Zona Berondong

Zona Berondong
Putra Surya


__ADS_3

^^^Makasih atas masukannya Kaka.^^^


^^^Insyaallah Rina dan Dika akan menyapa setiap harinya.^^^


^^^Spam komen terus ya, biar author makin semangat ngehalunya.^^^


^^^-Happy reading-^^^


Ddrrrtt ddrrtt ddrrrr


"Rin, HP lu tuh."


Rina segera meraih ponsel yang tergeletak di sebelah Dian.


"Rio," gumamnya saat melihat sebuah nama yang tertera di sana.


"Siapa?" Dian meraih ujung ponsel Rina agar ia yang berbaring dapat melihat nama yang tertera di sana.


"Rio ya?" tanya Nita yang baru saja ikut berbaring di sana.


Rina dan Dian mengangguk serempak.


"Angkat gih. Lari dari masalah itu bukan solusi Rin."


Pandangan ketiganya beradu. Dian mengangkat sebelah tangannya dan diletakkan di bahu Rina. Tak berselang lama, Nita pun melakukan hal yang sama di bahu Rina yang sebelah.


"Kita bakal terus ada buat kamu."


Setelah mendengar ucapan Nita, Rina segera menggeser tombol hijau di ponselnya.


"Halo."


^^^"Sebegitu susahnya ya kamu ngangkat telpon aku." Terdengar nada kesal dari ucapan Rio.^^^


Rina diam.


^^^"Jangan bikin aku marah! Atau..., kamu emang pengen lihat gimana akibatnya kalau sampai aku marah."^^^


"Mas, aku kudu gimana?" tanya Rina akhirnya.


^^^"Emmm, nggak kudu gimana-gimana. Cukup jadi pacar yang baik, jangan banyak tingkah dan jangan banyak protes." Rio menjawab dengan penuh penekanan.^^^


"Aku bisa, aku bisa. Tapi..." Rina mendadak ragu untuk meneruskan ucapannya.


^^^"Tapi kenapa. Hmm?" desak Rio.^^^


"Tapi aku ngerasa selama ini Mas nggak mau ngakuin aku," ucap Rina takut-takut.


^^^"Pengen diakuin kayak gimana sih? Dasar ABG, cih..."^^^


Rina dapat mendengar dengan jelas kini Rio tengah menertawakan dirinya dengan remeh.


"Mas, aku bahkan nggak bisa protes ketika ada yang menggelayut manja sama Mas, aku nggak bisa nanya apalagi marah ketika Mas Rio diam-diam menemui wanita yang jelas aku tahu punya hubungan lebih sama Mas, aku cuma boleh diam ketika ada temen Mas, aku ini pacar macam apa sih Mas!?"


Amarah Rina mulai berkobar. Dia merasa tak lagi cukup hanya dengan diam.


Dian yang belum paham cerita hanya bisa menutup mulutnya yang menganga tak percaya. Pantas saja Rina kayak empet banget sama pacar barunya. Ternyata ini yang terjadi.


^^^"Dasar nggak tahu diuntung."^^^


"Apa, nggak tahu diuntung? Coba Mas jelasin di mana letak keberuntunganku jadian sama kamu. Jadian belum ada 2 Minggu, aku udah berkali-kali dapat tamparan, gimana kalau sampai sebulan, atau setahun. Udah jadi ****** aku jangan-jangan!"


^^^"Ckckck, bagus ya, baguuussss. Baru jalan sama bocah omongan kamu udah kayak ja**ng. Atau jangan-jangan kamu juga udah dipake sama Restu Andika Putra Surya."^^^


Rina terkesiap saat Rio kembali tertawa remeh. Kok Rio bisa tahu nama panjang Dika? Tunggu deh, bahkan selama ini aku belum pernah tahu kalau ada nama Surya yang tersemat di nama Dika. Aku hanya tahu kalau namanya Restu Andika Putra S tahu S itu kepanjangan dari apa.


^^^"Kenapa diam saja? Jangan-jangan benar yang aku bilang?"^^^


"Mas, aku nggak ada hubungan apa-apa dengan Dika."


^^^"Apa aku harus percaya?"^^^


"Mas. Aku nggak akan nyampurin urusan kamu. Tapi kita putus ya." Rina merendahkan suaranya untuk meminta.


^^^"...."^^^

__ADS_1


Tak ada jawaban dari Rio selain suara tawa menggelegar di seberang sana.


^^^"Sepertinya kali ini aku tak bisa mengabulkan keinginanmu cantik." Rio kembali terkekeh setelahnya.^^^


"Apa salahku Mas?" Rina mulai frustasi.


^^^"Salahmu ya?" Rio menjeda ucapannya seolah sedang berfikir. "Pertama, karena kamu adalah pacar dari Restu Andika Putra Surya. Kedua...." Rio kembali diam membuat Rina makin didera rasa cemas. "Karena kamu sudah berani main-main denganku," lanjut Rio akhirnya.^^^


"Ada masalah apa antara Dika dan kamu?" tanya Rina penasaran.


^^^"Kenapa? Kamu mengkhawatirkan dia?"^^^


"Mas..." Suara Rina terdengar begitu frustasi.


^^^"Kamu turutin apa kemauanku, atau kamu dan mantan kamu itu akan hancur di tanganku."^^^


"Mas?!"


Tut tut tut tut


"Mas, halo, Mas, Rio?!" Rina menatap nyalang ponsel di tangannya.


"Breng**k!!" Rina meletakkan ponselnya dengan kasar.


Nita berjongkok di depannya dan Dian beringsut ke sebelah Rina.


"Apa semua ini ada hubungannya dengan Dika?" tanya Nita.


Rina mengangguk.


"Jadi semua ini bukan kebetulan," gumam Dian dengan mata menerawang.


Rina dan Dian serempak menatap Dian.


"Iya, sepertinya Rio emang sengaja deketin kamu dan ngerusak hubungan kamu sama Dika."


Nita tampak berfikir. "Ya meskipun pada awal perkenalannya otak kamu lagi geser kayaknya. Jadi pas banget."


"Dia ngancam akan bikin aku dan Dika hancur kalau aku nggak nurutin apa maunya," ucap Rina tiba-tiba.


Rina mundur dengan mata terpejam sedangkan Dian langsung menutup rapat telinganya.


"Cingurnya tolong di kontrol ya. Kasihan nih gendang telinga." Dian mencibir dengan tetap menutup rapat kedua telinganya.


"Ops. Sorry." Nita meringis dengan mengacungkan jari tengah dan telunjuknya.


"Apa aku kudu ngasih tahu Dika?"


Kedua sahabatnya nampak berfikir.


"Jangan deh kayaknya," ucap Nita ragu.


"Emm, kalau menurutku mending kamu kasih tahu deh."


"Aaagh..." Rina mengerang frustasi dan menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. "Kompakan dong ngasih sarannya."


Dian dan Nita segera menyusul Rina dengan ikut berbaring di kedua sisinya. "Kita juga belum pernah ngalamin yang kayak gini Rin...."


"Ho'oh," sambung Nita menimpali.


"Terus aku kudu gimana dong?"


"Eemmm......"


1 detik


2 detik


3 detik


4 detik


...


n detik

__ADS_1


"Kirain ngasih solusi, ternyata cuma PHP," cibir Dian pada Nita yang tak juga mengeluarkan kata-kata dari mulutnya.


"Jalan yuk?" celetuk Rina yang tiba-tiba bangkit dan duduk di tepi ranjang.


"Haaaa....!?" keduanya cengo.


"Dah buruan ganti baju. Cari sendiri sono di lemari." Rina bangkit dan segera menuju kamar mandi setelah sempat menyambar handuk.


"Temen lu cara mikirnya gimana sih?"


"Temen lu juga tuh," protes Nita tak terima.


Dian mendesah. "Tadi aja galau, frustasi. Baru aja mau bantu mikir, eh dianya ujug-ujug auto girang."


Nita geleng-geleng mendengarnya. "Semoga kali ini dia nggak ngelakuin hal yang bikin dia kelimpungan sendiri nanti."


"Dah lah, nyusulin Rina mandi yok, gerah gua."


Keduanya segera bergabung dengan Rina di kamar mandi untuk membersihkan diri.


***


Rio tampak memarkirkan mobilnya di halaman parkir sebuah gedung perkantoran. Dia sempat merapikan pakaiannya sebelum melanjutkan langkah melewati lobi menuju salah satu lift.


"Mas!"


Rio berusaha menemukan pemilik suara yang terasa familiar itu.


"Mas."


Panggilan itu terdengar lagi berbarengan dengan munculnya seorang gadis dengan pakaian casualnya.


"Anak kecil ngapain di sini?" Rio mengacak rambut gadis itu begitu ia tiba di dekatnya.


"Ih, kok diacak-acak sih..." protesnya.


Rio terkekeh. "Baru dateng juga?" tanya Rio.


"Iya, hehehe."


"Jadi?" tanya Rio lagi sambil memasuki lift yang pintunya baru saja terbuka.


"Lagi kangen rumah aja, terus tadi pas nyampe rumah Mama bilang Papa masih di kantor."


"Siapa suruh sekolah jauh-jauh?"


"Lusi kan pengen mandiri, kayak Mas Rio gitu?"


"Pengen mandiri apa biar nggak ketahuan kalau nakal."


"Mmaaaass, ih. Nggak asik." Lusi merengut kesal terhadap sepupunya itu.


Keduanya terkekeh.


Ting


Pintu lift terbuka, keduanya segera keluar karena tujuannya berada di lantai yang sama.


"Udah janjian sama Om Eko?"


"Belum Mas, sengaja pengen bikin surprise," jawab Lusi riang.


"Ya udah, aku juga ke Papa dulu."


"Oke."


Lusi dan Rio berjalan menuju ruangan yang berbeda. Mereka sekarang sedang berada di Rahardja Group.


Ayah Rio dan Lusi bersahabat sejak muda. Galih Rahardja adalah ayah Rio yang merupakan CEO dari perusahaan ini, sementara Eko Santoso adalah ayah Lusi yang sejak awal bersama Galih merintis perusahaan dari nol. Hingga perusahaan mampu berkembang pesat, Eko terus bersama Galih bahkan hingga akhirnya menikah dengan adik Galih yang bernama Aning.


TBC


Thanks a lot buat semua yang udah baca.


Semoga author segera bisa meningkatkan frekwensi upload, biar bisa mengabulkan keinginan temen-temen yang udah dukung author.

__ADS_1


Sekali lagi terimakasih, 🙏🙏


__ADS_2