Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Menentukan Jalan


__ADS_3

HAPPY READING


“Dengar-dengan yang jadi model adalah anak Rahardja. Hebat juga ya…”


“Belum ada konfirmasi secara resmi, jadi belum bisa dipastikan benar tidaknya informasi ini.”


Dua orang wanita dengan gaun panjang ini nampak berbincang dengan masing-masing tangan memegang minuman.


“Tapi kalau benar mungkin ini pertanda yang tak begitu baik untuk masa depan perusahaan,” lanjut salah seorang setelah sempat beberapa saat diam.


Edo menghela nafas saat tak sengaja mendengar perbincangan beberapa kolega yang membahas tentang Hana. Belum juga hubungannya dengan Andre terangkat sudah seheboh ini, bagaimana kalau sampai para petinggi tahu hubungan anak Rahardja dengan anaknya ini. Komentar macam apa yang akan mereka lontarkan pada Edo sebagai orang yang menjadi kepercayaan sejak mendiang pemilik pertama perusahaan.


“Pak Edo…”


Edo tersadar dari lamunannya dan segera mencari sosok yang baru saja menyapanya.


“Dokter Rudi…” ujar Edo saat tahu siapa yang baru saja menyapanya.


Edo mengulurkan tangannya dan berlanjut dengan pelukan singkat oleh keduanya.


“Lama tidak berjumpa,” ujar Rudi setelah melepas pelukannya.


“Apa kabar Dokter…” timpal Edo menanyakan kabar orang yang tak kalah penting di perusahaan tempatnya bekerja.


“Alhamdulillah baik.”


Heni dan Santi juga saling sapa seperti yang dilakukan para suami mereka. Rudi dan Santi tak hanya datang berdua tapi juga ada Dedi bersama mereka. Kebetulan dokter muda sedang ada jadwal di rumah sakit Rudi, sehingga mereka bisa datang bersama seperti ini.


“Kok malah bawa Nak Dedi, Nak Rista tidak diajak kesini?” tanya Heni pada Santi. Entah Santi sengaja atau hanya bertanya karena Rista merupakan Santi.


“Ini lah susahnya punya anak yang sudah beranjak dewasa. Kami punya tiga, tapi hanya satu yang paling mudah untuk diajak berjumpa. Itu pun setelah ia menghilang lima tahun lamanya…” ujar Rudi dengan diakhiri tawa. Ia menegaskan apa peran Dedi dalam keluarganya, sehingga siapa pun yang mendengarnya tak perlu bertanya untuk apa pemuda ini ada di sekitar mereka.


Meski rumor tentang Dedi yang merupakan jodoh yang sudah disipakan Rudi dan Santi untuk Rista, tapi suami istri ini tak pernah menanggapi serius tentang hal ini. Mereka selalu berkata bahwa Dedi juga adalah anaknya, sehingga tak perlu banyak alasan dan penjelasan mengapa pemuda ini seringkali ada bersama mereka.


“Saya mau menyapa mereka dulu,” pamit Dedi ingin memisahkan diri.


“Silahkan. Anak muda memang tak akan betah bersama yang tua,” canda Edo mempersilahkan Dedi untuk memisahkan diri dari mereka.


Dedi membungkukkan badan sebelum benar-benar berjalan meninggalkan dua pasangan matang yang suka lupa waktu kalau sudah berbincang.


“Han, ayo…”


Hana menggeleng dan memegang erat lengan Rina.


“Han, jangan kayak anak kecil deh, Sekarang kamu naik nanti aku nyusul belakangan. Semua sudah diatur sama pembawa acara. Kamu santai ya,” ujar Rina menasehati. Pasalnya Hana ini sedang merajuk dan tak mau naik panggung sendiri. Bukan masalah ia yang harus bicara di depan banyak orang, namun ia insecure dengan siapa dirinya ini.


“Kenapa nggak barengan aja,” keluh Hana yang benar-benar tak punya rasa percaya diri.


“Karena pemeran utama munculnya belakangan. Udah ayo naik.” Rina mendorong Hana namun wanita cantik ini masih bersi kukuh tak mau melangkah.

__ADS_1


“Nggak mau. Kita barengan.”


“Nanti ada waktunya. Aku keluarnya barengan sama Dika setelah kamu memperkenalkan diri dan produk yang kamu bawa ini.”


“Nggak bisa aku Rin…” Hana benar-benar merasa ini adalah masalah besar. Mentalnya benar-benar tak sanggup untuk menanggung semua ini.


“Apa perlu aku temani,” ujar Andre yang sejak tadi hanya diam sambil memandangi penampilan cantik Hana yang sebenarnya sayang jika harus dilihat banyak orang.


Hana nampak ragu. “Ya tapi…”


“Sekalian menegaskan hubungan kita sama orang-orang,” potong Andre melawan keraguan kekasihnya.


“Tapi orang tua kamu kan…” ucapan Hana menggantung.


“Orang tuaku kenapa? Bukankah kamu dengar sendiri kalau mereka tak melarang kita bersama?”


Hana terdiam. Memang benar apa yang Andre katakan. “Tapi mereka tak suka dengan saya…” ujar Hana akhirnya.


“Ayo kita berusaha membuat mereka jatuh cinta…” ucap Andre sungguh-sungguh.


Andre sepertinya berhasil meyakinkan Hana bahwa mereka harus berani menghadapi ini bersama. Dengan tangan saling berpegangan, dua sejoli bergerak untuk melangkah bersama.


Dalam diamnya Dika dapat sedikit bernafas lega. “Sepertinya mereka sudah benar-benar serius sekarang,” gumam Dika yang dapat di dengar jelas oleh Rina.


“Ya masa mau main-main terus. Mereka itu sudah dewasa, bukan lagi anak remaja yang tahu senangnya saja,” balas Rina menaggapi ucapan suaminya.


Dika hanya menhela nafas dan merangkul istrinya.


“Ya mana bisa. Andre kayak gitu orangnya,” balas Dika menjelaskan.


“Tapi Andre sayang banget sama orang tuanya.”


“Itu dua hal yang berbeda sayang.”


“Iya juga, hehehe…”


Dika membawa Rina untuk duduk sembari menunggu tiba waktunya untuk mereka muncul di hadapan undangan. Saat Hana menyampaikan sambutan terkait siapa dirinya dan produk yang dibawanya, Andre hanya diam menemani di sampingnya. Memang tak ada sesi tanya jawab saat ini, sehingga Hana dapat dengan cepat menyampaikan sambutannya. Setelah Hana selesai, kini giliran Dika dan Rina yang menyapa.


“Ya Allah, selesai juga…”


Dika menyodorkan segelas susu tanpa rasa, kepada Rina yang pasti haus sekarang. Wanita cantik ini segera menerimanya dan langsung minum dari sana.


“Sayang…”


Andre juga menyodorkan minuman pada Hana namun tak diterima oleh kekasihnya ini.


“Kenapa? Kan sudah selesai tadi dan bukankah semuanya berjalan lancar dan tanpa kendala?”


“Iya. Tapi masih ada satu lagi. Saat pers conference nanti pasti aku digoreng habis-habisan. Apa lagi karena tadi kamu menemaniku menyampaikan sambutan, pasti mereka dapat bahan untuk membuat berita.”

__ADS_1


“Tenang saja, apinya bakal aku matikan.” Di saat seperti ini, masih saja Andre bisa bercanda.


“Tapi tatapan mereka sudah menghujam sekali tadi…” ucap Hana dengan nada melasnya.


“Kamu tenang ya…”


“Iya Han. Kita nanti bahkan munculnya barengan berempat.” Rina nimbrung tiba-tiba setelah sebelumnya minum susu dan memakan cemilan yang suaminya siapkan.


“Ya tapi kalau kalian kan pasangan yang terkonfirmasi, lha kita apa?” Masih saja Hana terjebak dengan pikirannya yang rumit.


“Tenang, nanti aku juga akan memberikan konfirmasi.” Andre juga angkat bicara terkait hal ini.


“Andre. Kamu jangan ngadi-ngadi ya. Jangan sampai seenaknya memutuskan kalau belum ada keputusan dari para orang tua…”


“Kita sudah dewasa Hana. kita bebas menentukan mau lewat jalan yang mana.” Andre terlihat serius menaggapi ancaman Hana.


“Tapi…” Melihat keseriusan Andre, Hana jadi ragu sendiri.


“Ssstt… ini minum dulu, biar nanti lancar bicaranya…” Andre kembali menyodorkan minuman yang sempat Hana tolak, dan kali ini ia tak kembali dapat penolakan.


Hana mendengus. Ia segera meminum minuman yang baru saja Andre berikan. Rina dan Dika tak lagi mengusik pasangan ini, karena saat ini Rina sedang asik dengan kue strawberry dan Dika dengan ponsel yang nampak menempel di telinga.


Keempat orang ini sama-sama sengaja tak ikut berbaur dalam acara jamuan dan menyapa para undangan. Dika dengan alasan tak ingin membuat Rina terlalu kecapekan sedangan Andre dan Hana ingin sementara waktu menunda serangan dengan menumpahkan semua saat pers conference nanti saja.


“Sudah saatnya. Ayo siap-siap…” ujar Dika setelah selesai dengan urusannya.


Baru saja Dika berucap, tiba-tiba muncul Dedi di sana.


“Aku pikir kamu tak sudi menghadiri acara ini?” sarkas Dika pada sahabatnya yang hanya diam sambil berdiri.


“Aku datang setelah menyelesaikan operasi,” ujar Dedi menjawab sindiran Dika.


“Berarti belum lama kamu sampainya?” tanya Dika yang berjalan menghampiri.


Dedi menggeleng. “Aku datang sejak acara belum dimulai tadi.”


“Lalu kenapa kamu tak segera menemui kami?”


Dua bersahabat bersalaman dan saling menjabat dengan erat.


“Ya karena aku…” suara Dedi mendadak lenyap.


“Ka kaaak…”


Rista yang semula mengerahkan segenap tenaganya untuk menyapa langsung hilang suaranya tiba-tiba karena menyadari ada orang yang tak ingin ditemuinya berada di sana. Karena kepalang basah ia sudah ada di sana, jadi Rista maju saja melanjutkan langkahnya. Ia segera menghampiri kakak iparnya dan memeluknya.


“See, hubungan mereka bahkan jauh lebih rumit daripada kita,” bisik Andre pada Hana.


Hana langsung mengangguk setuju karena hanya dengan melihatnya saja, ia suka gemas dan ingin memukul kepala keduanya. Sudah jelas mereka saling suka, kenapa tak balikan saja.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2