Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Tak Bisa Ditahan


__ADS_3

HAPPY READING


“Pa, tanpa restu pun mama yakin mereka akan tetap melakukan pernikahan Pa…”


“Ya sudah. Biarkan mereka menikah.”


“Tapi masa iya Andre menikah tanpa kita.”


“Andre pasti juga sudah bisa mencukupi semua kebutuhannya.”


“Tck, bukan masalah biasa tapi restu Pa, restu. Restu kita sebagai orang tua. Masa iya anak tunggal kita mau menikah kita tak sedikit pun turut andil membuatnya bahagia.”


“Jaman sekarang restu itu tak lagi penting Ma. Kalau memang restu itu penting, kenapa mereka masih tinggal bersama padahal sudah ada janin yang tak berhasil mereka pertahankan.”


Heni sedikit menyesal mengingat hal ini. Dulu mereka yang serba kekurangan saja bisa membuat buah cintanya bertahan dan tumbuh dewasa menjadi pria tangguh seperti Andre sekarang.


“Apa Papa memang mau karena kita tak lekas memberi restu dan akhirnya mereka harus menikah setelah Hana hamil seperti mama dulu? Papa memang mau anak kita mengulang kisah kelam kita?”


Edo melepas kacamatanya dan menyingkirkan semua pekerjaannya.


“Papa sangat tidak mau hal itu terjadi Ma, makanya Papa menegaskan tak pernah suka dengan pernikahan yang tak dipirkirkan dengan matang. Anak bisa dibesarkan tapi menikah bukan hanya masalah memberi status pada kehidupan yang lahir ke dunia.”


“Iya. Logika papa benar. Tapi..., tapi bukan gini Pa caranya.”


“Terus harus bagaimana? Dicegah tidak bisa, dinasehati tak mengerti, tapi Andre dan Hana bukan pasangan yang ditakdirkan untuk bersatu di masa depan.”


“Kenapa Papa jadi gini, bukankah sebelumnya Papa selalu menasehati Mama untuk mencoba sedikit saja menerima Hana sebelum memutuskan tidak suka.” Heni berusaha mengingatkan apa yang suaminya pernah katakan. Ia masih tak mengerti kenapa tiba-tiba suaminya berubah seperti ini.


Edo menghela nafas. “Semua jadi berbeda setelah tahu Hana adalah anak Galih Rahardja.” Edo akhirnya mengungkap alasannya.


“Memangnya kenapa dengan Galih Rahardja. Bukankan dia pengusaha besar yang selama ini bersaing dengan Surya?” tanya Heni yang semalam sempat cari tahu tentang perusahaan ini.


“Tidak sesederhana itu Ma.”


“Terus seperti apa?”


“Galih itu…” Edo memijat pelipisnya. “Mama nggak akan paham,” lanjut Edo yang merasa jika Heni dengan kapasitasnya tidak akan sampai jika ia ingin menjelaskannya hingga mengerti.


“Yang jelas akan banyak masalah yang menghadang keduanya jika nanti mereka bersama. Dalam pekerjaan mereka dituntut menjadi orang lain yang tak boleh saling membocorkan rahasia perusahaan, namun di satu sisi mereka adalah pasangan. Apa itu tidak sulit menurut Mama?”


Edo mencoba memberi ilustrasi sederhana sehingga istrinya dapat sedikit paham tentang alasan ketidak setujuan Edo dengan wanita pilihan anaknya.


“Dan tidak menutup kemungkinan mereka akan dipertemukan dalam persaingan bisnis. Kira-kira bagaimana Andre dan Hana harus menentukan sikap saat keduanya harus berada di jalur yang berbeda dengan pasangannya.”


Heni menghela nafas dan mendaratkan pantat di kursi yang berseberangan dengan tempat suaminya.


“Padahal aku baru saja sedikit menyukai Hana. Dia cantik, sangat cantik. Kulitnya bagus badannya bagus, aku ingin tahu bagaimana cara merawatnya padahal ia sibuk bekerja. Selain itu aku juga baru tahu kalau dia juga bisa masak. Aku bahkan sudah membayangkan saat sesekali kita masak bersama-sama untuk kamu dan Andre sekali waktu.”

__ADS_1


Edo paham Heni sedang membujuknya. Tapi situasi ini benar-benar tak mudah untuk dijalani.


“Masih banyak wanita cantik di luar sana yang juga cocok dengan anak kita.”


Heni memijat pelipisnya yang terasa pening. “Tapi bagaimana kita menjauhkan mereka? Andre bukan anak kecil yang bisa dikurung Pa…”


“Ya biarkan saja. Biarkan mereka menikah kalau mau menikah. Memangnya Andre bisa ditahan kalau sudah punya keinginan?”


Edo memang sibuk, tapi ia sangat memperhatikan istri dan anak tunggalnya.


Andre sejak kecil memang tak pernah punya banyak keinginan karena Edo dan Heni tak pernah mengabulkan keinginannya dengan mudah jika tanpa alasan yang jelas. Namun sekali Andre mengungkapkan kemauan, maka tak ada yang bisa menghentikannya selain Tuhan.


“Pernikahan hanya indah di awal. Akan datang berbagai masalah yang tak akan tuntas tanpa ada yang mau mengalah. Andre dan Hana terlalu tangguh untuk menjadi pasangan. Semua dominan dan tak ada yang bergantung dengan pasangan. Saat ada masalah, mereka cenderung saling bertahan tanpa ada yang bisa mengalah. Pasangan yang semacam ini cenderung rentan untuk berpisah Jika saat itu tiba, Andre pasti kembali pada kita.”


Heni menghela nafas dengan pikiran suaminya.


“Jadi ngeri...”


“Ngeri kenapa?” tanya Edo.


“Ya masa anak kita jadi duda.”


“Tak masalah. Dengan semua yang Andre miliki mau jadi duda pun dia akan tetap banyak diminati.”


“Tck. Papa mah…”


Tak berlebihan memang jika Edo punya keyakinan seperti ini. Andre masih muda, tampan, kaya raya, mempunyai fisik yang prima, apa lagi. Semua kriteria untuk menjadi suami seakan lengkap ia miliki.


Kembali Heni menghela nafas. “Perlukah kita menemui mereka dan bilang kita sudah mengijinkan mereka menikah?”


“Nggak usah. Kita begini aja…”


“Kalau mereka nggak bisa nahan dan Hana hamil lagi gimana?”


“Ya sudah, biar begitu dia tetap cucu kita...”


“Duh... pusing deh. Mama ngikut gimana Papa aja…”


Edo mengenakan lagi kacamatanya setelah sebelumnya ijin pada Heni untuk melanjutkan pekerjaannya. Heni sendiri beralih ke sofa. Ia yang semula duduk di kursi yang berada di depan meja kerja suaminya kini pergi untuk memberi ruang Edo untuk bekerja.


“Ini apa Pa?” tanya Heni saat menemukan sebuah undangan dengan desain mewah tergeletak di depannya.


“Undangan lauching produk baru perusahaan kita. Kamu ikut kan?”


Heni membuka undangan tersebut perlahan untuk melihat tanggal pelaksanaan. Edo sudah tahu jawaban istrinya sehingga tanpa Heni katakan kehadiran pun sudah diputuskan.


***

__ADS_1


“Sendiri kamu Han?” tanya Indah begitu Hana muncul di kamarnya.


“Sama Kak Rio…”


“Kok tumben. Terus Andre mana?” tanya Indah lagi.


“Nggak ada tadi, orang tiba-tiba Papa nyuruh aku ngajakin Hana sekalian pulang pas tahu aku mau ke kantor dia.” Yang baru menjawab adalah Rio. Ia sebelumnya menengok Rida dan Rangga yang sedang bermain di taman belakang sebelum melihat anak ketiganya yang baru beberapa hari Indah lahirkan


“Andre nggak ke kantor ya?” tanya Indah yang masih penasaran. Padahal hari sebelumnya saja sejoli ini seakan tak bisa terpisahkan.


“Enggak Kak.”


“Kenapa? bisa nggak masuk juga dia?”


Kondisi hubungannya dengan Andre sedang tak baik, haruskah Indah dan Rio mengetahuinya.


“Kalian kok nggak langsung makan sih, Mama sudah siapin lo…”


Tiba-tiba Mustika muncul di kamar Indah untuk menyusul Rio dan Hana yang baru tiba.


“Kalian pokoknya sekarang harus makan. Dan ingat, kalau belum bersih bersih jangan dekat-dekat sama cucu Mama…”


Mustika segera mendorong Rio dan Hana agar mereka terlebih dahulu makan dan membersihkan diri sebelum bermain bersama para cucu di rumah ini.


“Kamu ada masalah sama Andre?” tanya Rio yang kini sedang makan berdua bersama adiknya.


Hana hanya menanggapi dengan senyuman dan gelengan kepala.


“Jangan bohong Han. Kamu semalam juga pulang sama papa kan?”


“Papa cerita ya.”


“Enggak. Tapi benar kan?”


Hana menatap sejenak pria tampan berperawakan sedang yang sedang bersamanya di meja makan.


“Melihat Andre yang bahkan bisa berpikiran panjang, tak mungkin kan masalahnya hanya karena kurang jatah malam.” Goda Andre kala Hana masih susah ia ajak bicara.


“Kak…” lirih Hana yang langsung memerah pipinya.


Rio tertawa kecil dengan reaksi adiknya. “Kenapa. Ayo bilang…” desaknya sekai lagi.


“Orang tua Andre sepertinya tak suka Hana berhubungan dengan anaknya,” jujur Hana akhirnya.


“Kenapa?”


Hana menghela nafas. “Sepertinya karena Hana masih ada hubungan dengan Rahardja.”

__ADS_1


Rio meletakkan alat makannya. “Sudah berpuluh tahun, kenapa masih saja seperti ini…”


Bersambung…


__ADS_2