Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Keramat


__ADS_3

HAPPY READING


Edo menatap Hana. Dari yang mula hanya sekilas saat bicara, kini benar-benar menatap dengan sepenuh jiwa. “Kalian ada masalah?” tanya Edo kemudian.


Hana menelan ludah. Pantes nggak sih bahas yang beginian. Batin Hana.


Maunya sih tak membahas masalah yang seperti ini, terlebih ini adalah Edo, papa dari kekasihnya. Tapi sepertinya Edo benar-benar peduli, terlihat dengan bagaimana cara pria paruh baya ini mememandang Hana dengan penuh kasih.


“Mungkin,” lirih Hana akhirnya.


“Mungkin?” Ulang Edo. Ia menjeda ucapannya dan raut wajahnya berubah seketika. Pandangannya pada Hana terputus seketika. Hana sebentar sebelum ia kembali menatap Hana, meski Hana hanya menunduk saja.


“Bukan maksud saya mencampuri urusan kalian, tapi... Tapi bisa bahaya kalau keseringan.”


Edo menghela nafas, tapi nadanya menggantung sekakan kalimatnya masih memiliki lanjutan.


“Yang seperti ini sudah membahayakan perusahaan, yang mana perusahaan ini menjadi ladang penghidupan untuk ratusan ribu karyawan,” lanjut Edo.


Hana menunduk kian dalam. Edo sebenarnya merasa tak sepatutnya berkata demikian pada Hana, karena jika Andre tidak kekanakan mestinya ia tak seperti ini saat ada masalah pribadi.


“Kamu tak perlu berbicara lagi lagi,” potong Edo cepat saat Hana terlihat kebingungan untuk menjelaskan. “Saya sepertinya sudah paham apa yang terjadi,” lanjut Edo lagi.


Edo nampak terdiam beberapa saat lamanya. Ia nampak berfikir sembari menatap gundukan dokumen yang pasti akan makan waktu lama untuk diselesaikan.


“Lebih baik sekarang kamu tolong bantu saya. Kita selesaikan semuanya. Meski harus ada tumpang tindih atau gesek sana-sini, tapi semua ini tak boleh maceti di sini,” jelas Edo.


Hana terlihat menyanggupi. Ia bereaksi dengan mengangguk pasti.


Dan mereka pun mulai bekerja sama. Meski ditahan, Edo tak dapat menyembunyikan bahwa ia benar-benar kesal dengan kelakuan anaknya.


Hana membantu Edo semampunya. Bagaimana pun juga Andre yang paling tahu semua data yang ada. Edo memang punya banyak pengalam dan Hana juga punya kemampuan, namun tetap saja mereka jadi keteteran.


Hingga tanpa terasa sore sudah menjelang. Edo yang semula hanya ingin berkunjung, akhirnya harus bekerja keras dengan banyak agenda. Meski dulu ia pernah ada di posisi ini tapi tetap saja perkembangan terkini ia ketinggalan juga.

__ADS_1


“Sepertinya ini sudah tak banyak lagi, mungkin saya sanggup kalau menyelesaikan semuanya hari ini,” ujar Hana yang tak tega melihat lelah yang terpancar dengan jelas di wajah tua Edo.


“Kamu yakin?” tanya Edo memastikan.


Hana ragu sebenarnya, tapi kepalanya ia paksa mengangguk segera. “Tapi mungkin saya butuh bantuan untuk beberapa dokumen…”


Hana segera memilah beberapa dokumen yang menunjukkannya kepada Edo dengan segera.


“Tolong Anda bantu periksa sekali lagi di bagian...,” Hana menjelaskan bagian yang tak dipahaminya sambil menunjukkan pada Edo.


Edo pun melukan apa yang Hana minta. Hanya sebatas yang Hana minta karena untuk selebihnya ia sudah tak mampu lagi.


Saat ia sudah angkat tangan, Edo pun tak lantas pulang. Ia masih istirahat dan memperhatikan Hana yang berpacu dengan waktu menyelesaikan pekerjaan anaknya. Sekarang ia tahu kenapa Andre bisa tergila-gila dengan putri Rahardja, karena Hana nyatanya memang luar biasa. Wanita dengan paket lengkap sebagai idaman pria, serta punya kemampuan yang tak bisa dipandang sebelah mata.


“Apa kamu tak ada keinginan untuk segera meneruskan perusahaan Rahardja?” tanya Edo menyela kesibukan Hana.


Hana mengalihkan pandangannya dari barisan huruf berukuran kecil yang membuat ia harus menahan diri meski hanya untuk mengedipkan mata.


“Saya belum pernah memikirkan hal itu,” ujar Hana yang membalas tatap Edo terhadapnya. Ini ia lakukan semata untuk menghargai orang yang sedang bicara dengannya, terlebih itu adalah orang tua yang memang harus dihormatinya. Sehingga tak apa lah dokumen ia duakan sementara.


Hana tersenum simpul. “Ada kak Rio yang lebih berhak dan mampu Om,” jawab Hana lugas.


Edo tak lagi bertanya. Ia diam dan membiarkan Hana melanjutkan pekerjaanya.


Anak ini sepertinya tulus juga.


***


“Saayyaaaaanngg…!!!!”


“YYAAA!!”


Dika yang baru saja mandi langsung melompat tanpa tapi saat mendengar suara keramat yang tak bisa dijawab nanti. Saat ini memang menjadi masa terberat kehamilan Rina, dimana istrinya ini mengalami kenaikan berat badan yang signifikan hingga membuatnya kesulitan untuk bergerak sekedar bergerak atau berpindah tempat.

__ADS_1


“Maaf….” Ujar Rina saat muncul suaminya yang masih berbalut handuk sebatas paha. Ia meringis sambil menunjukkan wajah termanisnya demi menghalau kesal yang mungkin akan muncul setelahnya.


Kondisi kandungan Rina yang kian membesar mendesak kandung kemihnya sehingga membuat Rina harus merasa tak nyaman karena seringnya rasa ingin kencing menyerang tanpa aba-aba. Dan kini yang terjadi adalah...


“Kamu…” ujar Dika sambil memegangi handuknya.


Rina mengangguk dengan wajah tanpa dosanya.


Tak ada kata kasar atau wujud kesal yang Dika tampakkan. Ia hanya minta ijin untuk mengganti handuknya dengan cepana meski hanya kolor saja.


Meski bentuknya sudah bulat seperti bola, tapi mengangkat tubuh Rina bukanlah beban untuk Dika. Ia sadar istrinya jadi seperti ini karena sedang berjuang untuk melahirkan keturunannya. Dengan penuh rela ia membantu Rina untuk membersihkan diri, karena istrinya ini baru saja buang air kecil tanpa beranjak dari sofa tempatnya istirahat tadi. Sebenarnya Rina bisa saja berjalan ke kamar mandi, namun kakinya mendadak keram sehingga hajat yang seringkali datang tiba tiba dan tak bisa ditunda itu membuat pekerjaan baru untuk Dika seperti ini.


Meski Dika tak perlu bertanggung jawab untuk kebersihan rumahnya, namun untuk Rina ini tak ingin dibantu orang lain selain dirinya. Jadilah meski kadanga lelah tak pernah ditunjukkannya.


“Kalau kebelet itu mendadak ya?” tanya Dika yang baru selesai membantu Rina mengganti pakaiannya.


Rina mengangguk tak enak.


“Ya udah, sabar dulu ya, sebentar lagi kita akan bertemu dengan peri cantik yang ada di sini…” ujar Dika sambil mengusap perut istrinya. Sebenarnya ini juga yang selalu Dika tekankan pada dirinya kala ia merasa lelah dan jengkel menghadapi keluhan dan rengekan Rina. Semua ini tak ada artinya dengan kebahagiaan yang hendak disongsongnya.


“Awh…” Rina merintih saat tiba-tiba perutnya terasa nyeri.


Dika tersenyum dan mendekatkan wajahnya ke arah perut istrinya. “Sayang, jangan kenceng-kenceng dong kalau nendang, kasih tuh Mama kesakitan,” ujar Dika dengan lembut.


Bukan asal Dika berkata demikian, karena ketika sang anak melakukan aktifitasnya di dalam kandungan, permukaan perut Rina sampai naik dan bergerak dengan jelasnya. Jadi meski perutnya sering dibuat nyeri, meski tubuhnya pegal di sana-sini, meski ia kehilangan nyenyak dalam tidurnya akhir-akhir ini, tapi Rina rela karena itu tandanya sang putri tub=mbuh dengan baik di dalam perutnya.


“Mau jalan-jalan?” tanya Dika setelah  keduanya diam dan menyalurkan segenap kasih dengan sentuhan-sentuhan lembut diperut Rina untuk peri kecil mereka.


“Mau es krim saja, boleh?”


“Nggak bosen kamu?” Bukannya menjawab, Dika justru balik bertanya.


Rina menggeleng. “Karena anak kita menjadi alasan mengapa es krim ini,” ujar Rina sambil berbicara dengan perut besarnya.

__ADS_1


Dika menanggapi celoteh istrinya ini dengan senyum lebarnya.


Bersambung…


__ADS_2