
HAPPY READING
Andre memeluk tubuh lemah Hana. Sesekali ia menyeka air mata yang muncul dari sudut mata kekasihnya. Hana bukan sedang menangis, ia bahkan bahagia. Akhirnya ada kehidupan lagi di rahimnya yang itu merupakan buah cinta ia dan pria yang begitu dicintainya.
Rio masih belum bisa menerima kenyataan bahwa ia kembali kecolongan. Meski ia juga bukan pria suci, setidaknya saat ia menikahi Indah bukan dalam posisi mengandung seperti ini.
“Andre, kita harus bicara.”
Rio meninggalkan ruang dimana Hana berada sesaat setelah ia bicara. Ia yakin Andre sudah dengar dan akan segera mengikutinya keluar.
“Aku keluar dulu ya,” pamit Andre pada Hana.
Kali ini Hana tak menahannya. Ia bahkan mengangguk dengan rela.
Selepas Andre pergi, Hana menatap perutnya yang masih rata. Pandangannya terasa kabur sebelum ia merasa ada air mata yang meluncur. Perasaan Hana campur aduk sekarang. Ia bingung, takut tapi bahagia. Posisinya begitu sulit, ditambah ia dan Andre belum sah menjadi pasangan.
Welcome My Baby. Mommy sangat bahagia sekarang, tapi gimana cara ngomongnya sama semua.
Di luar ketegangan nampak jelas antara Andre dan Rio.
“Aku hanya ingin kamu jujur,” pinta Rio pada Andre yang ia yakini sekarang sudah berdiri dibelakangnya.
“Jujur tentang apa?” ujar Andre balik bertanya.
Rio menatap Andre sekilas sebelum kembali melempar pandangan lurus kedepan. “Selain sekertarismu itu siapa lagi?” tanyanya tanpa basa-basi.
“Apa maksud kamu?” tanya Andre tak mengerti.
Rio menghela nafas. Terlihat sekali ia tengah menahan amarah. Jika ia biarkan tumpah, mungkin ia bisa membuat Andre lebam lebih parah. Namun saat melihat Andre yang plongo-plonga, Rio jadi geram sendiri.
Oke, aku akui kamu pandai memainkan ekspresi, tapi masih kah kamu berkelit jika aku membongkar semua dengan gamblang di sini?
“Well..., apa kamu ingat saat malam itu aku ke kantormu?”
Andre nampak berusaha mengingat. “E, e, yang itu…”
Rio tersenyum miring kala melihat Andre nampak gugup. “Yes,” ujarnya kemudian.
Rio mengayunkan langkah untuk dapat lebih dekat dengan Andre. “I've seen your secretary before entered your room, and you know what?” tanya Rio persis di dekat telinga Andre.
Glek!!
Andre menelan ludah. Memorynya bergerak dengan cepat. Menuju peristiwa dimana ia dan Hana yang baru saja berhubungan hampir ketahuan.
Mati nih kayaknya.
__ADS_1
Andre pun pasrah dengan apa yang akan terjadi sekarang. Ia hanya bereaksi dengan helaan nafas.
Rio mundur untuk membentangkan kembali jarak yang semula ia pangkas. Ia bukan perkara yang mudah untuknya. Di satu sisi ia benar-benar tak mau orang seperti Andre masuk ke dalam keluarganya, di sisi lain Hana yang sudah terlanjut dihamili membutuhkan sosoknya.
Jika semula ia merasa memang karena mengira berhasil menampar Andre dengan membongkar boroknya, sekarang wajahnya menjadi dingin karena sadar pria dengan borok ini akan segera menjadi bagian dari keluarganya.
“Aku melihat dia menangis. Dan saat tiba di ruanganmu…” Rio menjeda ucapannya dengan helaan nafas. “Resleting celanamu bahkan belum terkancing. Menurut kamu, apa yang sebaiknya aku pikirkan melihat hal itu?”
Andre mulai panic awalnya. Tapi setelah menyadari ada nama lain yang terseret dalam masalah ini, ia merasa ada yang tak beres.
Rio mengangkat wajahnya, menunjukkan keangkuhannya untuk membuat Andre mengerti bahwa kelakuan rendahannya benar-benar tak Rio sukai.
“Kamu sudah menodai Hana, tapi kenapa kamu masih bisa main gila dengan wanita yang sungguh jauh levelnya!” ucap Andre dengan suara tertahan dan tangan mengepal.
Andre nampak memijat keningnya, setelahnya dengan cepat memecahkan kode kesalah pahaman yang terjadi diantara mereka.
“Kamu benar-benar…”
“Tunggu-tunggu.” Cepat-cepat Andre menyela ucapan Rio, sebelum calon kakak iparnya ini melemparkan sumpah serapah terhadapnya seperti tadi.
“Jadi menurut kamu aku… Astaga…” Andre benar-benar tak habis pikir.
Rio mengernyit. Masih mau berkilah rupanya. Oke, kita lihat saja.
“Oke. Akan aku jelaskan, tapi lebih baik kita sekarang bicara di dalam,” ajak Andre karena merasa hal ini adalah sebuah rahasia yang sebaiknya tidak ada orang lain yang mendengarnya. Bahkan kabar bahwa Hana tengah mengandung dua bulan pun sepekat untuk ia dan Rio rahasiakan.
Andre hanya mampu mendengus. “Aku tak sepicik itu. Percayalah, Hana tak akan shock. Bahkan mungkin dia yang bisa bantu aku menjelaskan.”
“Jangan bilang…”
“Bilang apa?” potong Andre lagi. “Kalau tidak segera diluruskan, kamu akan makin overthinking,” jelasnya dengan nada dilembut-lembutkan.
“Andre Wiguna!” bentak Rio.
“Iya. Aku di sini. Ayo kita bicara di dalam,” jawab Andre dengan sabar tanpa tekanan.
Andre sengaja tak menganggapi gertakan Rio. Ia justru memanfaatkan momen ini untuk menggelandang Rio ke ruangan dimana Hana istirahat sekarang.
“Ayo. Tunggu apa lagi? Mau menunggu Om Galih datang dan ikut mendengar semua?”
Jika tadi Andre yang diintimidasi, sekarang ganti Rio yang dipojokkan. Rio terdiam sejenak sebelum akhirnya ia masuk ke dalam sebagaimana Andre mengarahkan.
“Kenapa lama sekali?” tanya Hana begitu melihat Andre muncul dari balik pintu.
“Kami butuh ngobrol sebentar Sayang,” ujar Andre menjelaskan sembari mengambil kursi untuk selanjutnya ia tempati.
__ADS_1
“Bicara apa?” tanya Hana lagi.
“Bicara tentang kita,” jawab Andre dengan entengnya.
Rio yang menyaksikan hal tersebut benar-benar ingin melempar Andre saat itu juga.
Sebiasa itu kah ia bermain wanita. Bahkan pada Hana yang belum menjadi istrinya. Batin Rio
Rio memperhatikan bagaimana Andre menjawab setiap tanya yang dilontarkan Hana. Hingga akhirnya senyum bahagia itu nampak di wajah pucat adik tirinya.
Atau jangan jangan selama ini Hana sudah tahu tabiat buruk Andre, hanya saja ia terlanjur direnggut kesuciannya, makanya hanya bisa pasrah. Kasihan juga anak ini. Kembali Rio menyeracau dalam hati.
“Rio, mungkin Hana yang bisa menjelaskan bagaimana kejadian malam itu. Bukankah sebenarnya kamu secara diam diam terus memantau Hana sampai Hana harus kucing-kucingan saat ingin pergi sendirian?”
Mata Rio membola seketika. Ia paham Andre pandai sekali bersilat lidah, terlebih saat ada kaitannya dengan menghadapi lawan bisnis. Tapi masa iya keahlian itu mau digunakan juga sekarang?
“Eee, aku hanya khawatir,” kilah Rio.
Hana terlihat meremat selimutnya. Ia takut kalau Rio marah jika tahu kalau malam itu ia kabur untuk menemui Andre.
Andre meraih tangan Hana dan menggenggamnya. Ditatapnya wajah gugup Hana untuk meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.
“Aku akui, memang aku brengsek. Dengan kurang ajarnya aku merusak Hana dan begitu terobsesi untuk memilikinya. Aku akui Yo, aku akui tu semua adalah keburukanku. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, aku bukan pemain wanita,” ujar Andre dengan tegasnya.
Hana mengerjab mendengar kalimat yang baru saja Andre ucapkan. Meski obsesi itu bukan sebuah kata yang tepat untuk mengungkapkan perasaan, tapi bagi Hana itu membuat hangat hati sanubarinya.
“Jadi untuk bermain gila dengan wanita lain, aku sama sekali tak ada keinginan untuk mencoba,” lanjut Andre menerangkan.
“Dan stafku… Mungkin yang kamu maksud itu Elisa…”
Andre menjeda ucapannya dan menatap Hana sekilas. Hana sepertinya sedang bingung sekarang. Tapi Andre hanya mampu mengeratkan genggaman. Nanti Hana juga tahu apa yang sedang dibicarakannya dengan Rio sekarang.
“Aku tidak tahu pasti apa yang membuat ia menangi.”
“Tck...” Rio berdecak merasa tak puas dengan ucapan Andre. “Pengecut kamu...”
Andre diam saja diumpati seperti itu. Ia justru kembali menatap Hana untuk meyakinkan dirinya apa yang sebaiknya ia ucapkan sekarang.
Merasa sudah dapat keputusan, Andre pun kembali menatap Rio. Ia pun menghela nafas untuk membulatkan tekat mengatakan yang sebenarnya.
“Saat kamu masuk ruanganku, di dalam ada Hana.”
Air muka Rio berubah seketika. Segera ia menatap Hana yang jelas sekali terlihat takut padanya.
“Maaf Kak...”
__ADS_1
Bersambung...