Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Show Time


__ADS_3

...*HAPPY READING* ...


Rina masih belum dapat mencerna keadaan dimana acara grand opening gallerynya begitu ramai. Terlebih saat banyak sekali awak media yang meliput, sedangkan Dika juga tak pernah membahas ini sebelumnya.


"Apa memang akan seperti ini segala sesuatu yang ada hubungannya denganmu?" tanya Rina saat Dika mengajaknya menunggu di ruang khusus dan tak mengajaknya berbaur dengan orang-orang di luar sana.


"Emm, kurang lebih seperti ini. Tapi sepertinya ini memang lebih ramai dari biasanya."


"Kok bisa gitu?"


"Karena untuk pertama kalinya kami menggandeng orang baru, masih muda, dan cantik pula."


Dika masih sempat-sempatnya menggoda Rina. Hal ini ia lakukan agar istrinya ini lebih rileks dan tak gugup menjelang acara potong pita.


Rina menatap jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya.


Sepuluh menit lagi. Kenapa aku masih belum bisa meredakan gugup ini?


Dika terus menggenggam tangan Rina, berharap dapat meredakan kecemasan yang dirasa istrinya.


"Sayang, nanti kalau keluar tetep gandengan atau jalan sendiri-sendiri?"


Dika mengangkat tangan Rina dan menciumnya.


"Akan ku lakukan apapun yang membuatmu nyaman."


Rina memperoleh suntikan keyakinan saat mendengar kata-kata yang Dika ucapkan.


"Ayo keluar," ajak Dika saat dirasa waktu mereka sudah tiba.


"Gimana penampilanku?" Rina sempat meminta pendapat Dika terkait penampilannya.


"Sangat cantik."


"Sayaaannggg, aku serius."


"Aku sangat serius."


Dika mengulurkan tangannya dan Rina segera menautkan lengan keduanya. Begitu muncul, semua mata tertuju pada mereka, hingga Dika memberi sambutan, Rina masih tak habis pikir mengapa ia begitu menjadi pusat perhatian.

__ADS_1


Dika turun dan ini adalah saatnya memberikan sambutan.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat malam. Terimakasih atas kehadiran semuanya dalam acara malam ini."


"Sebagai partner Pak Restu Andika, dan sebagai bagian dari Surya Group, izinkan terlebih dahulu saya untuk memperkenalkan diri."


"Nama saya Rina Malinda, lulusan Rhode Island School of Design, dengan jurusan Jewellery Design."


"Beruntung sekali saat Pak Restu Andika menerima proposal yang saya ajukan dan memberikan tim khusus untuk membangun sebuah cabang dalam naungan Surya Group."


Seorang undangan yang nampak bersiap melempar botol ke hadapan Rina tiba-tiba merasakan tangannya dicekal dan bergerakannya di hentikan. Tak cukup sampai di situ, ia diseret paksa keluar dari kerumunan. Tak ayal orang-orang yang datang ingin menjatuhkan Rina ciut seketika saat menyadari banyak sekali orang yang bersiaga berbaur dengan undangan di sana.


Rina masih dengan percaya diri memperkenalkan gallery dan hasil karyanya yang termuat di dalam sana. Ia juga mendeskripsikan makna perhiasan untuknya secara pribadi dan untuk wanita secara umum.


"Dan malam ini ijinkan kami meresmikan Surya Art and Gallery. Semoga anda semua menikmati acara ini. Selamat malam dan terimakasih. Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh."


Hana meremat tangannya saat merasa rencana awalnya sudah gagal. Ia yang sudah menghasut orang-orang dan menyusun skenario melempari Rina dengan botol dan apapun saat ia menyampaikan sambutannya. Dengan begitu Rina akan hancur karena jatuh di acaranya sendiri.


Tak di sangka penjagaan ternyata ketat sekali. Entah ini fasilitas dari Surya Group untuk memprotect setiap orangnya atau Rina yang memang sudah mempersiapkan diri untuk ini semua.


Jangan senang dulu Rina. Kamu masih bisa selamat saat acara sambutan, tapi tidak saat konferensi pers nanti.


Hana masih menatap sinis Rina yang tersenyum bahagia disamping Dika memotong pita bersama. Mendapat hadiah tepuk tangan dan banyak sekali ucapan selamat.


Kamu nggak pantas di sana Rina. Seharusnya aku yang berdiri di samping Dika.


"Hana, bagamana persiapan konferensi persnya?" kedatangan Andre yang tiba-tiba begitu mengejutkan Hana.


Hanya perlu beberapa tarikan nafas dan acting yang baik darinya, Hana sudah berhasil menetralkan muka.


"Sudah beres semua Pak. Apa perlu saya meminta para awak media untuk bersiap sekarang."


"Iya karena ini sudah waktunya."


"Baik Pak."


Hana segera undur diri untuk melaksanakan tugasnya.


"Kamu pintar Hana, tapi tak cukup lincah untuk mengelabui kami," gumam Andre sembari memantau semua dengan seksama.

__ADS_1


Andre bekerja dengan sangat rapi. Ia memang tak punya kecerdasan dan ingatan sebaik Dedi, tapi ia punya keuletan dan ketelitian yang sudah diakui. Tak ayal ia menggunakan kelebihannya ini dengan baik untuk melaksanakan setiap tugas yang dibebankan padanya.


"Ingat, jangan sampai target utama kita lepas," gumam Andre sebelum kembali menyimpan ponselnya.


Andre sadar saat Dika menatapnya dari jauh. Ia hanya mengangkat tangannya dan menunjukkan symbol oke pada bosnya.


Dika mengangguk mantab dan terus melangkah menuju tempat konferensi pers.


Selangkah lagi kamu akan hancur Rina.


Sayang ini bukan author yang bilang, tapi suara hati Hana. Dan this is the time.


Dika dan Rina duduk secara berdampingan dengan meja yang penuh dengan microphone dengan loggo berbagai media. Di depan mereka juga sudah disiapkan tempat untuk para pemburu berita yang ingin menyampaikan pertanyaannya.


Baru saja Rina melempar senyum pada semua awak media, tiba-tiba sebuah layar proyektor menyala, menampilkan slide foto-foto pasangan yang nampaknya diambil secara diam-diam diberbagai tempat dan situasi berbeda.


Terimalah hadiah spesial dariku Rina. Batin Hana sembari bersorak bahagia karena merasa sedikit lagi targetnya akan hancur seketika.


Mata Rina memicing saat ia merasa familiar dengan orang-orang yang berada dalam gambar.


"Astaga!"


Rina menutup mulutnya, saat mengenali sosok di dalam setiap slide itu adalah ia dan Dika. Semua yang di ruangan ini mulai gaduh. Tatapan tak menyenangkan mulai dialamatkan pada Rina.


Reno mulai tak bisa menahan diri melihat putrinya berada di posisi seperti ini.


Saat Reno hampir tiba di tempat Dika dan Rina berada, cepat-cepat Andre mencegahnya. Dengan dibantu oleh beberapa orang, Reno berhasil dibawa menjauhi kerumunan.


"Apa yang kau lakukan. Dibayar berapa kau oleh Dika sehingga berani sekurang ajar ini pada orang tua, ha!"


"Maaf Pak Reno. Sekali lagi saya mohon maaf. Anda tolong yang tenang ya."


"Bagaimana saya bisa tenang. Saat putri saya dipojokkan, Dika malah terlihat santai dan diam saja. Menurutmu apa saya masih bisa tenang!"


Reno mencengkeram kerah Andre. Disaat orang-orang bertubuh besar itu hendak membantunya, Andre justru menolak dan membiarkan Reno melepaskan pukulan mengenai rahang Andre.


Andre merasakan ngilu di rahang kirinya, namun masih sekuat tenaga menahan.


Tiba-tiba terdengar suara riuh dan tepuk tangan. Andre tersenyum simpul saat Reno melepaskan cengkeraman dan meninggalkannya untuk melihat keadaan.

__ADS_1


TBC


__ADS_2