
^^^Cakep.^^^
^^^Dah itu aja.^^^
...*H A P P Y R E A D I N G*...
Semua berdiri saat menyambut kedatangan Dika dan Rudi.
Rudi menahan bahu Dika saat keduanya hendak melewati pintu pertemuan. "Bismillah Nak. Ayah percaya sama kamu."
Dika mengangguk mantab. "Bismillahhirohmanirrohim..." gumam Dika lirih namun sarat akan kepasrahan dan keyakinan.
Saat Edo membuka pertemuan, sekuat tenaga Dika mengumpulkan keyakinan. Meskipun posisinya sudah kuat sekarang, namun dia harus membuat semua yakin bahwa ia maju tak hanya mengandalkan warisan kekuasaan tapi karena ia mampu memimpin perusahaan.
Sudah Dika prediksi bahwa akan ada perdebatan sengit dan alot kali ini. Keberadaan Rudi sangat membantu. Memang beliau tak punya kemampuan berkomunikasi yang baik, tapi setiap Dika mendapat serangan, Rudi selalu bisa Dika andalkan untuk mencari celah dan menyelamatkan diri.
Ia juga harus berusaha agar tetap tegak berdiri, ditengah serangan para direksi. Merasa tertekan itu pasti, namun untungnya dia sudah siap hingga tak harus berlari dan menyelamatkan diri.
Adzan dzuhur berkumandang, Dika merasa capek berada lebih dari 2 jam dalam situasi yang cukup tegang dan melelahkan seperti ini. Ingin sekali Dika beristirahat, namun pertemuan ini tanggung jika tak langsung dituntaskan.
Selama adzan berkumandang, Rudi meminta waktu sejenak untuk menghormati yang beragama Islam.
"Apakah saya boleh menyampaikan sesuatu sekarang?" tanya Rudi setelah adzan selesai berkumandang.
Rudi menarik nafas setelah dipersilahkan. Matanya bertemu dengan Dika yang masih tegap berdiri di sampingnya. Optimis terpancat dari wajah tampan Dika. Restu nampak yakin tapi kenapa aku malah di dera ragu.
"Kita perjuangkan bersama, apa yang udah Ayah sama mendiang papa rintis," ucap Dika yang hanya mampu di dengar oleh Rudi.
Bagai mendapat aliran keyakinan, Rudi mulai mengangkat wajahnya. "Saya rasa pertemuan ini tak perlu diperpanjang karena pemilik sebagian besar saham sudah setuju. Selain itu project konstruction and development pembangunan pantai selatan sudah dimenangkan Pak Restu bersama dengan Surya Development yang dipimpin oleh Direktur Reno. Dan..." mendadak Rudi merasa kehabisan kata.
Tanpa suara Dika meminta izin pada Rudi untuk meneruskan berbicara. "Kalian cukup bekerja dengan baik. Jika memang tak sejalan, kami tak akan menahan kalian untuk bertahan di perusahaan."
__ADS_1
Ruangan mendadak senyap. Tak ada sahutan setelah Dika menyelesaikan ucapannya.
"Baik lah, sepertinya apa yang dibilang pak Rudi dan pak Restu memang benar adanya. Kadang kita memang idealisme tak bisa berjalan dengan realita, begitu sebaliknya. Saya setuju..." kata pak Hari selaku Direktur bagian pemasaran di salah satu cabang Surya Group.
Meskipun reaksinya masih beragam, akhirnya semua yang di sana menyatakan sepakat dan memberikan persetujuan atas pengangkatan Restu Andika Putra Surya sebagai CEO Surya Group.
Edo menutup pertemuan dan semua membubarkan diri setelahnya. Memang masih ada yang terlihat belum rela, namun mereka kalah kuasa. Dan Dika bertekad akan menunjukkan pada semua bahwa ia mampu dan pantas menjadi wajah Surya Group.
Dika terdiam melihat Rudi yang tiba-tiba sujud syukur. Kenapa dia sepertinya bahagia?
Semua memang sudah keluar, menyisakan Rudi dan Dika di sana.
"Ayah sujud untuk apa?" tanya Dika setelah Rudi bangkit dari sujudnya.
Rudi sempat mengusap sudut matanya. "Sepeninggal Hendro Ayah nggak bisa apa-apa. Ayah merasa sudah cukup lancang dengan menikahi mama kalian, jadi Ayah nggak berani untuk melangkah mengurus perusahaan kalian. Tak salah memang papamu memilih Edo, meski awalnya Ayah ragu, tapi dia berhasil mematahkan keraguan Ayah. Dan dengan melihat kamu seperti ini, Ayah merasa beban Ayah berkurang karena perusahaan sudah berada di tangan yang semestinya."
"Sebenarnya saya juga masih ragu dengan kemampuan saya."
Rudi menepuk bahu Dika. "Ada Alloh yang Maha memberi ilmu dan membekalimu akal. Ada Ayah ada Edo dan... Reno sepertinya juga kamu jadikan tempat bertukar pikiran..."
"Apa kamu serius dengan anaknya Reno?"
Dika mengeluarkan sebatang rokok dan mulai menyalakannya. "lya." Dia menghisap dan menghembuskan asap putih itu setelahnya. "Terlebih setelah sebentar lagi identitasku terungkap. Akan sulit mencari wanita yang bisa menerimaku tanpa memandang hartaku."
Rudi mengangguk. "Ayah setuju..."
"Aku tidak minta persetujuan anda Dokter," ucap Dika dingin.
Air muka Rudi langsung berubah.
Sekali lagi Dika terkekeh. Bahkan tawa kecil sudah meluncur tanpa mampu ditahannya. Terlebih saat mendengar Rudi menghela nafas dengan tak santai.
"Saya hanya ikut senang." Kembali Rudi mengambil jarak.
__ADS_1
Dika mematikan rokok yang tak ada setengah itu. "Bohong kalau saya bilang ikhlas setulus hati sudah bisa menerima Ayah, tapi logika saya berkata saya harus tetap melakukannya."
"Maksud kamu?"
"Saya akan menganggap Ayah adalah orang tua saya, meskipun tetap tak bisa menyamakannya dengan papa." Dika perlahan menatap wajah Rudi. "Jadi jangan terlalu kaku kalau sesekali saya ajak bercanda..." pungkas Dika diakhiri tawa.
Rudi merengkuh tubuh jangkung Dika. "Kamu adalah anak laki-laki yang paling Ayah banggakan."
"Apa Ayah tak ingin memberikan adik untuk Restu dan Rista?" tanya Dika setelah pelukan keduanya terlepas.
Rudi tersenyum menanggapinya. "Ayah sudah punya putra dan putri yang luar biasa. Rasanya itu saja sudah lebih dari cukup."
"Tapi saya benar-benar tak melarang jika Ayah dan mama masih ingin generasi penerus lagi."
Rudi mengajak Dika untuk berjalan meninggalkan ruangan. "Rasanya menunggu kamu memberi cucu itu jauh lebih menyenangkan."
Tawa keduanya pecah.
Di luar Edo dan Reno nampak mengobrol dengan beberapa petinggi perusahaan. "Apa anda sudah mau kembali ke rumah sakit Pak?" tanya Edo.
"Saya masih mau sholat dzuhur dulu, sekalian mengajak anak saya makan siang. Apa bapak-bapak ingin bersama-sama ke mushola?"
"Iya Pak, saya juga belum sholat," ujar Reno menerima ajakan Rudi.
Akhirnya Rudi berhasil membawa serta orang-orang high class yang dalam KTPnya tertera beragama Islam itu pergi ke mushola untuk sujud dan merendah. Jika biasanya karena sibuk dan banyak alasan lain mereka akan sholat sendiri di ruangannya, kini mereka berbaur dengan karyawan lainnya untuk bersama sholat berjamaah.
Kejutan juga di dapat lagi saat Rudi bersedia menjadi imam sholat mereka lengkap dengan tausiah setelah selesai dzikir wirid singkatnya. Sempat ada diskusi yang bisa dijawab dengan baik oleh Rudi.
"Wah bakal adem kalau pentolan perusahaan religius kayak gini..."
Meskipun samar, Dika bisa mendengan jelas apa yang baru saja diucapkan beberapa karyawannya ini.
Dika menatap lekat ayah tirinya yang masih berbincang dengan kolega. Dia tetap menjadi sosok yang sederhana meskipun ia punya segalanya. Ia tak serakah dengan kekuasaan meskipun ia bisa saja mendapatkannya. Ya Allah, ikhlaskan hati hamba untuk menerima bapak Rudi Andika sebagai ayah saya. Ikhlaskan hati hamba untuk menerima takdir yang sudah Engkau gariskan.
__ADS_1
TBC