Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Cantik


__ADS_3

HAPPY READING


Hana masih belum tenang juga meski sekarang ia sedang di kosan Risma. Pasalnya ini sudah lewat magrib tapi Risma belum pulang juga.


“Ya Allah, jangan sampai Risma kena sanksi atau bahkan kehilangan pekerjaan karena kesalahanku tadi,” gumam Hana yang sebelumnya melamun sambil menatap jendela.


“Aku nggak boleh terus seperti ini. Aku harus memikirkan cara untuk bekerja. Aku tak boleh diam saja dan terus menyusahkan Risma."


Hana mulai melakukan apa saja yang bisa ia kerjakan saat ini. Ia mulai dengan beres-beres dan dan bersih-bersih. Begitu ia ingin mulai mencuci, tiba-tiba ia mendengar seseorang mengetuk pintu kamar dari luar.


“Han, Hana…” setelah suara ketukan, kini giliran suara panggilan yang kian memacu langkah Hana untuk segera membuka pintu.


“Iya…” jawab Hana tepat sebelum ia memutar kunci.


“Belum makan kan kamu,” ujar Risma yang muncul dari balik pintu.


Hana menggeleng dan kembali menutup pintu saat Risma berjalan masuk dengan membawa dua kantong makanan di tangannya.


“Bisa tolong panggilin Bayu nggak,” ujar Risma sambil menurunkan semua bawaannya.


“Kamar Bayu samping ini kan?” tanya Hana masih dengan sapu di tangannya.


“Iya,” jawab Risma tanpa menatap Hana.


Setelah mendengarkan jawaban Risma, Hana segera mengembalikan sapu pada tempatnya dan keluar dari kamar ini untuk memanggil Bayu seperti yang Risma minta.


Tok tok tok


“Bay, Bayu!” panggil Hana.


Tok tok tok


Hana mengetuk pintu sekali lagi sambil menunggu Bayu menyahutnya.


“Ya…”


Dan akhirnya Bayu menyahut dari dalam.


Cklek!


“Loh, Hana," kaget Bayu saat menemukan Hana begitu membuka pintu. "Ada apa Han?” tanya Bayu yang muncul dengan celana training dan kaos oblongnya.


“Aku disuruh Risma manggil kamu,” jawab Hana.


“Risma kenapa, nggak lagi sakit kan?” tanya Bayu memastikan.


Hana menggeleng. “Kita tunggu di kamar ya, sekarang…”


“Ikut dong…”


Tiba-tiba seorang pria datang dan langsung nimbrung dalam obrolan mereka. Spontan Hana dan Bayu menoleh ke arah sumber suara, dan di sana sudah ada seorang pria penghuni kosan yang diketahui bernama Lutfi.


“Ikut apa Pi…” tanya Bayu sambil menutup pintu kamarnya dari luar. “Kamu duluan aja,” bisik Bayu pada Hana. Ia tak perlu merendahkan badan karena tinggi Hana hampir sama dengannya.


“Di sini aja,” tiba-tiba Lutfi menahan pergelangan tangan Hana.


“Maaf…” Hana menarik tangannya yang sempat Lutfi cekal sebelum ia berjalan meninggalkan Bayu untuk kembali ke kamar Risma.


“Eh, Neng. Mau ke mana Neng," ujar Lutfi dengan tangan menggantung. Ia kemudian mendesah kecewa karena selama beberapa hari Hana ada di sana, Lutfi sangat lah menunggu momen ini. Ia sudah mendengar kabar kecantikan Hana, namun sekali pun ia belum pernah melihatnya.

__ADS_1


"Yah elu sih,” gerutu Lutfi sambil menatap kesal Bayu.


“Udah jangan ganggu dia.”


“Ngobrol aja belom, gimana cara ganggunya,” protes Lutfi.


“Dia takut, kamu nggak lihat,” ketus Bayu.


“Aku kan cuma mau ngajakin kenalan Bay, posesif amat sih.”


“Tapi cara kamu dia nggak nyaman oncom.”


“Eh, dia udah punya cowok belum?”


Bayu menggeleng. “Aku belum begitu kenal sama dia.”


Lutfi merangkul  bahu Bayu. “Tapi Hana kayaknya nggak jaga jarak kalau sama kamu.”


Bayu menggidikkan bahu. Mungkin karena aku yang membantu mengobati lukanya. Atau jangan-jangan Hana juga nyaman sama aku. Batin Bayu.


“Bangk*. Malah bengong lagi,” umpat Lutfi saat merasa bayu acuhkan.


“Udah, udah. Aku mau ke kamar Risma dulu. Tadi dia manggil aku,” pamit Bayu.


“Ikut dong.”


“Ya jangan.”


“Kenapa jangan, kan kamu juga mau ke sana.”


“Aku ke sana karena Risma yang minta.”


Bayu menghela nafas. "Apa hubungannyaaaa...???"


"Ya pokoknya aku ikut."


Akhirnya Bayu menyerah dan mengajak Lutfi untuk masuk bersamanya ke kamar Risma. Lutfi ini mahasiswa S2 yang juga merupakan dosen muda di kampusnya. Dia merupakan pemuda berotak encer yang beerasal dari keluarga kalangan ekonomi low-middle, sehingga ia memutuskan untuk tinggal di tempat yang murah seperti ini untuk menghemat biaya hidup agar dapat membantu ekonomi keluarganya


“Assalamu alalikum,” serempak Bayu dan Lutfi.


“Waalaikum salam. Loh kok…” kaget Risma saat melihat Bayu datang bersama Lutfi di dekatnya.


“Nih Lutfi ngeyel,” ujar Bayu yang paham maksud pandangan Risma.


“Wah banyak makanan nih…” ujar Lutfi saat melihat Risma mengeluarkan banyak makanan di atas karpet kamarnya.


“Iya. Tapi nggak ada jatah buat kamu,” ketus Risma sambl memutus kontaknya dengan kedua pria ini.


“Risma galak bener sih. Lagian aku kesini mau ngobrol sama Hana. Hai Hana…” Lutfi tersenyum lebar sambil melambaikan tangan.


Hana hanya tersenyum segan.


“Ya udah, ya udah. Karena Risma baik, sekarang Lutfi makan juga ya…” ujar Risma kemudian.


Makan gratis adalah surga bagi mereka yang tinggal di sana termasuk Lutfi. “Dalam rangka apa nih. Tumben-tumbenan kamu…”


“Jangan ditumbenin. Makan aja. Anggep jadi rejekinya tetangga sholehah,” potong Risma cepat.


Empat orang dewasa ini kemudian makan bersama. Hana yang semula kurang nyaman dengan Lutfi kini mulai paham jika pria ini hobi bercanda. Ia juga terkenal sebagai play boy yang suka menggoda wanita, terutama mahasiswanya. Tapi sebenarnya ia pria yang care hanya saja pembawaannya yang demikian membuat orang lain gampang undrerestimate terhadap dirinya.

__ADS_1


***


Dua hari pasca Andre mendapat laporan bahwa anak buah Melvin melihat Hana tanpa sengaja, hingga sekarang belum juga ada perkembangan terkait keberadaan wanita ini.


Sementara itu Andre sekarang mulai disibukkan dengan pengawasan langsung terhadap produk fashion yang belum lama ini perusahaannya luncurkan. Tanggapan pasar benar-benar luar biasa sehingga produk-produk mereka laris dimana-mana. Ia harus menhandle yang ini karena Dika harus bersama istrinya melanjutkan proyek es krim yang ingin langsung digarap oleh Rina sendiri. Karena kondisi Rina yang sedang mengandung, makanya Dika tak tega jika istrinya harus bekerja keras sendiri sehingga ia menjadi suami dan bos siaga di waktu yang sama untuk Rina.


“Elis, laporan penjualan yang saya minta apa sudah jadi?” tanya Andre pada staf sekertarisnya.


“Maaf Pak, masih kurang 30%,” ujar Elis setelah sempat menimbang.


“Segera selesaikan dan antarkan ke ruang pak Restu. Saya di sana,” titah Andre sebelum balik badan dan masuk lagi ke ruangan bosnya.


“Baik Pak…” jawab Elis menerima tugas.


Elis bersama Rahma harus berjuang keras untuk segera menyelesaikan apa yang Andre minta. Sementara Riza menyiapkan bahan untuk rapat yang akan dilakukan beberapa waktu ke depan oleh Dika.


“Gimana kabar es krim?” tanya Andre begitu ia sudah berada di ruangan Dika.


“Baru dapat 5 varian,” jawab Dika tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop yang menyala.


“Nih…”


Andre menyodorkan ponselnya untuk menunjukkan beberapa pemberitaan terkait meledaknya produk yang belum lama ini mereka luncurkan.


Dika melihat sekilas. “Udah biasa,” ujarnya sebelum kembali fokus pada laptopnya.


“Tck. Tahu nggak, ini hasil rancangan Rista yang jadi best seller.”


Spontan Dika mengalihkan pandangannya dari layar laptop yang sejak tadi sama sekali tak ia duakan. “Beneran?”


“Nih…” Andre menunjuk layar ponselnya yang masih menyala.


Dika meraih ponsel Andre dan mengamati setiap data dan gambar yang Andre tunjukkan. Dia semula tak yakin dengan hasil rancangan adiknya, namun ternyata sekarang malah meledak dan sold out dengan cepat.


Di tempat lain Risma dan rekan-rekannya tengah mengalami kesulitan karena serombongan pelanggan mengeluh tak puas dengan pelayanan mereka, sehingga manager toko ini harus turun tangan untuk membereskan hal ini.


“Permisi Nona-nona. Saya manager di toko ini. Ada yang bisa saya bantu...”


“Gini, dua hari yang lalu saya belanja di sini dan saya benar-benar puas dengan pelayanan yang di berikan. Bukan hanya tentang bahan, tapi kemampuan memadu padankan pakaian juga sangat saya sukai, makanya sekarang saya bawa teman teman kesini. Tapi sayang mbak-mbak yang kemarin tidak ada, dan mereka semua tak ada yang berkemampuan sebaik dia,” jelas wanita ini.


Keempat pramuniaga ini hanya mampu menundukkan kepala, karena diantara mereka tak ada yang merasa pernah melayani nona ini.


“Risma,” panggil Nuke, menager toko ini.


"Iya," jawab Risma cepat.


“Bisa ikut saya sebentar..." ujar Nuke pada Risma.


"Bisa," singkat Risma.


"Maaf, saya tinggal sebentar ya." pamit Nuke pada para pelanggan ini. Ia kemudian pergi bersama Risma sedikit menjauh dari mereka.


"Dua hari yang lalu teman kamu ke sini kan?"


Risma mengernyit. "Apa maksudnya Hana?" tanya Risma memastikan.


"Saya tidak tahu namanya. Pokoknya kulitnya putih, matanya sipit, orangnya cantik. Emm, apa lagi ya, pokoknya dia bilang ke sini karena mengantar ponsel kamu yang ketinggalan,” jelas Nuke.


Risma tampak linglung. Apa hubungan masalah ini dengan Hana? Batinnya.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2