
HAPPY READING
“Sudah?”
“Sudah…”
Andre yang sudah terlebih dahulu menyelesaikan sholat dzuhurnya menunggu Hana di serambi masjid sambil merenung dengan kaki ia luruskan. Hana yang semula berhenti sedikit di belakang, memutuskan untuk maju selangkah dan mengikuti apa yang kekasihnya lakukan.
“Aku lupa nggak bawa make up,” ujar Hana saat ia sadar penampilannya sedikit berubah disbanding saat tadi tiba.
Andre menatap Hana sekilas sebelum ia kembali melempar pandangan ke sembarang arah. Hana pun terdiam. Ia ikut menatap langit seperti yang Andre tengah lakukan saat ini.
“Kita kecil ya,” gumam Andre tiba-tiba.
“Apanya?” tanya Hana sembari menatap Andre dari samping.
“Langit saja seluas itu, pohon di sana juga besar sekali, apa lagi yang menciptakan semua ini pasti lebih besar lagi…”
Saking jauhnya mereka bahkan hingga kesulitan untuk menyebut Nama Tuhan. Sebenarnya kasihan juga dengan pasangan ini. Mereka berjalan di jalur yang tak pasti, terombang-ambing bagai itik kehilangan induknya.
“Itu lah salah satu bukti kebesaran-Nya. Lantas apa kita masih tak mau juga mengakui tak ada yang lebih besar dari Sang Pencipta?”
Sebuah suara tiba-tiba membentuk sebuah kalimat panjang untuk sejoli yang masih mencari jati diri ini.
“Eh, eh, eh, eh, eh…”
Andre ingin misuh saat Dedi dengan lancangnya berbicara kemudian pergi begitu saja tanpa membiarkan ia mengucapkan sepatah kata. Untungnya ia ingat dimana saat ini berada sehingga ia lebih memilih untuk menarik tangan Hana dan mengikuti kemana Dedi melangkahkan kakinya.
“Heh. Mandek nggak lu,” ucap Andre setengah berteriak. Pasalnya langkah panjang Dedi terlalu sulit untuk diikutinya terlebih saat Hana yang mengenakan high hels kesulitan pula untuk memacu langkahnya.
“Eh ******!”
Keluar juga umpatan Andre saat ia merasa berada cukup jauh dari area masjid tempatnya sholat tadi.
Saat merasa Andre masih cukup jauh untuk menjangkaunya, Dedi mendadak berhenti dan memutar badan. Entah apa maksudnya, ia tersenyum lebar sembari menatap Andre yang sedang berjalan ke arahnya dengan tergesa.
“Abis ngapain tadi?” tanya Dedi saat Andre dan Hana sudah berada di dekatnya.
“Berasa ngejar maling tahu nggak. Lu dulu makan apa sih, bisa panjang gitu kakinya…” Andre mengacuhkan pertanyaan Dedi dan justru mengatai teman baiknya ini.
Saking kesalnya Andre dengan Dedi, ia hingga melupakan Hana yang bahkan untuk bernafas saja ia harus menunggu jeda. Namun Andre justru terus memaksanya untuk memacu langkah hanya untuk mengumpati Dedi.
Kini setelah pengejaran yang Andre lakukan berhasil, Hana terduduk di aspal sambil memegangi dadanya yang sesak hingga bernafas pun ia tersengal.
“Tuh tuh…” Dedi mengangkat dagunya untuk menunjuk sesuatu.
Perlahan Andre langsung menoleh ke arah yang Dedi tunjukkan.
__ADS_1
“Ya ampun. Kamu nggak apa-apa?” panik Andre sembari langsung memegangi bahu Hana.
Hana menggeleng, tapi sepertinya hal ini tak bermakna apa-apa. Nafasnya masih nampak tersengal dengan wajah yang memerah menahan lelah.
“Elu sih…” Andre mendongak dan menatap kesal pria tinggi yang jika ditatap dari posisi ini lama-lama akan membuat lehernya pegal.
Dedi hanya mencebik dan membuang muka. Ia benar-benar kesulitan menahan tawa melihat pasangan non halal yang tak mau pasrah dengan dunia.
“Ya coba elu nggak lari, Hana kan nggak mungkin kaya gini…” Sekali lagi Andre menyalahkan Dedi.
Dedi hanya menatap acuh. Tak ingin lebih lama menatap romansa di hadapannya, ia lantas menarik handle dan membawa mobil hitam kesayangannya melesat dari sana.
“Udah, udah…” cegah Hana saat terlihat Andre ingin mengumpat Dedi yang tanpa permisi pergi dari mereka.
Andre menghela nafas dan kembali menatap Hana. “Kamu nggak apa-apa?”
Hana menatap Andre dengan mengiba. “Aku haus…” ucap Hana random di luar tema.
“Ya sudah, aku panggil sopir, kita cari makan,” ujar Andre sembari membantu Hana bangkit.
“Nggak usah. Aku kan haus bukan lapar.”
“Ya kan satu paket, minum sama makan.”
Hana mengerjab dalam diam, dan Andre langsung paham jika usulannya bukanlah yang Hana inginkan.
Hana menarik bibirnya yang sedikit mengerucut semula. “Aku mau makan di kantor, boleh ya…” pintanya sungguh-sungguh.
“Iya. kamu pesan saja apa yang ingin kamu makan.”
Bukannya senang keinginannya dikabulkan, namun Hana justru menggelengkan kepala, Hal ini tentunya membuat Andre bingung sendiri saat ini.
“Kamu maunya gimana sih sayang, ngomong dong yang jelas.” Andre mulai lelah bermain insting yang kali ini terus meleset dari intinya.
“Aku mau makan di kantin, boleh nggak sih?” tanya Hana ragu-ragu.
“Kamu yakin?”
“Enggak deh kalau gitu.” Hanya dengan ditanya seperti itu, Hana langsung dibuat ragu.
“Han.”
Hana mendadak ciut saat Andre sudah menggunakan nada rendah untuk memanggil namanya.
“Nggak gitu, emm..., maksud aku, bukan maksud aku buat kamu marah, tapi aku tadi hanya berfikir kalau mungkin saja kamu malu makan siang dengan aku di depan banyak karyawan perusahaan ini, makanya aku bisa berubah pikiran dengan cepat,” jelas Hana terbata-bata. Pasalnya ia benar benar tak berminat membuat Andre marah saat ini, karena jujur saja ia tak punya cukup banyak energi ekstra untuk menghadapi kekasihnya.
“Kita ke kantin sekarang,” putus Andre sembari berjalan mendahului Hana.
__ADS_1
Tak ingin membuat Andre lebih marah, dengan langkah cepat Hana bergegas menyusul kekasihnya. Rasa lelah dan haus yang semula dirasanya menguap dan terlupakan begitu saja.
“Nggak ada tempat sayang,” ujar Hana mencoba mencegah Andre untuk terus melangkah. Kantin di hadapan mereka nampak penuh karena ini memang waktunya makan siang.
Sayang Andre sepertinya terlanjur menumpuk rasa kesal pada kelabilan Hana, sehingga ia terus melangkah meski Hana sudah coba mengajak membatalkan keinginannya tak sengajanya.
Dan benar saja, para staf yang semula sedang makan langsung bangkit saat melihat Andre muncul di area yang hampir tak pernah di datanginya ini. Sebuah tempat yang berada di tengah-tengah berhasil menarik perhatian Andre. Ia kemudian membawa Hana untuk duduk di sana.
“Duduk,” titah Andre pada Hana yang masih setia berdiri.
Dengan agak ragu, Hana melakukan apa yang Andre minta. Namun satu hal yang belum dapat ia lakukan, yaitu mengangkat wajahnya menghadapi hujaman tatapan yang terarah kepadanya. Meski demikian, wajah cantiknya yang datang bersama orang kedua di perusahaan ini sudah berhasil mencuri perhatian. Suasana di tempat ini mendadak tenang karena semua merasa canggung untuk melanjutkan makan.
“Kamu pesan saja,” ujar Andre yang kini tengah membaca pesan yang baru masuk di ponselnya.
“Kamu mau apa?” tanya Hana berusaha mencirkan suasana.
“Apa hal semacam itu perlu ditanyakan?” sarkas Andre membuat Hana kian tak nyaman.
Wanita cantik ini bangkit dari posisi semula untuk memesan beberapa menu untuk Andre dan ia makan. Tak berselang lama Hana sudah kembali ke tempatnya. Sejak tadi ia masih senantiasa menundukkan kepala, kesuali saat memesan makanan barusan hingga sekarang saat pantat sudah berhasil ia daratkan.
“Pesan apa kamu?” tanya Andre sambil menatap singkat wajah canggung kekasihnya.
“Aku pesan rawon. Kamu doyan rawon kan?”
Andre hanya sekilas menatap Hana sebelum kembali memperhatikan ponselnya. Selain Hana yang ia acuhkan, sapaan yang mampir padanya juga sama sekali tak ia jawab. Sepertinya ada hal darurat yang tak bisa ia tunda untuk lakukan saat ini.
Hingga pesanan Hana datang, masih belum membuat Andre berhenti mengacuhkan. Jika biasanya Hana akan memaksa Andre untuk makan, kini ia merasa benar-benar tak punya keberanian. Al hasil, makanan yang baru di sajikan juga turut ia acuhkan.
“Kenapa nggak makan?” tanya Andre setelah selesai dengan ponselnya.
“Kan nunggu kamu…” ujar Hana hati-hati.
“Tumben kamu pilih menunggu dan tidak mengganggu,” ujar Andre berusaha tersenyum pada Hana.
Andre kemudian meraih semangkok rawon dan mulai meraciknya. Ia kemudian menyuapkan pada Andre setelah merasa pas semua.
“Aku bisa sayang…” tolak Andre yang tak mau jadi anak manja sekarang.
Hana mengembalikan sesendok makanan yang baru ia ambil ke dalam mangkok makannya. Ia tersipu saat beberapa staf yang tanpa sengaja mendengar ucapan Andre langsung terpaku menatap ke arahnya. Ia kemudian menunduk setelah mendorong makanan yang baru saja ia racik ke hadapan Andre untuk dimakannya.
Andre lantas meraih sendok dan mengambil satu suapan.
“Buka mulutnya…” ternyata Andre bukan mengambil makanan untuknya, melainkan mengambil sesuap untuk Hana.
Mata Hana membola. Ia tak hanya tersipu kali ini, tapi ia salah tingkah dan mendadak mati langkah karena perlakuan kekasihnya. Sudah sejak tadi keduanya menjadi pusat perhatian, kini malah nampak beberapa diantaranya yang terlihat mengangkat ponsel untuk mengabadikan kejadian.
Bersambung…
__ADS_1