
Andre sama Hana LDR dulu ya, bukan muhrim, xexexe
HAPPY READING
Ken masih terpaku menatap wanita cantik yang masih belum juga sadarkan diri di hadapannya ini.
“Bagaimana bisa? Ya Tuhan. Baru aja aku pikir pisah, ternyata sudah plat merah.”
Ken tak bisa berfikir jernih. “Aku harus menghubungi Andre untuk memberitahukan masalah ini.”
Ken meraih ponselnya. “Fu*k!!! Kenapa aku baru sadar kalau selama ini tak pernah menyimpan nomor Andre.”
Ken memutar-mutar ponselnya karena ia bingung harus berbuat apa. Berbicara sendiri pun tak ada guna, karena Hana masih setia memejamkan mata.
“Hana, Hana. Baru saja aku ingin melirikmu, tapi sayang…”
***
“Bos, apa pekerjaanku sudah selesai?” tanya Andre di tengah gelisahnya.
“Kenapa? Apa ada kepentingan yang membuatmu begitu terburu-buru?”
Andre yang baru saja masuk ke ruangan bosnya, segera menarik kursi dan duduk. Namun tak berselang lama ia bangkit lagi.
“Andre, sebenarnya kamu kenapa?” tanya Dika saat melihat tingkah Andre yang tak biasa.
Andre diam saja tanpa berani membalas tatapan bosnya.
“Apa ada yang sedang kamu sembunyikan?”
Jderrr!!!!
Guguplah Andre tiba-tiba ditanya begitu oleh bosnya.
“Tidak. Mana mungkin saya berani berbohong kepada seorang Restu Andika," bohong Andre. "Jika itu sampai terjadi, pasti belum mulai saja anda sudah bisa mengetahuinya,” lanjutnya lagi.
Dika tersenyum miring saat melihat Andre yang sebelumnya berbicara santai mendadak formal seperti ini.
“Kamu sudah tahu kan, jadi kenapa masih berusaha mencoba?” tanya Dika dengan santainya.
Andre kehilangan kata-kata mendengar ucapan Dika. Meskipun nada bicara bosnya ini biasa saja, namun sudah membuat Andre gelagapan. Karena pada faktanya ia memang telah melakukan kebohongan besar dan Andre merasa sepertinya Dika telah mengetahuinya.
“Tunggu apa lagi?”
Kedua pria ini saling balas menatap. Aura gelap memenuhi ruangan itu seketika.
Cklek!
“Saayyaaannnnggg… aku hias ruangannya sekarang ya.”
Lampu 100 waa langsung menyala di ruang yang semula gelap itu bersama dengan pecahnya teriakan Rina. Ia tiba-tiba datang sengan Lili di belakangnya. Mereka membawa banyak sekali perintilan yang katanya untuk mendekor ulang ruangan Dika agar lebih segar dan tidak kaku seperti sekarang ini.
“Rina Malinda. Saya sedang ada urusan penting.” Ucap Dika dingin tanpa sekalipun menatap Rina.
“Tap, tapi kan kesepakatannya…”
“Hias saja ruang istirahat, bukankah itu akan lebih bermanfaat.”
__ADS_1
Rina tampak menimbang. “Ayo Lili,” ucapnya kemudian.
Rina dan Lili berlalu melewati Dika dan Andre yang sama-sama memasang wajah kakunya.
Diam-diam Lili memanfaatkan kesempatan ini untuk curi pandang ke arah Andre. Selama ini ia tak pernah menemukan pria yang membuatnya benar-benar tertarik, karena ia terlalu tangguh untuk pria kebanyakan di luar sana. Namun Andre ini
berbeda. Dia tampak kuat meskipun pekerjaannya tak memerlukan banyak tenaga. Meskipun ia seorang sekertaris, tapi sepertinya akan imbang jika diajak Lili sparing.
“Oke, katakanlah,” ucap Dika saat kini telah kembali berdua dengan Andre.
Andre menghela nafas. Diluar sana mungkin banyak orang yang bisa ia kelabui dan bohongi. Namun kemampuannya ini tak berlaku untuk bosnya. Level Dika masih berada jauh diatasnya, sehingga tak heran jika apa yang berusaha Andre sembunyikan akan dengan mudahnya ketahuan.
“Hana yang bersamaku adalah Hana anak Rahardja,” ujar Andre akhirnya.
Dika hanya merespon dengan gerakan kepala dan Andre paham betul maksudnya.
“Awalnya aku ingin menghukumnya, menyekapnya agar tak membuat ulah lagi untuk mengacau perusahaan ini.”
“Tapi malah kamu yang masuk perangkapnya?” tebak Dika.
Andre menelan ludah saat merasa kembali terhabntam celetuk bosnya. “Kami saling mencintai.”
Dika menatap Andre tak percaya. “Cinta?” Kepalanya menggeleng karena tak dapat membendung rasa tak percaya.
“Kamu jangan buta Andre. Mana mungkin wanita ular seperti itu…”
“Tolong jaga bicara anda Pak Restu Andika.”
Prok prok prok prok
Dika langsung menghadiahi Andre tepuk tangan saat sekertarisnya ini dengan berani menggunakan nada tinggi untuk menyela ucapannya.
Andre bangkit dari tempat duduknya. Ia dengan berani menatap tajam pria muda yang telah 5 tahun menjadi bosnya.
“Sedetik pun saya tak pernah punya pikiran untuk melakukan hal itu. Dan kalau boleh jujur aku ingin menahan Hana di sisiku agar ia tak lagi diperalat Rahardja untuk memuluskan urusannya.”
Dika memijat pelipisnya. Ia sadar betul jika sudah menyangkut cinta yang mudah menjadi susah dan yang susah bisa berubah mudah. “Aku ulang pertanyaanku, sekarang rencanamu apa?”
Meskipun Dika sangat tak menyukai Hana, namun ini kali pertama Andre menganggaungkan pernyataan cinta untuk kali pertama. Biasanya yang ada di pikirannya hanya kerja, kerja, kerja, dan kerja. Andre sudah mendedikasikan masa remajanya untuk mengabdikan diri padanya dan perkembangan Surya Group.
“Aku tak bisa menjanjikan Hana berubah dari dia yang sebelumnya, namun dengan menempatkannya di sisiku, aku bisa memastikan ia tak akan bisa berbuat apa-apa yang akan membahayakan Anda dan perusahaan.”
Hanya helaan nafas yang menjadi respon Dika. Menatap sorot yakin dari mata Andre, Dika hanya bisa mencoba menghormati keputusan sekertarisnya ini.
“Lakukan lah. Aku tak ingin mencampuri urusan pribadimu. Asalkan itu tak membahayakan perusahaan.”
Wajah tegang Andre hilang seketika setelah mendengar ucapan Dika. “Anda bisa pegang kata-kata saya,” jawab Andre dengan yakin.
“Oke, oke. Aku percaya. Sekarang dimana kamu menyembunyika putri Rahardja itu?”
Dika mendelik melihat reaksi Andre menggelengkan kepala. “Apa maksudnya?”
“Dia menghilang.” Andre tak ragu menunjukkan keresahannya di hadapan bosnya.
“Kok bisa hilang. Ketinggalan di jalan atau kamu lupa menyimpannya di mana,” ejek Dika.
“Dia bukan barang Bos, tapi perempuan.”
__ADS_1
Dika tertawa remeh mendengar pembelaan sekertarisnya. “Jadi urusan yang kamu bilang penting tadi ini?” tabaknya kemudian.
“Iya.” Andre pasrah saja. Toh Dika pasti sudah tahu semua.
“Ya sudah silahkan. Saya masih harus menunggu cintaku yang sedang sibuk di dalam sana,” kata Dika sambil menunjuk ruang istirahat dengan ekor matanya. Di dalamnya ada Rina yang akhir-akhir ini begitu kreatif mengacak-acak perasaan Dika.
Andre tak ingin menyia-nyiakan waktu. Dia segera pamit untuk mencari Hana. Hana, tunggu ya. Aku akan segera menemukanmu.
***
“Kenapa nggak boleh? Andre harus tahu.”
“Jangan Ken. Dan kalau perlu kamu pura-pura saja tak tahu masalah ini.”
"Ya mana bisa. Nyatanya aku bahkan lebih dulu tahu daripada kamu."
Ken mendesah saat melihat Hana diam saja. “Kenapa kamu seperti ini Hana?”
Hana beringsut agar tubuhnya bisa lebih tegak dari sebelumnya. “Karena Andre akan mendapatkan banyak masalah saat aku terus di dekatnya.”
“Tapi…”
“Ken please. Aku tahu mana yang lebih baik untukku,” potong Hana cepat.
Pria bermata sipit ini menegakkan tubuhnya. “Aku bayar dulu abis ini aku antar pulang.”
“Ken.”
Baru saja berjalan, Hana sudah memanggilnya.
“Aku pinjam dulu. Nanti kalau sudah gajian aku ganti.”
“Jangan sungkan.”
Ken meninggalkan Hana begitu saja. Hana sendiri bingung bagaimana cara menggantinya. Ia sudah berkomitmen untuk membantu bunda bukan untuk menjadi karyawannya, jadi jika sesuai kesepakatan, di kalendernya tak ada sama sekali agenda gajian kecuali ia mencari kerja sampingan lainnya.
Setelah Ken membayar biaya rumah sakit Hana, ada perawat datang dan melepas infusnya. Setelah keluar dari sana, Ken langsung mengantar Hana ke rumah Lili.
“Ken, bisa balik ke tempat tadi nggak?” tanya Hana saat Ken sedang dalam perjalanan mengantarnya.
“Mau ngapain?”
“Mau ngambil sepeda sama bunga.”
Ken tertawa kecil di balik kemudinya.
“Kok ketawa?”
“Ehm. Ehm.” Ken berdehem untuk meredakan tawa di bibirnya. “Aku tadi pas bawa kamu pergi lupa nggak nitip sama orang di sana.”
“Ya ampun terus gimana?” kaget Hana yang campur panic.
“Paling ilang.” Ken kembali menutup mulutnya.
“Yaahhh, gimana dong.”
“Udah gampang. Jangan stress ya. Kasian tuh…”
__ADS_1
Hana menunduk dan mengusap perut ratanya. Kita kuat sayang ya.
Bersambung…