
HAPPY READING
“Mau kemana…?” Hana menahan tangan Andre yang semula
ia jadikan bantal di bawah kepalanya namun tiba-tiba ditarik begitu saja.
“Dika menggila,” kesal Andre saat sudah mendapatkan posisi duduknya.
Hana mengucek matanya dan mendudukkan tubuhnya. “Kenapa kamu tiba-tiba mengatai dia seperti itu?” tanya Hana yang memang tak mendengar pembicaraan kekasihnya ini dengan bosnya.
“Ya jam segini aku harus mencarikan martabak dan mengantarkan kerumahnya, terus apa namanya kalai nggak gila,” jelan Andre dengan nafas menderu.
Hana menutup mulutnya yang menguap dan mengucek matanya agar dapat tebuka dengan lebih baik. “Martabak apa emang?” tanyanya kemudian..
“Ya mau martabak apa pun mana ada yang jual jam dua
gini!”
Hana mengusap punggung Andre yang barusaja berbicara keras terhadapnya. “Ya jelas nggak ada, tapi kalau bikin baru bisa,” ujar Hana dengan nada rendah.
“Siapa yang mau bikin Hana. Aku mau ke tempat dia sekarang.” Andre nyaris berteriak saking kesalnya.
“Ngapain?”
“Mau getok kepala Dika biar kira-kira kalau mau nyuruh orang.”
Andre hendak turun dari ranjang dan kembali Hana menahan tangannya.
“Apa lagi Han….”
“Jangan-jangan ini Rina yang minta?” tanya Hana memastikan.
“Ya emang ini maunya dia. Dan suaminya Rina itu suka main nyuruh orang seenaknya kalau istrinya ngidam…” kesal Andre mengacak rambutnya.
Hana sempat melebarkan mata sebelum tertawa kecil mendengar ucapan Andre tentang Dika.
“Malah ketawa lagi. Aneh kamu…” kesal Andre melihat reaksi Hana.
“Bapak Andre nggak nyadar ya, dulu pas bikin saya hamil siapa yang juga suka nyuruh orang seenaknya…” ujar Hana dengan nada jenaka.
Andre baru ingat bagaimana semena-menanya ia saat hamil dan ngidam gara-gara ulahnya. Ia mengusap tengkuknya yang tak galat dengan bibir melengkung. Sedetik kemudian, ia merubah posisinya hanya dengan satu gerakan.
“Kamu ngapain?” panic Hana saat Andre tiba-tiba menindihnya.
“Bikin lagi yok…”
“Jangan ngawur kamu…”
Hanya dengan sekali dorong, dua insan ini sudah berbaring di tempat masing-masing. Keduanya kemudian bangkit duduk berdampingan di atas ranjang.
“Kita ke minimarket depan ya. Sepertinya di sana buka 24 jam,” ajak Hana.
“Mau nyari apa?” tanya Andre.
__ADS_1
“Mau nyari bahan martabak. Martabak manis kan?” tanya Hana memastikan.
“Buat apa?"
"Ya dibuat martabak lah."
"Siapa yang mau bikin?”
“Ya aku Sayang. Mau minta tolong kamu paling juga nggak bisa…”
“Emang kamu bisa?” tanya Andre dengan nada meremehkan.
“Ya bisa lah. Kalau nggak bisa mana mungkin aku ngajakin cari bahan…”
Hana segera bangkit untuk mencuci muka. Keduanya kemudian menyambar jaket dan berjalan beriringan meninggalkan unit apartemen yang mereka tinggali ini. Keduanya berjalan dengan bergandengan tangan. Tak hanya itu, Andre juga sesekali merangkul Hana untuk menghalau hawa dingin yang menusuk tulang mereka.
“Kamu tahu bahannya?” tanya Andre saat keduanya baru saja masuk ke dalam mini market.
“Apa?” tanya Hana yang tak mendengar jelas pertanyaan Andre.
“Kamu itu loh, apa benar-benar yakin dengan bahan-bahan yang mau kamu beli?” ulang Andre sambil terus membuntuti Hana yang mulai melihat jajaran barang di rak.
“Yakin Andre. Dah kamu tenang saja ya.”
Andre mengambil alih troli yang semula Hana pegang, agar wanitanya ini lebih leluasa dalam memilih bahan.
“Nggak jelas banget sih ngidamnya….” gumam Andre tiba-tiba.
“Sudahlah Andre. Namanya juga ngidam. Kamu nggak tahu betapa menderitanya kami yang berada dalam posisi itu. Tiba tiba ingin dan tak tahu cara mengatasinya,” ujar Hana sebelum kembali memasukkan bahan.
Keduanya tertawa membuat dua orang yang berjada di kasir kompak melihat ke arahnya. Meski ini minimarket 24 jam, tetap saja tak akan banyak orang yang mau berbelanja di jam seperti ini. Sehingga di minimarket ini hanya ada dua pelanggan yaitu Hana dan Andre saja.
“Aayyyooo....”
Andre memanjangkan langkahnya saat sadar Hana sudah tak ada di dekatnya. Wanita ini berjalan dengan cepat dan dengan segera menambil bahan-bahan yang mereka butuhkan. Setelah dirasa cukup, mereka segera membawanya ke kasir.
“Mau tambah lagi. Teh hijau ini sedang promo, barang kali mau sekalian…” tawar seorang petugas kasir.
“Makasih, itu saja,” tolak Hana. Ia kemudian mencermati sekali lagi bahan yang telah ia beli. “Astaga lupa,” ujarnya kemudian
“Apa sayang?”
“Gula. Aku lupa beli gula.” Hana hendak berbalik namun segera Andre tahan.
“Aku saja. Dimana tempatnya?” tanya Andre pada Hana.
“Di sana…” Hana menunjuk rak tempat gula berada.
Andre mangangguk paham. “Ada lagi nggak. Sekalian aku ambilkan,” tawar Andre.
Hana memperhatikan belanjaannya sekali lagi. “Nggak ada…”
“Kamu nggak butuh sesuatu yang lain?”
__ADS_1
“Enggak sayang…”
“Oke…” Andre sempat mengusap lembut rambut Hana sebelum ia membalik badan untuk mengambilkan gula yang Hana minta.
“Mbak, Mbak. Masih ada stok nggak yang kayak gitu?” ujar wanita penjaga kasir ini.
“Stok apa ya Mbak?” tanya Hana yang merasa tak paham dengan pertanyaan petugas kasir ini.
“Yang seperti suami Mbak. Barang kali bisa dikenalkan sama saya…” ujar wanita ini sekali lagi.
Hana hanya tertawa segan sambil menoleh ke arah Andre yang sekarang berjalan ke arahnya. “Makasih…” ujar Hana saat mengambil 1 pack gula yang Andre bawa.
Setelah membayar, Hana dan Andre meninggalkan minimarket untuk kembali ke apartemen mereka. Jarak supermarket ini memang tak jauh, sehingga keduanya tak menggunakan kendaraan melainkan memilih untuk berjalan kaki saja.
Setelah keduanya tiba di apartemen, Andre segera mengunci pintu karena Hana telah masuk terlebih dahulu.
“Kamu tidur gih, nanti aku bangunkan kalau semua sudah siap…” ujar Hana pada Andre.
“Aku mau menemani kamu saja…” tolak Andre sambil berjalan lurus melewati Hana.
“Ya jangan, kamu kan belum tidur sejak malam,” ujar Hana mengingatkan.
Andre bangkit dan meraih kantong-kantong yang masih Hana pegang. Ia kemudian meletakkan semuanya di atas meja yang berada tak jauh dari mereka. Kemudian ia menarik pinggang Hana dan melingkarkan lengannya di perutnya.
Andre merendahkan tubuhnya dan meletakkan dagunya di pundak Hana. “Hana, kita nikah ya, biar aku bisa tidur nyenyak…”
Hana menghela nafas. “Ndreee…”
“Apa?” tanya Andre masih dari posisi yang sama.
“Aku harus membuat martabak manis untuk Rina…”
Andre mendengus dan melepaskan pelukannya. Ia segera menarik kursi dan duduk di sana.
“Seharusnya aku tadi tak meberitahumu perihal tugas tak masuk dari Dika. Dengan begitu, kita pasti sekarang bisa tidur nyenyak dan saling berpelukan…” gerutu Andre dengan tangan terkepal di atas meja.
Hana hanya tersenyum geli menanggapinya sebelum ia mengabaikan Andre untuk mulai bergerak untuk membuat martabak.
“Kamu kok asal tuang sih Han. Itu nanti enak nggak?” tanya Andre yang tak pernah putus memperhatikan Hana.
“Jangan kebanyakan protes Bapak. Lebih baik tunggu saja dan silahkan nanti anda coba sebelum kita bawa ke tempat Rina…” ujar rina dengan penuh percaya diri.
“Yakin sekali anda. Memangnya sudah pernah bikin?” tanya Andre yang terlihat tak begitu yakin.
“Pernah lah…”
“Kenapa nggak jualan saja.”
“Wah ide bagus…”
“Eh nggak jadi. Jangan jualan kalau begitu…”
Hana tak mau membalas ucapan Andre. Ia tak mau berdebat lebih lama lagi karena waktu terus berjalan. Ia tak ingin melihat Rina terlalu lama tersiksa karena menahan ingin yang kadang tak bisa diterima akal manusia.
__ADS_1
Andre memperhatikan dengan seksama apa yang tangah Hana lakukan sekarang. Wanita ini sangat cantik dan bisa melakukan banyak hal yang bahkan Andre tak sangka sebelumnya. Seandainya mamanya mengetahui sisi Hana yang satu ini, ia yakin jika Hana akan langsung menjadi kandidat menantu idaman. Sayangnya ia justru memperkenalkan Hana pada orang tuanya melalui kesan yang kurang baik sehingga hubungan mereka jadi tak jelas seperti sekarang ini.
Bersambung…