Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Jam Tangan


__ADS_3

HAPPY READING


“Suara apa sih?” gumam Hana sambil mengeringkan wajahnya dengan handuk.


Saat ini Hana baru saja selesai mandi, dan ternyata Risma sudah tidak ada di ruangan ini. Samar-samar ia mendengar suara orang bertengkar. Suara itu saling memaki dan meneriaki secara bersahutan, membuat Hana penasaran untuk melihatnya. Namun ia urungkan karena Hana ingat betul apa yang Risma katakan bahwa ini adalah kosan campur, dimana pria dan wanita bebas menghuninya.


Cklek cklek cklek!!


Brrgg!


Brrgg!


Hana terkejut saat sadar pintu kos Risma sepertinya ingin dibuka dengan paksa dari luar, karena ia penasaran dan takut pintu ini akan rusak, Hana pun sempat berfikir untuk membukanya.


“Pergi, aku nggak punya apa-apa, pergi!!!”


Hana yakin yang sedang berteriak ini adalah Risma, jadi tanpa menunda ia segera berjalan ke arah pintu dan membukanya.


“Wahhhh… ternyata ada wanita secantik ini di dalam, kenapa nggak bilang dari tadi,” ujar salah seorang pria saat menyadari kemunculan Hana.


Risma menyingkirkan tangan seorang pria yang semula memeganginya. “Kenapa pake dibuka sih pintunya,” desis Risma begitu tiba di dekat Hana.


“Ya aku panic waktu dengar teriakan kamu,” ujar Hana dengan wajah tanpa dosa.


“Ya tapi kalau gini ribet kan. Bisa-bisa mereka akan gangguin kamu nanti.”


“Yang penting kamu aman dulu, yang itu kita pikirin belakangan,” timpal Hana.


“Stop jangan masuk!” dengan sigap Risma menghadang pria itu di depan pintu. Risma mengerahkan segala upayanya untuk menghadang dua pria berbadan besar ini.


“Nggak masalah kalau kami nggak boleh masuk, tapi bayar dulu hutang kakak kamu.”


“Yang punya hutang dia, kenapa aku yang harus menderita!” kesal Risma.


“Karena kamu adiknya.”


“Nggak bisa dong, kalian, eh, eh…”


Brugh!!


Hanya dengan sebuah tarikan tubuh Risma langsung tersungkur. Melihat hal ini, dengan sisa kekuatannya Hana berusaha membantu Risma untuk berdiri.


“Memang hutang kakak kamu berapa sih?” tanya Hana setelah Risma berhasil ia bantu untuk bangun.


Risma sedikit meringis menahan sakit ditubuhnya yang baru saja berbenturan lantai dengan begitu kerasnya.


“Aku nggak tahu, yang jelas jadi membengkak karena bunganya yang besar.”


Hana paham situasi ini. “Tunggu!”


Pria yang hendak membuka lemari itu langsung menghentikan pergerakannya. “Kenapa cantik. Apa kamu ingin ikut kami?” tanya pria itu lagi.


“Kalau kamu ikut mungkin bos kami bisa mempertimbangkan untuk meringankan atau bahkan melunasi hutang si b**gsat Deni,” lanjut pria satunya.


“Berapa hutang kakak Risma?” tanya Hana dengan beraninya.


“Untuk apa kamu tanya, gaji Risma setahun saja belum tentu bisa melunasi hutang kakaknya. Kami kesini hanya agar Deni tak terus menumpuk bunga.”

__ADS_1


Hana menepis kasar tangan pria ini yang ingin menyentuh dagunya.


“Wah galak ternyata.”


“Sekarang katakan saja?” tanya Hana masih dengan nada tingginya.


Cepat-cepat Risma pasang badan dan berdiri di depan Hana, meski nyatanya tubuh Hana terlalu tunggi untuk dia tutupi. “Hana jangan main-main,” bisiknya sambil menoleh ke belakang.


Hana menghela nafas. “Tunggu sebentar.” Ia berjalan perlahan ke arah gantungan pakaian. Ia mengambil jas yang melekat di tubuhnya saat ia datang. Ia kemudian merogoh di salah satu kantong dan mengambil sesuatu di sana.


Hana menunjukkan sebuah jam tangan mewah di depan kedua penagih hutang ini. “Apa ini cukup?”


Kedua pria ini saling beradu tatap sebelum kembali memperhatikan benda di tangan Hana. “Tidak semudah itu,” ujar salah satunya.


Hana segera menarik tangannya, saat salah seorang pria di depannya itu ingin mengambil jam tangan itu darinya. “Katakan dulu nominalnya berapa?”


“Total hutang Deni tiga puluh juta,” ujar pria itu akhirnya.


“Bohong. Kata kalian waktu itu sepuluh juta,” protes Risma.


“Itu kan pinjaman awalnya. Tapi kakak kamu tak pernah membayar cicilan, jadi ditambah bunga jadi sekarang totalnya jadi 30 juta.”


“Br*ngsek. Kalian mau menipu saya, ha?!”


“Ya kalau tak segera kamu lunasi, nominalnya akan terus bertambah b*doh.”


Hana berjalan perlahan dan mencoba menenangkan Risma.


“Jam ini harganya ratusan juta,” ujar Hana sambil mengamati jam yang tengah ia pegang.


“Biar kami cek dulu. Jaman sekarang banyak sekali produk tiruan hanya untuk memuaskan dahaga kalian para orang miskin yang ingin bergaya.”


Dalam hati Risma mendadak cemas. Bagaimana kalau ternyata itu jam palsu. Bukannya jadi solusi malah hanya menambah masalah baru kalau begini.


“Berikan saya tanda pelunasan hutang dulu,” kekeh Hana yang masih menggenggam erat jam di tangannya.


“Tidak bisa. Kami harus mengeceknya dulu,” penagih hutang ini sepertinya juga tak mau ambil resiko.


“Kalau tidak bisa ya sudah, sekarang lebih baik kita jual sama-sama, dan nanti akan saya bayarkan sesuai jumlah yang kalian minta,” putus Hana.


“Kami tidak ada waktu untuk meladeni permainan kamu. Kami butuh jam itu sekarang, kalau tidak hutang Deni akan terus bertambah,” ancam pria ini.


“Ya sudah kalau kalian mau ini, berikan kami bukti pelunasan hutang sekarang.”


Dua pria kekar ini nampak saling beradu tatap. “Kami tak membawanya sekarang. Karena saat disini biasanya kami belum tentu mendapat uang.”


“Terus kalian maunya apa?” tantang Hana.


“Hana, jangan main-main sama mereka,” bisik Risma yang mulai tak bisa mengendalikan kecemasannya.


“Ma, kamu tenang ya,” ujar Hana sekali lagi.


Risma hanya mendesah. Bukan hanya ia mengkhawatirkan tindakan Hana, tapi juga kesal karena Hana memanggilnya Ma.


“Sekarang kalian ikut kami,” ajak penagih hutang kepada Hana dan Risma.


“Nggak mau, minta saja salah seorang teman kelian untuk mengantarkan ke sini, atau salah satu dari kalian untuk pergi mengambil,” ujar Risma yang berlagak angkuh meski nyatanya ia sedang gemetar.

__ADS_1


“Kamu jangan mempermainkan kami!” Nada pria ini kembali tinggi.


“Kalian mau dapat uang nggak?” ancam Risma tak mau kalah.


Akhirnya seorang dari dua pria itu keluar, ia nampak menghubungi seseorang dengan ponselnya. Sementara yang satunya menunggu di dalam ruang kost bersama Risma dan Hana.


“Han, itu gimana?” tanya Risma yang masih menyangsikan ucapan Hana tadi.


"Itu apa?" tanya Hana tak mengerti.


“Itu jam kamu," ujar Risma sambil menunjuk jam di tangan Hana.


“Kenapa jamnya?” tanya Hana dengan mengangkat tangannya.


“Kalau ketahuan bohong kita bisa mati,” lirih Risma penuh dengan cemas.


“Aku nggak bohong. Aku bakal kasih ini buat bayar lunas hutang kakak kamu,” ujar Hana yakin.


“Ssshhh, bukan gitu. Itu jam palsu kan, kalau ketahuan gimana?”


Hana tersenyum kecil. “Tenang saja. Ini asli kok. Aku jamin.”


“Han…”


“Udah kamu tenang aja.”


“Bisik-bisik apa kalian, mau kabur?” bentak seorang pria yang bertugas menjaga Hana dan Risma.


“Yeeyyy, enak aja,” kesal Risma.


Setelah pria itu tak menatapnya lagi, kini Risma kembali menyenggol bahu Hana. “Jadi itu beneran asli, kamu yakin?”


“Yakin Ma. Aku…” Hana tak sanggup melanjutkan ucapannya. Ia ingat betul saat ia dan Andre sedang jalan-jalan dan Ia sendiri yang memilih jam itu untuk Andre. Andre hampir selalu mengenakan jam tangan ini di setiap kesempatan, termasuk sesaat sebelum Hana memutuskan untuk pergi.


“Sekarang mana jamnya. Kami harus memeriksanya terlebih dahulu.”


Suara pria ini berhasil membuyarkan lamunan Hana.


“Tunggu.”


Risma menahan tangan Hana saat wanita ini hendak menyerahkan jam yang sejak tadi ada di genggamannya.


“Apa lagi?" ujar pria itu dengan kesalnya.


"Saya butuh saksi. Ijinkan saya keluar untuk menemukan beberapa orang saksi,” pinta Risma.


“Kamu mau melarikan diri?” tuduh pria ini.


“Tenang, Hana dan jamnya akan di sini. Dan ingat, jangan macam-macam sama dia,” jelas RIsma.


“Han, nggak apa-apa kan aku tinggal sebentar?”


Hana mengangguk dan Risma segera bergegas keluar untuk menemukan penghuni kosan yang tak sedang bepergian saat ini.


Saat baru saja melewati pintu, ada perasaan tak tenang di hati Risma. Tentang bagaimana Hana bisa punya jam semahal itu. Apakah dia mencuri, atau tak sengaja menemukan di jalan. Atau jangan-jangan jam itu palsu. Kalau sampai palsu mampuslah dia.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2