Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Pamer Paha


__ADS_3

HAPPY READING


Hana tak sempat menghindar saat Andre dengan gerakan cepat meraup bibirnya. Aksi yang Andre lakukan tanpa tahu tempat berhasil membuat Hana mencak-mencak. Ia pun lantas menggelandang kekasihnya untuk segera kembali ke dalam ruangannya.


Sementara itu ketiga staf Andre yang mendapat surprise adegan vulgar Andre langsung kocar-kacir melempar pandangan ke sembarang arah, termasuk Elis yang harus mendapat tambahan rasa nyeri yang menyerang ulu hati.


Akhirnya setelah melalui proses tawar-menawar yang alot, akhirnya Andre dan Hana mencapai sebuah kesepakatan bahwa Hana diijinkan membantu ketiga mantan rekannya untuk menyelesaikan pekerjaan yang tak manusiawi jumlahnya. Sebenarnya Andre tak keberatan dengan penawaran Hana, hanya saja ia ingin sedikit bermain-main dengan kekasihnya. Debat yang mereka lakukan bagi Andre tak lebih dari sekedar pelepas lelah dari tekanan pekerjaan. Ia yakin Hana telah berubah. Ia yakin Hana tak mungkin mencuri dan menjual data perusahaan seperti yang telah wanita ini lakukan.


Riza, Elis dan Rahma dibuat kagum dengan ketangkasan dan ketelitian Hana. Terlalu dini untuk menilai cerdas, yang jelas pekerjaan mereka jadi berkali lipat lebih cepat dan harapan untuk pulang lebih awal pun sudah makin merapat.


“Mbak Riza…” saat empat wanita ini tengah sibuk dengan masing-masing dokumen di tangannya, tiba-tiba suara Hana menyeruak diantaranya.


“Iya…” jawab Riza yang namanya baru saja Hana panggil.


“Ini masih kurang dikit,” ujar Hana menunjukkan koreksi pada dokumen yang baru saja Riza kerjakan.


Riza mengernyil. Ada kesal di dadanya karena merasa ia sudah mengerjakannya dengan baik sebelumnya. “Yang mana?” tanya Riza akhirnya.


Hana bangkit dari tempat duduk yang disiapkan mendakan untuknya, dan dengan sebuah dokumen di tangannya ia berjalan menuju tempat Riza berada. Ia menjelaskan bagian yang harus Riza perbaiki sesuai dengan yang ia pahami selama ini.


Ternyata tak hanya Riza yang merasa tak nyaman dengan hal ini, namun Rahma juga. Ia merasa Hana terlalu berani melakukan koreksi untuk pekerjaan Riza karena wanita ini paling lama bekerja untuk perusahaan dan diyakini kemampuannya paling baik diantara mereka. Terlebih lagi Hana hanya orang lain yang kebetulan muncul hari ini.


Itu menurut mereka, sayangnya Hana juga punya pengalaman berada di antara mereka. Namun hanya karena warna lipstik  dan outfit yang berbeda, Hana bisa menjelma sebagai orang lain dengan mudahnya.


Namun seketika penilaian mereka berubah saat Hana tak hanya menyalahkan tapi juga menjelaskan dimana letak kesalahan yang Riza lakukan.


"Nona hebat sekali, kenapa tak coba krtja di sini saja untuk membantu kami," ujar Rahma dengan polosnya.


Hana takmenjawab. Ia hanya membalasnya dengan sebuah senyum lebar di wajahnya.


Rahma mengubur dalam-dalam rasa penasarannya saat Hana nampak enggan menjawabnya, karena keinginannya untuk pulang cepat mengalahkan segalanya.


 Di dalam Andre juga tengah berjuang. Meski Dika sedang tak di tempat sekarang, tapi jadwal harus tetap dilanjutkan.


“Ssshhhh ffuuhhh….” Andre harus melonggarkan dasinya. Bagiamana ia membagi waktu jika hanya ada dua jam sebelum istirahat sedangkan janji yang dibuat ada empat. Tak mungkin ia menggabungkan jadwal menjadi satu tempat karena semua berada di sektor yang berbeda.


Akhirnya Andre bangkit dan meninggalkan tempat.


“Hana…”


Semua menoleh saat Andre menyebutkan satu nama.


“Hana?” ulang ketiga staf Andre nyaris bersama.


Diantara ketiganya memang belum ada yang secara resmi berkenalan dengan Hana. Mereka hanya tahu jika sekarang tengah dibantu oleh kekasih atasannya. Sehingga mereka cukup terkejut saat atasannya menggaungkan sebuah nama yang sama dengan mantan rekan kerjanya.


Hana sadar situasi yang terjadi saat ini, namun mau tak mau ia harus menjawabnya “Iya…”


Mendengar Hana menyahut, tiga wanita ini hanya mampu menelan ludah dan saling pandang.


“Kamu ikut saya…” ujar Andre tak peduli dengan apa yang sedang terjadi.

__ADS_1


“Tapi ini masih…”


“Saya punya pekerjaan yang lebih penting,” potong Andre cepat saat Hana nampak hendak menolak.


“Saya akan bayar kamu dengan harga tinggi. Tapi tolong bantu saya saat ini…” lanjut Andre untuk menandakan keseriusannya.


“Tapi…”


“Pak Restu sudah setuju…” lagi-lagi Andre tak mengijinkan Hana berbicara.


Akhirnya Hana mengikuti Andre untuk berjalan masuk ke ruangannya.


“Kerja dulu. Nanti saja cari infonya…”


Ujaran Riza bak ultimatum yang harus Elis dan Rahma jalankan kala dua wanita lajang ini nampak sekali sedang diselimuti rasa penasaran.


“Nggak bisa sayang. Peran apa yang harus aku jalankan,” ujar Hana setelah Andre mengutarakan maksudnya.


“Peran sebagai wakit dari perusahaan,” jawab Andre dengan mantab.


“Kenapa kamu tak minta yang lain saja. Mbak Riza misalnya. Dia yang paling senior dan punya banyak pengalaman bukan.”


“Iya. Tapi untuk hal ini dia tak punya kemampuan. Seharusnya ada Rista juga yang terlibat di dalam, tapi sekarang ia menghilang bersama Dedi juga yang membuat aku harus mandapatkan limpahan pekerjaan,” adu Andre yang terlihat sudah wajah lelahnya.


“Kenapa nggak kamu panggil ke sini saja mereka?” tanya Hana yang mulai iba.


“Makan waktu dan aku takut semua tidak keburu.”


“Pembatalan itu hanya berlaku untuk dirinya. Dan tugasku adalah menjalankan semua yang telah dijadwalkan bagaimana pun caranya.”


Hana sedikit terkejut mendengar penuturan Andre terkait tugasnya di perusahaan ini. “Apa ada yang seperti itu?”


“Ini buktinya ada. Makanya dia merasa tak cukup jika membayarku dengan nominal karena kadang tugas yang dibebankan tak masuk akal.”


Hana menghela nafas. “Aku jadi kasihan.”


“Kalau kasihan makanya bantu aku. Semua sudah bisa aku selesaikan via online, tapi yang empat ini harus bertemu langsung.”


Hana menghela nafas. “Apa aku bisa?” tanya Hana ragu.


“Aku yakin kamu bisa…” jawab Andre meyakinkan.


Akhirnya Hana berganti pakaian. Tak mungkin ia bertemu dengan clien menggunakan rok jeans dan kaos o neck lengan panjang seperti sekarang.


“Aku butuh belt Andre, aku pinjam punya Rahma ya, sepertinya tadi dia pake belt...” ujar Hana setelah mengenakan pakaian berupa kemeja Andre yang ia rekayasa sehingga nampak menyerupai dress.


“Terserah kamu lah…” ujar Andre yang sebenarnya takjub dengan kemampuan wanitanya yang satu ini. Hana terlalu pandai memodifikasi pakaian atau tubuhnya yang memang bisa masuk untuk semua jenis pakaian.


Hana keluar sebentar dan kembali dengan membawa sebuah sabuk di tangannya. Ia bergegas membenahi riasan dan menata rambutnya agar tak terlalu semrawut seperti sekarang.


“Andre…”

__ADS_1


“Hmmm…”


“Aku gini ya…” tanya Hana meminta pendapat.


Andre mengalihkan sejenak pandangannya dari deretan huruf dan angka penghasil banyak uang menuju arah sang kekasih yang tak pernah gagal untuk tampil cantik.


“Ya Tuhaaaannn…”


Hana bingung sendiri dengan reaksi yang Andre berikan. Ia mengecek penampilannya dengan seksama yang menurutnya sepintas tanpa cela. Kenapa aku merasa Andre seperti melihat sesuatu yang menyeramkan? Apa penampilanku yang seperti ini tak disukainya lagi? Batin Hana dalam hati.


“Kenapa harus ada paha yang kelihataaaaannn…” lanjut Andre masih dengan mimik yang sama.


Hana mendengus. Oh, jadi ini masalahnya. “Salahkan kemeja kamu yang hanya menutupi sebatas paha…” lanjut Hana dan tak mau berbalas kata dengan kekasihnya.


“Pake rok kamu yang tadi aja,” pinta Andre.


“Nggak mungkin Andre. Bisa-bisa aku sudah di tolak sebelum mengajukan tawaran.”


“Mereka yang mengajukan tawaran Hana, sedangkan tugas kamu hanya menerima atau menolak. Berusaha menekan pengeluaran dengan taksiran pendapatan sebenar-besarnya.”


“Iya. Tapi kalau pakai kaos dan rok jeans akan menjatuhkan citra perusahaan.”


“Citra perusahaan juga tak akan membaik jika kamu pamer paha seperti itu…”


“Ya sudah. Batalkan saja. Lagian aku juga tak pernah minta…”


“E, jangan, jangan.” Cegah Andre cepat. “Kamu harus tetap pergi. Tapi ditemani salah satu dari mereka ya…”


“Siapa. Pekerjaan mereka sangat banyak asal kamu tahu.”


“Riza mungkin…”


“Ya jangan. Dia paling senior dan paling matang pemikirannya.”


“Tapi dia tak setangkas dua yang lainnya…”


“Iya juga…”


Akhirnya Hana setuju untuk pergi bersama Riza. Ia meninggalkan ruangan Andre dengan sebuah dokumen di tangannya. Ia berjalan dengan mengekori kekasinya yang berjalan lebih dulu.


“Riza…” panggil Andre setelah berada di dekat ketiga stafnya.


“Iya Pak,” jawan Riza meninggalkan sejenak pekerjaannya.


“Kamu tinggalkan pekerjaan kamu, dan pergi temani Hana sekarang…” titah ANdre dengan nada tak terbantahkan.


“Saya?” tanya Riza menunjuk dirinya.


“Iya.” Andre memutus kontak dengan Riza mengabaikan kebingungan stafnya.


“Sayang, maaf aku harus mengandalkanmu saat ini…” Andre sempat mencium kening Hana sebelum kembali ke ruangannya.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2