
^^^Yuhhuuuuu, mana suaranya. ^^^
^^^Maafkan author ya yang belum sempet chit-chat. ^^^
^^^Intinya spam komen jangan lupa, hahaha. ^^^
...*HAPPY READING* ...
Rina menjatuhkan kepalanya di meja. Ujian hari pertama telah di lewatinya. Sejak jalan-jalan 2 bulan yang lalu, ia dan Dika sama sekali tak bertemu.
"Rin. Nggak ada niat tidur di sekolah kan?" tanya Nita saat melihat Rina matanya terpejam.
"Tunggu bentar Nit. Gue bener-bener nggak punya tenaga."
"Astaga..."
"Kamu jangan gitu. Nggak tahu aja rasanya tersiksa rindu," cicit Rina masih dengan mata terpejam.
"Kamu lebay," cibir Nita. "Lagian kalian masih di planet yang sama bahkan di kota yang sama, apa lagi yang perlu dirisaukan. Tiap hari juga masih telfonan."
Rina menegakkan tubuhnya.
"Tapi gue nggak bisa meluk dia, hhwaaaaa...."
Brugh!
Ambruk lagi lah Rina di atas meja.
Nita hanya mampu menggelengkan kepala sambil menghubungi pacarnya bahwa ia masih berada di kelas.
Tak lama berselang Miko pun datang bersama Andre dan Dian.
Dian langsung duduk di samping Rina. Ia menepuk-nepuk pelan bahu sahabatnya.
"Ya ampun, baru juga ujian hari pertama, tapi udah klenger aja."
"Dia bukan klenger ujian, tapi kangen sama cem-cemannya."
"Dika?!" serempak Dian dan Andre.
"Iya lah, siapa lagi," balas Nita.
"Stop ngomongin gue!" ketus Rina dengan kepala masih tergeletak di atas meja.
"Emang doi kemana sih?" tanya Dian.
"Ke Mars."
Setelah berbicara asal, Rina langsung bangkit dan pergi meninggalkan 4 kawannya. Ia sama sekali tak menghiraukan panggilan mereka, dan begitu melewati gerbang, ia langsung masuk ke mobil sang Mama.
Setelah memasang seatbelt, ia kembali memejamkan mata.
"Ujiannya susah banget ya?" tanya Ririn.
"Lumayan Ma."
"Pantes aja anak Mama kelihatan lecek kayak gini."
Perlahan Ririn mulai menjalankan mobilnya.
__ADS_1
"Makan siang bareng papa ya, Mama mau ke sana nganter makan siang."
"Terserah Mama deh..."
Ririn menghela nafas. "Ya udah. Kamu istirahat aja."
Rina memejamkan mata. Sebenarnya ia tak tidur, hanya saja sedang malas berbicara.
Maafin Rina ya Ma. Mood Rina benar-benar hancur. Batin Rina.
Setibanya di kantor, Ririn bersama Rina langsung menuju ruangan Reno.
"Assalamualaikum Pa..." sapa Ririn saat membuka pintu ruangan Reno.
"Waalaikum salam..." jawab Reno.
Ririn mengajak Reno untuk berpindah dari meja kerjanya menuju sofa.
"Tinggal dikit Ma, aku selesaikan dulu ya."
"Nanti masih bisa lanjut Pa, sekarang makan dulu."
Reno menyerah dan mengikuti istrinya. Diam-diam Rina memperhatikan bagaimana sang mama memperlakukan papanya.
Apa mungkin aku dan Dika akan seperti itu? Tapi mama bisa masak, membawakan masakan istimewanya untuk papa, terus aku? Kalau masakan orang pasti beda rasanya. Racau Rina dalam hati.
"Nak, kok malah bengong sih, sini."
"Iya Ma."
Sebelum duduk Rina menyempatkan diri untuk mencium tangan papanya.
"Katanya ujiannya sulit Pa," terang Ririn.
Reno mengernyit. Rina termasuk murid dengan prestasi baik kan, kenapa ujian saja bisa bikin dia sekacau ini?
"Tapi udah belajar kan?"
"Udah kok Pa."
"Semoga hasilnya memuaskan," kata Reno sambil mengusap puncak kepala anaknya.
"Kamu sudah mikirin Nak, mau kuliah dimana?"
Rina diam. Gimana nih. Aku cuma sibuk mikirin Dika. Aku sampai nggak ngerti pengen kuliah apa, pengen jadi apa. Yang ada di otakku cuma dia.
"Sayang, ditanya Papa loh," kata Ririn sambil menata makanannya di atas meja.
Perlahan Rina mengangkat wajahnya.
"Menurut Mama Papa enaknya gimana. Rina ngikut aja."
Ririn memutuskan untuk mengunci mulutnya. Ia ingin Reno memutuskan untuk masalah ini.
"Papa sama Mama nggak matok target untuk masa depan kamu, yang penting kamu bahagia. Tapi harapan Papa cuma satu, kamu harus punya karir kalau memang ingin bersanding dengan Dika. Terlalu berat kalau kamu hanya di rumah dan membiarkan dia berjuang sendiri di luar sana."
"Rina kudu bantu cari uang gitu kah?"
"Nak, ini bukan masalah uang, tapi masalah kualitas diri kamu. Setahun itu nggak lama, jadi mungkin sudah sewajarnya papa membahas ini sekarang."
__ADS_1
"Jika menilik usia kamu, topik ini rasanya kurang tepat untuk dibahas. Namun jika meninjau kamu yang sebentar lagi akan menikah, rasanya kita perlu sesekali membicarakan ini."
"Seorang pria seperti Dika, tak bisa jika hanya memiliki istri ibu rumah tangga biasa. Istri seorang Restu Andika haruslah juga memiliki sinar dari dalam dirinya. Dengan kata lain, kamu juga harus kuat dan mampu berdiri tegak dengan kharisma yang kamu punya, bukan hanya berbekal istri seorang Dika."
"Rina nggak ngerti Pa."
"Kamu nggak boleh hanya menjadi wanita biasa saat memutuskan untuk mendampingi Dika, tapi kamu harus menjadi luar biasa agar bisa bertahan dari hembusan angin saat duduk di puncak bersama dia."
"Dika memang nggak menuntut, tapi kamu juga harus berusaha. Karena jika kamu memutuskan menjadi biasa, itu akan berat. Kamu akan mendapat banyak tekanan dan kamu hanya akan sibuk menghalau tekanan dan lupa jika harus tetap mengupayakan kebahagiaan."
"Terus Rina kudu gimana Pa?"
"Apa Dika pernah mengungkap syarat yang harus kamu lakukan saat sudah bersamanya"
Rina tampak berfikir. Ia tengah mengumpulkan puzzle informasi di otaknya.
"Sambil makan ya..." kata Ririn sambil menyodorkan makanan di depan suaminya.
"Makasih sayang..."
Setelah beberapa saat terdiam, akhirnya Rina menggelengkan kepala.
"Gimana?" tanya Reno.
"Kayaknya Dika nggak pernah bahas apapun, kecuali pas ngelamar itu, pengen mulai menata hidup lebih awal agar bisa istirahat lebih awal juga."
"Apa Dika pernah menyinggung masalah kuliah?"
"Enngg...." Kembali Rina berfikir.
"Nggak tuh Pa. Dia cuma bilang nggak akan pernah membatasi apapun yang aku lakukan, asal nggak jauh dari dia."
Reno meletakkan sendok dan garpunya.
"Itu dia. Papa nggak yakin kalau Dika nggak pernah bahas masalah kamu, hanya saja kamu yang nggak paham."
Ririn dan Rina menatap Reno dengan wajah penuh tanya.
"Dika itu orangnya teliti, dan nggak gegabah. Di usianya yang begitu muda, ia cukup matang dalam setiap mengambil keputusan. Emang kadang di luar batas sih, tapi selalu ia selesaikan dengan sedikit sekali kesalahan."
"Aku kok jadi ikut nggak paham Pa. Tadi ngomongin Rina, sekarang kenapa ganti ngomongin Dika?" tanya Ririn yang duduk di samping suaminya.
"Ya maksudnya itu, kemungkinan tantangan hidup yang akan dialami Rina yang tadi Papa jelaskan panjang lebar itu juga udah dipertimbangkan sama Dika. Intinya dia udah bisa mikir sejauh itu gitu lo. Nggak hanya dalam pekerjaan tapi kehidupan."
"Ya ini, yang bikin Papa susah nolak dia walaupun sebenernya belum rela kalau Rina mau diambil secepat ini dari kita."
"Papa, masih lama..." ujar Rina.
"Cuma setahun Nak, dan Papa sudah sangat cemas sekarang."
Ririn mengangguk setuju dengan ucapan suaminya.
"Rina kan nggak bakal kemana-mana, masih bakal sering ke rumah."
"Tapi keadaan yang memaksa kamu harus selalu di samping Dika, nggak usah ngehibur Papa Mama masalah ini. Kami udah mempersiapkan diri," timpal Papa.
"Udah, udah. Ayo makan dulu."
TBC
__ADS_1