanjutkan ucapannya.


Merasa namanya di sebut, Andre segera mengalihkan sejenak pandangannya dari pekerjaan yang tak pernah membiarkannya bersantai barang sejenak.


“Kita sama besar pak Lutfi, hanya saja saya mungkin sedikit lebih muda dari Anda,” jawab Andre dengan canda.


Alhasil ucapan Andre ini berhasil mencairkan kebekuan yang sempat menyelimuti mereka semua yang ada di sana. Awalnya mereka mengira Andre adalah orang yang kaku dan tak bisa bercanda, terlebih karena saat tiba di kosan tadi Andre nampak seperti berselimut emosi.


Sambil menunggu pesanan datang, mereka mulai bercengkerama membangun keakraban.


Benar yang Andre katakan, diantara mereka berlima ialah yang paling muda. Memang apa yang ia capai tak bisa dipandang sebelah mata, namun usianya bahkan belum genap dua puluh lima, dimana pada usia ini pada umumnya seseorang baru memulai karirnya. Sedangkan ia bahkan bisa dikatakan di puncak karir dan bahkan punya banyak bisnis sampingan diluar pekerjaan utamanya.


Karir Andre memang mulus yang tak sejalan dengan kehidupan pribadinya. Tapi jika menilik apa yang ia capai di usia ini, Andre masih tergolong aman dari buaian gemerlap dunia meski nyatanya ia hampir menjadi papa di luar ikatan pernikahan dengan Hana.


“Nah ini dia…” Lutfi menyambut bahagia pramusaji yang mengantarkan nasi liwet lengkap pesanan mereka.


“Pak Dosen ini semangat sekali kalau urusan makan,” ejek Risma melihat kelakuan rekannya.


“Ya nggak apa-apa lah, mumpung ada donator…” jawab Lutfi santai.


Andre tertawa lebar menanggapi ucapan Lutfi. Kelima orang ini mulai mengambil makanan untuk dirinya. Kecuali Andre tentunya. Ia masih sibuk dengan dunianya meskipun raganya ada di sana. Ia hanya sesekali menyahut saat ngobrol namun akhirnya ia akan kembali lagi pada pekerjaannya.


“Sayang, makan dulu ya…” ujar Hana saat melihat Andre yang sejak tadi masih terlihat sibuk dan mengacuhkan makanannya.


“Kamu aja duluan,” balas Andre dengan hanya melihat Hana sekilas. Tak lupa ia juga menunjukkan layar gadgetnya yang Hana tahu benar apa isinya.


Karena tak ingin Andre menunda makannya, Hana memutuskan untuk mengambil wadah dan memasukkan beberapa menu untuk Andre makan sekarang. “Aaa…”

__ADS_1


Andre tersenyum samar sebelum membuka mulutnya untuk menerima suapan Hana.


“Sepertinya Hana sudah sangat luwes ya melayani pak Andre, kenapa nggak langsung nikah aja,” celetuk Lutfi tiba-tiba.


“Uhuk…” Hana menutup mulutnya untuk meredam batuk yang tiba-tiba menyerangnya. “Uhuk, uhuk, uhuk…”


Setelah mulut tertutup bukannya berhenti batuknya malah menjadi.


Andre terpaksa meletakkan gadget di tanganya untuk membantu Hana yang masih belum bisa meredakan batuknya. Ia mengambil gelas berisi air putih kemudian mengusap-usap punggung Hana kala ulurannya diacuhkan.


“Sayang, are you okay…” tanya Andre yang terlihat begitu peduli pada kekasihnya ini.


Hana menggerakkan tangannya seakan berkata tak apa-apa, namun batuknya belum juga mereda.


Lutfi menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena merasa pertanyaannya yang membuat Hana tersiksa. Tapi jujur ia tak tahu apa yang salah, sehingga ia mencoba mencari jawabannya dengan menatap Risma dan Bayu yang berada di sampingnya. Namun kedua orang ini hanya membalasnya dengan tatapan datar tanpa makna.


Saat uluran Andre baru saja Hana terima, tiba-tiba ponselnya berdering kencang. Setelah melihat siapa yang sekarang menghubunginya, ia langsung pamit untuk menerima panggilan itu di luar ruangan.


Setelah Andre keluar, batuk Hana perlahan mulai mereda dan ia harus minum beberapa kali untuk memastikan serangan batuknya benar-benar pergi dan tak kembali lagi.


“Han, sorry ya,” ujar Lutfi tak enak.


“Tapi suer deh, aku nggak sengaja mau bahas nikah.” Lutfi masih belum bisa tenang.


“Nggak apa-apa. Makan lagi…” Hana mengambil makanan untuk dirinya. Karena sejak tadi ia belum sempat makan.


“E tapi suer deh. Kamu keselek karena pertanyaanku tadi ya…” Belum puas juga Lutfi bertanya.


Kompak Hana, Risma dan Bayu menatap Lutfi yang tak dapat mengontrol mulut recehnya. Memang Hana berkata tidak apa-apa, tapi seharusnya Lutfi paham jika Hana merasa tidak nyaman.


“Pak dosen nggak pernah nyekolahin mulutnya ya,” sindir Risma.


“Iya Lu,” imbuh Bayu.


“Ya kan saya hanya mau bertanya. Apa salahnya orang bertanya."


“Ya tapi lihat sikon dong. Masalah seperti itu hubungannya sama privasi.” Bayu yang sejak tadi lebih banyak diam kini mulai angkat bicara.


“Iye, iye maaf. Nggak nanya lagi. Yuk makan yuk…” ujar Lutfi yang baru saja diberondong oleh kedua rekannya ini.

__ADS_1


“Dasar nggak tahu malu,” ketus Risma yang masih bisa di dengar semua.


Lutfi cuek saat mendengar Risma yang barusan mengatainya tapi ia mendadak tak enak saat bertemu tatap dengan Hana.


“Udah, udah. Nggak apa-apa kok…” ujar Hana. “Menikah adalah salah satu rencana kami. Doakan saja ya semua lancar sehingga tak ada halangan untuk kami menuju pelaminan,” lanjut Hana kemudian.


“Emangnya ada halangan apa yang bikin kalian nggak bisa nikah segera?”


“LUTFI!!!”


Spontan Lutfi menutup telingan saat orang di kanan dan kirinya serempak meneriakinya.


“Ada apa ini, sepertinya ada yang seru selama saya pergi.”


Teriakan tadi berbarengan dengan Andre yang kembali masuk ke dalam. Belum juga Lutfi membela diri, Andre sudah muncul dengan gaya dominannya yang lupa untuk ditanggalkan.


“Nggak ada, yuk makan…” jawab Hana yang tak ingin melanjutkan pembahasan sebelumnya.


Lutfi hanya mampu meringis melihat bagaimana Hana juga tak ingin membahas masalah ini dengan kekasihnya. Sepertinya persoalan ini bukan hal yang tepat untuk diangkat sebagai topin pembicaraan sekarang.


Akhirnya mereka kembali melanjutkan makan. Andre juga mulai ikut dalam obrolan saat ia rasa pekerjaan yang tak bisa ditunda sudah ia selesaikan.


“Oh iya, Mas ini namanya siapa?” tanya Andre pada Bayu yang memang sejak kedatangannya lebih banyak diam.


“Saya Bayu…”


Bayu mengulurkan tangannya dan langsung dijabat oleh Andre.


“Anda juga tinggal di kosan yang sama dengan Risma?” tanya Andre setelah jabatan keduanya terlepas.


“Iya. Saya yang…”


“Bay, anterin aku sebentar ya…”Tiba-tiba Risma bangkit dan membawa Bayu pergi bersamanya. Sontak hal ini membuat 3 orang lainnya dibuat heran termasuk Andre yang sedang mengajaknya berbicara.


“Ada apa sih?” tanya Lutfi yang duduk di antara Risma dan Bayu namun merasa dicurangi kala dua orang ini tiba-tiba pergi.


Andre dan Hana yang merasa ditanya hanya dapat secara kompak menggidikkan bahunya.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2