
Masih banyak batu sandungan nih.
Bantu singkirin napa?
HAPPY READING
“Hana…” Wanita yang baru beberapa hari Hana panggil Bunda ini nampak terkejut dan segera meletakkan gunting yang ia pegang. Ia menhampiri Hana yang keluar dari mobil mewah dengan dipapah oleh seorang pemuda tampan dengan wajah oriental yang sangat kentara.
“Kamu kenapa Nak?” tanya bunda dengan khawatir.
Ken masih memegangi lengan Hana bahkan saat wanita penjual bunga ini juga memegang di sebelah lagi.
“Hana nggak apa-apa Bun,” ujar Hana menenangkan.
“Kamu tiba-tiba pulang dengan wajah pucat dan tubuh lemas begini mana mungkin Bunda percaya kamu tidak apa-apa?” Bunda segera mengambil dua gelas air untuk Hana dan teman
laki-lakinya.
“Makasih Tante,” kata Ken sambil menerima uluran gelas dari bunda.
“Kamu pacarnya…”
“Bukan, bukan,” potong Hana cepat.
Sementara Ken hanya tersenyum saja. Kok aneh ya. Masa iya Andre belum pernah memperkenalkan diri. Jika benar, dia benar-benar brengsek. Dia bahkan sudah menghamili Hana padahal belum kenal baik dengan keluarganya.
“Oh, padahal kalian sangat cocok.”
“Buuunn…” Hana sedikit segan berbicara seperti ini dengan bunda Lili, karena sebenarnya mereka berdua belum terlalu akrab saat ini.
“Iya, iya Bunda ngerti,” sahut bunda Lili yang paham keresahan Hana.
Setelah terdiam beberapa saat, Ken mulai mengangkat wajahnya. “Hana, tadi total berapa?”
“Total?” ulang bunda sambil menatap Ken.
Ken tiba-tiba ingat sesuatu dan mengulurkan tangannya. “Oh iya. Saya belum memperkenalkan diri. Saya Ken. Teman… temannya Hana.” Ken sedikit ragu ingin menyebutkan dirinya sebagai apa. Mau bilang teman tapi tak terlalu dekat, mau bilang bukan teman tapi tak menemukan status yang lebih tepat untuk diucapkan.
Bunda menerima uluran tangan itu. “Saya Sofi, Bunda Hana.”
Ken terpaku beberapa saat saat menatap secara langsung dan terang-terangan wajah wanita yang ia taksir adalah ibu Hana ini. Kenapa ibu dan anak ini wajahnya sedikit berbeda. Saat Hana berkulit putih pucat dengan ciri wajah yang sempat membuatku mengira dia ada darah tionghoa sepertiku, tapi bundanya terlihat cukup berbeda dengan kulit kuning langsat dan wajah khas orang Indonesia.
__ADS_1
“Ken…”
“I, iya Tante.” Buru-buru Ken melepaskan genggamannya.
“Yang total tadi gimana?” tanya Sofi lagi.
Ken melihat sekilas jam di pergelangan tangannya. Ia kemudian mengambil dompet dan mengeluarkan sejumlah uang.
“Nggak usah Ken, kamu sudah banyak bantu aku,” tolak Hana.
“Aku tak punya banyak waktu untuk membujuk.” Ken meraih tangan Hana dan menyerahkan sejumlah uang itu di sana. "Jangan bicara lagi. Aku harus pergi.”
Ken memutar tubuhnya dan menatap Sofi. “Tante, saya permisi.”
Ken sempat membungkukkan badan sebelum pergi. Namun di depan pintu tiba-tiba berhenti. Ia tiba-tiba khawatir dengan kondisi Hana. Ia yakin kondisi wanita ini sedang tak baik. Ia sedang mengandung tapi belum menikah, dan parahnya Andre pun tak tahu jika Hana tengah megandung benihnya. Apa sebaiknya aku membawanya saja ke Beijing? Dian sudah tidak ada harapan, dari pada aku harus menyerah dengan pilihan nenek, membawa Hana aku pikir sedikit lebih baik.
Ken memutar tubuhnya. “Hana apa aku bisa bicara sebentar?”
***
Dian sedang duduk dalam gelisah. Ia tahu ini adalah kesempatan terakhirnya. Ikut Ken dan memastikan hubungan mereka, atau diam di sini dan melihat Ken dengan wanita lain setelah kembali nanti.
Tapi Dian tak mau ia terikat dengan pria yang ia sendiri tak yakin perasaannya. Termasuk Ken. Ia tak rela Ken dengan yang lain, tapi ia tak yakin jika harus memutuskan untuk menyerah pada Ken.
Tak sepenuhnya. Karena ternyata saat Dian merasa ia tak mungkin bisa lagi dengan Andre, ia masih tak berani memutuskan untuk bersama Ken.
Tiba-tiba jemari Dian mendial nomor Ken begitu saja. Namun sedetik kemudian kembali ia putuskan. “Nggak bisa. Aku nggak bisa egois dengan menahan dia.”
Klunthing!
Dian langsung membuka pesan yang baru saja masuk ke ponselnya. Ternyata ada sebuah voice message dari Ken yang masuk ke ponselnya.
“Dian, setengah jam lagi aku berangkat. Secepatnya kirim pesan jika kamu berubah pikiran.”
Cepat-cepat Dian membalas pesan. “Ken, tunggu aku. Aku akan siap-siap.”
Mulut Dian terbuka dan matanya membola tak percaya.
“Aaarrrrrrrrrrrhhhhhhh!!!!!!!”
Prang!!!
__ADS_1
Dian berteriak kencang sambil melempar ponsel yang ia pegang tepat mengenai gelas dan langsung pecah berantakan.
Air matanya tumpah beserta histeris tangisnya. “Kenapa aku begitu terlambat menyadari semua ini. Kenapa aku harus menunggu akhir untuk berani memutuskan.”
Dian terduduk di lantai dan menekuk lututnya. Ia menyembunyikan wajahnya di sana dan menangis sekencang-kencangnya. Ia benar-benar kecewa dengan dirinya.
Saat ia merasa yakin dan berani memberi kepastian, ternyata Tuhan tak memberikan waktu lagi. Ponselnya mati tepat saat Dian baru saja menekan tombol kirim. Tak ada tempat untuk mengisi daya, jauh dari rumah, tak tahu harus berbuat apa.
Saat ini Dian sedang berada di resto yang urung ia buka. Semua sudah siap, termasuk gedung dan peralatan. Namun nyawa dari resto ini telah pergi, jadi Dian tak mampu menjalankannya sendiri.
Setelah aliran air dari matanya mereda, Dian segera menyambar tasnya dan pergi meninggalkan gedung baru namun tak terpakai ini. Ia berlari dan masuk ke dalam mobilnya untuk segera pergi dari sana, Namun baru beberapa menit perjalanan, tiba-tiba Dian menghentikan lagi mobilnya.
“Untuk apa aku buru-buru pulang, aku kan tidak jadi ikut Ken ke Beijing,” gumam Dian. Ia segera menjatuhkan kepalanya di atas setir. Ia melanjutkan tangisnya yang semula tertunda. Ia terus mengeluarkan air mata hingga ia merasa puas dan tak ada lagi gelombang air yang mendesak ke luar.
“Kenapa Ya Tuhaaaannnnn!!!!!”
Dian menangis sejadi-jadinya. Ia pernah merasakan sakit saat cintanya berlabuh pada Andre, dan itu pun saat mereka masih dalam usia yang begitu belia. Tapi saat dengan Ken, keduanya bertemu dalam keadaan sama-sama dewasa, tapi kenapa Dian masih selalu terjebak dalam pola pikir yang sama?
Lelah menangis, Dian segera menghapus air matanya. “Angkat wajahmu Dian. Kamu selalu optimis dalam menatap masa depan. Gagal dengan Andre, Tuhan mendatangkan Ken. Sekarang dengan Ken tak bisa, pasti Tuhan sudah menyiapkan yang lebih baik nantinya.”
Dian berusaha menyemangati diri dengan monolognya.
“Jiayo…”
Dian meraih tissue dan membersihkan wajahnya. Dia mengambil bedak dan membenahi riasannya. Ia mulai menjalankan mobilnya dan berhenti di jajaran penjual makanan pinggir jalan langgannnya.
“Selamat datang makanan. Kalian harus memanjakan lidahku ya.”
Dian mulai memesan berbagai jajanan di sepanjang jalan ini. Ia terus memilih dan memesan hingga kedua tangannya penuh dengan banyak kantong berisi makanan. Ia menuju mobil dan ingin segera pulang. Jok belakangnya hingga penuh
dengan berbagai jajanan dan kudapan, dengan riang ia segera masuk dari pintu depan.
“Welcome lemak. Ah sudah lah. Yang penting aku bahagia.”
Dian benar-benar ingin pulang. Dia ingin bersantai sambil menyenangkan diri dengan makan.
Tiba di depan rumah, Dian urung keluar dan diam sambil menatap langit. “Apa kamu sudah berangkat?”
Tak ingin berlarut-larut lebih lama, Dian pun keluar dari mobilnya. Namun lagi-lagi ia mendapat kejutan dengan pemandangan yang terhampar di depan matanya.
“Apa aku berhalusinasi?”
__ADS_1
Bersambung…