Zona Berondong

Zona Berondong
Passion


__ADS_3

...*HAPPY READING*...


Rista tengah memeluk boneka besar yang sebelumnya dibawa Rina. Tubuhnya pun terbalut selimut tebal yang juga hasil keabsurdan Rina. Tiga pasangan beda generasi ini tengan menikmati dinginnya pagi di area perkebunan dengan beralasan tikar yang Santi bawa.


Sekantong makanan yang Rista bawa berhasil memeriahkan canda mereka. Termos yang dibawa Santi juga tak percuma. Coklat hangat di kantong makanan Rista bisa dijodohkan dengannya.


"Dedi mulai kapan mulai homeschoolingnya?" tanya Rudi sambil menyeruput coklat panas yang baru saja Santi buatkan.


"Nggak tahu Om, ngikut bosnya aja," jawab Dedi dengan cengirannya.


"Kamu yakin ingin memilih jalan yang sama dengan Restu, tak ingin coba memilih jalan kamu sendiri?"


Dedi diam sejenak. "Saya nggak punya banyak pilihan Om, dipungut dan dipekerjakan oleh bos Surya saja sudah anugerah yang luar biasa." Dedi menatap Dika yang langsung dihadiahi lemparan kacang atom olehnya.


"Dan lagi alhamdulillah saya punya otak yang bisa diajak belajar dengan cepat."


"Sombong lu ya, mentang-mentang nilai selalu paling tinggi," timpal Dika tak terima.


"Cuma ngomongin fakta ini bos..."


Dedi mengalihkan pandangannya menuju arah mentari yang mulai menunjukkan eksistensi. Dedi merasa lega karena bisa mengucapkan alhamdulillah tanpa sungkan lagi.


Dika terkekeh. "Meskipun terpaksa harus diakui, emang otak kamu lebih encer dari aku."


"Korban kekejaman sekolah elit ini mah. Kalau nggak paling tinggi dicabut sudah beasiswanya."


"Maka dari itu saya pengen tahu apa sebenarnya yang jadi passion kamu."


Dedi terdiam setelah mendapatkan tanya dati Rudi. Tanpa ada yang menyadari Dika pun tampak berfikir.


"Yah, may I asking you?"


"Sure," jawab Rudi.


"What does passion mean here?"


"Passion might be defined as an inclination or desire to do something one likes to do or thinks is important to do. Jadi ada nilai interesting dalam bekerja jika itu sesuai passion. Do you understand?"


"Enggak."


Celetuk Rista yang kontras dengan keseriusan semua yang ada di sana berbalas dengan tatapan mata yang membulat terutama dari Dika.


"Bocaaaaah...., ini lagi serius juga," kata Dika pada adiknya.


"Kita itu orang Indonesia, bisa nggak sih ngomongnya nggak usah sok-sokan pakai bahasa Inggris."


Spontan Dika memaparkan sebutir kacang atom yang ia pegang.


"Bilang aja nggak ngerti."


Rina menahan tangan Dika yang hendak kembali melempar kacang atom. Dia menggeleng saat Dika menatapnya.


"Ngerti sih, cuma capek kudu mikir dulu."


"Otak itu buat mikir Ta..." sambung Dedi sambil meletakkan ujung jarinya di pelipis Rista.


Rista langsung mengamit lengan Dedi dan menyandarkan kepalanya di sana.

__ADS_1


"Dasar ababil. Mentang-mentang udah go public aja nemplok mulu."


"Sirik ya. Bilang aja pengen juga Rista peluk."


"Udah, udah. Ini masih mau di sini apa mau kembali ke villa?" tanya Rudi memecah keramaian Dika dan Rista.


"Balik Yah ya. Udah laper," jawab Dika sambil memegangi perutnya.


"Perasaan dari tadi mulut kamu nggak berhenti ngunyah deh?"


Dika kemudian mencubit gemas hidung Rina.


"Dengan badan segede ini mana kenyang cuma diisi kacang sayang...."


"Dedi kan juga tingginya sekamu Nak, tapi dia anteng aja tuh," ujar Santi sambil membereskan barang-barang mereka.


"Dia tu jaim Ma. Biasanya paling banter dia kalau masalas makan."


Dan yang dibicarakan hanya nyengir sambil menggaruk kepala. Dia memang seperti itu, tapi kali ini dia bahkan melupakan kelaparannya karena masih galau akan hidupnya.


"Apa Dedi masih boleh di sini?" tanya Dedi tiba-tiba saat semua sudah bersiap meninggalkan lokasi.


"Rista temenin ya."


"Jangan!" cegah Dedi cepat saat Rista hendak turun dari mobilnya.


"Rista sama kita ya, bersih-bersih dulu," tutur Rudi. Dia paham kalau Dedi kini butuh sendiri.


"Iya deh," jawab Rista tak semangat.


Dedi melambaikan tangan saat Rudi mulai menjalankan mobilnya.


"Kalau Kak Dedi nyasar gimana dong?"


"Nggak akan Ta. Kamu lupa tadi pagi dia bisa pulang padahal masih gelap gulita?" kata Rina mengingatkan.


"Iya juga ya." Rista kemudian kembali memeluk boneka Rina.


"Ayah kemarin ngobrolin apa sama Dedi?" tanya Dika.


"Dedi sepertinya lagi bimbang, tentang iman dan Tuhan. Dan Ayah cuma ngasih tahu bahwa Islam is the God ways. Kenapa Ayah bersikap seperti itu? Karena Dedi sepertinya sangat tertarik dengan agama kita."


Dika mengangguk.


"Jangan-jangan Mas nyuruh dia masuk islam kalau pengen dekat dengan Rista?"


Rudi terkekeh. "Ya nggak lah. Berpindah keyakinan karena alasan manusia, itu nggak akan bertahan lama, namun jika Dedi memang pengen memeluk Islam, saya pengen itu semata karena iman yang ada dalam dirinya."


"Saya hanya menceritakan pengalaman spriritual yang saya dapatkan saat berhadapan dengan pasien yang sering kali saat itu maut menghampiri. Nyawa itu seperti kapas yang ringan dan begitu mudah terhempas dari raga. Makanya saya hanya menekankan pada dia, temukan Tuhan agar kita tahu jalan pulang. Karena tak ada yang tahu umur seseorang. "


"Saya pikir ungkapan dan air mata Dedi tadi karena bujukan Mas."


"Enggak Ma."


Santi langsung menoleh karena Dika tiba-tiba bersuara di tengah percakapannya deng Rudi.


"Aku yang sebenarnya gatal pengen ngajak Dedi untuk mengikrarkan 2 kalimat syahadat, namun sayangnya Islamku masih cetek."

__ADS_1


Dika nyengir karena harus mengakui kelemahannya, terlebih di sampingnya ada Rina.


"Dia bilang suka sama adzan, suka penasaran kalau lihat orang sholat, sering tiba-tiba keluar air mata kala dengar lantunan ayat suci Al-qur'an. Tapi ya itu, dia segan kalau mau banyak tanya langsung sama pemeluk agama Islam."


"Ya itu sama kamu nggak sungkan," timpal Rina.


"Masalahnya aku belum mampu sayang. Mau kan kamu belajar bareng sama aku?"


"Kok eneg ya lihat orang bucin."


Dika spontan melepaskan tangan Rina dan segera memiting leher adiknya.


"Kak aw, aw. Ma, Pa. Tolongin Rista."


Rista berusaha melepaskan pitingan kakaknya, sementara Santi dan Rudi hanya tertawa dari jok depan.


"Sayang udah ah."


Tanpa diminta justru Rina yng berusaha membantu Rista.


"Biarin. Kurang ajar ni anak lama-lama. Nggak tahu apa dia lebih bucin dari kita. Mana dia masih piyik lagi."


"Uhuk, Uhuk." Rista nampak susah bernafas.


"Kak udah dong."


Meskipun ia meminta Dika menghentikan aksinya, namun nyatanya Santi masih tertawa.


"Dik, ih..."


Pitingan Dika tertalu kuat hingga Rina pun gagal melepaskannya.


"Ampun nggak?!"


Rista hanya mengangguk sambil berusaha melepaskan diri.


"Bilang ampun dulu!"


"Ampun, iya iya ampun. Uhuk, Uhuk."


Dika kasih juga melihat wajah putih adiknya yang memerah sambil terbatuk-batuk.


"Minta maaf nggak."


"Ogah."


"Mau gue piting lagi!?"


Dika bersiap mengamit leher adiknya.


"Iya, iya, maaf, maaf."


Ucap Rista segera. Ia tak mau mati konyol di usia muda.


Tak terasa mereka pun sampai di villa, dan segera masuk ke dalamnya untuk membersihkan diri dan melanjutkan harinya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2