Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Suka Kamu


__ADS_3

HAPPY READING


Ini adalah kali pertama Hana meyakini adanya cinta, seain cinta tanpa syarat dari sang mama untuknya. Sehingga ia berani mempertaruhkan semuanya untuk Andre agar tetap berdampingan dengannya.


Keputusan Andre untuk membawanya tinggal bersama Hana sambut dengan rela. Meskipun terasa mengangganjal, namun ia tak tahu kehidupan seperti apa yang akan dihadapinya jika Andre tak di sampingnya. Memang hal ini tak dapat dibenarkan meski itu dengan alasan apa, tapi Hana berjanji dalam hati untuk tak mengulang kesalahan yang sama lagi.


“Sayang, kamu jangan khawatir. Kita masih punya akal sehat yang aku yakin jika menghilang pun masih ada hati yang bisa mengontrol diri."


Hana mengerjab mendengar setiap kata yang Andre ucapkan. Meski ia tak yakin akan komitmen kekasihnya, setidaknya sudah ada proses usaha.


“Kala itu, kamu tak bisa menahanku saat itu karena aku mendominasi dirimu. Tapi saat ini tidak lagi. Kita berjalan bersama, kita berjalan di atas kesepakatan bersama, bukan atas kemauan sepihakku saja,” ujar Andre dengan sungguh-sungguh.


Hana masih diam. Hanya kesungguhan yang ia lihat sekarang, tapi jujur saja belum bisa meniadakan keraguan.


“Aku tak akan melandaskan paksaan atas apa pun yang akan aku lakukan padamu saat ini hingga nanti. Tahan aku kalau aku kelewatan, ya…” Andre sempat mencium tangan Hana sebelum kembali menatap lekat wajah ayu kekasihnya.


“Jadi intinya apa?” tanya Hana akhirnya.


Andre menghela nafas. “Intinya aku akan mengajakmu tinggal bersama, tapi kita kembali ke rumah bukan ke apartemen,” putusnya.


“Lalu?”


“Jika kita tinggal di rumah, kita tak hanya tinggal berdua. Ada banyak yang harus diurus dan dilakukan. Dengan adanya lebih banyak orang yang tinggal, maka kemungkinan kita melakukan berbagai hal semaunya akan terminimalkan. meskipun mungkin akan terasa tak nyaman awalnya, tapi aku yakin kita akan biasa, dan itu memang yang terbaik aku rasa.”


"Aku setuju..."


"Ya memang harus setuju."


Kedua sudut bibir Hana tertarik seketika sementara itu Andre justru tanpa ragu malah menyunggingkan tawa. Hana yang tak paham dengan apa yang Andre tertawakan juga jadi tertawa tanpa tahu sebabnya.


Ini lah hebatnya cinta, membuat insan yang terjangkit virusnya akan jadi gila tanpa jelas sebabnya. Setelah masing-masing puas dengan tawa tak jelasnya, akhirnya Andre kembali menjalankan mobilnya.


“Han…”


“Hmm…”


“Kamu bisa masak apa aja?”


Pertanyaan random Andre membuat Hana spontan menoleh menoleh seketika. Di sampingnya ia mendapati Andre yang masih focus dengan kemudinya.


“Kenapa emang?” alih-alih menjawab pertanyaan Andre, Hana justru kembali mengumpankan pertanyaan.


“Masak itu capek nggak sih?” tanya Andre lagi.


“Sebenarnya kamu mau ngomong apa?”


“Aku suka ngeliatin kamu pas lagi masak.”


“Intinya?”


“Aku suka kamu masak.”


“Suka aku masak apa suka masakan aku?”

__ADS_1


“Suka kamu…”


Hana mendengus dan membuang muka. Andre berbicara dengan wajah datar namun langsung membuat Hana salah tingkah tanpa mau menunggu lebih lama.


“Di depan ada martabak manis, boleh ya…” saat tadi Andre yang random, kini Hana juga tak pada jalur lagi.


“Kamu mau?” tanya Andre sembari menoleh ke arah Hana. Sepertinya ia sama sekali tak tahu saat dimana Hana baru saja ia buat salah tingkah olehnya.


Hana mengangguk saat tatapan keduanya sejenak beradu. Ia segera menepikan mobilnya di tempat yang Hana minta sebelumnya.


“Kamu mau toping apa?” tanya Andre sembari melepas sabuk pengamannya.


“Aku mau semua,” ujar Hana.


Andre menahan Hana saat wanita ini juga ingin melepas sabuk pengamannya juga. “Kamu tunggu sini aja, biar aku yang turun,” lanjut Andre menjelaskan.


Hana terdiam. Hanya hembusan nafas dan detak jantung yang menjadi pertanda kehidupan. Diperlakukan seperti ini memang masih menjadi ancaman tersendiri untuk Hana. Sudah nyaris tak ada jarak antara keduanya, namun setiap sentuhan Andre selalu membuat dadanya menggelora.


Andre keluar setelah menyempatkan diri meraup singkat bibir Hana sebelum keluar untuk membelikan apa yang kekasihnya minta. Hana perlahan memegangi dada yang sedang mengadakan orchestra di dalamnya. Terasa bergemuruh dan gaduh seakan ada perayaan besar di dalam sana.


Tak berselang lama, Andre sudah berjalan kembali menuju mobilnya. Refleks Hana menurunkan kaca mobilnya untuk menyambut kedatangan kekasihnya.


“Mana?” tanya Hana saat menyadari Andre kembali dengan tangan kosong.


“Masih di buat. Kamu nggak lagi nyuruh aku nunggu sampai jadi di sana kan?”


Hana meringis, ia segera membuka pintu sebelum kemudian meraih lengan Andre dan mengamitnya saat keduanya sudah di luar. Tentu saja hal ini membuat Andre heran dengan kelakuan Hana yang tak biasa. Bahkan kini Hana juga menyandarkan kepalanya.


Hana menggeleng tanpa mendongakkan kepalanya.


“Aku sayang kamu…” ujar Andre sembari merubah posisi jadi merangkul tubuh kurus Hana.


“Aku juga…” balas Hana yang pasrah saat posisinya dirubah.


“Kenapa kamu kurus sekali?” tanya Andre sambil menekan-nekan pundak hingga lengan Hana.


“Badanku dari dulu emang segini.”


“Nggak ada rencana kamu gedein?”


“Nggak ada,” jawab Hana singkat.


“Kenapa?” nampak sekali Andre tak puas dengan jawaban Hana.


“Kenapa?” ulang Hana yang terkejut akan protes yang ia terima.


Andre melepaskan rangkulannya dan menangkup wajah Hana. “Aku cuma takut kamu terlalu menyiksa diri untuk menjaga tubuh kamu. Padahal…”


“Padahal?” ulang Hana.


Andre mencubit singkat kedua pipi Hana sebelum kembali menangkupnya. “Han, you mean the world to me, and…”


Bibir Hana bergetar karena menahan tarikan kuat di kedua bibirnya. “And…” ulangnya untuk meminta Andre meneruskan ucapannya.

__ADS_1


“And I love you unconditionally…”


“Mmmm….” pekik Hana tertahan karena buncahan kebahagaian yang ia rasakan seketika. Ia melepaskan kedua tangan Andre dari wajahnya dan menghambur ke dalam pelukan tubuh tegap kekasihnya. Namun hanya sedetik sebelum ia kembali melepaskannya lagi.


“Aku nggak percaya,” ujar Hana tiba-tiba.


“Apa masih kurang bukti?”


“Aku nggak punya apa-apa Andre, jadi apa yang bisa membuatku yakin kalau kamu benar-benar menginginkanku?”


Andre menghela nafas. Ia kemudian kembali menarik Hana dan mengusap kepala kekasihnya yang ia sandarkan di dadanya. “Menurut kamu, apa keuntungan yang bisa aku dapat dari hubungan kita?” Andre coba balik bertanya.


Hana terdiam.


“Coba kamu sebutkan, kira-kira apa yang akan aku peroleh dari hubungan kita ini?” desak Andre lagi. Ia memang sengaja menekan kekasihnya tengah menyebal sekarang ini.


Hana menarik kepalanya dan menegakkan tubuhnya kemudian. “Apa?”


“Iya apa? Coba kamu jelaskan kalau aku memang tak tulus alias ada modus berhubungan sama kamu,” tantang Andre lagi.


Hana menggeleng. “Aku nggak ngerti.” Nampaknya Hana sudah menyerah.


“Ya emang nggak ada Hana.” Andre menarik Hana lagi untutk lebh dekat kepadanya.


“Apa kemampuan bahasa asing kamu turun sekarang?” tanya Andre lagi dengan jarak wajah keduanya yang sangat dekat.


Hana menggigit bibirnya. Di tatap seperti ini dengan jarak sedekat ini membuat orchestra di adanya bergemuruh lagi.


“Sepertinya aku perlu membawa kamu untuk terus di sampingku seperti yang Dika lakukan dengan Rina,” ujar Andre dengan focus yang sudah terarah pada satu titik yang selalu menjadi candu baginya selama ini.


“Maksud kamu?” lirih Hana yang sebenarnya hanya pengalihan dari kegugupan yang menyerangnya sekarang.


Nafas Andre terdengar berat. Tahu apa yang akan Andre lakukan, Hana hanya mampu memejamkan mata.


"Permisi..."


Andre dan Hana masing-masing menjauhkan tubuhnya dan dengan gerakan asal keduanya merapikan masing-masing penampilannya. Andre sempat melihat sekilas keadaan Hana sebelum berbalik menatap orang yang kini menghampiri keduanya.


“Pesanan saya?” tanya Andre saat melihat seorang pria muda membawa 3 buah box martabak manis di tangannya.


“Iya…” jawab pria muda itu.


“Sebentar…” Merogoh kantongnya, Andre baru ingat kalau ia tak punya cash sama sekali. “Duh, saya lupa bawa cash, apa di dekat sini ada ATM?” tanya Andre pada pemuda tadi.


“Itu, di seberang ada Pak.” Pemuda tersebut menunjuk sebuah titik dimana mesin ATM berada.


"Tunggu sebentar ya..." ujar Andre sebelum berjalan menuju mesin ATM di seberang jalan.


Sementara menunggu Andre kembali, Hana memutuskan untuk menerima martabak yang ia minta tadi. Ia tertawa kecil menatap 3 box yang kini sudah berpindah tangan padanya itu. Permintaan asalnya dengan mudah Andre kabulkan jadi mana mungkin Andre bisa seperti ini jika tak ada cinta untuknya.


Sebenarnya ia tak benar-benar ingin martabak tadi. Ia hanya asal bicara karena Andre yang dengan gampangnya membuat ia melayang hingga kesulitan untuk sekedar mencari pijakan.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2