
...*HAPPY READING*...
Kehidupan memang panggung sandiwara yang penuh kejutan. Manusia sebagai pemeran hanya bisa pasrah dengan skenario sang pencipta alam. Meskipun rencana sudah disusun dengan matang, namun sering kali harus berantakan tertampar kenyataan.
Jet pribadi sudah disiapkan dan pasangan pengantin baru kita sudah tinggal menuju keberangkatan.
Saat Rina tengah sibuk memeriksa bawaan, Dika bersama Dedi dan Andre tengah serius membicarakan pekerjaan.
Wajah Andre terlihat sangat kusut. Ia benar-benar merasa tertekan. Bukan karena terlalu banyak pekerjaan yang dibebankan tapi karena ia tak mampu banyak berbuat untuk membantu Dedi dalam mengerjakan pekerjaan.
"Udah beres kayaknya," kata Dedi sambil merapikan berkas yang sedikit berantakan.
"Aku ngandalin kamu."
"Tenang, di sini ada Andre yang akan matang saat kamu pulang."
Andre memaksakan senyumnya saat mendengar Dedi berkata demikian. Ini hari ketujuh semenjak ia mulai bekerja. Namun belum satu pun pekerjaan yang diselesaikannya. Ia sampai tak enak pada Dedi yang telah susah payah mengajarinya, namun tetap saja ada kesalahan di setiap hal yang dikerjakannya.
"Oke mateng, tapi jangan sampai gosong."
Dedi tertawa mendengar candaan Dika, sementara Andre hanya bisa garuk-garuk kepala.
"Ya udah, have fun bro. Kita ada janji sama client. Pak Edo barusan kasih kabar."
"Thanks ya."
Dengan langkah pasti Dedi berjalan meninggalkan Dika. Dengan Andre memegang kemudi, dua pemuda ini melesat menuju kantor pusat Surya Group.
***
Setelah menempuh lima belas jam perjalanan, akhirnya Dika dan Rina berhasil mendarat di Turki.
Tak ada rencana honeymoon dan akan kembali ke aktivitas biasa di h+3 awalnya, namun melihat bagaimana pasangan pengantin baru ini tak bisa mengendalikan diri, membuat Dika akhirnya memutuskan untuk membawa sang istri untuk berbuka madu. Hal ini lebih baik ketimbang terus bermesraan tanpa tahu tempat dengan kerap kali disaksikan keluarga. Sebenarnya tak masalah, hanya saja dua sejoli ini merasa tak enak saja.
Kenapa Turki, karena Dika merasa negara ini aman jika memang mereka harus stay lebih lama dari rencana dan menjalani awal bulan ramadhan di sana. Rencana awal hanya seminggu, tapi entahlah. Mereka tak tahu akan tepat waktu atau tidak untuk pulang ke Indonesia.
__ADS_1
Rina memperoleh kembali kesadarannya, setelah entah berapa waktu tidur di pelukan suaminya.
"Turun yuk, udah landing nih."
Rina menggeliat, karena masih belum rela lepas dari pelukan suaminya.
"Sayang..." sekali lagi Dika berusaha membangunkan istrinya.
"Pantat aku rasanya rata..." ucap Rina dengan suara parau sambil menyamankan posisinya.
"Ya udah, kamu merem aja."
Akhirnya Dika mengangkat tubuh ramping istrinya. Ia tahu Rina tak hanya lelah karena perjalanan panjang yang memakan waktu tempuh belasan jam yang baru saja mereka lakukan, tapi karena menuruti kemauan gila darinya selama mereka masih di Indonesia.
2 hari ber***ta nyaris tanpa jeda. Bahkan rambut keduanya tak pernah kering sempurna. Tidur Rina tak pernah nyenyak karena Dika selalu mengganggunya. Untung saja tak ada drama tak bisa berjalan seperti novel-novel yang sering author baca pasca pertama berhubungan badan, hanya saja Rina tak kuat jika harus berdiri lama. Kakinya gemetar padahal hanya menopang tubuh kecilnya.
Semua sudah disiapkan, sehingga Dika dan Rina benar-benar tinggal menikmatinya saja.
Tiba langsung jalan-jalan nampaknya hanya akan menjadi angan. Karena tak hanya Rina, Dika pun kini terlelap dalam tidurnya. Bahkan mereka harus melewatkan makan malam yang telah disiapkan.
***
Jalanan masih sepi. Dingin pun dominan menyelimuti. Namun tak sedikitpun mengurangi antusiasme pasangan pengantin baru ini untuk terus berjalan bergandengan tangan dengan menggenggam cinta dan kasih sayang.
Masyarakat Turki memang dikenal dengan menu sarapan paginya yang lezat dan menggugah selera. Di sepanjang jalan kota-kota besar di Turki termasuk Istanbul ini, akan dengan mudah menjumpai berbagai hidangan sarapan dengan bentuk dan cita rasa yang bervariasi. Kebanyakan dari hidangan tersebut terbuat dari bahan yang mengandung karbonhidrat tinggi.
Setelah cukup lama berjalan Rina meminta berhenti pada sebuah tempat makan di pinggir jalan. Di tempat makan ini ia memesan semua menu sarapan yang paling terkenal dan menjadi ciri khas negara ini.
Ada yumurtali pide yang merupakan roti tipis yang di atasnya di isi dengan keju, daging cincang, tomat, lada dan telur yang nampak menggoda. Ada borek mempunyai cita rasa manis dan gurih yang merupakan lapisan adonannya tepung, air dan garam yang dipanggang terlebih dahulu dengan mengoleskan mentega pada bagian atas dan bawah.
Menu selanjutnya adalah menemen yang terdiri dari tomat, telur, paprika yang dimasak dengan berbagai jenis bumbu dan rempah. Menemen disajikan langsung di dalam panci logam dan dimakan bersama roti.
Menu keempat adalah bal kaymak. Ini merupakan hidangan dengan tekstur creamy yang dikenal kaya akan protein dan kalsium, karena dibuat dari berbagai jenis susu hewan di antaranya susu sapi, kambing dan domba atau kerbau. Susu yang telah menggumpal itu disajikan dengan madu dan sering dimakan bersama beberapa potong roti.
Yang terakhir adalah muhlama. Ini merupakan hidangan sejenis bubur yang terbuat dari cornmeal lalu dimasak bersama keju berkualitas tinggi dan mentega.
__ADS_1
Rina menjelaskan detail setiap menu dengan baik kepada Dika. Dika tak habis pikir dengan keajaiban istrinya. Ini adalah kali pertama Rina menginjakkan kaki di negeri ini, berbeda dengan ia yang pernah beberapa kali ke sini sebelumnya. Tapi mengapa seakan Rina lebih banyak tahu tentang Turki ketimbang dirinya.
"Sayang, kita cuma berdua, nggak lupa kan?"
Rina mengangguk antusias dengan senyum cerah di wajahnya.
"Kamu bisa makan segini banyak?"
"Ya kan ada kamu. Makanya aku pesennya cuma 1 porsi untuk setiap menu. Jadi abis aku cicipin, kamu yang habisin," kata Rina dengan wajah tanpa dosa sambil mulai mencicipi makanan yang terhidang di hadapan mereka.
"Bisa melar pulang nanti kalau aku makannya dengan porsi kayak gini," gerutu Dika.
"Ya nggak masalah, aku udah cinta kok."
"Masalahnya bukan soal cinta sayang, tapi kaitannya dengan kesehatan. Tahu sendiri sekarang aku jarang ada waktu untuk olahraga."
"Nggak tiap hari juga makan kayak gini."
"At least aku bisa milihin makanan enak buat kamu meskipun aku nggak bisa masakinnya secara langsung." Wajah Rina menjadak sendu saat menyelesaikan kalimat keduanya.
Dika menghela nafas. Ia menyentuh wajah wanitanya dan mendaratkan sebuah kecupan di kening.
"Sorry sayang ya. Kita kesini buat seneng-seneng, jadi nggak seharusnya aku bahas hal-hal yang ribet dan bikin pusing."
Rina melingkarkan lengannya di perut Dika.
"Makasih sayang..."
"Kamu juga nggak usah mikir diet, ya..."
Rina mengangguk bahagia dan kian mengeratkan pelukannya.
Dengan binar bahagia, akhirnya mereka menyantap sarapan yang telah mereka pesan. Rina mengernyit saat lidahnya merasa unfamiliar dengan rasa makanan Turki yang otentik yang ternyata sedikit berbeda dengan yang pernah ia cicipi di Indonesia. Namun ia dan Dika bertekat untuk menghabiskan semua, karena Rina paling tak mau menyisakan makanan dan membiarkannya terbuang sia-sia.
Selanjutnya hari pertama di negeri orang berisi dengan mencicipi berbagai jenis makanan.
__ADS_1
TBC