Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Lepas


__ADS_3

HAPPY READING


“Kamu tadi nyadar nggak?” tanya Dian pada Ken saat baru saja pasangan ini menutup dari luar pintu ruangan Andre. Keduanya baru saja bermamitan karena selain Andre dan Hana, mereka juga tadi menemui Dika dan Rina untuk keperluan yang sama.


Ken dan Dian berencana meresmikan dan melakukan resepsi pernikan mereka. Pemberkatan sudah dilakukan sehingga mereka hanya ingin berbagi bahagian dengan sahabat dan keluarga, sembari mengabarkan bahwa sebenatar lagi ada kehidupan baru di tengah mereka.


“Nyadar apa?” Ken balik bertanya sembari meraih tangan Dian untuk digenggamnya.


“Mereka tadi sepertinya sedang ada masalah…” ujar Dian yang harus sedikit mendongak untuk dapat bertemu pandang dengan Ken.


Ken mengambil satu langkah lebih panjang dari Dian dan berhenti tepat di depan. Ia kemudian meraih rambut Dian yang jatuh ke muka dan menyelipkannya di belakang telinga.


“Dalam sebuah hubungan,yang namanya masalah kan sudah biasa datang. Meraka bukan remaja yang saat ada masalah harus ada orang lain yang bantu meluruskan. Tapi mereka adalah orang dewasa yang pasti bisa mencari jalan untuk menyelesaikan permasalahan yang menghadang,” ujar Ken kemudian.


“Ia juga…” Dian mengangguk kemudian keduanya kembali berjalan.


Dian mengamit lengan Ken dan menyandarkan kepalanya di pundak suaminya. Mereka terus melangkah meninggalkan kantor Surya Group setelah selesai menyerahkan undangan pernikahan untuk dua petinggi perusahaan ini.


Sementara itu di dalam ruangan, Andre dan Hana kembali dalam diamnya. Mereka sudah mulai bekerja karena Andre memang meminta Hana ikut untuk urusan ini.


Mereka enggan menatap satu sama lain dan hanya bicara seperlunya terkait pekerjaan.


“Kamu kalau capek pulang saja…” ucap Andre tiba-tiba tanpa menatap Hana yang diajaknya bicara.


Hana yang kini tengah menyelesaikan dokumen terakhirnya sempat berhenti membaca untuk menetralkan rasa tak nyaman yang menyeruak di dalam dada.


“Iya…” jawabnya sebelum kembali memusatkan perhatian pada pekerjaan yang seharusnya sama sekali bukan tugasnya.

__ADS_1


Mendengar jawaban Hana, kini giliran Andre yang dibuat merasa mendapatkan pukulan. Kenapa hanya iya? Kenapa ia tak tanya kenapa? Atau tanya aku mau kemana, atau… Akh...


Andre tiba-tiba mengacak rambutnya sebelum mencoba untuk focus lagi pada pekerjaan di tangannya.


“Fuhhh…” Andre menghembuskan nafas kasar untuk mengusir sesak. Ia menatap sekilas Hana yang nampak benar-benar acuh terhadapnya.


Melihat Hana yang nampak serius dan focus, membuat pikiran Andre melayang ke beberapa waktu lalu saat Hana masih menjadi stafnya. Sebelum terbongkar semuanya, Andre memang paling sering berinteraksi dengan wanita ini ketimbang 3 yang lainnya. Alasannya tak lain dan tak bukan adalah karena semua kelebihan yang Hana miliki saat bekerja. Namun Andre kadang juga mendapat bonus karena matanya terasa sejuk saat menatap wajah cantik Hana saat serius seperti sekarang. Namun bedanya dulu ia senang melihat keseriusan Hana, tapi sekarang ia justru terganggu karena merasa diacuhkan.


Andre mengepalkan kedua tangannya dan bangkit dengan segera dari tempat duduknya. Dengan langkah panjang ia menghampiri Hana dan merebut dengan paksa apa yang ada di tangan kekasihnya.


“Kamu ngap…”


Srrrrkkkk! Klunthang! Brrrkkk! Tuk! Tuk! Tuk!


Suara Hana tertelan saat menyapu semua yang ada di depan Hana dengan tangannya. Semua terjatuh dan langsung gaduh. Tak hanya berhenti di situ, Andre kemudian mengangkat tubuh Hana ke atas meja yang baru 'dibersihkannya'.


Hana hanya mampu mengerjab dengan mulut menganga melihat apa yang kini dilakukan kekasihnya. Entah takut apa terkejut, yang jelas Hana merasa degub jantungnya sangat kencang saat ini. Saat Hana memberanikan diri untuk menatap kekasihnya, ia baru sadar jika Andre dadanya juga tengah naik turun entah karena apa.


Hana berusaha menolak tapi akhirnya ia harus rela bibirnya dilu*** dengan kasar. Dengan sekali tarik\, ia juga harus rela beberapa kancingnya terlempar dan menggelinding ke mana-mana.


Semula Hana ingin membebaskan diri, namun akhirnya ia terseret juga oleh arus n**su yang menggebu yang Andre bawa entah dari mana.


“Andre, Andre…” ucap Hana susah payah. Bibirnya nampak bengkak dan memerah, rasanya pun mulai kebas hingga sangat sulit untuk ia ajak berucap.


Untung sekelebat ingatan Hana segera kembali tepat sebelum Andre menyentuh inti. Ia sadar dimana sekarang mereka berada. Sedang di kantor dengan pintu ruangan yang belum terkunci sebelumnya.


“Kenapa? Kamu menolakku sekarang? Ha?!!” tanya Andre dengan dada naik turun diiringi nafas yang menderu penuh n**su. Wajahnya memerah menahan hasrat dan amarah yang meluap tanpa sebab.

__ADS_1


Hana menelan ludah. Entah otaknya gesrek atau bagaimana yang jelas ia kian terpesona menghadapi Andre yang tengah berkobar seperti ini. Tanpa memperdulikan kemarahan Andre, Hana mengangkat tangannya untuk mengusap peluh di pelipis kekasihnya.


“Seingatku pintu belum terkunci…” sebuah kalimat sederhana bermakna laknat Hana ucapkan dengan tanpa beban berhasil membuat Andre merasa tersambut.


Awalnya Hana ingin mengingatkan agar keduanya sama-sama bertahan demi mendapatkan ridho dalam hubungan. Namun yang ada sekarang, mereka malah sama-sama ingin melepaskan.


Andre menarik tubuhnya segera setelah sempat diam sesaat menerka apa yang Hana maksudkan. Setelah maksud ia dapatkan, ia berjalan menuju pintu dan menguncinya dengan segera dari dalam.


Dan kini pria ini justru membeku dengan amarah yang telah berubah. Ia menatap Hana yang juga tengah menatapnya dengan tatapan sayu. Rindu. Mereka sama-sama merindu. Merindukan dosa yang menjadi candu.


Masih dengan kontak yang tertahan, Andre melepas kancing jas dengan sebelah tangan. Jika ini bukan ruangan berAC, mungkin ia sudah banjir keringat sejak tadi. Setelah jas berwarna abu itu ia lemparkan, Andre tak mampu lagi menahan kerinduan yang selama ini ia mampatkan sekuat jiwa. Dan Hana yang semula masih ada niat untuk bertahan kini juga lepas bersama pria terkasih yang bertahta penuh di dalam hatinya.


Dua jam kemudian seorang kurir datang dan menitipkan barang di meja staf sekertaris. Barang pesanan Andre yang kebetulan Elis terima saat ini. Memang tak ada pesan khusus jika Elis yang harus menerima, namun setelah tahu kurir itu menyebut nama Andre sebegai penerima, Elis langsung bangkit dan dengan penuh semangat menerimanya.


“Wih, romantis ya…” celetuk Rahma saat dengan jelas ia melihat logo brand ternama pada bungkus terluar paket yang baru saja Elis terima.


“Romantis?” ulang Elis yang sepertinya belum dapat menerka apa maksud rekannya.


“Ya di dalam kan ada Hana, aku yakin pak Andre mau ngasih itu hadiah buat Hana. Aku berani bertaruh jika isinya pakaian wanita,” ujar Rahma dengan keyakinan penuhnya.


“E mau apa kamu?” belum luntur kepercayaan diri yang semula Rahma pasang, ia langsung dibuat panik saat dengan gerakan tak sabar Elis seperti ingin membuka untuk melihat isi paperbag yang belum sempat ia lepaskan.


Riza yang semula cuek, langsung bangkit dari tempatnya dan mengambil apa yang sedang ada di tangan rekannya.


“Mbak, itu, itu... Mau ke mana?” tanya Elis saat melihat Riza membawa paket tersebut menjauh darinya.


“Mau aku amankan.”

__ADS_1


Riza membawa paket tersebut dan meletakkan di mejanya. Ia kemudian lanjut bekerja seolah tak terjadi apa-apa.


Bersambung…


__ADS_2