
Maaf ya baru nongol.
HAPPY READING
Dengan mata setengah tepejam, Hana menikmati setiap pijatan di bagian belakang tubuhnya. Hana saat ini berada di unit apartemen lain di lantai yang sama dengan yang Andre huni. Ternyata unit lain di lantai ini tak hanya ruang kosong karena Andre tak ingin ada orang lain yang menghuni, tapi ada ruang gym dan juga spa pribadi. Selain itu ada yang difungsikan sebagai tempat singgah jika ada tamu yang harus menginap.
Hana sedikit bahagia karena ia menjadi satu dari sangat sedikit orang yang tahu hingga ruang paling pribadi Andre.
“Habis ini sudah selesai kah Mbak?” tanya Hana pada terapis yang saat ini tengah memijat dirinya.
“Kata pak Andre suruh ganti model rambut sama warnanya sekalian. Non Hana mau warna apa dan model gimana?”
“Emm…” Hana mengangkat kepalanya dan celingak-celinguk mencari keberadaan Andre. “Andre tadi bilang sesuatu nggak?”
“Kata Pak Andre terserah Nona, yang penting jangan terlalu pendek.”
"Cuma itu?" tanya Hana.
"Iya Nona," jawab terapis itu lugas.
Hana mengangguk paham dan kembali merebahkan kepalanya.
Semula Andre memang ingin mengajak Hana ke salon, namun setelah kejadian gaun robek tadi, Andre memilih untuk memanggil terapis dan segala hal yang ada hubungannya dengan Hana ke tempatnya. Toh peralatan yang ia punya cukup lengkap, jadi tak akan ada kesulitan jika harus merawat wanitanya di rumah.
Sementara itu Andre nampak sibuk menghubungi seseorang. Sejak tadi ia terus berbicara dengan ponsel menempel di telinga. Sesekali ia nampak mengotak-atik gadgetnya yang lain, kemudian menghubungi orang lagi.
“Mbak nggak punya cream atau salep apa gitu yang bisa bikin ini ilang?” ujar Hana sambil menunjukkan banyak bercak merah dan sebagian mulai berubah keunguan bahkan menghitam.
Terapis ini tertawa kecil namun buru-buru ditutupnya agar Hana dan beberapa orang di sana tak tahu jika ia telah dengan lancangnya tertawa.
“Palingan bisa dikurangi dengan menempelkan es batu, tapi ya kurang efektif di kulit Nona yang begitu putih,” ujar wanita muda ini dengan bibir terkulum untuk menahan senyum.
“Apanya yang mau dikurangi?!”
Hana mendengus dan berlagak memejamkan mata. Sementar 3 orang lain di sana langsung diam dan menundukkan kepala.
“Hana…” Andre memanggil Hana lagi karena wanita ini tak menanggapi pertanyaan pertamanya.
“Iya,” jawab Hana ogah-ogahan.
__ADS_1
“Kalau ditanya itu jawab.”
Nada bicara Andre terdengar dingin, namun begitu manly bagi Hana. Sepertinya aku mulai gila. Kenapa aku bisa sangat suka saat dengan gaya bicara Andre yang terlihat otoriter. Dia sangat berkuasa, membuatku merasa tersandera dan terlindungi di waktu yang sama.
Hana langsung duduk dan mengangkat kembennya untuk menutup bagian dada.
“Lihat nih…” Hana menunjuk leher dan dada bagian atasnya. Semua Andre penuhi dengan jejak kepemilikannya. 3 orang terapis di sana serempak memalingkan muka.
Andre merendahkan tubuhnya dan mensejajarkan wajahnya dengan wajah Hana. “Apa?”
Terapis yang semula memijit Hana segera bergeser saat Andre terus mendekati wanitanya.
“Kayak orang baru dipukulin tahu nggak…” gerutu Hana.
“Siapa yang mukulin?”
Hana menghela nafas. Pake nanya lagi. Ini kan kerjaan bapak.
“Ya nggak ada. Ish…” Hana tak melanjutkan ucapannya saat tiba-tiba Andre menyusuri pundaknya.
Tiga orang di sana hanya mampu memperdalam tundukan kepala karena pasangan ini seenaknya saja bermesraan di hadapan mereka.
“Andre, Andre…” Hana mendorong tubuh Andre saat pria ia hampir saja menciumnya.
“Cepat lanjutkan. Saya ingin semuanya selesai sebelum larut malam.”
Andre berjalan melawati tiga wanita yang didatangkannya dan kembali ke pojokan untuk menlanjutkan urusannya.
Satu jam kemudian, ternyata masih saja Hana belum menyelesaikan perawatan yang Andre siapkan untuknya. Demi meringkas waktu, saat ini ketiga orang itu berkerja bersama-sama. Satu orang di kepala, satu orang di tangan, satu lagi orang di kaki. Andre membayar mahal ketiga orang ini untuk merawat Hana, tapi Andre tak segan-segan menghadiahi pelajaran saat ketiganya tak dapat melakukan
apa yang ia minta.
Pukul delapan malam, akhirnya Hana sudah siap dengan penampilan barunya. Rambut yang semula lurus itu kini sedikit bergelombang dengan warna yang masih sama. Selebihnya tak ada yang berubah dengan penampilan Hana kecuali
pengaplikasian make up natural di wajah cantiknya. Dulu saat ia sedang bekerja di kantor ia tak pernah lepas dari make up bold yang berhasil menyamarkan wajah aslinya, dan setelahnya ia sama sekali tak tersentuk make up begitu Andre
membawanya tinggal bersama. Dan kini ia begitu memukau dengan make up tipis yang menyempurnakan penampilannya.
“Terimakasih atas kedatangan kalian,” ujar Andre sambil menyerahkan tiga buah amplop kada tiga perempuan yang sudah merawat manitanya.
__ADS_1
“Biaya sudah saya transfer, dan itu bonus untuk kalian,” lanjut Andre saat ketiga orang di hadapannya menunjukkan wajah bingun saat menerima amplop yang ia berikan.
“Terimakasih Pak,” serempak ketiganya.
“Well, saya puas dengan hasil kerja kalian dan mungkin saya akan meminta bantuan lagi lain waktu. Pertahankan kualitas layanan kalian.”
Ketiga orang tersebut mohon diri. Andre segera menghampiri Hana yang masih mematut diri di depan cermin.
“Ayo kembali ke kamar, baju kamu sudah siap di sana.”
Hana ikut saja kemana Andre membawanya. Ia masih tak mampu memikirkan cara untuk lepas dari laki-laki ini, jadi lebih baik ia mencoba menikmati semua takdirnya saat ini.
“Baru lagi?” tanya Hana saat melihat baju yang nampak berbeda dengan yang sudah Andre belikan sebelumnya.
“Iya. Cepat pakai. Saya ingin mengajak kamu ke suatu tempat malam ini,” ujar Andre sambil kembali mengecek ponselnya. Meski ia tak sedang bekerja, nyatanya ia masih tetap sibuk saja.
“Ndre, ini tuh boros. Saharusnya kamu belikan saja sabun cuci, saya akan mencuci sendiri pakaian saya,” ujar Hana sambil mengenakan pakaiannya.
“Saya tidak suka memegang tangan yang kasar,” cuek Andre masih tanpa mengalihkan tatapan dari ponselnya.
Hana mendengus. Kenapa kalau mencuci dilarang, sedangkan masak, beres-beres, bersih-bersih, kamu tak pernah melarang. Bahkan orang yang biasa mengerjakan itu pun kamu larang datang.
“Hana…”
Hana yang semula ngedumel dalam hati tiba-tiba dikejutkan dengan Andre yang memeluknya dari belakang.
“Hmm…” jawab Hana sambil membenahi pakaiannya.
“Mulai besok kamu tak perlu mengerjakan apa-apa lagi, aku akan menyuruh orang untuk datang membersihkan rumah.”
Spontan Hana membulatkan mata dengan mulut sedikit terbuka. Kok bisa langsungan kayak gini. Apa hanya dengan berkata dalam hati Andre sudah bisa mendengarnya?
Andre sadar tubuh Hana menegang. “Apa kamu terkejut?” tanyanya kemudian.
Hana memutar tubuhnya dan membuatnya berhadapan langsung dengan pria tampan pemilik mata tajam yang sudah melumpuhkan hatinya.
“Lalu apa yang harus aku lakukan?”
“Kamu hanya perlu terus bertahan di sampingku.”
__ADS_1
Ya Tuhan. Nasib seperti apa yang sedang kuterima saat ini. Aku sangat tersanjung dengan semua yang Andre lakukan, tapi aku juga tak yakin jika semua ini adalah kebenaran.
Bersambung…