
*Hai dear***.
Apa ada yang masih nunggu cerita ini?
Semoga ada ya?**
HAPPY READING
Seorang gadis muncul setelah sebuah mobil mewah berhenti di depan lobi kantor dengan gedung yang berdiri megah. Wanita ini nampak cantik dengan balutan baju formal berwarna mauve dengan hells berwarna hitam yang kian menyempurnakan penampilannya. Rambut panjang berwarna kecoklatan yang ujungnya bergelombang dengan polesan make up on point yang memang mahir ia poleskan membuat siapa pun enggan menolak pesonanya.Setelah memastikan pakaiannya telah rapi, ia terlihat menunduk untuk melihat seseoarang yang masih berada di dalam.
“Hana masuk ya Pa,” ujar Hana pada Galih yang pagi ini mengantarnya.
“Iya… Nanti pulangnya mungkin supir yang akan menjemput.”
“Janji dengan siapa?”
Baru saja Hana ingin bilang kalau dia bisa pulang sendiri, namun secara tiba-tiba ada seseorang yang datang dan menyela pembicaraan mereka.
“Om…” sapa Hana yang dengan cepat menyadari siapa yang datang ke sana. Ia lantas mundur selangkah untuk memberi ruang pada Edo yang mungkin akan berbicara dengan papanya.
“Selamat pagi Hana, selamat pagi Galih Rahardja…” sapa Edo pada pasangan orang tua dan anak ini.
“Selamat pagi Edo Wiguna,” balas Galih sementara Hana hanya membalas dengananggukan dan tatapan segan.
“Apakah anda sudah harus buru-buru sepagi ini?” tanya Edo yang sedikit merendahkan tubuhnya agar lebih leluasa berbicara dengan Galih yang masih berada di dalam mobilnya.
“Sebenarnya tidak. Perusahaan kecil saya tak terlalu sibuk sehingga jadwalnya pun tak terlalu padat,” jawab Galih yang sepertinya mulai tak nyaman dengan posisinya.
“Apa Anda bermaksud menyindir saya yang tak punya perusahaan sendiri di usia setua ini?” sarkas Edo yang membuat Galih langsung tertawa. Hana yang masih di sana jadi bingung harus bersikap bagaimana.
“Apa Hana sudah bisa masuk…”
Apa lagi ini. Perbincangan Galih dan Edo saja belum bermuara sekarang malah muncul Andre yang berbicara seenaknya.
Galih akhirnya memutuskan keluar membuat Hana berdiri diantara 3 pria beda usia yang punya damage luar biasa.
“Mau mampir dulu barang kali?” tawar Andre pada Galih dan papanya yang memang kantornya bukan di sana. Meski ia nampak tenang, dalam hatinya tegang juga sebenarnya. Pasalnya ini kali pertama ia mempertemukan papanya dan papa Hana setelah semua keruwetan dalam hubungan keduanya.
“Bagaimana kalau kita ngobrol dulu di sana?” usul Edo.
“Bisa,” jawab Galih setuju begitu saja.
“Kalau begitu silahkan, kami anak muda harus segera bekerja,” ujar Andre yang bersiap menbawa Hana. “E, e, e. Papa!” protes Andre saat Edo dengan tanpa perasaan menarik kerah jasnya dari belakang. Tentu saja hal ini sangat ia kecam karena jika ada staf Surya Group yang melihat akan membuat jatuh wibawanya. Meski di depan Edo ia adalah anak nakalnya, tapi dalam lingkungan kerja, Andre adalah orang penting yang harus tetap menjaga wibawa.
__ADS_1
“Nggak usah narik-narik Pa, ngomong baik-baik kan bisa,” lanjut Andre sambil merapikan pakaiannya.
Jika saja Hana tak terlibat di dalamnya, pasti ia akan tertawa melihat kejadian ini di depan matanya. Namun sayang sekali, dengan posisinya saat ini, ia tak mungkin seenaknya sendiri.
“Kamu juga harus ikut,” ujar Edo dengan tatapan tajam.
“Hana juga,” imbuh Galih segera setelah Edo bicara.
Hana tak dapat menu jukkan reaksi apa-apa. Pasrah saja dan ikut apa kata mereka itulah yang Hana bisa.
Akhirnya keempat orang ini berjalan bersama-sama menuju coffee shop yang ada tak jauh dari kantor Surya.
Dan sepertinya pembicaraan mereka bukan sekedar basa-basi untuk bertegur sapa. Terbukti dengan keseriusan dari setiap kalimat yang diucapkan di sana.
Sementara itu ada seseorang yang tiba-tiba dilanda penasaran. Elis dengan jelas melihat kedatangan Andre kemudian Hana yang juga tiba tak berselang lama. Namun sudah lebih dari satu jam kenapa dua sejoli ini belum juga tiba dan dan masuk ke dalam ruangan.
Mungkinkah bolos untuk berkencan juga berlaku untuk orang-orang kelas atas seperti mereka? Itulah yang terlintas di benak Elis saat memikirkan mereka.
“Butuh kopi Lis?” tanya Rahma yang menyadari rekan kerjanya sama sekali tak punya gairah untuk bekerja sejak tadi tiba.
“Boleh deh, tolong ya,” ujar Elis yang tak mau membuat rekannya ini berpikir macam-macam tentangnya.
“Oke…”
“Mbak, kok pada belum datang ya…” ujar Elis pada Riza begitu mereka tinggal berdua.
Riza menjeda pekerjaannya sejenak dan turut menatap pintu ruangan atasannya yang belum ada penghuni hingga saat ini. “Iya juga. Kalau pun pak Restu tidak ada, Pak Andre biasanya pasti ada di tempatnya. Tapi ini tumben-tumbenan mereka kompakan jam segini belum tiba.”
“Bukan itu saja. Hana dan Nona Rina kenapa juga ikut-ikutan nggak ada.” Elis sengaja menjeda sejenak ucapannya. “Kalau Nona Rina masuk akal sih, karena beliau hamil tua, tapi kalau Hana…”
Riza terdiam.
Yes, umpan dimakan, batin Elis melihat bagaimana reaksi Riza.
“Dia bukan siapa-siapa juga, hanya saja kekasih pak Andre yang mendapat wildcard untuk langsung ada diposisi tinggi meski belum lama bergabung di perusahaan,” ujar Elis dengan lancar tanpa hambatan.
“Ehm, ini aku nggak setuju nih. Jangan lupa ya, Hana itu pernah menjadi staf sekertaris yang kerap kali mendapat tugas penting dibanding kita.” Riza sepertinya mulai menyadari maksud dibalik setiap ucapan kekasihnya. Sehingga ia sengaja menjeda ucapannya untuk menekankan sejauh mana sebaiknya pembahasan mereka. “She’s better than us, right.”
Elis nampak tak senang dengan apa yang baru saja Riza ucapkan. “Tapi kan dia pengkhianat Mbak…” ujarnya yang mulai berkata apa adanya.
“We never know Lis. Apa yang sebenarnya terjadi saat itu kita tak pernah tahu dengan jelas faktanya. Oke lah mungkin saja pak Andre luluh dengan Hana dan takhluk karena cinta. Tapi Pak Restu bukan tipikal seperti itu. Di samping itu dibelakang ada banyak orang kuat yang mendukung perusahaan ini. Dan aku yakin jika memang Hana seburuk itu, pasti dia tak akan pernah bisa masuk kembali seperti saat ini.”
Elis terdiam menderngar ucapan Riza.
__ADS_1
“Dunia bisnis itu menyeramkan. Meskipun kita hanya sebagai staf aku kira kamu sudah punya gambaran yang jelas tentang dunia macam apa yang kita pijaki untuk mancari nafkah ini…”
Elis menghela nafas. Sepertinya fakta ini meski tak suka tetap harus ia terima dengan lapang dada. “Iya sih Mbak, tapi apa nggak aneh kalau semuanya nampak mudah sekali. Dari yang awalnya ia begitu dihindari menjadi sosok sepenting ini saat ini…”
“Kalau itu, ehm…”
Riza tak bisa melanjutkan ucapannya saat ia melihat Andre dan Hana muncul dan berjalan ke arah mereka. Terlihat keduanya diam dan tak banyak melakukan kontak. Mereka hanya berjalan tanpa menyapa Riza dan Elis yang dilewatinya dan masuk ke ruangan begitu saja.
“Mereka kenapa?” lirih Elis yang bicara pada dirinya. Kenapa ia tak bicara pada Riza, karena ibu-ibu satu ini pasti enggan jika diajak membahas masalah ini.
“Sudah terbiasa melihat mereka mesra, tapi kalau mendadak gini aneh juga.”
Dengan mata membola, Elis memutar kepalanya. Semula ia menatap tanpa hasrat kedua pintu yang baru saja dimasuki pemilik ruangannya, kini beralih menatap Riza yang tak ia sangka-sangka akan berbicara seperti itu dengannya.
“Mungkin putus nggak sih mereka?” tanya Elis yang tak dapat menahan di hati ucapannya.
Riza bergidik dan kemudian kembali meraih pekerjaannya. Hingga Rahma kembali, dan akhirnya ketiga orang ini kembali larut dalam masing-masing pekerjaannya.
Di tempat lain Edo dan Galih masih meneruskan perbincangan mereka. Memang mereka sudah saling mengenal lama, namun berbicara secara pribadi seperti ini tak pernah terjadi diantara keduanya selama ini.
“Lantas jika Rio sudah sibuk dengan perusahaannya bagaimana dengan perusahaan Anda yang juga masih berjalan dan menjadi ladang pangan bagi ribuan karyawan?” tanya Edo pada bakal besannya ini.
“Pasti ada jalan. Saya tak begitu mempermasalahkan perusahaan, yang penting anak-anak saya bahagia dengan kehidupannya.”
Edo mengangkat tangan kirinya dan menepuk telapaknya dengan sebelah tangannya. “Apa ini Galih Rahardja yang saya kenal ulet dan pantang menyerah dengan ambisinya sejak muda?”
Galih tersenyum lebar mendengar komentar langsung Edo di depan matanya. “Saya terlalu memforsir diri sejak muda, sehingga saat beranjak tua saya sudah kehilangan sejumlah gairah untuk terus mengejar dunia.”
Edo menghela nafas. Sepertinya Galih yang ada di hadapannya sekarang ini sudah bukan Galih yang dikenalnya selama ini. “Baiklah. Lantas bagaimana langkah kita selanjutnya. Maafkan kelancangan yang telah putra saya lakukan, dan mari kita antar mereka pada kehidupan yang sebenarnya dengan jalan yang semestinya,” ujar Edo sungguh-sungguh membahas tentang kelanjutan hubungan anak-anak mereka.
Galih menyeruput kopi kedua yang baru saja tiba di hadapannya. Ia menghela nafas kemudian dan menatap Edo dengan wajah yang menyiratkan kegundahan.
“Sebenarnya saya juga ingin melakukan hal yang sama dengan Anda, meminta maaf agar kesalahan yang saya sebabkan. Tapi yang jadi masalah mulainya dari mana…”
Edo tersenyum lebar. Ia lantas menyentuh pundak Galih masih dengan wajah ramahnya.
“Setelah semua yang kita lalui, sebenarnya sulit juga untuk menerima ini semua. Meski ini nyata, tapi bayang-bayang kamuflase yang kerap kita lakukan sebelumnya selalu ada. Namun atas nama anak-anak kita, mari kita mulai semuanya,” lanjut Edo dengan keseriusan penuhnya.
Edo menghela nafas setelah berjuang keras mengucapkan satu kalimat panjang tanpa jeda. “Kita singkirkan semua yang tak baik diantara kita dan kita mulai semua yang baik untuk selanjutnya…”
Bersambung…
Apa yang kalian harapkan untuk part yang akan datang?
__ADS_1