
HAPPY READING
“Gimana Han persiapannya?” tanya Rina yang menghampiri Hana di meja.
“Beres semua. Tinggal masalah makanan yang saya belum sempat untuk melakukan testing dengan pihak catering,” jelas Hana.
“Apa tidak ada seseorang yang bisa kamu delegasikan?” tanya Rina yang iba karena Hana mengerjakan semuanya sendiri seperti ini.
“Emm, saya hanya mau yang terbaik untuk acara ini, karena ini begitu special untuk Anda.”
“Ya ampun Hana. Baik sekali kamu…”
“Yang saya lakukan ini tak ada apa-apanya jika dibanding dengan kebaikan yang Anda lakukan untuk saya.”
“Kamu ini…”
Hana tersenyum lebar sekarang. Ia memang tak bisa mengontrol agar hanya yang baik yang datang kepadanya, tapi jika melihat kehidupannya beberapa saat yang lalu, semua yang ada pada kehidupannya kini sangat sempurna.
Tak membual memang apa yang baru Hana ucapkan pada Rina, karena wanita ini sungguh sangat baik terhadapnya dan bahkan kebaikan turut datang pada dirinya setelahnya. Sehingga Hana begitu tulus ingin melakukan semua yang baik untuk wanita ini.
Pekerjaannya baik, keluarganya baik, hubungan asmaranya baik. Meski ia dan Andre masih sedikit kaku namun keduanya masih bersama hingga saat ini.
“Akh…”
“Kenapa Rina?” panic Hana saat Rina tiba-tiba terduduk sambil memegangi perut besarnya.
“Nggak tahu, sakit…” Rina meringis sambil terus mengusap-usap perutnya.
Semula Hana mengira hal ini hanya efek pergerakan anak Rina yang aktif di dalam rahim, tapi melihat Rina yang terus meringis sepertinya ini bukan pertanda baik.
“Aduh kamu tenang ya, kamu duduk ya…”
Hana segera berlari untuk mencari Dika setelah membantu Rina duduk di atas sofa.
“Kamu kenapa...”
Brugh!
Belum selesai Andre bertanya saat yang baru muncul dari ruangan melihat Hana yang berlari dengan wajah paniknya.
“Kamu kenapa sih Han?!” tanya Andre yang berusaha membantu kekasihnya untuk berdiri.
Hana benar-benar tak menyangka jika harus ada adegan tabrakan. Apa lagi dengan Andre yang tengah membawa banyak bawaan.
“Pak Restu mana pak Restu?”
“Itu di ruangan, kenapa emang…”
Hana tak membantu Andre membereskan bawaannya yang berantakan. Ia segera melesat menuju ruangan atasanya. Rahma yang cepat tanggap memberi kode pada Elis untuk segera membantu Andre membereskan barang-barangnya. Siapa tahu rekannya ini akan sedikit mendapat simpati. Namanya juga usaha, toh Andre dan Hana belum ada pernikahan yang mengikatnya.
“Tolong lanjutkan dan kerjakan semua ini.”
__ADS_1
Elis melongo saat Andre juga ikut-ikutan pergi. Semula ia menyangka akan ada adegan dimana Andre dan ia tak sengaja mengambil barang yang sama dengannya, sehingga tangan keduanya berpegangan dan saling memandang. Ternyata ia harus sadar bahwa ini adalah dunia nyata bukannya drama yang adegan seperti itu biasa ada.
Tak lama berselang Dika lewat dengan setengah berlari di susul Andre dan Hana di belakangnya.
“Mereka pada kenapa sih?” tanya Rahma pada Riza karena Elis masih masih sibuk memunguti barang-barang Andre yang berserakan di atas lantai.
Belum lama masuk ke dalam ruangan, Dika sudah keluar dengan membopong Rina. Dibelakangnya ada Hana yang membawa tas Rina dan Andre yang ikut berlari tanpa membawa apa-apa.
“Mau melahirkan jangan-jangan,” ujar Elis yang baru saja menyelesaikan urusannya dengan barang yang berserakan.
“Lah katanya masih tujuh bulan, gimana sih. Jangan-jangan usia kehamilannya lebih dari itu,” ujar Rahma pada kedua rekannya.
“Ya biarin lah, toh mereka sudah menikah lama bukan pengantin baru yang menikah 7 bulan langsung melahirkan,” timpal Riza yang masih bisa menggunakan dengan bak otaknya.
“Iya juga.” Rahma meringis karena merasa kejulidannya tak tepat sasaran.
“Yuk kerja,” ujar Riza pada kedua rekannya.
Dan tiga orang ini kembali menceburkan diri dalam kubangan pekerjaan yang seakan tak ada habisnya untuk mereka. Saat ketiganya mulai larut lagi dalam data dan angka, Andre dan Hana nampak muncul lagi secara bersamaan dan dalam keadaan tak panik seperti tadi.
“Han…” panggil Andre sesaat sebelum Hana masuk ke dalam ruangan.
“Iya…” jawab Hana yang berhenti sambil berpegang pada handle pintu.
“Nanti jangan lupa ya, bantu aku pilih hadiah untuk anak Rio,” pinta Andre pada kekasihnya.
Hana mengangguk dengan senyum lebarnya. Kedua pasangan ini kemudian masuk di dua ruangan yang berbeda.
“Enak gimana?” tanya Elis yang tak mengerti.
“Dia seenaknya keluar masuk perusahaan dan langsung bisa melesat ke posisi yang tinggi saat kembali.”
“Ya karena Hana memang punya kemampuan,” timpal Riza yang sebelumnya tak begitu minat bergabung dalam cerita.
“Tapi kalau dia bukan pacar pak Andre apa mungkin bisa?” Rahma tak segan untuk mengungkap keraguannya.
“Tapi jangan lupa, dia adik Rio Rahardja. Kita harus terima kalau Hana sudah berbeda dengan kita sejak dari sononya.” Kembali Riza menimpali agar kedua rekannya ini tak bergosip lagi.
“Tapi kenapa ya dia malah kerja di sini bukannya enakan jadi bos di perusahaan papanya sendiri?” kini Elis yang ikut-ikutmencari bahan untuk dibicarakkan.
“Entah lah. Jawaban yang tepat bisa kamu dapat kalau kamu tanya langsung sama Hana.” Riza memilih untuk main aman saja dari pada ia harus terjebak dalam pembicaraan yang tak ada habisnya.
“Kalau menurutku sih karena pacarnya ada di sini. Jadi bisa sekalian tuh, pacaran iya dapat uang banyak iya. Toh Hana tak perlu susah-susah karena di sini pun ia dapat posisi yang sangat tinggi.”
Memang tajam sekali analisa Rahma ini. Riza hanya bisa geleng-geleng menanggapi.
“Eh, sst stt…” Riza memperingati kedua rekannya agar berhenti bicara, saat tak sengaja ia melihat pintu ruangan Andre perlahan terbuka.
Dan tepat saat Rahma dan Elis berhasil menahan suaranya, Andre muncul dan segera menghilang lagi dibalik ruangan yang kini hanya berisi Hana sendiri.
Mata Rahma memicing. “Coba tebak, apa yang akan terjadi selanjutnya?”
__ADS_1
“Yang terjadi kalian akan kehilangan pekerjaan kalau tak benar-benar bekerja.” Riza sepertinya kesal karena kedua rekannya tak bisa diajak serius kerja.
“Peace Mbak,” ujar Rahma sambil mengangkat kedua jarinya.
“Maafin papa mama ya…” ujar Andre setelah berhasil meminta Hana untuk bersamanya duduk di sofa.
“Mereka sayang banget sama kamu…” ujar Hana berusaha mengerti perasaan orang tua Andre.
“Mereka hanya khawatir kita akan menemukan banyak masalah di masa depan,” ujar Andre mengatakan apa yang mungkin menjadi alasan kedua orang tuanya.
“Apa kamu juga merasa demikian?”
Andre meraih tangan Hana dan menggenggamnya.
“Bukan maksud aku untuk durhaka, tapi aku akan tetap menikahi kamu segera.”
“Tapi mana bisa?”
“Seorang laki-laki bisa menikah meski tanpa orang tua.”
“Tapi masa iya kita mau menikah tanpa kehadiran mereka?”
“Mereka akan tetap hadir Hana, hanya mungkin sikap mereka akan dingin saja. Toh nanti kita akan tingga terpisah dengan mereka jadi kita masih punya kesempatan untuk membuat sikap mereka perlahan berubah.” Belum menyerah Andre meyakinkan Hana, karena semua usahanya tak akan ada artinya jika ia dan Hana tak jadi melangkah ke pelaminan.
“Apakah baik yang seperti ini?”
“Kita yakinkan mereka kalau apa yang kita lakukan adalah sebuah kebaikan.”
“Tapi kalau tiba-tiba mereka melakukan sesuatu yang bisa menggagalkan pernikahan kita gimana. Malu dong aku sama keluarga Rahardja. Padahal baru saja aku mereka terima.”
“Papa mama ku tak seburuk itu. Meski nyatanya tak suka, tapi mereka tak mungkin menjatuhkan anak tunggalnya di muka banyak orang.”
Andre meraih tangan Hana dan menciumnya.
“Kamu mau kan menikah?” tanya Andre sungguh-sungguh.
Hana mengangguk dan Andre langsung memeluknya.
“I miss you.”
“Kok I miss you?” tanya Hana sat merasa kalimat yang Andre gunakan tak tepat dengan seasana mereka sekarang.
“Karena aku hampir gila dua hari tak bersamamu.”
Hana menutup mulutnya saat sedikit lagi Andre menjangkau bibirnya.
“Jangan menahanku…”
Andre menyingkirkan tangan Hana dan melakukan apa yang diniatkannya.
Bersambung…
__ADS_1