Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Pengacau


__ADS_3

Hai, hai.


Jangan lupa spam komen ya.


Jejak kalian semangat Senja, luv, luv...


HAPPY READING


“Hana…”


Hana mendongak menatap Andre yang kini menjadi sandarannya. “Hmm…”


“Apa ada tempat yang sekarang ingin kamu kunjungi?” tanya Andre sambil menyingkirkan anak rambut yang menutupi sebagian wajah Hana.


“Apa kamu mengijinkanku pergi?” tanya Hana.


“Aku akan mengantarmu.” Andre memutus kontak keduanya. Ia meraih remote untuk mengganti chanel TV yang mereka lihat saat ini.


Hana menunduk dan menautkan kedua jarinya. Saat ini ia benar-benar kehilangan arah. Ia hanya ikut kemana takdir akan membawanya.


“Hana…”


Hana kembali mendongak. Ia terpaku menatap Andre yang nampak jelas rahang tegasnya dari posisi seperti ini. Kenapa kamu selalu tampan dilihat dari berbagai sisi?


“Aku ingin mengajakmu bicara bukan menyuruhmu  terpesona,” ujar Andre tanpa menatap lawan bicaranya.


Hana salah tingkah dan langsung membuang muka. Namun Andre yang iseng justru menarik wajah Hana untuk menatapnya.


“Tapi kalau memang mau terpesona tak masalah juga sih. Aku tak masalah.” Andre kian mendekatkan wajahnya, membuat wajah Hana langsung merah.


Hana mendengus ditengah perasaannya yang tak menentu. Ia menunduk dan kembali memainkan jarinya.


“Aku punya banyak sekali pertanyaan untukmu," ujar Andre lagi.


Hana enggan menjawab. Ia masih asik memainkan jarinya. Andre yang merasa diacuhkan mulai kesal. Tanpa banyak berfikir ia segera menelusupkan tangannya. Kali ini Hana bereaksi. Ia menahan tangan Andre untuk tak masuk ke dalam bajunya.


“Aku sekarang tak bisa lagi membela diri kalau kamu menyebutku wanita murahan. Aku bahkan lebih rendah dari wanita malam. Mereka terpaksa menjual diri agar bisa hidup, sedangkan aku menyerahkan semua padamu tanpa alasan.”


Hana tak menangis, namun jelas sekali ia begitu terluka.


“Maaf…”


“Kenapa harus minta maaf. Bahkan aku lebih hina dari pada jalang atau murahan yang sering kau umpatkan padaku.”


Hana menarik kedua sudut di bibirnya. Jika biasanya ia akan terlihat cantik dengan senyum lebarnya, namun kini justru terlihat miris karena jelas sekali ia malakukannya dengan terpaksa.


Andre memeluk erat tubuh kurus wanita yang akhir-akhir ini tinggal bersamanya.


“Jujur aku juga tak menyangka awalnya.”

__ADS_1


Hana diam. Ia malas untuk meladeni Andre saat ini.


“Hana, apa kamu tak ingin menceritakan sesuatu padaku?”


Hana mengernyit. “Bukankah kamu sudah tahu semua, apa lagi yang ingin kamu tahu?” sarkas Hana.


Andre menoleh mencolek hidung mancung Hana. “Aku ingin tahu siapa kamu sebenarnya?”


“Apanya? Kalau masalah identitas, aku sediri tak bisa menjelaskan,” ketus Hana.


“Ya apa pun? Apa menurutmu tak keterlaluan jika aku sama sekali tak tahu siapa wanita beruntung yang telah membuka segel pe**akaku?”


Hana membulatkan mata. “Itu aku Andre! Bukan kah kamu sadar betul aku masih perawan saat pertama berhubugan!” ketus Hana tak terima.


Andre mengusap lengan Hana. “Saat itu, it wasn't just you who lost your virginity, but I also lost my virginity too.”


Hana menggeleng tak percaya.


“Terserah mau percaya atau tidak, itu hak kamu,” sarkas Andre yang terdengar tak peduli.


Andre meraih tangan Hana dan mengenggamnya. Bukan menggenggam erat, namun hanya memegangnya. Ia terdiam sambil menatap keluar jendela.


Andre yang mendadak diam membuat Hana penasaran. Wanita ini menatap pria yang telah berhasil menyakitinya dan membuat ia bisa merasakan bahagia di waktu yang sama.


Apa Andre sungguh-sungguh dengan ucapannya? Atau dia hanya ingin melanjutkan permainan agar lebih mudah mengendalikanku?


Hana menghela nafas.


“Aku butuh bantuanmu untuk mempertanggung jawabkan dosa besar yang aku perbuat denganmu.”


“Maksudmu?” tanya Hana yang tak mengerti.


“Aku tak mau over thinking, yang jelas langkah pertamaku adalah ingin tahu siapa kamu.”


Hana ingin bersorak. Ia sangat bahagia dengan apa yang baru saja Andre ucapkan.


E tunggu. Saat itu Andre bisa dengan mudah mengungkap sabotaseku di perusahaan. Padahal aku bekerja dengan sangat rapi dan teliti. Jadi mana mungkin hanya identitasku saja dia tidak tahu. Mencari informasi tentangku tentuny abukan hal yang sulit untuknya, bahkan masa laluku pasti juga bisa.


Hana berjuang menghibur dirinya. Ia tak sangat senang jika saja itu kenyataan, sayangnya ia yakin ini bukan.


“Kenapa kamu diam. Apa setelah apa yang kita lalui kamu tak butuh pertanggung jawaban dariku?” tanya Andre saat melihat Hana yang diam saja.


Hana menghela nafas. “Sudah lah. Tak perlu memikirkan itu.”


Hana ingin bangkit tapi Andre menahannya.


“Kamu jangan gila. Bagaimana kalau ada kehidupan karena kelakuan kita.”


Hana menyingkirkan tangan Andre dan segera berdiri.

__ADS_1


“Pak Andre yang terhormat. Coba anda lihat saya baik-baik. Saya dibesarkan oleh seorang ibu. Hanya ibu tanpa ada ayah yang mendampingi. Saya bisa hidup, dan saya masih bernafas hingga saat ini,” ujar Hana dengan nada tinggi.


“Lalu apa, kamu berfikir akan terjun ke dunia malam untuk kehidupanmu selanjutnya?” tanya Andre dengan nada tak kalah tinggi.


“Aku punya otak, aku bisa bekerja. Aku tak akan pernah menjadi penjaja cinta. Meski pun…”


Andre bangkit dan memegang kedua bahu Hana.


“Meski pun sekarang aku sudah kehilangan kehormatan.”


Andre menarik Hana ke dalam pelukannya.


“Kehormatan bukan hal penting saat hanya ada kita. Bahkan sesaat setelah aku menghancurkanmu, aku sudah begitu menginginkanmu. Menginginkan anak hasil hubungan gelap seorang pengusaha kaya dengan simpanannya. Apa ini belum cukup untuk meyakinkanmu?”


Hana memberanikan diri menatap wajah Andre. “Aku masih sulit untuk percaya."


Andre melepaskan pelukannya dan berjalan menuju kulkas untuk mengambil minuman.


“Atau jangan-jangan kamu yang sebenarnya masih punya niat untuk menghancurkanku. Membalas apa yang telah aku lakukan padamu, iya?!”


Hana tak menghiraukan apa yang Andre ucapkan. Ia berjalan terus ke depan. Andre fokus pada kaleng yang ia pegang. Ia menarik tutupnya dan bersiap menghabiskannya segera.


“Shit!” Andre mengumpat saat sadar Hana sudah tak di sana.


Ia berlari keluar. Ia harus segera menemukan Hana. Andre tak tahu ini demi siapa, demi mengamankan perusahaan atau mengamankan hatinya dari rasa kehilangan.


Baru selangkah keluar dari kamar, Andre tiba-tiba berbalik masuk lagi. Sedetik kemudian ia keluar lagi dengan ponsel di tangannya dan tengah menghubungi seseorang.


“Blokir semua akses keluar gedung ini sekarang juga. Ada seorang pengacau mencoba lari dari saya!”


“…”


“Siapa pun itu jangan ijinkan keluar. Tunggu sampai saya tiba di bawah. Saya sedang turun saat ini.”


Andre segera menyimpan ponselnya. Saat ini dia sudah berada di dalam lift. Secepat apa pun Hana berlari, ia yakin wanita ini pasti belum meninggalkan gendung ini.


Sementara akses keluar di tutup, di depan mulai ricuh karena setiap orang yang ingin keluar harus di tahan sementara yang ingin masuk tak diijinkan.


“Ada apa ini?” gumam Hana saat ia dan beberapa orang yang ingin keluar harus ditahan.


“Siapa sih yang kurang kerjaan seperti ini. Nggak tahu apa kalau kita masih ada urusan di luar,” gerutu seorang perempuan.


“Pak, ini ada apa sebenarnya?” tanya seseorang pada security.


“Ada pengacau yang ingin lari, jadi sementara pintu harus ditutup agar orang itu tak kabur,” bohong security itu.


Sebenarnya ia sendiri tak tahu alasan Andre dibalik perintahnya. Yang jelas ia harus melaksanakan perintah Andre jika masih ingin bekerja.


“Kenapa lift ini lambat sekali.” Andre kesal saat ia tak juga sampai di bawah.

__ADS_1


Hana, jangan pernah berfikir untuk pergi dariku jika bukan aku yang mengusirmu.


Bersambung…


__ADS_2