
Maaf update ngadat-ngadat.
HAPPY READING
Andre pulang dengan tergesa. Tiba-tiba ia khawatir dengan kondisi Hana setelah kondisi Rina saat Dika buru-buru membawanya ke rumah sakit. Namun tanpa di duga, di lobi ia bertemu dengan Edo sang papa.
“Papa…” kaget Andre begitu ia berpapasan dengan salah satu petinggi di kantor yang menaunginya ini.
“Iya, kamu mau ke mana? Sepertinya buru-buru sekali?” tanya Edo yang sepertinya baru sekali tiba di sana.
Andre menghela nafas. Pandangannya tak fokus karena sibuk mancari alasan yang masuk akal. “Papa tumben ke sini, sepertinya tak ada janji dengan Dika.” Akhirnya Andre pilih mengalihkan pembicaraan. Ia tak mau membuat papanya curiga jika diam terlalu lama.
Edo menyipitkan mata. Andre adalah anaknya, jadi dia paham sekali jika ada gelagat aneh yang terjadi pada Andre, termasuk saat ini.
“Andre…”
Mendengar bagaimana cara Edo memanggilnya, mau tak mau Andre harus membalas tatapan pria ini.
“Apa ada yang ingin kamu bicarakan dengan Papa?” tanya Edo to the point.
Andre menghela nafas. Sebaiknya ia memang mulai membahas ini dengan orang tuanya. Tapi bagaimana? Ia tak siap melihat orang-orang paling berjasa di dalam hidupnya ini kecewa karena kecerobohannya.
“Papa rencananya mau ke mana?” tanya Andre lagi. Sepertinya jujur merupakan hal yang sulit ia lakukan saat ini.
“Papa ingin menemui anak Papa satu-satunya. Sepertinya kita sudah melewatkan banyak waktu tanpa bicara?” Entah kapan pembicaraan papa dan anak ini akan nyambung obrolannya. Yang satu tanyanya apa, yang satu jawabnya apa. Begitu terus sejak tadi.
Hati Andre nyeri mendengar bagaimana Edo menyebutnya. Anak tunggal, anak satu-satunya, merupakan kenyataan pahit yang harus Andre hadapi dimana ia menjadi tumpuan satu-satunya untuk sang papa. Dengan kesalahan yang kini sedang ia lakukan, ia yakin kedua orang tuanya adalah pihak yang paling dikecewakan.
“Pa, apa Papa…”
Baru saja Andre hendak membuka suara, sebuah dering dari ponsel berhasil menginterupsinya sehingga Andre mengurungkan niatnya semula yang ingin berbicara dengan sang papa.
“Maaf Pa,” ujar Andre memohon ijin untuk menjawab terlebih dahulu telfonnya.
__ADS_1
Setelah Edo persilahkan, akhirnya Andre mulai menempelkan ponsel di telinganya. Sementara Andre berbicara, Edo mulai berjalan ke salah satu kursi. Kursi yang biasa digunakan oleh para clien atau orang yang tengah mebuat janji dengan orang di kantor ini. Dulu Edo lah yang berada di posisi Andre, menjadi wajah kedua di perusahaan ini dan menjadi orang kepercayaan CEO di masanya. Bahkan ia sempat menduduki posisi tertinggi menjadi CEO pengganti selama beberapa tahun setelah kematian Hendro dan sebelum Dika memutuskan untuk meneruskan perusahaan papanya.
Jika ditanya tentunya ia sangat bangga dengan pencapaian yang diraih Andre. Dia menjadi orang kaya dan mapan di usia sangat muda. Ini semua bukan semata Andre anaknya, tapi memang karena usaha keras yang Andre lakukan dalam hidupnya. Mengorbankan masa remaja untuk mengejar cita-citanya, dan terbukti dengan strike yang berhasil ia dapatkan saat ini.
“Pa, maafkan Andre. Andre harus pamit sekarang.” Ujar Andre begitu mengakhiri panggilannya. Ia tak bisa lagi menyembunyikan kegelisahannya. Entah apa yang akan terjadi nanti, yang jelas ia harus segera memastikan kondisi Hana secepatnya.
“Apa ada sesuatu yang penting?” tanya Edo saat melihat wajah panic Andre.
Andre terlihat frustasi. Jika saja dia keluar dari kantor ini beberapa menit lebih awal, ia pasti bisa menghindari pertemuan dengan papanya ini. Saat pikirannya kalut, kembali ponselnya berdering. Ia segera menggeser tombol hijau dan menempelkannya di telinga.
“Den, ini gimana Den. Apa lebih saya membawa Nona ke rumah sakit saja dulu.” Terdengar kepanikan di seberang sana.
“Iya Bi, kita ketemu di rumah sakit saja.”
Andre segera mematikan ponsel dan menyimpannya. “Pa, maaf Andre harus pergi.” Ujar Andre yang tak dapat menyembunyikan raut resahnya.
“Sebenarnya ada apa? Papa sepertinya ketinggalan terlalu banyak hal.”
Andre menalan ludahnya. Sepertinya ia tak boleh terlalu lama diam di sana. Ia harus segera pergi untuk melihat kondisi Hana. Mungkin kali ini ia harus terbuka pada papanya.
Akhirnya kedua pria beda usia ini pergi bersama. Mereka menuju rumah sakit yang untuk menunggu Hana yang juga di bawa ke sana.
“Biar Papa saja.”
Edo mencegah anaknya yang akan membawa kemudi. Meskipun belum jelas masalah apa yang dihadapi anaknya kini, tapi ia yakin jika ini bukan masalah sederhana sehingga berhasil membuat anaknya kalang kabut seperti ini.
“Ke rumah sakit mana?” tanya Edo yang mendengar sekilas tadi Andre ingin menuju ke sebuah rumah sakit.
Andre baru sadar jika tadi ia tak sempat menanyakan atau meminta bibi membawa Hana ke rumah sakit mana. Dan pasti mereka sekarang sedang di perjalanan sementara Andre hanya bisa menghubungi mereka ke nomor rumah saja.
“Nak…” panggil Edo sekali lagi.
Andre menatap wajah teduh papanya yang berada di balik kemudi.
__ADS_1
“Pa…”
Lidahnya tercekat. Meskipun yang akan ia katakan adalah sebuah fakta yang tak perlu ia pikirnya sususan kalimatnya, namun ini bukanlah perkara yang mudah. Akan segera punya anak menjadi kabar bahagia jika Andre sudah menikah namun akan jadi petaka karena belum ada pernikahan yang mengikat ia dengan Hana.
Ponsel Andre kembali berdering. Meskipun dari nomor yang belum tersimpan di kontaknya, namun Andre tetap dengan cepat mengangkatnya.
“Halo…”
“Den, saya dan mang Maman mau membawa nona ke rumah sakit RA tapi mobilnya tiba-tiba macet di jalan, mana tidak ada taksi yang lewat.”
Andre panic bukan main saat mendengar apa yang bibi tuturkan, namun ada lega saat ia akan tahu dimana posisi wanitanya.
“Posisi bibi dimana, saya akan ke sana.”
Akhirnya bibi memberi tahukan dimana posisinya sekarang dan Andre segera meminta sang papa untuk membawanya ke sana.
Kali ini Edo tak bertanya lagi. Ia percaya Andre adalah anak baik yang ia didik setulus kasih. Ia yakin apa pun yang Andre lakukan sekarang semua ada alasannya.
Melihat mobil yang sangat ia kenali nya menepi di pinggir jalan, Andre segera keluar begitu saja. di depan sopirnya sedang berusaha membenahi mesin mobil sementara Hana yang dalam kondisi tak sadarkan diri sedang di jok belakang bersama bibi.
Edo sama sekali tak bersuara dengan apa yang ia lihat kini. Siapa wanita ini? Apa yang terjadi padanya sehingga membuat anaknya sepanik ini.
Andre langsung mengangkat Hana ke dalam gendongannya. Ia harus segera membawa Hana ke rumah sakit sebelum terjadi lebih banyak hal yang tidak diinginkan.
“Pa, Andre harus bawa Hana ke rumah sakit sekarang,” ujar Andre pada papanya.
“Papa antar,” putus Edo yang kembali membawa kemudi.
Andre yang semula ingin langsung masuk ke dalam mobil bersama Hana, tiba-tiba menghentikan langkahnya.
“Bibi ikut saya, Mang Maman kita tinggal nggak apa-apa kan?”
“Iya Den,” serempak bibi dan mang Maman.
__ADS_1
Andre pun melanjutkan langkahnya ke dalam mobil dimana akan dikemudikan langsung oleh papanya.
Bersambung…