Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Perjalanan Malam


__ADS_3

Simsalabim, banyak jejak pembaca prok prok prok.


Satu lagi.


Simsalabim, inspirasi datang prok prok prok.


HAPPY READING


Hana keluar dari apartemen Andre dengan menggenggam erat ponsel dan menyeret kopernya. Ia tak tahu harus kemana, jadi ia memutuskan untuk terus berjalan sembari menemukan tempat tujuan.


Hampir setengah jam berjalan. Hana belum juga berhasil menemukan tempat yang akan ia jadikan tujuan. Ia ragu apakah ia harus kembali pada papanya atau lanjut kabur saja. Ia tak mau dijadikan alat meraih tujuan lagi, namun jika tidak ke sana ia harus kemana lagi. Masa iya harus pura-pura menabrak orang berharap akan diajak kenalan dan diberi pekerjaan. Itu lebih tidak mungkin lagi.


Hana memutuskan untuk beristirahat di halte yang saat ini ia lewati. Meskipun perutnya belum menggaungkan sirine lapar, tapi tenggorokannya sudah kering minta dibasahi. Tapi apa, ia tak punya sepeser uangpun untuk membeli air, kecuali air itu datang dari langit jadi ia cukup memengadah dan membuka mulutnya, dengan begitu tenggorokannya akan langsung basah karena air yang dikirim oleh Tuhan


“Ini kan malam hari, kenapa aku masih harus merasakan haus,” gumam Hana sambil menatap langit.


Tes!


Setetes air langsung menghilang saat menyentuh aspal. Bahkan hanya setetes umbun yang jatuh saja aku dapat melihatnya, apakah aku benar-benar membutuhkan air sekarang?


Tes tes!


“Aku pasti berhalusinasi. Itu pasti bukan air dari langit kan. Mana mungkin ada hujan yang turun di tengah langit yang cerah tanpa awan seperti ini.” Hana mulai menengadah.


“Bahkan bintang pun semuanya bersinar terang tanpa ada satu pun awan yang menutupi.”


Hana kemudian mengusap wajahnya. Ia memastikan tak ada air yang keluar dari kedua matanya.


“Aku tidak menangis, lantas itu air dari mana?” Hana terus menatap langit. “Kamu kenapa menangis, bahkan aku saja yang semenyedihkan ini sama sekali tak mengeluarkan air mata,” gumamnya seakan mengajak langit untuk berbicara.


Krusek!!!


Hana reflex menoleh ke belakang saat mendengar suara yang mencurigakan dari sana. Ia bersiaga kalau-kalau ada hal yang tak diinginkan mengancam dirinya.


“Ya Tuhan, apa mungkin ada hewan buas di tengah kota?”


Tarz!!


Hana menutup telinganya saat tiba-tiba ada suara petir menggelegar. Rasanya petir ini berada persis di atas kepalanya. Terbukti dari kilat dan suara menggelegar yang datang hampir bersamaan. Bahkan jaraknya tak sampai satu


tarikan nafas.


“Langit, di saat aku ingin menjadikanmu atapku, kenapa kamu malah tak membiarkanku merasakan teduh.”


Hana memajukan telapak tangannya yang terbuka untuk merasakan percikan air yang turun dari langit saat ini.

__ADS_1


“Saat aku masih bersamanya kenapa kamu tak turun, dan setelah aku terhempas seperti ini kenapa kamu malah menampakkan diri.”


Hana terus membiarkan telapak tangannya basah melupakan rasa dingin dan haus yang biasanya tak pernah muncul bersama kini nampak akur dengan datang dan menyiksanya di waktu yang sama.


Tanpa terasa, ada orang lain yang kini bersamanya berteduh di halte ini. Meski pun bukan sebuah hujan yang deras, namun jika tak berteduh pasti tetap bisa membuat basah. Orang yang semula Hana kira binatang buas adalah seseorang yang ia kenal dan pernah bertemu dengannya namun tak lebih dari tahu sebatas nama.


“Aku harus kemana?”


“Memangnya kamu mau kemana?” sahut pria ini cepat.


Hana kembali dibuat terkejut saat menyadari ada orang lain di sana.


“Kamu?” kaget Hana sambil menunjuk orang yang baru saja menanyainya.


“Iya aku,” jawab orang itu sambil menghempas-hempaskan air yang sempat jatuh di atas rambutnya. Saat yakin sudah menjatuhkan semua air dari kepalanya, ia kemudian memasukkan sebelah tangannya ke kantong celana sambil senderan di tiang halte.


“Kamu ngapain di sini?” tanya Hana yang masih bingung dengan kemunculan Ken yang tiba-tiba.


“Sengaja buntutin kamu.”


“Buntutin aku?” ulang Hana.


“Yes.”


“Essshhhh, eemmm…” Ken nampak melihat ke belakang ke arah asal Hana berjalan. “Sekitar 100 meter dari sini lah.”


“Kenapa?”


Ken mengernyit. “Kenapa ya? Aku juga tak tahu benar alasanku apa, aku ingin pulang tapi aku melihat kamu ada di jalan, jadi aku ingin mengikutimu.”


“Hanya itu?”


“Memang apa yang kamu harapkan?”


Hana nyengir dan menggaruk-garuk kepalanya.


“Kamu mau kemana, biar aku antar,” tawar Ken.


“Aaa, emmm…” Hana menelan ludahnya. “Aku mau pulang,” jawab Hana akhirnya.


“Rumah kamu di mana?”


Hana menggeleng. “Aku pulang sendiri aja.”


“Jangan lah, kamu itu perempuan. Dan malam-malam membiarkanmu sendiri di tempat sepi seperti ini aku rasa juga bukan sebuah keputusan yang bijak. Lagian Andre kemana, bisa-bisanya dia membiarkanmu sendiri malam-malam begini”

__ADS_1


“Emmm, itu…”


“Itu apa, aku antar ya, jangan nolak.”


Hana nampak melihat kesana-kemari. “Tapi kamu kan nggak bawa mobil.”


“Mobil aku ada di sana. Kamu tunggu sini bentar.”


Hana tak menjawab, ia diam saja saat melihat Ken bergeran menjauh darinya.


***


Rina sedang di sebuah kedai es krim. Di hadapannya ada banyak varian es krim dengan berbagai toping yang disediakan di kedai ini. Dia makan es krim sesuka hati, mengambil secara random sesuai yang ia kehendaki. Di luar ada 5 orang pengawal yang diminta Dika untuk menjaga keamanan istrinya. Dari lima pengawal itu ada seorang perempuan yang bertugas selalu di dekat Rina. Namun faktanya kali ini Rina menolak. Ia tak ingin seorang pun berada di dekatnya. Terserah apa yang hendak dilakukan para bodyguard itu untuk mengamankannya, yang jelas ia tak mau ada satu pun yang mengganggu kesenangannya.


“Lili kasihan juga kalau di luar sendiri. Sekuat apa pun dia tetap saja wanita,” gumam Rina saat mebayangkan wanita ini berdiri tegak seperti yang biasa bodyguardnya lakukan saat menunggu Rina.


Rina meraih ponselnya dan mengirim sebuah pesan untuk Lili. Tak berselang lama Lili muncul dari balik pintu masuk dan datang menghampiri Rina sesuai permintaannya.


“Maaf, Nona memanggil saya?” tanya Lili setelah berada di dekat Rina.


“Ada tugas untuk kamu,” jawab Rina sebelum memasukkan satu suapan besar es krim ke dalam mulutnya.


“Saya siap melaksanakan perintah dari Nona.”


“Kamu duduk aja dulu.” Rina menyodorkan 1 cup es krim ke hadapan Lili.


Lili menatapnya masih dengan badan tegak.


“Ayo duduk.”


Lili melakukan apa yang Rina minta segera.


“Kamu makan sampai habis ya,” ujar Rina sambil meraih cup es krim lain.


“Tugas saya apa Nona?” tanya Lili yang sudah duduk tapi dengan badan tegap.


“Ya itu tugas kamu. Saya kan order semua varian es krim di sini, setelah saya cicip tugas kamu menghabiskan, karena saya akan menghabiskan yang saya suka saja.”


Lili membulatkan mata mendengar perintah Rina. Selama ini bahkan dia menghindari makan dan minuman dingin untuk menjaga staminanya, namun sekarang dia bahkan mendapat tugas untuk menghabiskan es krim sebanyak ini.


“Saya tidak ingin dibantah,” cuek Rina sambil menyuapkan es krim dari cup yang di pegangnya. Ia sama sekali tak menatap wajah Lili dan tidak peduli juga dengan apa yang dirasakan wanita ini. Es krim itu manis, dan wanita pasti suka, itu pikirnya.


"Tenang saja, aku hanya mengambil seujung sendok, dan aku tak punya penyakit aneh-aneh jika kamu takut terinfeksi."


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2