
HAPPY READING
Adzan subuh saja belum berkumandang, namun kini Andre sudah tiba di kediaman Restu Andika bersama Hana dengan membawa martabak manis yang baru saja dibuatnya. Hana tak begitu terkejut melihat kenampakan rumah Dika karena ini terhitung sangat sederhana untuk ukuran konglomerat sekaliber bos kekasihnya.
“Sudah dibukakan pintu tuh. Kenapa kita tak masuk saja,” ujar Hana kala melihat Andre yang tak bergerak dari tempatnya.
“Aku tak berniat untuk mengantarkan ini ke dalam. Biarkan mereka yang mengambil keluar.” Ujar Andre dengan cueknya.
Hana meraih lengan kekasihnya. “Ya jangan gitu lah….”
Andre menahan tangan Hana saat wanita cantik ini hendak melepas seatbelt.
“Mau kemana sih?” tanyanya tak suka.
“Aku mau ke dalam Sayang...” jawab Hana dengan sabar.
“Nggak usah Hana. Aku tak berniat stay di sini menunggu pagi. Aku harus pulang karena jika kita di sini, Dika pasti tak kekurangan bahan untuk segera memberiku pekerjaan," ujar Andre menjelaskan alasan ketidak mauannya turun dan singgah di rumah bosnya ini.
“Nggak akan. Percaya deh…” bujuk Hana.
“Aku kenal Dika lebih lama dari kamu mengenal mereka Hana…”
Sementara mereka masih berdebat, muncullah seorang pria berbadan tinggi besar mengenakan piyama berwarna hitam yang tak mengurangi wibawanya meski hanya tampil apa adanya. Ia berjalan dengan tergesa menghampiri mobil Andre dan menundukkan badan menunggu kaca dibuka dari dalam.
Dan Andre yang berada di dalam pun segera menurunkan kaca mobilnya membuat wajah kesalnya langsung tampak tanpa bisa di tata.
“Alasan apa yang harus aku berikan pada Rina karena tak bisa memenuhi keinginannya?” todong Dika saat ia melihat wajah kesal sekertarisnya.
“Nih…” Tanpa banyak kata, Andre menyerahkan bungkusan besar yang ia bawa kepada bosnya ini.
“Ini apa?” tanya Dika sembari menerima bungkusan itu meski ia tak tahu isinya.
“Martabak manis kan?” ujar Andre setelah kembali menarik tangannya.
“Woahh… kamu dapat. Hebat. Daerah mana yang masih jual beginian.” Dika takjub dengan kemampuan dan kegigihan Andre. Tak salah memang ia bisa mengandalkannya selama ini.
“Ini tak dijual di sembarang tempat. Aku saja masih belum ikhlas menyerahkan secara-cuma-cuma kepadamu.”
Dika mengintip bungkusan itu dengan sumringah. “Berapapun harganya, kamu tinggal sebutkan saja…” ujar Dika dengan sombongnya.
“Tck… Aku mau pulang. Mataku ini sama seklai belum mendapat kesempatan untuk terpejam.”
“Nggak mau mampir dulu?” tawar Dika.
Andre menggeleng. “Hana. Kamu yang nyetir ya…” ujarnya pada Hana yang sama sekali tak bersuara di sampingnya.
__ADS_1
Ucapan Andre ini langsung membuat Dika menundukkan lagi badannya. “Astaga… kalian?!” kagetnya sambil menunjuk Hana yang baru saja ia sadari keberadaannya.
Hana hanya tersenyum dan mengangguk hormat sebagai wujud sapaan.
Dika kembali menegakkan badan setelah sempat menjawab senyum Hana. “Sudah tinggal bareng lagi?” Sarkas Dika pada sekertarisnya.
“Hana yang membuatkan martabak itu…” ujar Andre menanggapi. Ia tak mungkin bilang tidak karena nyatanya mereka kembali tinggal di rumah yang sama.
“Oh, aku kira…”
Andre tak menanggapi. Ia dengan santai mendorong pintu dan keluar dari tempatnya. Ia kemudian masuk dari samping karena Hana sudah bergeser dan mengambil alih kursi kemudi.
“Kita balik,” ujar Andre pada Dika yang masih berdiri tak jauh dari mereka.
“Kita permisi…” lanjut Hana sebelum menaikkan kaca mobil di sampingnya.
“Terimakasih banyak…”
Sekilas Dika melihat Andre menggerakkan tangan sebelum mobil berwarna putih itu melesat meninggalkan pekarangan rumahnya.
Dengan hati gembira, Dika berjalan masuk dan memberikan martabak manis sesuai yang Rina minta.
“Sayang…”
“Enngggg….” Jawab Rina yang masih bermalas-malasan di bawah selimut tebalnya.
Rina membalik tubuhnya untuk melihat suaminya dan muncul dengan suara riang. “Itu apa?” tanya Rina kemudian.
“Ini martabak manis. Kamu tadi minta ini kan?”
Rina menggeleng.
“Apa?! Kamu jangan bercanda deh. Jelas-jelas kamu tadi minta martabak manis ini. Masa kamu sudah lupa?” protes Dika karena merasa telah bersusah payah mendapatkan ini untuk istrinya. Lebih tepatnya membuat Andre dan Hana bersusah payah demi menjalankan perintahnya.
“Iya. Aku memang pengen martabak manis. Tapi aku nggak cuma mau makan tapi aku mau lihat cara bikinnya juga.”
Dika membulatkan mata dengan menganga tak percaya. “Ini dijamin bersih kok sayang…” ujarnya karena menganggap Rina meragukan kehigienisan proses pembuatan makanan yang ia minta.
“Nggak gitu. Tapi aku pengen lihat cara bikinnya,” kekeh Rina.
Dika masih terpaku tak percaya. Istrinya ini benar-benar ahli menjailinya.
“Kalau aku cuma pengen makan, aku nggak perlu bangunin kamu sayang. Aku bisa panggil Lili untuk membawakanku ke sini…”
Dika mengacak rambutnya dan tepat saat itu juga adzan subuh berkumandang.
__ADS_1
“Mau kemana?” tanya Rina saat melihat suaminya balik badan.
“Itu adzan subuh Rina. Aku mau sholat subuh di masjid sekalian cari inspirasi siapa yang bisa aku datangkan untuk mendemokan cara membuat martabak yang kamu inginkan.”
“Oh…” Rina perlahan membenahi posisinya. Ia harus duduk barang sejenak sebelum memutuskan untuk bangun dan mengambil wudhu untuk melaksanakan kewajiban mereka.
Sebenarnya Dika saja menghubungi Andre dan Hana untuk kembali ke tempatnya. Namun ia tak enak juga karena kelihatan sekali jika sekertarisnya tadi sangat lelah dengan wajah pucat dan mata memerah. Ia tak yakin dengan apa yang telah terjadi pada Andre dan Hana sebelumnya, namun ia hanya berusaha positif thinking dan yakin jika kedua insan ini masih punya logika yang menjaga langkah mereka.
***
“Hana belum datang?” tanya Haning pada Risma dan Eka. Pasalnya sekarang Anin pun harus ijin karena ia tengah pulang kampung untuk mengambil berkas sebagai syarat masuk ke Surya Group.
“Belum Mbak,” jawab Risma yang nampak sibuk dengan Eka.
Haning berdiri tepat di hadapan Risma, membuat wanita ini jadi terganggu pekerjaannya. Haning yang sadar justru dengan sengaja melipat tangan di depan dada, untuk mengambil alih atensi rekan kerjanya ini. “Kamu terima gitu aja Ris saat Hana yang notabene adalah teman kamu dan punya koneksi dengan Surya Group, tapi justru Anin yang ia pilih untuk bisa bergabung dalam perusahaan ini?”
Risma menghela nafas. “Terima saja Mbak. Toh Hana pun bukan menjadi kandidat yang terpilih meski kita tahu dia yang paling punya kemampuan,” jelas Risma.
“Kalau Hana mah tinggal bilang saja kalau pengen masuk. Apa lagi dia dekat dengan sekertaris utama perusahaan itu. Atau jangan-jangan…” Haning membungkam mulutnya yang terbuka lebar bersama mata yang turut membulat sempurna. Dan perlahan mata itu menyempit hingga nampak sipit. “Jangan-jangan Hana itu simpanannya pak Andre makanya tadi malam mereka terlihat cuek satu sama lain tidak seperti beberapa saat yang lalu di toko ini.” Haning mulus sekali dalam menyampaikan praduganya.
“Entah lah Mbak. Membicarakan Hana tak akan membuat pekerjaan kita selesai seketika.” Risma sedikit bergeser untuk menghindari Haning yang sengaja mengganggu pekerjaannya.
Setelah selesai dengan urusan sapu, Risma beralih sibuk dengan setumpuk pakaian yang telah ia packing. Ia dan Eka baru saja menyelesaikan pesanan online yang baru masuk ke toko mereka karena sebentar lagi jadwal kurir untuk mengambilnya.
“Itu mobil mewah siapa lagi?” tanya Eka kala melihat mobil mewah yang berhenti di depan tokonya.
Haning langsung menengok. Ia kemudian berjalan menghampiri Eka untuk dapat melihat dengan jelas mobil yang dimaksud rekannya ini. “Kalau sampai itu Hana yang diantar oleh pak Andre, itu sih fix Hana wanita simpanan.”
Eka menatap Haning dalam diam dan perlahankepalanya bergerak menciptakan anggukan. Diam-diam Eka mulai goyah dan menyetujui tuduhan Haning. Karena rasanya semuanya benar-benar masuk akal dengan apa yang terjadi pada Hana.
“Nah kan, beneran Hana…” Sambut Haning dengan reaksi Eka.
“Iya Mbak…”
Haning tersenyum menang saat merasa Eka mulai sepemikiran dengannya. Dari jok depan mobil itu memang muncul Hana dengan warna pakaian yang senada dengan teman-teman tokonya.
Di saat yang sama muncul Nuke yang turut berhenti di dekat Hana.
“Mampus kamu Hana. Emang enak ke gap sama mbak Nuke, he he he,” ujar Haning yang dibalas anggukan oleh Eka.
Tapi setelahnya bukan Andre yang muncul tapi seorang wanita berpakaian gelap yang nampak membuka pintu untuk satu lagi wanita yang sangat cantik dengan tubuh sedikit berisi.
“Loh kok perempuan…” gumam Haning kecewa.
Eka mendengus dan meninggalkan Haning yang nempak kecewa karena sepertinya yang terjadi tak sesuai prediksinya.
__ADS_1
Bersambung…