
*Dear***, jangan lupa ya.
Cerita ini hanya fiktif belaka.
Jika ada yang mirip-mirip sama dunia nyata itu memang mungkin terinspirasi atau kebetulan semata.
Tapi kalau ada teori yang ternyata tak sesuai dengan fakta dalam dunia nyata, mungkin hal itu Senja buat hanya sebagai pemanis cerita.**
HAPPY READING
“Apa lagi kamu pacarnya Andre, jadi bisa langsung dapat posisi nyaman tanpa perlu bersusah-susah dari bawah…”
Nah kan. Baru saja senang sekarang serangan sudah datang. Heni mengatakan semua itu dengan tanpa beban kepada Hana yang sejak tadi sama sekali tak melawannya.
“Mama makan saja. Makan sambil bicara itu bisa membuat kerutan di wajah bertambah banyak,” ujar Edo yang jelas sekali maksudnya untuk membuat sang istri berhenti bicara.
Heni tak dapat protes. Meski ucapan suaminya tak cukup masuk akal, tapi hal ini lebih baik dari pada Edo memintanya diam dengan membentaknya di depan Hana. Selain hal ini dapat menjatuhkan harga dirinya, menghadapi suaminya yang marah bukanlah sesuatu yang mudah.
Jangan lupa saat Andre marah ia akan seperti apa. Meski Edo ini sudah tua dan nampak bijaksana, tapi Wiguna yang disandang Andre tak hanya sebatas nama, melainkan juga sifat dan kepribadiannya. Jadi fix ya, Andre itu tempramen tingginya dari siapa?
Edo melanjutkan perbincangannya dengan Hana dengan sesekali Andre juga menimpali. Meski Edo tak bekerja di tempat yang sama dengan dua sejoli ini, namun ia, Andre dan Hana adalah orang-orang Surya. Kemunculan Hana yang langsung melesat di posisi tinggi memang berhasil memicu berbagai rumor di dalam perusahaan yang hingga orang sekaliber Edo pun mendengarnya.
Namun hujatan itu langsung berubah menjadi pujian saat kekasih anaknya ini mampu menunjukkan kemampuan dan prestasinya yang tak mengecewakan kepercayaan tinggi yang diberikan kepadanya.
Diam-diam Heni juga turut mengagumi kekasih anaknya ini. Selain sangat pintar, Hana ini juga sangat cantik. Kenapa kulitnya putih sekali, apa berkat perawatan mahal yang digelontorkan anaknya selama ini? Karena jika Hana orang Indonesia, tak mungkin ia bisa punya kulit seputih salju dan halus bercahaya seperti ini. Kecuali jika ia punya darah asia timur yang banyak diantaranya punya kulit seputih susu seperti yang Hana miliki.
Mata Hana juga sipit, tubuhnya juga tergolong tinggi untuk ukuran wanita Asia. Dian mantan Andre saja yang sudah sangat tinggi masih kalah tinggi dengan Hana, dan meski wanita ini sudah pernah mengandung sebelumnya, tubuhnya masih sangat ramping dan indah dipandang mata. Tak heran memang jika sebagai pria Andre sangat menggilainya.
Namun satu hal yang membuat Heni ragu, baikkah Hana ini untuk anak tunggalnya?
__ADS_1
Pasalnya Hana ini wanita cantik yang tak jelas asal-usulnya. Bisa saja ia mendekati Andre hanya untuk mendapatkan hartanya dan akan pergi jika sudah habis yang diincarnya. Bisa saja Hana pernah seperti ini pada laki-laki lain sebelumnya.
“Ma…!”
“Iya…” Heni sedikit tersentak saat Andre memanggilnya dengan sedikit menyentak.
“Hana tanya, Mama mau lemon tea sekalian nggak?” Andre mengatakan hal ini lagi karena Hana yang sebelumnya menanyai namun sama sekali tak berhasil membuat Heni bereaksi.
“Boleh… tanpa gula,” jawab Heni yang takut dengan Edo jika sampai ia tak menjawab pertanyaan pacar anaknya.
“Kalau Tante mau bisa dikasih madu, karena dengan keberadaan madu bisa mengurangi resiko yang harus diterima lambung karena tingginya asam dari lemon yang bercampur dengan teh.” Jelas Hana tentang apa yang ia yakini selama ini.
Heni mengerjab. Boleh juga Hana ini. “Aku nggak mau gendut.”
Tapi Heni tak serta merta menerima apa yang Hana sarankan. Ia tak ingin luluh dengan mudah hanya dengan disogok lemon tea seperti ini.
“Kandungan gula dalam madu tak sejahat gula tebu atau gula jagung sekalipun, sehingga dengan penggunaan yang tepat ia bahkan akan membawa kebaikan bagi tubuh.” Hana berusaha menjelaskan manfaat dari bahan yang baru saja ia sarankan. Ia berharap Heni akan merasakan manfaat yang sama dengan yang ia rasakan selama ini.
“Tidak Tante. Karena itu saya suka menggunakan madu tapi tidak dengan gula,” ujar Hana apa adanya.
Heni tampak menimbang. “Boleh dicoba…” ujarnya kemudian.
Hana menyambut ucapan Heni dengan suka cita. Ia meracik sendiri minuman itu di hadapan Andre dan kedua orang tuanya. Ia benar-benar melakukan dengan hati-hati agar bisa sedikit mengambil hati mama dari kekasihnya ini.
“Ini Tante…” Hana memberikan segelas lemon tea dengan sedikit madu yang baru saja ia buat untuk Heni.
“Sama kan dengan yang itu?” tanya Heni sambil menunjuk satu gelas lagi yang Hana buat.
“Sama Tante. Apa Tante mau yang ini?” Hana coba menawarkan pada Heni untuk menukar gelas yang semula untuknya.
__ADS_1
“Iya. Aku mau tukar.”
Akhirnya Hana menukar gelas yang semula ia berikan untuk Heni dengan gelas yang ia sisakan untuknya. Tak masalah sebenarnya karena isinya pun sama. Bahkan ia sangat senang karena Heni mau mencicipi apa yang Hana buatkan.
“Rio tadi ngabar, katanya besok Indah mau dibawa pulang. Kamu mau ikut jemput?” ujar Andre tiba-tiba saat merasa Hana dan mamanya tak lagi berbincang sekarang.
Edo yang tengah diam nampak tertarik dengan apa yang baru saja Andre ucapkan pada kekasihnya.
“Emm. Aku mau tapi sepertinya persiapan launching tak mengijinkanku pergi,” jawab Hana setelah sebelumnya nampak menimbang.
“Jangan berlagak seperti penanggung jawab, kan semuanya bekerja dibawah instruksi Rina,” timpal Heni sambil mengaduk menumannya.
“Tapi sejak Hana bergabung, Rina hanya memantau sesekali Ma, tahu sendiri dia sudah hamil besar,” ujar Andre yang sudah merasa kasihan pada Hana yang sejak tadi mamanya pojokkan tanpa henti.
“Memang kamu benar-benar bisa?” Entah bagaimana caranya membuat Heni mau mengakui kemampuan Hana. Sebenarnya Heni sudah mengakui, hanya saja ia gengsi untuk mengucapkannya.
Belum juga Andre menjawab keraguan sang mama, tiba-tiba ponselnya bergetar. “HP kamu mana?” tanya Andre sambil menunjuk layar ponselnya pada Hana.
Hana meraba-raba sakunya. “Ya ampun, ketinggalan di mobil,” ujarnya saat sadar ia masuk ke resto Dian tanpa membawa apa-apa.
“Tck pantes nelfonnya ke sini.” Andre bangkit setelah sempat memohon diri. Ia merasa perlu sedikit minggir dari orang tuanya untuk menjawab panggilan dari calon mertuanya.
Edo merasa hal ini benar-benar bukan kebetulan. Sebelumnya Andre membahas masalah Rio, dan sekarang Galih. Apa sebenarnya hubungan Hana dengan kedua pria ini?
Edo memang sempat mendengar rumor tentang Galih yang punya anak lain di luar pernikahannya dengan Mustika, namun kepastian informasi ini tak pernah di dapatkannya. Yang dapat ia pastikan hanya satu, yaitu Rahardja dan Surya merupakan rival abadi sejak dulu hingga saat ini. Sehingga ia merasa segala sesuatu yang ada hubungannya dengan kedua perusahaan ini sebaikany tak disatukan.
Jika memang Hana punya keterkaitan seperti yang Edo sangkakan, ia merasa perlu meralat segala teori yang sempat ia sederhanakan untuk menentukan pendamping bagi anak tunggalnya. Memang ia tak mencari yang sempurna untukdisandingkan dengan Andre, bahkan Hana yang bersama anaknya ini adalah sosok yang luar biasa. Namun jika gadis ini memang ada hubungannya dengan Rahardja, maka Edo akan turut mencabut segala simpati dan kekagumannya yang sempat ia alamatkan pada Hana sebelumnya.
Selanjutnya ia akan membuka semua tabir agar Dika pun berhati-hati dengan wanita cantik yang luar biasa bernama Hana ini, agar tak hanya Andre yang menjauh tapi juga perusahaan yang telah memberikan kehidupan padanya selama ini.
__ADS_1
“Hana, ada hubungan apa kamu dengan Galih Rahardja?” tanya Edo to the point.
Bersambung…