Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Seenaknya Sendiri


__ADS_3

HAPPY READING


Dua bulan sudah Hana manjadi bagian dari Surya Group. Dan kini tibalah masa dimana project yang ia garap bersama Rina  sebagai pengggadang mencapai waktu untuk peluncuran. Semua tahap sudah diselesaikan dengan baik oleh Hana sebagai asisten direktur pelaksana. Bahkan karena kandungan Rina yang semakin besar, hampir semua Hana lah yang melakukannya. Termasuk urusan approval pun juga dilakukan olehnya karena Rina merasa begitu lelah dengan mudahnya.


“Han, gimana?” tanya Rina yang baru datang di kantor menjelang siang hari seperti ini.


“Hampir siap semuanya, tapi ini masih belum fix modelnya,” ujar Hana menjelaskan setelah sebelumnya menghentikan pekerjaan yang sedang ia lakukan.


“Model apa?” Rina lanjut berjalan dan duduk segera di kursinya. Baru tiba dan wajahnya sudah terlihat lelah saja.


“Ambasador.” Sedikit tak enak Hana mengungkapkannya, namun model yang menjadi kandidat ia rasa memang kurang sesuai dengan  konsep es krim yang seharusnya charming.


Rina memperhatikan dengan seksama layar monitor dan beberapa lembar dokumen yang berserak di meja Hana. Tak sepenuhnya memeriksa, lebih tepatnya ia ingin tahu saja. Rina sangat percaya dengan pribadi dan kemampuan Hana, sehingga semua tak ada masalah sepertinya.


“Apa lebih baik kita mengambil dari aktris atau actor remaja saja. Biar lebih dapat feelnya.” Meski semula merasa ragu namun Hana tetap merasa harus mengatakannya opsi lain yang lewat di kepalanya.


Setelah semua kendala yang muncul pasca keputusan Rista untuk tak lagi terlibat dalam proyek es krim yang digarap kakak iparnya dapat diatasi dengan mulus oleh Hana, kini tinggal tersisa finishing yang belum juga temu jalan keluarnya.


Rina lelah memperhatikan jajaran, huruf, angka dan grafik yang di susun Hana dengan susah payah. Ia menyandarkan punggungnya dan mulai mengusap lembut perut besarnya.


“Apa kamu lelah?” Hana tak tahu pertanyaan ini tepat atau tidak ia ungkapkan sekarang, karena dia sendiri tahu Rina datang belum lama.


Rina tak langsung menjawab. Ia tersenyum masih sambil mengelus-elus perutnya.


“Dia aktif sekali. Tak hanya membuat saya lelah, tapi juga terkadang sedikit nyeri…” ujar Rina sambil tersenyum dengan mata menerawang.


“Apa ini akan meninggalkan trauma menjalani kehamilan?” tanya Hana hati-hati.


“Sepertinya tidak. Karena bahkan saya berniat untuk punya lebih dari dua anak…” ujar Rina dengan senyum yang senantiasa melekat di wajahnya. Sesekali ia terlihat nyengir namun tak berapa lama, senyum kambali mendominasi di wajah ayunya.


Diam-diam Hana merasa ada senyap yang menyergap. Jika saja saat itu ia tak kehilangan anaknya, mungkin sekarang akan seusia dengan kandungan Rina. Ia juga akan sangat bahagia menyambut buah cintanya, meski masalah mungkin akan banyak memanti saat anaknya sudah lahir nanti.


Jika kamu masih ada dalam perut Mommy, apa kamu juga akan seaktif ini? Ujar Hana dalam hati.


“Han, kenapa bukan kamu saja yang menjadi brand ambassador es krim kita?” gumam Rina tiba-tiba.

__ADS_1


“Saya?” tanya Hana menunjuk dirinya. Ia baru saja sadar dari lamunannya, sehingga ia belum memmiliki ekspresi terkejut seperti biasa.


“Iya…” jawab Rina lugas.


Hana mengdesah “Mana bisa?” ujarnya memelas.


Rina tak menjawab. Ia terdiam sambil memperhatikan Hana yang memasang wajah melas sambil menatap ke arahnya.


“Coba kamu senyum…” pinta Rina.


*Feelingsedang tidakhappy*, bagaimana caranya bisa tersenyum, gerutu Hana dalam hati.


Meski hatinya tak rela, Hana tetap berusaha tersenyum sekarang sesuai dengan permintaan Rina. Jika bisasanya akan terlihat cantik, kini yang ada malah mengenaskan.


“Yang tulus dong, masa senyumnya gitu,” protes Rina.


“Hiiii….”


Hana melebarkan kedua sudut bibirnya. Bukannya cantik, ia lebih mirip orang yang sedang diperiksa giginya.


“Apa? Gimana?” kaget Hana yang langsung menarik ke


dalam sudut bibirnya yang semula ia ajak  membuat lengkungan dengan terpaksa.


“Kamu. Kamu paling cocok,” ujar Rina sambil menggerakkan telunjuknya.


“Apanya yang cocok?” Hana sadar yang menjadi kendala sekarang hanya tinggal ambassador, namun masa iya dia yang harus jadi ambasadornya juga setelah semua tanggung jawab Rista selesai di tangannya.


“Kamu Hana. Kamu mau kan jadi brand ambassador untuk produk kita…” lanjut Rina menjelaskan ucapannya.


“Anda jangan bercanda ya. Mana saya bisa. Saya grogi saat melihat kamera, apa lagi kalau harus bicara atau beracting untuk mepromosikan produk kita,” ujar Hana panjang sekali.


“Kamera itu tak semenyeramkan manusia. Ia tak akan menyela atau mengkritik saat kita melakukan sesuatu yang tak semestinya. Kamu perang tender saja bisa, masa yang begini masa tidak bisa. Padahal saat perang tender kamu juga harus meyakinkan bahwa produk kamu layak untuk dikembangkan. Bukankan itu sama saja?”


Rina sedang berusaha memanipulasi Hana. Bagaimana pun juga Hana selain multi talenta, ia juga punya modal dengan fisik yang dimilikinya.

__ADS_1


Hana tertunduk lemas. “Itu beda cerita Nona. Kalau yang itu kan proposalnya sangat jelas. Setiap argument yang saya ungkapkan, itu sudah tertulis dengan jelas beserta alasannya. Jadi saat mendebat, saya sudah siap dengan apa yang akan saya ucapkan. Tapi kalau ini…” Hana nampak putus asa.


“Kalau ini lebih sederhana. Kamu hanya perlu menggambarkan apa yang kamu rasakan. Menyebutkan manfaat yang akan didapatkan dan membuat orang lain tertarik untuk ikut merasakan.” Saat mendengar ucapan Rina rasanya sederhana sekali, tapi bagi Hana yang mendengarkan, itu menyeramkan sekali.


Hana kembali mendesah. “Itu sangat susah…” dan Hana pun mengatakan apa yang ia rasakan sekarang.


“Siapa bilang. Ini mudah…” Rina masih terus berusaha meyakinkan.


“Bagaimana kalau Nona saja,” usul Hana dengan wajah mengenaskan seakan sedang diujung nyawa.


“Nona kamu siapa?” protes Rina.


“Maaf Rina…” Hana paham dan segera merubah panggilannya. Ia tadi panik saat Rina mendadak memutuskan seenaknya. Meski ia berhak tapi Hana benar-benar merasa tak mampu untuk menerima keputusan atasannya.


“Ya sudah. Kita tunggu Dika, nanti kita sampaikan bahwa Happy Ice Cream siap diluncurkan. Jangan lupa buat kontrak sama kamu ya. Ingat jangan berat sebelah. Ingat, sat membuat kontak kamu harus memposisikan diri sebagai bagian dari perusahaan yang menyiapkan kontrak untuk artisnya.”


Hana membulatkan mata dengan mulut terbuka. Apa-apaan ini? Kenapa bumil ini benar-benar seenaknya sendiri. Kalau memang tak ada pilihan dan aku harus menjadi modelnya, seharusnya bukan aku yang bertugas menyusun kontraknya juga. Mana bisa aku memainkan dua peran yang bertolak belakang semacam ini secara bersamaan? Di satu sisi aku adalah begian dari perusahaan yang harus mendapatkan artis sebagus mungkin dengan harga semurah mungkin. Namun di saat yang sama akulah artis itu yang pasti berfikir untuk kerja seringan mungkin dengan bayaran setinggi mungkin. Gila aku!!!


Sementara itu di tempat lain ada yang harus meradang karena Hana. Marshal yang baru saja meluncurkan platformnya mendapat serangan dari benyak penulis amatir karena ketidak konsistenannya padahal masih di awal. Black Pearl yang menjadi penulis tetap pertama justru menghilang hingga dua bulan lamanya. Selain itu, pencairan komisi juga mengalami masalah karena Marshal harus terjun sendiri mengisi kolom penulis tetap yang seharusnya Hana tempati. Sehingga David yang mulanya bertugas sebagai editor kini harus memanage semuanya padahal ia tak cukup paham dengan pengelolalaan management dan administrasi yang selama ini Marshal tangani.


“Shal. Udah dong. Kita cari penulis lain yuk. Pasti dapat…” ujar David yang on the way gila saat ini.


“Nggak bisa Vid. Dia sudah taken kontrak, jadi pasti dia akan kembali untuk memenuhi tanggung jawabnya.” Marshal masih begitu yakin dengan Hana, sehinga ia masih mati-matian mempertahankannya.


“Tapi ini sudah dua bulan Shal. Masa iya platform baru ini harus gulung tikar gara-gara kamu terlalu pelit sama penulis. Penulis yang agak punya skill bakal enggan menulis di sini kalau nggak ada duitnya. Kalau penulis yang benar-benar qualified mah pasti nggak mau nulis di pf receh seperti ini,” ujar David menyampaikan isi kepalanya.


“Vid…” Potong Marshal sebelum David berkata lebih banyak lagi. “Selesaikan urusan komisi secepatnya….” ujar pria gondrong ini tanpa mau dijawab lagi.


“Kamu…” David urung berbicara. Ia lantas mengepalkan kedua tangannya untuk meredam kesal yang ia rasa.


David kehabisan kata. Ia hanya bisa terus melakukan semua sebisanya.


Ribet berurusan sama om-om yang lagi jatuh cinta. Semua hanya berputar pada dia. Padahal yang diputari belum tentu menyadari. Untung sahabat. Kalau bukan sudah aku tinggal pergi.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2