
HAPPY READING
Gerbang langsung terbuka saat mobil sedan hitam berhenti di depannya. Mobil itu berjalan masuk dan gerbang
langsung tertutup setelahnya. Pria itu memarkirkan mobil dengan sembarang, dan masuk begitu saja ke rumah yang saat ia tiba pintu utamanya langsung terbuka.
Dengan mata yang nampak berat untuk terbuka, beberapa orang berpakaian sama nampak berbaris dan menyambutnya. Pria ini berjalan di depan orang-orang dengan mata yang nampak berat untuk terbuka. Mereka menegakkan tubuhnya begitu pria ini melewatinya.
Pria ini berjalan lurus dan menyusuri tangga. Ia berhenti begitu tiba di depan sebuah pintu besar yang tertutup sempurnya. Ia menekan password dan pintu perlahan terbuka. Ia masuk dan pintu kembali tertutup. Seorang wanita tampak berbaring dengan mata terpejam. Lampu masih menyala dengan terang membuat wanita ini tak dapat menyembunyikan kondisi matanya yang bengkak karena terlalu banyak mengeluarkan air mata.
“Rina, maafkan aku…”
Dika membenahi posisi istrinya dan memasangkan selimut dengan benar kepadanya. Ia bergegas ke kamar mandi dan mulai memberdihkan diri.
***
Andre mamacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia baru saja mengunjungi sahabatnya. Ralat, mungkin lebih tepatnya mantan pacar yang masih menempati sebagian besar ruang di hatinya. Namun sayang kedatangannya tak bersambut. Ia tiba bersamaan dengan seorang pria yang di sambut Dia di depan restorannya. Seorang pria yang ia perkirakan usianya hampir sama dengannya datang dengan setelan jasnya. Sebagai orang yang telah mengabdikan dirinya sejak remaja di dunia bisnis, ia sudah cukup mengenal pria yang barusaja menemui mantan
pacarnya. Pria itu adalah Kenzow, seorang pengusaha muda yang namanya tengah naik daun karena revolusinya di bidan e-commers. Perusahaannya belum cukup besar, namun sudah cukup diperhitungkan. Surya Group pun telah menjalin kerjasama dengannya beberapa waktu lalu.
Di sebuah minimarket 24 jam, Andre memarkirkan mobilnya. Ia keluar dengan tak sabar tanpa memarkirkan mobilnya dengan benar. Tak lama setelahnya, dia keluar dengan sekantong belanjaan yang nampak didominasi oleh kaleng minuman. Saat tiba di dalam mobil, ia baru sadar kalau tak ada satu pun jenis makanan yang ia beli. Ia kembali untuk medapatkan itu.
Hampir tengah malam ia tiba di apartemennya. Ia bahkan meminta juru parkir untuk memarkirkan mobilnya. Ia tak bisa melakukan apapun dengan baik bahkan hanya untuk memarkirkan mobil dengan baik.
Saat Andre membuka pintu hampir semuanya lampu telah mati. Ia tak menemukan Hana di sofa sehingga membuatnya langsung bergegas mencari di kamarnya. Ternyata benar, Hana sedang tidur dengan damai di sana.
Andre berdecak dan menggelengkan kepala. “Dasar rumput liar. Kamu pikir aku tak akan pulang jadi bisa dengan leluasa menggunakan kamar.”
Andre melatakkan seluruh bawaannya dan menghilang di kamar mandi untuk membersihkan diri. Setengah jam kemudian, dia sudah berada di dapur dengan mi instan yang sudah matang.
“Not bad lah, setidaknya mi instan yang sebelumnya mentah sekarang sudah matang,” gumam Andre saat menatap
mi instan hasil karyanya. Andre tak bisa masak, jadi saat berhasil menyeduh mi instan itu merupakan prestasi besar untuknya.
Saat Andre hendak melahapnya mi instan buatannya, ia teringat jika masih ada seorang manusia lagi di sana.
__ADS_1
Pasti rumput liar juga kelaparan. Aku meninggalkannya hingga larut malam tanpa meninggalkan secuil pun makanan. Makanan yang ia buat tadi pagi pasti tidak cukup mengganjal perutnya sampai malam.
Andre menyeduh 1 cup mi instan lagi. Ia menunggunya sembari makan 2 cup yang ia buat sebelumnya. Setelah selesai makan, ia bergegas ke kamarnya dengan membawa mi instan di tangan.
Belum saja dibangunkan, Hana sudah menggeliat. Ia mengendus-endus dengan mata terpejam. Ia sempat memegangi perutnya sebelum menarik selimutnya untuk menutup hingga batas kepala.
Andre berjalan ke arah ranjang. Ia meletakkan mi instan yang ia bawa sebelum menarik kasar selimut yang menutupi tubuh Hana. Hana langsung duduk saat tahu Andre sudah datang dengan wajah yang garang.
“A Andre. maaf, aku pikir kamu nggak pulang, jadi aku tidur di sini.”
Andre menatap tajam wanita dengan muka bantal yang duduk di depannya.
“Meskipun aku tak pulang, kamu tak boleh melakukan apa saja semaumu di apartemenku.” Andre memajukan tubuhnya. Dari jarak sedekat ini, ia dapat mencium aroma shampoo dan sabun yang tadi digunakan Hana. Hana seharusnya memakai sabun dan shampoo yang sama dengan dia. Tapi mengapa harumnya berbeda saat Hana yang memakainya?
Andre terus maju dan berhenti di samping tubuh Hana. “Kamu baru boleh melakukan sesuatu jika aku sudah mengizinkan.”
Andre sudah kembali menegakkan tubuhnya meninggalkan Hana yang membeku di tempatnya.
“Aku berharap kamu tak terlalu terpesona kepadaku, itu hanya akan membuatmu makin kesulitan menghadapiku,” ujar Andre sambil menyerahkan 1 cup mi instan yang sengaja ia buat untuk Hana. Bukan tanpa alasan ia berkata seperti itu, karena ia dengan jelas melihat bagaimana Hana begitu salah tingkah saat Andre menggodanya.
“Buka mulutnya.”
Spontan Hana membuka mulutnya dan mengunyahnya setelah Andre memasukkan satu suapan besar kedalamnya.
“Good girl. Terus bersikap manis seperti ini ya. Siapa tahu aku bisa terus bersikap lebih manussiawi.”
Saat Andre hendak menyuapinya lagi, tiba-tiba ia ingat bahwa ia tak boleh seperti ini.
“Nih makan sendiri, enak aja minta disuapi.”
Hana menerima cup itu tanpa kata. Ia mulai memasukkan sedikit demi sedikit mi instan tersebut ke dalam mulutnya.
“Kamu pernah makan mi instan sebelumnya?” tanya Andre yang cukup Heran karena biasanya wanita akan menghindari mi instan untuk menjaga bentuk tubuhnya. Tapi Hana sepertinya tidak. Apa mungkin ia terlalu lapar sehingga melupakan akibat makan mi instan di malam hari yang biasanya paling perempuan takutkan.
“Kalau ditanya itu jawab, jangan diam saja,” ketus Andre karena merasa diacuhkan.
__ADS_1
“Ya kan kamu cuma tanya dan tidak memintaku untuk menjawab,” bela Hana.
Andre menatap remeh pada perempuan di hadapannya. “Aku tak percaya kalau pernah mempekerjakanmu sebagai sekertarisku.”
Baru saja Hana hendak membuka mulut, sudah dicegah Andre dengan menggerakkan tangannya.
“Lupakan,” ujar ANdre kemudian.
Ia bangkit dan kembali bersama dua buah kaleng minuman di tangannya. Hana membulatkan mata saat menyadari apa yang Andre bawa.
“Bisa minum ini?”
Hana menggeleng. “Mama selalu melarangku meminum itu.”
Andre tertawa remeh. Dengan santai ia membuka penutup kaleng dan meminum salah satunya hingga menyisakan setengah saja. “Mustahil. Orang di dalam lingkaran kalian pasti sangat akrab dengan minuman ini.”
Hana merasa tak terima saat ada hinaan yang tersirat dari ucapan Andre. “Jika orang di dalam lingkaran saya akrab dengan minuman itu, berarti kita berada di lingkarang yang sama, iya?”
Hana menanggalkan kewajibannya bersikap manis di hadapan Andre. Ia mengangkat wajahnya untuk melawan tatapan membunuh dari pria di hadapannya.
“Saya sedang tak berada di lingkungan saya. Di sini saya hanya bersama kamu, jadi kamu yang membuat saya membawa minuman ini sekarang.”
“Atas dasar apa anda menuduh seperti itu pada saya. Saya tidak meminta anda membawakan minuman itu untuk saya.”
“Benar. Tapi saya ingin kamu sesekali mempraktekkan apa yang telah mama kamu ajarkan. Hanya mengingatkan
saja agar pelajaran yang kemu terima tak sia-sia.”
Hana langsung bangkit. Ia tak pernah bisa terima jika ada yang menghina mendiang mamanya.
“Jangan pernah membicarakan mama saya seperti itu!” ujar Hana sambil menunjuk wajah Andre.
Andre turut bangkit dan meraih tangan Hana. Ia memelintir tangan kecil itu dan membuat punggung Hana merapat di dada bidangnya. Ia menunduk dan perlahan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Hana.
“Kamu tidak berhak melarang apapun saya ingin saya lakukan.”
__ADS_1
Bersambung…