Zona Berondong

Zona Berondong
Triple Date


__ADS_3

...*HAPPY READING*...


Seminggu sudah Rina tak bertemu dengan Dika. Hanya bertukar pesan dan video call saat bangun pagi. Jika malam, Rina bahkan sering ketiduran hanya untuk menunggu Dika menghubunginya.


Hari sabtu yang membosankan. Sebentar lagi ia masuk ke semester 2.


"Rin, mau lanjut di mana kamu?" tanya Dian.


Kenapa ada Dian?


Karena mereka sekarang sedang di kantin.


Rina hanya menggidikkan bahu sambil mengaduk-aduk makanannya.


"Kok nggak tahu sih? Masa iya lu nggak lanjut?" tanya Nita yang tiba-tiba juga penasaran.


Rina menghela nafas dan menyandarkan punggungnya di kursi.


"Gue belum tahu."


"Tap..."


"Udah, udah..." Dian mencegah Nita yang hendak bersuara.


"Kita jalan yuk. Ke timezone gitu," ajak Dian.


"Bukannya kayak bocah kalau ke timezone," sarkas Rina. Ia ingat betul bagaimana kedua sahabatnya ini menertawainya saat ia mengajak ke tempat bermain itu beberapa waktu yang lalu.


Rina tampak menimbang. Ia sekilas menatap ponselnya yang terlihat begitu tenang. Bahkan pesan dari operator pun enggan masuk ke sana. Sejujurnya ia berharap Dika akan datang dan memberi kejutan padanya seperti seminggu lalu.


Terlalu lama melamun Rina hingga tak sadar jika kini mereka sudah berlima. Ada Miko dan Andre di dekat masing-masing kekasihnya.


"Loh kok ada kalian?"


"Iya lah, situ khusyu banget ngelamunnya."


Celoteh Andre ini berhasil memecah suasana. Mereka semua tertawa dan saling sahut mengatasi temannya. Meski awalnya enggan, akhirnya Rina bisa ikut mengulas senyum juga.


...***...


"Rin, bareng kita aja ya," ajak Nita.


"Bareng kita juga nggak masalah sih," imbuh Dian.


Rina menimbang sejenak. Setelah diskusi mereka memutuskan untuk ke taman bermain saja. Permainan outdoor akan lebih seru menurut mereka.


"Oke sih oke, oke juga jadi obat nyamuk dimana-mana," canda Rina menatap dua pasangan kekasih di hadapannya.


"Ellah, kita bakal jaga jarak aman, ya kan Ndre..."


Semenjak ada Andre, Dian juga jadi lebih gampang bercanda.


Andre merangkul bahu Dian dan menaik-turunkan alisnya.


"Berarti biasanya nggak aman dong?" terka Rina dengan mata membola seolah kaget dengan apa yang baru didengarnya.


"Dah deh, gue bareng Nita Miko aja."


Rina nyelonong masuk ke jok belakang. Akhirnya keempat sejoli ini masuk di mobil masing-masing. Mereka sempat membeli baju santai agar tak bermain dengan seragam lengkap.


Di taman bermain hampir selalu Rina yang memutuskan permainan apa yang akan mereka mainkan.


Saat tengah bermain roller coaster, tiba-tiba hujan turun.

__ADS_1


Rina masih berteriak dibawah percikan hujan. Ia ingin sejenak melupakan kerinduan yang amat menyiksa dirinya. Kerinduan akan kekasih yang sebenarnya belum halal baginya.


Roller coaster pun berhenti dan kedua sahabatnya sudah berlari berteduh dengan dilindungi kekasihnya.


Bukannya ikut berteduh, Rina justru berdiri sambil mendongak menatap langit. Dika, I miss you.


Tiba-tiba Rina merasa tubuhnya dirangkul dari belakang dan langsung dibawa berlari menerobos hujan. Aneh memang, saat ini menteri bersinar terang namun hujan sudah tak sabar untuk memberi kesejukan.


Rina merasa sebuah jaket tersampir begitu saja di bahunya. Perlahan Rina mendongak, ingin melihat siapa yang sudah mengganggu waktunya menyapa hujan.


Senyumnya terbit saat melihat mataharinya datang. Ia segera memeluk erat pemuda yang tak pernah absen mengganggu pikirannya.


"I miss you, sayang..."


Rina mengeratkan pelukannya saat apa yang ada dibenaknya terlebih dahulu diucapkan oleh Dika.


Setelah puas memeluk melampiaskan rindu, Dika segera mengajak Rina untuk duduk di kursi yang berada tak jauh dari keduanya.


"Kok bisa tahu aku di sini?"


Dika mengangguk. "Ada orang yang aku bayar orang untuk jagain kamu."


Rina mendengus. "Kenapa nggak bayar orang buat ngehandle pekerjaan kamu."


Dika menatap Rina penuh sesal. "Rina, sorry ya, aku..."


Rina meletakkan telunjuknya di depan bibir Dika.


"Aku bercanda."


Keduanya kembali berpelukan.


"Makasih sayang."


Rina dan Dika memutuskan untuk menghampiri Dian dan Nita.


"Wow pelangi..." kata Rina saat menyadari warna-warna cantik itu di langit.


"Pelangi emang gitu-gitu aja, tapi sejal awal kenal aku tetap terpesona sampai sekarang," lanjut Rina.


"Kayak aku dong."


Rina mengalihkan pandangannya pada pemuda tampan di sampingnya.


"Maksud kamu?"


"Kamu cantik, sejak pertama kenal sampai saat ini kamu tetap cantik dan selalu membuatku terpesona."


"Ya Tuhan... Pantes saja di sekolah galau terus, yang dikangenin kayak gini modelannya."


Lagi-lagi Andre mampu memecah canggung di sana. Ia segera mengulurkan tangan pada Dika.


"Gue Andre."


Dika menerima jabatan itu.


"Gue Dika. Kamu..."


"Gue pacarnya Dian," jawab Andre yang paham akan pertanyaan tersirat Dika.


Setelah tangan keduanya terlepas, Dika juga bersalaman dengan Miko. Kali ini tak ada adegan perkenalan karena mereka sudah saling mengenal sebelumnya.


"Makasih ya, mau ngajak dia."

__ADS_1


"Ia, habis dia BT mulu nunggu kabar dari kamu."


"Katanya kamu kerja ya bro, kerja apa?" tanya Andre antusias.


Awalnya Andre mengira jika pacar Rina yang katanya kerja itu adalah orang biasa yang kalau tak bekerja tak akan bisa makan dan tak punya tempat tinggal. Namun saat melihat jam tangan yang dikenakannya, sepertinya ia bukan orang biasa. Jam tangan merk terkenal yang ia juga punya.


"Cuma ngurusin usaha almarhum papa, kalau nggak kerja bisa nggak makan soalnya," jawab Dika dengan senyum lebarnya.


"Jangan gila deh. Gue bukan orang bego yang nggak ngerti merk ya. Tuh jam tangan kamu seharga mobil loh."


Dika melirik sekilas jam di tangannya. "Ini hadiah ayah tiri gue."


"Pada udah makan belum, gue tahu stand makanan enak di sini."


Dika harus cepat-celat mengalihkan pembicaraan, sebelum para teman kekasihnya ini mengorek lebih banyak informasi tentang dirinya.


"Boleh deh."


Akhirnya mereka berenam berjalan bersama.


"Akhirnya kesampaian juga ya triple date."


Rina dan Dian spontan menoleh ke arah Nita.


"Iya ya, hahaha."


Ketiga gadis yang menggandeng masing-masing kekasihnya itu tertawa riang.


3 pemuda tampan dengan tampilan casual begitu mempesona. Oh author hampir lupa, dari ketiganya hanya Dika yang tampil beda. Ia mengenakan kemeja dan celana bahan berwarna hitam, serta sendal jepit karena ia tak ingin mengenakan sepatu mengkilapnya untuk jalan-jalan.


Namun bukannya terlihat aneh Dika justru nampak menawan. Lengan kemeja yang ditekuk sesiku itu membuat wajah mudanya nampak berkharisma.


"Kalian pesen aja, kali ini sebagai ucapan terimakasih aku yang traktir."


"Jadi gini gaya hidup orang yang kerja cuma biar bisa makan?" canda Andre.


Dika hanya tersenyum menanggapinya.


"Abis ini elu ya yang kudu traktir, sejak jadian kayaknya belum ada pj deh," kata Miko mengingatkan.


Hari-hari Rina yang penuh rindu akhirnya menemukan obatnya juga. Semoga tak ada badai yang akan menghempas cinta keduanya.


TBC


Untuk komen terbaik part 100 dan 101 ini ya.


Pemenang pertama



Ini pemenang kedua



Untuk ka anggit folback me please ya.


Kenapa harus 2 komen ini, bukan yang lain?


Karena 2 komen ini yang menurut author paling sesuai dengan isi cerita. Sekali lagi menurut pandangan pribadi author ya.


Tokoh sentral dalam novel ini adalah Dika dan Rina, sedangkan Dedi Rista hanya supporting cast saja.


Tapi maaf kalau pas nulis part mereka jadi banyak juga, soalnya mood author kadang juga suka baper sendiri sama mereka, 😅

__ADS_1


Sekali lagi makasih banyak ya.


__ADS_2