
Setelah pare, bunga pepaya, terus apa lagi ya makanan tak manusiawi yang Hana inginkan?
Andre jahat ya nyebut makanan enak kayak gitu sebagai makanan yang nggak manusiawi.
Kira-kira temen-temen ada nggak yang doyan makanan pahit-pahit kek gitu?
HAPPY READING
“Ya mana mungkin aku menyesali keberadaannya, dia adalah diriku. Kamu ngerti kan?”
Hana menatap Andre dengan wajah murung.
"Ya aku memang menyesal dengan kelakuanku, tapi aku tak menyesal karena kemunculan dia di antara kita," lanjut Andre.
“Tapi kita bikin kamu susah.”
“Kita susah sama-sama. Udah ya, jangan debat lagi. Aku mau mandi.”
Andre bangkit setelah sebelumnya mencium puncak kepala Hana. Setelah ia menghilang seteleh pintu kamar mandi tertutup.
“Sayang, semoga kita bisa sama-sama Daddy terus ya," ujar Hana setelah ia sendiri lagi.
Hana terus mengusap-usap perutnya hingga ia memejamkan mata. Tak lama berselang, Andre muncul degan handuk yang ia gosokkan di atas kepala. Ia tersenyum melihat Hana yang terlelap sambil memegangi perutnya.
“Pa, Ma. Maafkan Andre yang pasti bikin kalian kecewa. Andre tahu Andre salah, tapi Andre nggak bisa mundur dan lari dari tanggung jawab,” gumam Andre sambil terus menatap Hana.
Ia berjalan ke dapur untuk membuat susu hangat. Meminum susu hangat menjadi kebiasaannya jika sedang gelisah dan matanya susah terpejam. Bukan tanpa alasan Andre merasa gelisah. Ia anak tunggal, otomatis harapan kedua orang tuanya hanya bertumpu padanya. Jadi dengan apa yang dia lakukan sekarang, pastilah menjadi pukulan besar untuk mama papanya. Namun di satu sisi ia harus bertindak cepat. Jika tidak Hana dan calon anaknya lah yang akan menjadi korban dalam kejadian ini.
Sesampainya di dapur, Andre segera mengambil gelas dan menuang susu UHT tanpa rasa dari kemasannya. Ia segera memasukkan susu itu ke microwave untuk menghangatkannya. Riset memang membuktikan minum susu tanpa pemanis memang banyak manfaatnya. Selain membuat tidur lebih nyenyak manfaat lainnya adalah mengontrol kadar gula dalam darah dan menjaga berat badan. Mungkin ini
salah satu alasan meski Andre pola makannya terkadang kacau dan olahraganya tak rutin tapi bentuk tubuhnya tetap bagus dan kondisinya selalu prima.
Setelah selesai dihangatkan, ia segera membawa susu itu ke kamar. Di kamar ia meminumnya sedikit dan meletakkannya di atas nakas. Ia membaringkan tubuhnya dan mulai memeluk Hana. Ternyata selain minum susu sebelum tidur, memeluk Hana seperti ini juga efektif membuat matanya cepat terpejam. Dan belum juga susu itu dingin, Andre sudah berhasil melayang ke alam mimpi bersama wanita cantik yang sedang mengandung anaknya ini.
***
Setelah peristiwa pare dan bunga papaya, Hana pagi ini minta tumis daun papaya. Sepertinya bahan-bahan dengan rasa pahit ini akan menjadi list utama saat bibi berbelanja selama Hana hamil. Sehingga saat Hana minta ia tinggal mengolahnya dan tak harus seperti malam itu mencari bunga papaya kesana-kemari bersama anak buah Andre di tengah malam yang gerimis untuk memenuhi permintaan Hana.
“Kamu mau?” tanya Hana coba menawarkan makanannya pada Andre.
__ADS_1
Andre menggeleng dan lebih memilih menikmati nasi gorengnya.
“Ya sudah, aku makan sendiri saja.” Hana mengambil semua tumis daun papaya yang ada dan memakannya dengan lahap.
“Sayang, itu ayam dan telur jangan dicuekin dong. Masa kamu maunya cuma daun papaya sama ikan asin doang.”
Hana menggeleng. Ia tak langsung menjawab karena mulutnya penuh dengan makanan. “Ini cocoknya sama ikan asin Ndre.”
“Ini susunya Den, Non.” Bibi muncul dari belakang dengan membawa dua gelas susu yang sudah di hangatkan.
“Bi…” panggil Andre saat melihat bibi hendak kembali.
“Itu sehat nggak sih buat Hana?" tanya Andre sambil menatap Hana yang makan hanya dengan bunga pepaya dan ikan asin yang dibakar.
"Yang dibutuhkan janin dalam kandungan kan nggak cuma makanan pahit sama ikan asin, tapi Hana nggak bisa makan makanan yang lain.” Jelas sekali Andre tak bisa menyebunyikan kekhawatirannya.
“Ya setahu Bibi malah orang hamil itu ada yang nggak bisa makan sama sekali Den, masih syukur ini Non Hana mau meskipun pilih-pilih,” jawab bibi setelah melihat Hana.
“Tapi gizinya gimana? Terus yang nggak bisa makan itu anaknya gimana?” tanya Andre penasaran.
“Ya Alhamdulillah sehat Den setahu Bibi.”
Andre menghela nafas. “Ya sudah Bi, makasih…”
Bibi segera ke belakang lagi setelah dipersilahkan oleh Andre dengan sebuah anggukan.
“Kenyang?” tanya Andre begitu melihat Hana menghabiskan makanan tak manusiawinya.
Hana mengangguk dengan wajah cerahnya. “Ennaakkkkk banget. Kamu pasti nyesel tadi nggak mau cobain. Sayangnya bibi masaknya kelamaan, jadi pahitnya tinggal dikit.”
Andre memijat pelipisnya sebelum meraih susu yang tadi bibi bawa untuk mereka. Setelah menerima gelas yang Andre ulurkan, Hana hanya meminumnya sedikit kemudian diletakkan.
“Kok nggak dihabisin?"
“Aku sudah kenyang Ndre. Lagian susu itu bikin eneg. Aku nggak mau muntah lagi.”
Kali ini Andre tak mau memaksa Hana. Ia ingat betul saat keduanya baru sampai di rumah ini. Hana meminta bunga pepaya namun karena tak ada, Andre memaksanya memakan makanan yang ada. Akhirnya Hana muntah-muntah hingga habis semua isi perutnya.
“Ya udah, sekarang istirahat dulu ya. Aku mau kerja.”
__ADS_1
Hana menghela nafas. Ia menatap Andre yang sedang mengikatkan dasinya. Sedikit ragu namun Hana mendekat dan meraihnya. Andre tersenyum melihat perlakuan Hana ini.
“Andre,” panggil Hana saat mengukur panjang kedua sisi dasi di tangannya.
“Apa,” jawab Andre dengan sedikit menunduk untuk menatap Hana.
Hana menelan kembali kalimat yang hendak ia ucapkan. Sepertinya ikut Andre ke kantor bukan ide yang bisa dipertimbangkan.
“Kamu mau ngomong apa Hana?” tanya Andre saat sadar Hana yang urung berbicara.
“Emmm…” Hana berlagak fokus dengan dasi yang tengah ia ikatkan. Padahal dalam hatinya ia tengah sibuk mencari alasan. “Aku bosan di kamar, apa boleh jalan-jalan di sekitar sini. Nanti aku minta bibi nemenin,” ucap Hana akhirnya setelah ini menemukan alasan lain.
“Ya jangan lah. apa istilah bed rest itu belum jelas. Bahkan pagi ini flek itu masih muncul kan?”
Hana menunduk dan menganggukkan kepala.
“Kamua sabar dulu ya. Tunggu anak kita kuat.”
Hana kembali mengangguk karena tak ada jawaban yang lebih cocok lagi untuk ia ungkapkan.
“Ya sudah aku berangkat.”
Hana mengantarkan Andre hingga di depan mobilnya. Setelah mencium wanitanya, Andre segera masuk ke dalam mobilnya. Namun sebelum berjalan, tiba-tiba ia membuka kaca mobilnya. “Aku akan sering telfon, awas saja kalau kamu sampai berani keluyuran,” ancam Andre dengan wajah garangnya.
Namun bukannya takut Hana justru tertawa. Bagaimana tidak, dia sudah tahu sisi tergelap dari Andre, jadi jika hanya segini mana mungkin bisa membuatnya takut.
“Awas ya, jangan ketawa-ketawa.” Kembali Andre mengancam sambil menggerakkan telunjuknya.
“Ha ha ha ha…” Hana justru mengencangkan tawanya, hingga ia mencari pegangan karena tak ingin jatuh dengan mengenaskan.
“Bibi, Bi!!!” Andre berteriak kencang disusul kemunculan bibi dari belakang dengan membawa pisau di tangannya.
Hana makin mengencangkan tawanya melihat bibi muncul dengan muka panik yang sangat kontras dengan pisau di tangannya. Andre sebenarnya juga ingin tertawa. Namun ia masih dalam mode sok marah, jadi nggak boleh nanggung dengan ikut Hana tertawa sekarang.
“Laporkan sama saya kalau Hana nakal. Jangan sampai dia keluar kamar apa lagi sampai kelayapan kemana-mana. Mengerti.”
“I, iya Den.”
“Ya sudah saya berangkat.”
__ADS_1
Andre menutup kaca mobil dan mulai pergi dari sana. Ia melihat Hana dari spionnya. Hana, maafkan aku. Aku tahu sebenarnya kamu ingin ikut denganku, tapi sekali lagi maaf.
Bersambung…