
^^^Zona berondong bentar lagi mau istirahat nih.^^^
^^^Enaknya kehidupan pernikahan Dika dan Rina lanjut di sini aja apa dibuat dalam judul baru?^^^
^^^Mohon sarannya ya.^^^
^^^Terimakasih.^^^
...*HAPPY READING*...
2 hari menjelang keberangkatannya, Dedi masih belum bisamenemui Rista. Rina yang semula enggan meninggalkan rumah orang tuanya, kini sudah beberapa hari stay di rumah sang mertua karena mengkhawatirkan Rista. Dika pun mau tak mau ikut boyong ke sana. Belum usai kegelisahan menjelang kepergian Dedi, Dika juga dibuat pusing dengan kondisi adiknya.
Sejak tahu rencana keberangkatan Dedi ke Amerika, Rista hanya mengurung diri di kamar. Dia tak mau berbuat apa-apa, bahkan sekolah pun tak mau padahal saat ini waktunya ujian.
Tak ada makanan yang berhasil melewati kerongkongannya jika tak dipaksa Rina. Rudi dan Santi pun tak berani mendekat. Rista kecewa karena Rudi yang sejak awal tahu sedikitpun tak memberitahu padanya.
"Ris, makan ya..."
Rista hanya menggeleng sambil menatap kosong keluar jendela.
"Lihat deh, tubuh kamu udah tinggal kulit sama tulang ini. Makan ya. Sesuaaaap aja."
Rista tak bergeming. Rina akhirnya menyerah dan ikut duduk di samping adik iparnya ini. Keduanya menatap semburat langit yang mulai menguning di luar sana.
***
"Ded stop. Udah. Please sekarang kamu istirahat. Dan serahin semua sama kita."
"Aku nggak biasa kalau cuma nganggur." Dedi masih terus saja fokus pada klemaran kertas di hadapannya.
"Tapi gimana persiapan kamu. Keberangkatan kamu tinggal menunggu hitungan jam."
Dedi mengeratkan cengjeramannya pada kertas di tangannya. Matanya terpejam menahan gejolak yang ia pendam.
Brak!
Dedi menghempaskan yang ia pegang ke atas meja. Ia mencengkeram erat kepala yang yang siap meledak.
"Dik, aku berdosa Dik, aku berdosa."
Dika segera memegang bahu sahabatnya, dan menegakkan tubuh lesu yang sama tingginya dengan dia itu.
"Kamu nggak lupa kan berapa kali mukul aku buat nyelametin dari kubangan dosa?" ucap Dika
"Aku juga punya dosa, semua punya dosa cuma jalannya aja yang beda," lanjutnya untuk membesarkan hati Dedi.
Dika memeluk tubuh sahabatnya yang tak mampu berdiri tegak ini.
"Aku udah nyakitin Rista Dik. Aku udah nodain hati yang seharusnya masih suci itu dengan luka."
Pertahanan Dedi runtuh. Tak sepantasnya seorang lelaki menangis, tapi Dedi sudah tak perduli. Ia menumpahkan tangis yang ia tahan selama ini di bahu sahabatnya. Ia tersiksa, sangat tersiksa sebenarnya dengan keputusan ini, tapi ia tak punya banyak pilihan. Kelainan yang di deritanya bukan menjadi alasan utamanya ia meninggalkan tanah air dengan waktu yang sangat lama, tapi menjaga jarak dengan Rista lah sebenarnya tujuan utamanya.
Ia tak cukup percaya pada dirinya yang mampu terus bertahan menjaga kesucian Rista jika gadis ini ada di dekatnya. Di sisi lain, Ia tak mungkin menikahi Rista segera seperti yang Dika lakukan pada Rina, karena ia bukanlah siapa-siapa yang bisa menjamin Rista seperti yang Dika lakukan pada Rina.
Terlebih, ia tahu Santi masih meragukannya. Meskipun tak pernah terucap langsung, tapi ia sangat paham mengingat kondisinya. Ia tak mungkin memaksa untuk melanjutkan hubungannya dengan Rista jika restu tak sempurna di dapatkannya.
Dedi melewatkan malam terakhirnya di tanah air dengan menumpahkan segala kegundahannya pada Dika. Tak kerabat dan sanak saudara. Ia benar-benar sendiri hidup di dunia.
Ia selama ini nampak tegar sekuat karang dan mampu bertahan dalam kondisi apapun seperti rumput liar, namun dalam hatinya ia sungguh rapuh dan kesepian. Menemukan Dika dan diterima dikeluarganya adalah anugerah, terlebih ketika berhasil memenangkan hati Rista yang merupakan seorang putri di keluarga sahabatnya.
Tapi tak lantas Dedi berpangku tangan dan ambruk di sana. Ia merasa harus menjadi seseorang yang pantas jika ingin menjadikan Rista pendamping di hidupnya. Untuk itulah ia harus berjuang keras agar menjadi orang yang pantas untuk meminang Rista Andini, kekasih kecilnya saat ini.
__ADS_1
***
Adzan subuh berkumandang. Dika membangunkan Dedi yang kini berdua dengannya di rumah. Hanya ada mereka karena Rina masih menginap di rumah mertuanya untuk menemani Rista.
"Assalamualaikum warahmatullah... Assalamualaikum warahmatullah..."
Dika sholat berjamaah dengan Dedi sebagai imamnya. Ini adalah kali pertama Dedi menjadi imam sholat dalam hidupnya. Mereka berzikir menyebut nama Allah, sebelum akhirnya menengadahkan kedua tangan memanjatkan doa.
" Udah siap semua? " tanya Dika sembari melipat sajadahnya.
"Insyaallah sudah."
"Dokumen-dokumen sudah lengkap?"
"Sudah."
"Akan sangat merepotkan jika sampai ketinggalan," kekeh Dika.
Dedi tertawa kecil mendengar seloroh sahabatnya.
Pukul 6 mereka siap berangkat ke bandara. Pesawat take off pukul 9 namun kemacetan di jalan kota tak pernah bisa dihindarkan. Untuk itu mereka memutuskan untuk berangkat lebih awal.
Dengan membawa 2 koper besar bersamanya, Dedi melangkah meninggalkan rumah sahabatnya. Bayangan awal perkenalannya dengan Rista tergambar jelas di benaknya.
Awalnya Dedi hanya diminta Dika untuk menjaga Rista dan mengantar jemput sekolah saat Dika mulai memutuskan untuk meneruskan perusahaan mendiang papanya. Namun akhirnya ia melabuhkan hatinya juga di sana.
Namun kini, Dedi harus pergi dengan harapan suatu saat bisa meminang Rista dan hidup bersama selamanya.
"Udah siap?"
"Hmm..."
Dedi menghela nafas dan memasukkan kopernya ke dalam bagasi.
Dika melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Ayo."
Dika mengemudikan mobilnya ke arah di mana istrinya berada. Sebenarnya ia merindukan Rina karena sudah dua hari lamanya mereka hidup terpisah. Ingin sekali ia tetap menginap di rumah Rudi juga, namun ia tak tega melihat Dedi yang kacau seperti ini.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikum salam..."
Rudi dan Santi yang tengah di meja makan tak berkata selain menjawab salam. Mereka juga bingung dengan situasi yang terjadi saat ini.
Dedi berjalan mendahului Dika untuk bersalaman dengan Rudi dan Santi.
"Om, Tante. Dedi mau pamit. Terimakasih dan maafkan semua kesalahan Dedi selama ini."
Rudi merengkuh tubuh jangkung pemuda ini, sementara Santi menitikkan air mata tanpa suara.
"Apa saya boleh menemui Rista?"
Rudi menghela nafas.
"Dia di kamar sama Rina."
Dedi melangkah perlahan menaiki tangga. Di depan pintu yang ia hafal adalah kamar Rista ia berhenti.
Ia mendorong pintu kayu di hadapannya, namun tak bisa karena dari dalam terkunci.
__ADS_1
Tok tok tok
"Siapa?"
Itu bukan suara Rista melainkan Rina.
"Ini aku Ta. Aku pengen pamit sama kamu."
"Nggak usah. Kamu pergi aja!"
Tuhan, berat sekali rasanya.
"Tapi Ta..."
"PERGI!!!"
Rista berteriak dengan suara parau. Dedi yakin gadisnya sedang tak baik-baik saja.
"Rista..."
"PERGIIIII.....!!"
Brak!
Refleks Dedi mundur saat sebuah benda dilempar mengenai pintu dari bagian dalam.
Dedi menyerah. Ia mengumpulkan tekat jika sekarang adalah saatnya berangkat. Dedi mengangkat sebelah tangannya menyentuh pintu kamar Rista membayangkan wajah gadis ini di dalam sana.
"Ta, aku berangkat. Jaga diri baik-baik."
Saat Dedi berbalik, sudah ada Dika yang berdiri di ujung tangga.
Dedi menggeleng saat Dika menatapnya.
"Kita berangkat?"
Dedi menarik paksa kedua sudut di bibirnya. "Iya."
Kedua pemuda ini berjalan menuruni tangga. Sekali lagi Dedi berpamitan pada Rudi dan Santi.
"Om sudah nyiapin semua di sana. Jangan lupa kasih kabar begitu tiba."
"Terimakasih banyak Om."
"Tante, Dedi pamit."
Santi tak kuasa menahan air mata dan memeluk pemuda yang sudah seperti anaknya ini. Ia memang ragu jika harus menyerahkan Rista kepada Dedi, tapi ia tulus menyayangi pemuda ini layaknya anak sendiri.
"Jaga diri baik-baik."
"Makasih Tante."
Dedi menghela nafas dan menatap ke arah kamar Rista berada.
"Saya pamit. Assalamualaikum alaikum."
"Waalaikum salam."
^^^My Wife^^^
^^^Sayang, aku nganterin Dedi dulu ke bandara. Pesawat take off jam 9.^^^
__ADS_1
Setelah mengirim pesan kepada Rina, Dika pun mulai melajukan mobilnya.
TBC