
HAPPY READING
“Ndre…”
Andre yang tengah berjalan dengan gagahnya harus rela Hana hentikan entah untuk apa alasannya. Padahal untuk hal ini ia sudah mempersiapkan diri dalam waktu yang cukup lama.
“Apa lagi Han?” Andre terdengar tak sabar saat menanyai Hana. Pasalnya Hana sudah menunda langkahnya untuk segera menemui kedua orang tuanya.
“Apa semua ini tidak terlalu cepat,” ujar Hana setelah sempat menimbang beberapa saat.
“Apanya yang cepat Hana. Aku justru merasa kita ini sangat lambat dalam mengambil keputusan. Dan see..., aku sudah memutuskan dan olehmu masih harus di tahan...”
Hana langsung melepaskan cekalannya.
“No I don't. I mean let me take a breath. Just for a while, to take a breath.”
Andre menyugar rambutnya membuat tatanan yang semula rapi itu sedikit koyak saat ini. “Gua buntingin juga lu ya,” desis Andre dengan suara tertahan.
Hana mendelik. “Nggak matching.”
“Apanya?!”
“Mulut sama dandanannya,” ujar Hana sambil bergantin memegang dua bagian yang baru saja ia sebutkan.
“Ya gara-gara siapa?” Andre melepaskan tatapan tajam yang semula ia hunuskan kepada Hana.
Hana meraih wajah Andre dan membawa ke hadapannya. “Gara-gara siapa?”
“Hanaaa!!!”
“Iya sayang.”
Andre melepaskan tangan Hana yang semula menangkup wajahnya. “Ayo pulang.”
“Eh, eh, tapi eh…”
Andre menarik Hana begitu saja membawanya pergi dengan arah yang berlawanan dengan tujuan mereka sebelumnya.
Hana sedikit ngeri dengan apa yang akan ia hadapi kini. Andre merasa ini momen yang harus di dapatkan sedangkan Hana merasa ini merupakan tindakan yang terlalu gegabah dan buru-buru. Mengingat baru siang tadi masalah Galih dan Mustika teratasi, sehingga Hana merasa perlu ada jeda untuk menghadapi orang tua Andre yang terlanjur mengetahui kebobrokan hubungan mereka.
Namun demi mendapat waktu untuk bernafas, Hana harus rela membuat dirinya dalam posisi terancam. Apa ancamannya?
Sesuatu yang detail kejadiannya tak bisa dijabarkan namun secara garis besar dapat dipastikan kejadiannya. Inilah perjalanan hidup, inilah takdir yang tengah dijalani sepasang anak manusia yang jauh dari dekapan Tuhan. Karena menjadi baik saja tidak cukup, tapi harus memiliki pedoman sebagai acuan menentukan langkah menempuh kehidupan.
“Andre…”
“Kenapa sayang…”
“Masa iya harus seperti ini terus?”
__ADS_1
“Mungkin tak seperti ini kalau kamu tak menahanku tadi.”
Hana diam setelah memutus kontak dengan Andre terlebih dahulu.
“Tidak ada yang terus menerus Hana. kita sudah menjedanya begitu lama…”
Klik!
Andre yang sudah memarkirkan mobilnya sejak tadi dengan satu tekan yang ia lakukan langsung membuat seatbelt yang mengikat tubuhnya terlepas seketika. Ia lantas kembali pada Hana yang masih duduk dengan pasrah di tempatnya. Pakaian formal dengan rok pendeknya membuat Hana begitu mempesona, meski riasan di wajahnya sudah nyaris tak ada.
Hana menelan ludah saat Andre mencondongkan tubuh kepadanya. Sejurus kemudian nafas pun harus ia tahan kala tubuh kekar pria ini berhenti tepat di depannya.
Hanya dengan sedikit menggerakkan kepalanya, Andre dipastikan langsung bisa meraup bibir Hana. Namun kali ini nampaknya sedikit berbeda. Andre seperti kehilangan minat dan justru lebih memilih untuk memandangi Hana dengan jarak sangat dekat seperti ini.
Perlahan mata Hana terpejam. Ia tak mau berinisiatif atau terlebih dahulu melakukan pergerakan. Ia ingin menunggu apa yang Andre lakukan karena ini satu-satunya hal yang bisa sedikit menyelamatkan harga dirinya di tengah keinginan nakal yang sekuat tenaga selalu ditutupinya.
Meski ia sering menampakkan kekesalan saat Andre bersikap semaunya, namun saat benda kenyal yang kerap mengeluarkan kata tajam itu menempel dan membasahi bibirnya, itu merupakan salah satu momen yang paling Hana suka. Tak terlalu pantas untuk diakui, namun sepertinya tak hanya Hana wanita yang punya rahasia semacam ini.
Klik!
Mata Hana yang terpejam langsung terbuka lebar. Andre benar-benar tak ada niatan untuk menciumnya. Kali ini ia benar-benar merasa cukup hanya dengan memandangi Hana. Sejurus kemudian ia keluar setelah melepas sabuk pengaman yang melilit tubuh Hana.
Kesambet apa gimana sih? Gerutu Hana dalam hati.
Tok tok tok!
Tok tok tok!
Dan Hana kian dibuat kesal, saat Andre kembali mengetuk kaca di sampingnya karena ia belum keluar juga pasca ketukan pertama.
Padahal tinggal tarik handle pintu kan bisa langsung terbuka. Apa kah tidak ada keinginan untuk berbuat sedikit manis?
Terus tadi kenapa ngajak pulang seperti orang kesetaan. Aku pikir karena Ande sudah tahu kalau aku sudah selesai datang bulan. Gerutu Hana dalam hati. Ia makin tak sungkan membiarkan semua pikiran nakalnya keluar. Toh tidak ada yang dengar.
“Han, sampai kapan kamu mau bertahan di dalam?”
Dengan perasaan kesal campur aduk tak tahu apa saja isinya, Hana membuka pintu dengan kuat dan tanpa aba-aba. Untungnya Andre orang yang siaga, sehingga ia bisa menghindari adegan terjungkal.
“Kasar banget...” ujar Andre yang harus mundur agar Hana bisa keluar.
“Bodo!” ketus Hana yang keluar begitu saja tanpa menutup pintu.
Melihat tingkah Hana, tak ada hal yang Andre lakukan selain mengikutinya wanitanya yang berjalan melewati lobi dan masuk ke dalam lift tanpa bertanya apa lagi protes kenapa Andre membawanya ke sini bukan ke rumah yang mereka tempati. Ya, mereka memang bukan pulang ke rumah, melainkan ke apartemen yang sebenarnya bukan menjadi hunian utama mereka sekarang.
Namun Hana harus rela langkahnya terhenti saat sadar ternyata kunci akses tak ada padanya, padahal kini mereka ada di depan pintu apartemen yang sebelumnya Andre huni.
Andre menarik sesuatu dari kantong jasnya dan menghubungi seseorang setelahnya. Tak berselang lama datang seorang pria yang menyerahkan sebuah kartu pada Andre.
“Maaf harus merepotkan kamu…” ujar Andre sambil menerima kartu yang pria tersebut serahkan.
__ADS_1
“Sudah menjadi tugas saya Pak.”
“Kamu bisa kembali.”
Pria itu segera meninggalkan Andre dan Hana setelah sebelumnya menunduk hormat pada keduanya.
“Masih mau masuk?” tanya Andre sambil mengacungkan kartu di tangannya.
Dengan cepat Hana menarik kartu itu dan ia gunakan masuk ke dalam setelahnya. Begitu pintu terbuka, Hana sempat terdiam, namun sejurus kemudian ia kembali mengayun langkahnya untuk masuk ke bagian yang lebih dalam.
Di ruang dengan nuansa putih ini, Hana seakan diajak bernostalgia, mengingat pahit manis awal kisah mereka. Semua ada di sini dan ruangan ini masih ada menjadi saksi. Namun setelah cukup lama berdiam diri, ia baru sadar jika ada hal yang sedikit tak biasa.
“Kenapa Andre tiba-tiba membawaku kemari?” gumam Hana pada dirinya sendiri.
Greb!
Belum juga tanyanya terjawab, ia langsung merasa tubuhnya ada yang mendekap.
“Mau ngapain?”
Tak perlu Hana bertanya itu siapa, karena ia sangat tahu bahkan sebelum sosok ini bersuara.
Andre tak langsung menjawab. Ia justru merendahkan tubuhnya dan menyembunyikan wajah di ceruk leher Hana. “Jangan marah…” ujar Andre dengan nada rendah.
Hana tak menjawab. Ia sekarang sedang sibuk mengatur nafas. Antara kesal dan lemas yang tiba-tiba menyerang. Hembusan nafas Andre membuatnya meremang dan di saat yang sama tubuhnya tiba-tiba serasa melayang.
Hana membiarkan tubuhnya terbang, hingga kemudian Andre mendaratkan tubuhnya perlahan.
Terasa lebut dan nyaman, saat Hana tubuh Hana direbahkan di atas benda empuk yang kerap kali menjadi ajang pergulatan manis Ia dan Andre saat itu.
“You want something like this, right…” ujar Andre dengan suara basnya.
Todongan Andre dibalas Hana dengan tarikan nafas yang terdengar berat. Hana sudah terlanjur menceburkan diri, namun sepertinya ia masih ada malu untuk jujur mengakui keinginannya. Sehingga pasrah menjadi sikap yang kerap kali dipilihnya.
“Relax Hana. I'll get everything done. For you.”
“For me?”
Andre menyentuh hidung mancung Hana. “For you… Kenapa? Kamu meragukanku?”
“It's just me?” Entah apa isi kepala Hana, sepertinya ia senang sekali mempermainkan orang seperti ini.
“Off course,” jawab Andre dengan keyakinan yang sama.
“And how about you?” tanya Hana sambil menyentuh rahang tegas Andre.
Andre menyeringai. “Let’s see…”
Bersambung…
__ADS_1