
HAPPY READING
Keriuhan yang mendadak muncul pun ditinggalkan. Dalam keadaan tegang, Rina kini tengah berjuang menahan sakit menuju rumah sakit untuk menjalani proses persalinan. Tidak muncul tanda akan melahirkan dan tak ada kontraksi berkala yang Rina rasa sebagai sinyal awal proses kelahiran anaknya. Namun ia malah mengalami mendadak pecah ketubannya dan nyeri hebat menyerang seketika.
Memang proses persalinan setiap wanita itu berbeda. Masing-masing punya cerita dan suka dukanya. Begitu pun dengan yang terjadi pada Rina. Sedikit berbeda dengan kebanyakan inpartu di luar sana, namun itulah kenyataan yang terjadi padanya.
Andre terpaksa ikut ke rumah sakit dan meninggalkan acaranya. Ia masih harus berjuang menahan sakit karena Rina tak mau melepas jambakannya. Hana yang tak tega juga ikut akhirnya. Entahlah akan seperti apa acara pertunangan tanpa pasangan yang ditunangkan. Mungkin akan jadi semacam jamuan bisnis jika sudah diambil alih oleh Galih dan Edo yang masih bertahan di sana.
“Aduh, aduuhh…”
Sesekali Andre merintih saat Rina tiba-tiba mengencangkan jambakannya. Namun sayang, istri bosnya ini tak juga membiarkannya selamat dengan segera. Sementara semua hanya bisa memintanya untuk bersabar hingga Rina sendiri yang melepasnya.
“Anaknya siapa yang menderita siapa,” gerutu Andre di tengah kesakitannya.
Hana yang senantiasa di sampingnya hanya mampu mengusap-usap lengan Andre.
“Lepasin dong Rin. Kenapa harus gue bukan suami Lu aja,” omel Andre saat tak hanya sakit yang menyerang namun pegal juga mulai datang. Ia masih berusaha melepaskan jambakan Rina, namun lagi-lagi gagal karena terlalu kuat cekeramannya. Dan hal yang bisa ia lakukan hanyalah pasrah dan bersabar sementara.
“Lu sabar Ndre. Yakin deh yang ini pahalanya gede,” ujar Nita yang berada di samping Rina. Wajahnya sama sekali tak menunjukkan simpati. Ia malah lebih tampak menahan tawa.
Andre hanya mendengus. Toh mendebat juga tak akan membuatnya bebas dengan cepat.
Setelah menempuh perjalanan bak orang kesetanan, akhirnya rumah sakit yang di tuju mereka tapaki juga.
Dedi sudah mempersiapkan semuanya sementara Dika masih kebingungan karena panic yang menyerang. Sudah ada perawat yang menjemput Rina dan membawanya ke ruang untuk tindakan segera.
“Alhamdulillah…”
Seru Andre yang merasa keselamatan akhirnya menjadi nyata.
“Lihat kan. Rina juga nggak kenapa-kenapa kalau jambakan di kepalaku dilepaskan. Kalian saja yang sepertinya tega melihatku menderita,” omel Andre kepada Nita yang memang ada di mobil yang sama dengan dia.
“Ya nggak gitu. Belum tahu aja sakitnya orang yang mau melahirkan,” ujar Nita berkilah.
“Emang kamu tahu?” sarkas Andre.
Nita menarik kedua sudut bibirnya lebar, selanjutnya ia meringis sambil geleng kepala.
“Tck…” Andre berdecak dan buang muka. Ia lantas bersandar di tubuh Hana yang berdiri tepat di depannya. Calon istrinya ini sedang memijat lembut kepalanya, berharap sakit yang ada akan membaik dengan segera.
“Dan kamu juga. Kenapa malah di sini, bukannya ikut ke dalam,” ujar Andre yang tiba-tiba tegak kepalanya.
Entah apa yang merasuki Andre. Melihat Nita ada di luar bersama mereka, hasrat ingin memaki tak bisa ditahannya.
“Kamu pikir semua dokter bisa masuk ke ruang bersalin?” sarkas Nita.
Andre mendengus dan kembali menyerahkan kepalanya pada Hana. Ia mengacuhkan Nita yang ia anggap tersangka utama kesakitan yang ia derita.
__ADS_1
Hana yang iba kembali memijat lebut kepala Andre sambil sesekali merapikan rambutnya yang acak-acakan karena tragedy penjambakan berdurasi panjang yang baru saja dialami tunangannya.
“Mungkin sebaiknya kita pulang saja,” ajak Andre pada Hana setelah keduanya sempat diam beberapa saat lamanya. Ia merasa sudah baikan dan ingat jika acara penting telah mereka tinggalkan.
Hana tampak menimbang.
“Kita di sini ya. Setidaknya tunggu sampai Rina melewatkan proses persalinanannya,” ujar Hana akhirnya.
Andre merangkul Hana, menyentuh dengan lembut pundak kekasihnya yang kini terbuka. Ia lantas melepas jasnya dan memakaikan pada Hana. “Oke, kita tunggu sampai Rina melahirkan. Tapi janji, setelah itu pulang, ya…”
Hana mengangguk sebelum kemudian duduk bersebelahan dengan Andre di ruang tunggu. Ia menyandarkan kepalanya, karena jujur acara hari ini cukup menguras tenaga.
Sementara Hana dan Andre mengobrol, Miko dan Nita juga melakukan hal yang sama. Dika sendiri ikut masuk ke dalam sementara para orang tua diajak Rudi untuk menunggu di ruangannya saja.
Di dua sudut yang berbeda, ada orang lain yang sama-sama diam dan sibuk dengan masing-masing pikirannya, hingga akhirnya salah satu diantara mereka menurunkan ego dan menghampiri satu yang lainnya.
Pria ini melepas jas yang membalut tubuhnya dan menyampirkan di bahu terbuka gadis yang adu diam dengannya. Setelah itu ia pergi begitu saja.
“Kamu…”
Maunya protes, tapi untuk sekedar menghela nafas saja tak ada jeda. Karena sudah kepalang tanggung, ia mengeratkan jas yang tersampir di bahunya.
Rista menatap dengan seksama, pantulan dirinya di kaca.
“Not bad…” gumamnya.
Lebih lanjut, ia memang merasa membutuhkan benda ini. Karena berada di ruangan berAC, ia bisa masuk angin jika tak segera mendapatkan penghangat untuk tubuhnya.
“Apa?” tanya Miko segera.
“Ngejar Dedi nggak menurut kamu?” tanya Nita selanjutnya.
“Emm…” Miko hanya menggidikkan bagu sebagai jawabannya.
“Ihh.”
Untungnya Miko sudah bersiap. Mendapat serangan mendadak di pinggangnya tak membuat ia lantas berteriak. Ia hanya meringis dan merintih lirih.
“Ngejar nggak?” tanya Nita lagi dengan penuh ancaman dan intimidasi.
“Enggak,” jawab Miko sambil menaikkan mode siaga. “Eh iya, iya,” ralat Miko dengan segera saat merasa jawaban pertama bukanlah yang diinginkan Nita.
Nita tersenyum puas dan mengurungkan niatnya memberikan serangan susulan.
Sebenarnya untuk apa wanita bertanya, kalau jawabannya harus sesuai dengan keinginanannya.
“Menurutku juga iya.”
__ADS_1
Nita menoleh seketika. Ia kian melebarkan senyumnya saat sadar ada orang lain yang sepemikiran dengannya. Ia mengabaikan Miko dan beringsut untuk duduk di samping Hana. Hana pun melepaskan rengkuhan Andre dan ghibah pun dimulai segera setelahnya.
Tegang pun tak ada guna, memikirkan Rina yang sedang berjuang di dalam bersama tim medis dan didampingi suaminya. Berdoa telah mereka lakukan, sekarang waktunya pasrah pada Tuhan dan menunggu kabar dari dalam.
“Maksudnya apa?” tanya Rista yang akhirnya bisa menyusul Dedi.
Tahu kan ini artinya apa. Nita dan Hana pasti bersorak bahagia karena tepat tebakan mereka. Entah apa yang terjadi selanjutnya, yang jelas berlanjutnya romansa yang sempat tertunda menjadi harapan mereka.
Dedi tak segera memutar badan menyadari Rista di belakanganya. Namun gadis ini tak mau pasrah dan diam. Ia melanjutkan langkahnya yang sempat beberapa saat tertunda. Ia memutar tubuh Dedi kala pria ini sudah ada dalam jangkauannya.
“Coba jelasin apa maksudnya?” tanya Rista lagi.
Dedi menghela nafas. Sepersekian detik saling menatap sudah berhasil membuat pertahanannya luluh lantah. “Kamu bisa masuk angin kalau di sana dengan bahu terbuka,” ujar Dedi sambil terus berusaha tak menatap Rista secara langsung.
Ada kecewa yang tiba-tiba merasuk. Apa aku tak semenarik itu sampai-sampai untuk sekedar bertatapan saja kamu tak sudi.
“Nggak usah sok peduli. Lagian bajuku tak seterbuka itu,” ujar Rista begitu ia bisa menguasai suasana. Ia lantas melepas jas Dedi dan menyerahkannya segera setelahnya.
Ucapan Rista memang benar. Karena gaunnya berlengan hingga pergelangan tangan. Hanya saja bahannya transparan sehingga menampakkan bahu dan lengan mulusnya. Bagian roknya juga berbelahan tinggi, namun bukan belahan yang begitu mudahnya terbuka jika Rista hanya berjalan saja.
Dedi menghela nafas. “Aku memang terbiasa untuk peduli. Makanya aku memilih menjadi dokter sebagai profesi.”
Ingin sekali Rista mencakar Dedi sesaat setelah dokter ini mengungkap analogi. Analogi yang membawa kesan ia sama sekali tak punya arti.
Karena kesal ia menyerahkan jas yang semula telah ia sodorkan. Karena Dedi sejak semula memang tak berkeinginan menerima jasnya kembali, membuat ia tak siap jas itu pun jatuh teronggok begitu saja.
Dedi pun berjongkok dan memungutnya.
Rista menatap sinis tindakan Dedi ini. Pasti mau dipakein lagi, tebak Rista dalam hati.
Gadis ini pun segera memasang wajah acuh. Ia membuang mukan dan tak mau terlihat berharap.
Setelah menunggu beberapa waktu lamanya, Rista merasakan ada sesuatu yang aneh dan tak semestinya.
Kok nggak ada apa-apa.
Rista lalu menatap ke arah Dedi semua berada. Namun hasilnya Rista dibuat membulatkan mata.
“Haahhh…” desis Rista.
Mulutnya ikut menganga menyusul matanya. Semula ia menyangka Dedi akan memaksanya mengenakan kembali jasnya, atau setidaknya dia diam saja tadi karena tengah tenggelam dalam pesonyanya. Namun ternyata dokter itu malah pergi begitu saja, meninggalkan ia seorang diri di lorong rumah sakit yang mulai sepi.
Rista meremat jemarinya. “Ihhhh….”
Jika tak ingat dimana ia berada, mungkin ia sudah berteriak sejadinya.
Dengan menahan kesal dan kecewa. Rista menghentakkan kaki dan pergi.
__ADS_1
Kenapa seperti ini. Kenapa dia bisa biasa saja? Apa sebenarnya hanya aku seorang diri yang menyimpan rasa. Lantas bagaimana kalau aku tak bisa juga membuangnya?
Bersambung…