
Dedi say hi nih, 😊😊
Ristanya jealous, 😅😅
Bonus nih.
...*HAPPY READING*...
Malam semakin larut. Dan Dedi masih bertahan di posisi yang sama.
Semua memutuskan untuk tidur di kamar yang sama dengan Rista. Dika dan Rudi yang tidur di sofa, sementara Rina dan Santi tidur di kasur di sebelah Dedi dan Rista. Untung udaranya dingin, jadi sedikit berdesakan tak masalah untuk mereka.
"Kakak nggak capek?" tanya Rista yang masih terjaga.
"Udah kamu tidur aja kalau bisa. Tapi jangan lupa dilepeh dulu permen karetnya."
Dedi meminta Rista untuk mengunyah permen karet setelah memakan sup dan bubur buatannya. Mengunyah permen karet dapat merangsang produksi air liur. Air liur dapat membersihkan asam lambung dari kerongkongan dengan membawanya turun bersama air liur yang tertelan. Dengan demikian rasa pahit di mulut akan berangsur-angsur berkurang tanpa obat, karena ketiadaan obat penurun asam lambung saat ini.
Dedi tak sengaja membawa permen karet. Ini karena Rista selalu mengeluh saat Dedi merokok. Jadi ia akan mengunyah permen karet sebagai ganti rokok saat bersama Rista.
Lagi-lagi semua dibuat terpukau dengan pengetahuan Dedi soal hal ini, termasuk Rudi. Karena melihat adanya hati yang mendamba pemuda ini, Rudi tak ragu membantu biaya pendidikan Dedi. Hal ini agar posisi Dedi lebih mudah jika memang ada jodoh dengan putrinya.
Pasangan dengan status sosial yang berbeda itu akan mendatangkan masalah jika tidak disikapi dengan sebaik-baiknya. Kita tak berbicara novel romance di mana orang kaya jatuh cinta dengan orang miskin, dan berbekal rasa cinta itu mereka akan hidup bahagia selamanya. Tidak semudah itu. Banyak ketimpangan sosial yang harus disesuaikan keduanya. Jika tidak mampu, maka biasanya pasangan akan rentan menghadapi perpisahan di tengah jalan. Makanya ketika memilih jodoh itu sebaiknya memang dari satu kalangan yang sama untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian harinya.
Kalau pun tak mdir tak berkehendak Dedi berjodoh dengan Rista, maka tak masalah juga, karena Dedi pemuda yang baik dan punya kemampuan yang sayang jika tak diasah agar dapat lebih banyak membantu orang di masa depan.
"Kak ngantuk."
Dedi meraih tisu dan meminta Rista memuntahkan permen karet yang dikunyahnya.
"Capek Kak..." kembali Rista mengeluh karena terus duduk.
"Tapi bantalnya aku tinggiin di leher nggak apa-apa ya..."
Rista mengangguk.
"Sampai kapan gininya Kak?"
"Sampai perut kamu berasa enakan."
Rista benar-benar menurut dengan ucapan Dedi. Dia segera memejamkan mata saat Dedi beranjak darinya.
"Mau kemana?"
"Mau ke kamar Ta."
__ADS_1
"Di sini aja."
"Kamu tega dengan udara sedingin ini nyuruh aku tidur di lantai, hmm?"
"Ya udah, aku ikut Kakak."
Buru-buru Dedi menahannya saat Rista ingin bangun dan ikut bersamanya.
"Dedi tidur sini, biar saya yang pindah."
Spontan muda-mudi ini menoleh menatap Rudi yang sudah terjaga dari tidurnya.
"Om, maaf ya."
"Enggak kok, saya memang biasa bangun jam segini untuk tahajud."
"Tahajud?" ulang Dedi.
"Iya."
Rudi berjalan mendekati putrinya. Dedi sedikit bergeser agar Rudi bisa lebih dekat dengan Rista. "Kamu istirahat ya, biar besok pagi bisa lihat sunrise."
Rista kembali berbaring dengan dibantu Rudi. Rudi mengusap puncak kepala Rista. "Jangan lupa berdoa."
Rudi berbalik dan Dedi pun berjalan ke sofa.
"Pa..."
"Boleh minta cium?"
Rudi tak dapat menyembunyikan senyumnya. Dia berjalan kembali ke arah ranjang Rista. Memandang lekat wajah manis putri kecilnya, dan menatap mata yang ia yakini persis dengan yang dimilikinya. Ia mendaratkan sebuah kecupan yang begitu dalam di kening Rista. Tak henti-hentinya Rudi mengucap syukur dalam hati, karena berhasil mengecup kening putrinya untuk pertama kali.
Setelahnya, ia segera bangkit dan berbalik sebelum ada yang menyadari bahwa ada air mata yang meleleh di sudut matanya. Dia nemutar knop pintu dan keluar kemudian.
Meski tak jelas, sekilas Dedi melihat bahwa ayah tiri gadisnya ini tengah mengusap sudut matanya. Ia hanya diam karena tak pantas rasanya jika ia langsung bertanya. Kemudian ia menatap Rista yang tengah berbaring. Ternyata mata gadis itu pun sudah terpejam dengan sempurna.
Karena saking lelah dan kantuknya, Dedi pun turut memejamkan mata.
***
"Sayang, bangun. Subuh yuk..."
Dedi memang punya pendengaran yang peka. Diapun langsung terjaga meskipun bukan dia yang dibangunkan.
Santi menggeliat. "Mas Rudi nggak tidur?" tanya Santi dengan suara seraknya.
"Aku bangun jam setengah 3 terus tahajud. Bangunin Rista dan Rina ya, aku bangunin Restu."
"Iya Mas."
Rudi berjalan menghampiri Dika. Ia terkejut saat melihat Dedi udah terjaga dan tengah mengucek matanya.
__ADS_1
"Kamu tidur lagi aja, perjalanan pulang bahaya kalau kamu nyetir dalam keadaan mengantuk," kata Rudi.
"Nggak apa-apa Om, Dedi ingin bangun."
Dedi berjalan menuju kamarnya. Entah mengapa ia ingin sekali mandi dan membersihkan dirinya.
Saat ia selesai mandi, ia segera turun dan ingin bergabung bersama keluarga sahabatnya.
Namun saat ditangga, dia mendengar suara bacaan yang begitu mendu menyapa telinganya. Rudi kini sedang membaca surat Al Kafirun direkaat kedua sholat subuh berjamaah mereka.
Dedi berjalan perlahan dan duduk di sofa. Ia merasa begitu kecil setiap kali Rudi mengucap takbir. Terakhir setelah memimpin dzikir singkat, Rudi mulai melantunkan doa disambut Aamiin dari makmum agar Allah mengabulkan setiap doa yang dipanjatkan.
Ketika doa sapu jagat dimunajatkan, entah mengapa lagi-lagi Dedi harus mengeluarkan air mata di pagi yang buta ini.
Dika yang pertama mencium tangan Rudi, kemudian Santi, dan terakhir Rista mencium tangannya dan melewati Rina karena bukan muhrimnya. Dia lantas bangkit dan sekilas bertemu mata dengan Dedi.
Mau tak mau mata basah Dedi tertangkap oleh indra penglihat Dika. Tak ingin Dika lebih lama melihatnya, Dedi segera berlari keluar dan segera menyalakan kran di depan villa untuk membasuh mukanya.
Menyadari ada yang aneh dengan sahabatnya, Dika segera berlari menyusulnya keluar.
"Restu kenapa sih?" Santi bertanya sambil melipat sajadahnya.
"Nggak tahu Ma."
Hanya Rista yang menjawab, sedangkan yang lain hanya menggelengkan kepala.
Rina dan Rista segera meninggalkan Santi dan Rudi.
"Mas tadi malem tidur jam berapa?"
"Nggak lama setelah kamu tidur. Dan saat saya bangun Dedi masih terjaga."
Santi menghela nafas. "Kalau sama Dedi gimana Mas? Mas Rudi yakin juga?"
Rudi menggeleng.
"Nah, apa lagi dia beda keyakinan Mas sama kita."
"Sayang, terlepas dari keyakinannya, Dedi adalah anak yang baik, selain itu dia juga sangat cerdas, hanya saja nasibnya kurang beruntung, menjadi yatim piatu dan tak banyak pilihan hidup."
"Mas beneran mau biayain kuliah dia?"
"Kalau dia mampu why not?"
Santi menatap Rudi dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Rudi meraih tangan Santi dan menciumnya. "Soal keyakinan aku emang bermasalah, tapi untuk ajakan masuk islam tidak akan saya paksaan. Hidayah itu datangnya dari Allah, dan tugas kita adalah menunjukkan indahnya islam, damainya islam, nikmatnya Iman. Soal Dedi saya akan membantu dia, karena saya merasa dia berhak mendapat bantuan saya. Tapi untuk hubungannya dengan Rista, itu masih lama, dan biarkan Allah menentukan takdirnya. Kita hanya perlu menjaga anak kita dengan bekal agama yang sepertinya mereka cukup ketinggalan."
Santi mengangguk setuju.
"Kita ngaji bentar yuk..."
__ADS_1
TBC.