Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Perangkap


__ADS_3

*HAPPY READING*


Setelah mengobrol banyak, akhirnya Hana tahu kalau Dian adalah mantan pacar Andre. Ia heran kenapa ada hubungan mantan kekasih bisa sebaik ini, padahal yang selama ini ia tahu, pasangan jika sudah berpisah akan enggan untuk dekat satu sama lain.


“Udah lumayan malam. Kita pamit dulu Di.”


“Baru juga jam 10 Ndre. Hana kayaknya juga masih betah disini.”


Andre merangkul Hana, membuat Hana urung membuka suara.


“Dia melakukan apa pun yang aku katakan,” jawab Andre sambil menatap Hana yang duduk di sampingnya.


Dian memicingkan mata. “Kamu nggak macem-macem kan Ndre?” tanya Dian curiga.


“Aku cuma satu macam Di. Dan aku masih tetap Andremu yang dulu.”


Hana mendongak dan menatap wajah datar Andre, sementara wanita cantik di hadapan mereka nampak membulatkan mata. Apa jangan-jangan Andre masih suka sama Dian? Lantas kenapa mereka putus, padahal sekarang saja hubungannya masih terlihat begitu baik.


Dian tak lagi bersuara. Ia mengantarkan Andre dan Hana berjalan keluar meninggalkan restorannya. Setelah kepergian Andre dan Hana, Dian segera kembali ke ruangannya.


Dian mengunci pintu setelah ia berada di dalam. Ia berjalan menuju tempat tidur kecil yang ada di setiap ruang kerjanya. Dian membanting tubuhnya di sana.


Kenapa sesakit ini melihat Andre sudah bisa bersama wanita lain?


Dian menumpahkan air matanya begitu saja. Ia sudah menahan ini sejak Andre tiba, dan harus ditahan agar tak tumpah selama Andre di sana. Ia menyembunyikan goresan di hatinya dibalik setiap senyum dan tawa.


Apakah kamu juga pernah merasakan sakit dan kecewa saat aku membawa laki-laki lain dalam kehidupanku?


Pasca mereka putus, ini memang kali pertama Andre muncul bersama wanita. Berbeda dengan Dian yang sudah beberapa kali berganti pasangan. Bahkan ada diantaranya sudah pernah tinggal bersama. Mereka putus bukan karena ada masalah, tapi hanya karena mereka lebih nyaman berteman ketimbang menjadi pasangan, dibalik alasan keyakinan yang lebih gampang diterima orang.


Saat ini Andre sudah memarkirkan mobilnya. Ia membawa Hana menuju apartemennya.


“Saya pulang saja ya Pak.” Hana sudah tak mampu menyembunyikan ketakutannya. Ia benar-benar takut jika Andre sampai macam-macam padanya.


“Mana Hana yang biasanya tegas dan penuh percaya diri itu. Kenapa sekaran kamu nampak takut dan gelisah seperti ini?”

__ADS_1


Andre benar-benar menikmati permainannya dengan Hana. Sepertinya ia akan menyambut hari depan yang lebih menyenangkan dengan keberadaan Hana di sampingnya.


“Tapi, ini kan…”


Andre mendekatkan tubuhnya pada Hana. Hana yang panic reflex mundur hingga punggungnya membentur dinding lift. Saat ia ingin menyingkir, Andre jurtru menghalangi tubuh Hana dengan lengannya.


“Saya tahu kamu bisa manis seperti ini, that’s why saya ingin kamu berada di dekat saya.”


Mati kamu Hana. Niatnya pengen jebak Andre malah kamu sendiri yang sekarang masuk jebakan dia. Hana merutuki kecerobohannya. Jika sudah begini, dia tak boleh gegabah. Hana harus hati-hati dalam bertindak, karena Andre tak sesederhana yang dipikirkannya.


Ting


Pintu lift terbuka dan Andre membawa Hana keluar dari sana.


“Pak, saya bisa teriak jika anda macam-macam dengan saya.”


Andre meraih pinggang Hana dan merapatkan tubuh keduanya. Hana sudah tak tahu ritme apa yang dimainkan jantungnya. Ia takut, cemas dan gugup diwaktu yang sama.


“Teriak saja, kalau perlu sekencang-kencangnya.”


“Tak ada penghuni lain di lantai ini selain saya, jadi kalau mau mendesah pun tak masalah.”


Kaki Hana lemas. Ia tak tahu perangkap apa yang akan dimasukinya. Melihat Hana shock, Andre segera  mengangkat tubuhnya. Ia segera membawa Hana masuk ke dalam apartemennya.


***


“Kamu benar-benar sudah siap?” tanya Rina saat tengah memoles wajahnya dengan riasan.


Dika yang baru mandi masih belum dapat menjawab pertanyaan istrinya. Ia berjalan menuju pakaian yang telah Rina siapkan. Saat ini adalah hari minggu, waktu dimana Dika dan Rina akan menjalani serangkaian pemeriksaan sebelum mereka mulai menjalankan program kehamilan.


“Sayang, kalau kamu nggak mau diperiksa ya udah. Kita tunggu sedikasihnya aja.”


“Tapi aku takut jika penggunaan kontrasepsi jangka panjang kamu akan mempengaruhi kehamilan kamu nanti,” jawab Dika sambil mengenakan kaos oblongnya.


“Teorinya sih gitu, tapi kalau kamu emang takut mau gimana lagi. Aku hamil kan nggak sendiri, tapi ada sel telur yang harus kamu buahi terlebih dahulu. Dah buahinnya pake ****** yang, hhmbbff…”

__ADS_1


Rina terkejut saat Dika tiba-tiba mencium mencium bibirnya. Tak ada pilihan lain selain pasrah dan menetralkan


keterkejutannya sambil meladeni suaminya.


Mencium tiba-tiba dan melepaskan tiba-tiba pula. Setelah membebaskan istrinya, Dika meraih sisir untuk merapikan


rambutnya.


Rina hanya mampu menatap datar sambil mengurut dada. Untung cinta, kalau nggak cinta bisa mati muda diginiin tiap hari.


Dika tertawa kecil melihat Rina yang menatap kesal dirinya dengan dada naik turun karena nafas yang belum normal. Ia kemudian berjalan ke balkon sambil memainkan ponselnya.


Saat duduk sambil melihat taman dari depan kamar, ingatan Dika berkelana ke masa kecilnya. Ia ingat betul bagaimana awal mula ia bisa trauma dengan jarum suntik. Ia berusaha mengusir pikiran itu, namun puzze ingatannya justru terkumpul dengan cepat.


Saat itu ia kelas 2 SD dan sedang di khitan. Sebelum di khitan, ia menjapatkan suntikan anastesi. Saat itulah ia merasakan sakit yang luar biasa di area vitalnya, padahal kata sang mama jika sudah mendapatkan suntikan itu, maka tak akan ada rasa sakit saat proses khitan nantinya. Dan benar. Dika sama sekali tak sakit saat dikhitan tapi merasa sakit saat mendapatkan suntikan anastesi.


Rina mengangguk paham dengan semua cerita Dika. Ia berusaha paham akan ketakutan suaminya. Rina tersenyum simpul saat sebuah ide melintas di benaknya. ia kemudian beranjak untuk duduk di pangkuan suaminya.


Dika cukup terkejut karena sikap Rina cukup aneh menurutnya. Bukan kebiasaan istrinya jika ingin menggoda di saat hendak pergi seperti ini. Namun Dika masih diam. Dia penasaran dengan apa yang Rina ingin lakukan.


“Sayang.” Rina memanggil Dika dengan wajah sendu.


“Hmm,” jawab Dika sambil memainkan rambut istrinya. Rina masih enggan tampil tanpa poni, hal ini membuat ia masih tampil layaknya anak SMA.


“Kamu sama jarum suntik sekecil itu aja takut, gimana kalau kayak aku yang entah sudah berapa ribu kali ditusuk sama jarum yang ukurannya jaaaaaaaaauh lebih besar.”


Mata Dika membola. Ia menangkup erat wajah istrinya. “Siapa yang ngelakuin itu sama kamu.” Intonasi Dika meninggi.


Yes. Kena kau. Rina bersorak dalam hati. Ia membuang wajah seakan menahan pilu, namun Dika memaksa istrinya ini untuk menatapnya.


“Sayang, jangan takut. Kamu tinggal bilang sama aku. Aku ngerasa nggak bergina kalau masalah sebesar ini aku samapi nggak tahu.”


“Janji ya, jangan marah sama dia.”


Dika mengernyit. “Memang dia siapa?

__ADS_1


TBC


__ADS_2