Zona Berondong

Zona Berondong
Rencana Masa Depan


__ADS_3

...*HAPPY READING*...


Duduk berlima di ruang keluarga. Memang kamar Rina cukup besar namun tak ada kursi untuk menempatkan kelima orang ini.


"Jadi itu masalahnya."


Reno sedikit malu dengan kegegabahan istrinya yang main menyimpulkan tanpa terlebih dahulu mendengar keterangan dari putri mereka.


Rudi menghela nafas.


"Sebenarnya saya sudah pernah menyinggung perihal pernikahan, ya meskipun dengan bercanda, tapi saya sungguh-sungguh dengan ucapan saya."


Raut wajah Reno seketika berubah.


"Tapi maaf Pak, usia mereka masih jauh dari kata cukup untuk membina rumah tangga."


Tepat seperti dugaan Rina, papanya terlihat kurang setuju jika ia menikah segera.


"Memang saya akui, kemungkinan besar tak ada masalah finansial dalam rumah tangga mereka, dan keduanya juga saling suka, tapi apa mental mereka benar-benar sudah siap jika sudah dihadapkan pada problematika berumah tangga."


Reno menatap sepasang muda-mudi di hadapannya ini. Rina yang menunduk dan Dika yang duduk dengan punggung tegak dan wajah tegasnya.


"Berumah tangga itu hanya akan indah di awalnya saja, selebihnya kalian harus bisa, saling. Saling membantu, saling menyemangati, saling memaklumi, untuk menghalau dan menyingkirkan duri dalam berumah tangga. Itu dari luar, belum yang dari dalam. Ada ego yang harus dilawan, ada cemburu ada curiga, terutama tak lama lagi dunia akan tahu siapa Nak Dika. Dan di luar sana.... "


Reno mengatur nafasnya.


"Sepertinya saya tak harus menjelaskannya secara detail, apa yang menjadi cobaan bagi laki-laki dengan usia muda dan punya segalanya seperti anak anda."


Reno mengakhiri ucapannya dengan menatap Rudi.


"Saya mengerti kecemasan anda, tapi apa anda tak lebih cemas dengan berbagai hal tak baik yang mengintai mereka setiap saat sebelum halal?"


Rina meremas jemarinya. Ia takut jika ternyata orang tuanya sudah tahu kelakuan buruk mereka.


"Tak ada satu pun di dunia ini yang tak beresiko. Saya tahu itu."


Reno menjeda ucapannya.


"Tapi saya hanya ingin putri semata wayang saya bisa menjadi dirinya tanpa bayang-bayang orang lain, sebelum saya menyerahkan pada laki-laki yang akan menjadi imamnya."


"Hal ini semata hanya agar ia tak mudah terhempas nantinya."


"Ehm."


Deheman Dika berhasil mengambil alih atensi mereka.


"Om, saya nggak akan menjarain Rina. Saya tak akan memasung kebebasannya, saya nggak akan maksa dia hanya berdiam diri dan mengasuh anak-anak saya, tapi saya ingin Rina selalu di samping saya, mengikut sertakan ia dalam setiap urusan saya, karena..."


Dada Dika naik turun.


"Saya tak ingin ada kisah seperti mama dan papa saya."


Pandangan Reno dan Rudi beradu dan Dika sadar itu. Sekali lagi Dika menghela nafas.


"Saya tak menyalahkan Ayah sepenuhnya, karena jika takdir sudah berkata, kita tak akan mampu berbuat apa-apa. Namun satu hal yang saya yakini, jika almarhum papa tak terlalu sibuk tanpa mama di sampingnya, mungkin tak akan banyak drama yang akhirnya merengganggangkan keduanya."


"Saya memang ingin segera menikah dengan Rina, membawanya selalu bersama saya, dan..."


"Dan...?"

__ADS_1


Ternyata 3 orang dewasa itu begitu penasaran dengan isi otak Dika.


"Jika memang ada anak yang dia amanahkan pada kami, saya ingin tenaga dan semangat muda kami untuk bekerja bersama dan mengurus rumah tangga bersama."


Empat orang yang mendengarkan ucapan Dika hanya mampu saling beradu pandang. Kenapa bisa ada pikiran seperti itu di otak mudanya.


"Saya tak suka punya istri yang jadi sosialita meskipun saya mampu memfasilitasinya. Karena dia akan sibuk dengan komunitasnya, serta sibuk membuat dirinya bak boneka agar suaminya betah berada di sisinya. Saya tak ingin Rina menjadi seperti itu untuk saya."


"Saya ingin punya istri yang mendampingi saya, menjadi partner abadi saya. Selalu bersama, bekerja bersama, produktif bersama, membesarkan anak bersama, dan bersama-sama menjaga keutuhan rumah tangga."


Pandangan Dika menerawang, samar-samar sebuah senyum terukir di wajahnya.


"Saya ingin menikah segera karena tak ingin terlalu tua untuk mulai menata kehidupan impian saya."


"Dan saya ingin mengurangi kesibukan dalam usia yang belum terlalu tua seperti Ayah yang kini bisa menikmati banyak waktu dengan Mama."


"Segera punya anak dan pensiun di usia muda, bukankah itu bukan ide yang buruk kan?"


"Aw..."


Entah mengapa, Rina tak dapat menahan tangannya untuk tak mencubit pinggang Dika.


Dika tersenyum geli menatap kekasihnya yang masih setia menunduk di tempatnya.


"Anak, anak. Emang ngerti apa soal anak," geram Rina dengan suara tertahan.


"Bikin anak itu salah satu ilmu yang nggak perlu dipelajari kan Yah?"


Plak!


Dika mengelus pahanya yang malang karena baru saja di pukul Rina menggunakan remote tv.


...***...


Hari minggu ceria. Masih pukul 6 tapi semua sudah ramai di rumah Rina.


Di sana ada Dian dan Nita bersama masing-masing pacarnya.


"Ini nanti berangkat jam berapa?"


"Tinggal nunggu Dika kan?" tanya Nita beruntun.


Rina mengangguk sambil menyuapkan perbekalan.


"Tahu gini kan bisa nunggu matahari agak tinggi," kata Andre dengan mata setengah terpejam.


"Ya kan ini first time loh buat aku."


"Iya Ndre. Kamu tu cowok pertama lo yang diajakin Dian gabung sama kita," timpal Nita.


Dian berjalan menghampiri Andre yang tergeletak di sofa.


"Karena kamu pacar pertama aku," ucap Dian sambil bersandar pada kekasihnya.


Mata Andre sontak terbuka lebar. Ia masih belum percaya dengan apa yang baru di dengarnya.


"Beneran?"


Dian mengangguk.

__ADS_1


"Kalau nggak percaya tanya aja sama mereka?"


Andre membenahi posisinya dan segera membawa Dian dalam pelukannya.


"I love you."


Andre mencium kilat puncak kepala Dian dan kembali memeluknya.


"Ehm, enak ya, adem-adem gini ada yang di peluk."


"Sirik ya, yang dipeluk belum datang yaaaa..." sindir Dian pada Rina dengan tawa di wajahnya.


"Ih, kagak ya..." elak Rina


"Btw ini tadi Om Tante kemana?" sela Nita.


"Jogging lepas subuh tadi," jawab Rina sambil menuang susu di gelas.


Ia segera menatap keluar saat mendengar deru mobil berhenti di depan rumahnya.


"Dika bukan ya..." gumamnya sambil berjalan keluar.


"Assalamualaikum...."


Suara ceria Rista berhasil membangunkan para manusia yang matanya masih terpejam.


Miko yang tertidur di sofa nyaris jatuh saking terkejutnya, sedangkan Andre yang tak tidur sepenuhnya sontak langsung menutup telinga.


Tak lama kemudian, muncullah sang pemilik suara dengan Rina yang cemberut di sebelahnya.


"Hai Ta," sapa Dian yang duduk di samping Andre.


"Hai Kakak," jawab Rista dengan melambaikan tangannya.


"Tu muka napa asem?"


Rista segera merangkul bahu Rina, "karena kakak Rista masih ada tamu di rumah."


"Owh, pantes. Eh kenalin ini Andre, cowok aku."


Rista kemudian berkenalan dengan Andre, Miko, dan Nita, begitu juga dengan Dedi.


"Ih, jadi kamu adiknya Dika."


"Iya Kak Andre," jawab Rista dengan senyum cantiknya.


Akhirnya mereka bercanda tertawa membuat sarapan sesuai selera dan melakukan apapun untuk menunggu Dika tiba.


"Apa kita nggak mending nyamperin Dika aja, terus kendaraan taruh di sana," usul Andre.


"Jangan," cegah Dedi cepat.


"Iya, kakak tadi pesen suruh tunggu sini aja, rumah kita halamannya kecil, nggak bakal muat kendaraan segini banyak," imbuh Rista.


Rina menghela nafas. Bohong. Jelas sekali Rista bohong.


"Gue nggak bisa langsung percaya deh kayaknya," ujar Andre dengan tatapan penuh selidik.


Dedi langsung menghadiahi Andre dengan pukulan di lengannya, karena Andre sebelumnya sempat mengungkap bahwa ternyata ia punya hobi olahraga beladiri seperti halnya Dedi dan Dika.

__ADS_1


TBC


__ADS_2