
HAPPY READING
“Kamu mau ngomong apa?” tanya Andre saat sudah berdua dengan Hana di kamar mereka.
Alih-alih menjawab, Hana justru meraih tangan Andre dan menariknya.
“Aku belum mandi Hana.” Meskipun dari nada bicaranya Andre seperti menolak, namun kenyataannya Andre pasrah saja saat Hana terus menarik tubuhnya untuk berbaring bersama dengannya.
“Aku kalau mau kemana gitu boleh nggak?” tanya Hana sambil memainkan telunjuknya di dada bidang Andre.
Andre meraih dagu Hana, membawa wajah wanita ini agar mendekat kepadanya. “Kamu mau kemana, hmm?”
Andre yang semula enggan berbaring kini justru mencari posisi yangan nyaman untuknya. Dan akhirnya mereka berada pada posisi favoritnya, yaitu Andre yang menyelipkan lengannya di bawah kepala Hana dan Hana menjadikan lengan Andre sebagai bantalan kesukaannya.
“Aku mau ke Rina.” Hana mendongak untuk menatap Andre. “Apa boleh?” lanjutnya.
“Ngapain?”
Hana hendak bangkit namun Andre manahannya. “Bentar ya…”
Akhirnya Andre membiarkan Hana bangun meninggalkan lengannya yang semula wanita ini jadikan bantal. “Itu apa?” tanyanya saat melihat ada yang Hana pegang di sebelah tangannya.
Hana mengangkat barang itu agar Andre dapat lebih jelas melihatnya. Ia kembali ke posisi semula dan menunjukkan apa yang ia dapatkan dari Rina siang tadi.
“Ini kiriman dari Rina. Dia memintaku menghubunginya saat aku menyelesaikan instalasi ponsel ini,” jelas Hana.
“Dan Rina sudah kamu hubungi?” tanya Andre sambil memiringkan tubuhnya menghadap Hana.
Hana menggeleng sebagai jawaban. “Aku masih bingung. Kalau ini benar-benar Rina aku akan senang sekali, tapi melihat apa yang sudah terjadi diantara kami sebelumnya, sepertinya tak mungkin.” Hana menjeda ucapannya. “Namun jika bukan Rina, aku takut ini hanya akal-akalan papa untuk menemukanku dan menyeretku kembali kepadanya.”
Andre memainkan terlunjuknya di wajah Hana. Ia bergerak dari dahi, perlahan turun ke bawah, dan terakhir berhenti di pucuk hidung mancung Hana.
“Kok malah diem sih?” kesal Hana karena Andre sama sekali tak memberikan reaksi apa-apa.
Andre mengangkat tangannya dan kembali merebahkan tubuhnya. “Sepertinya memang Rina.”
“Kamu tahu darimana?” tanya Hana penasaran.
__ADS_1
“Ya tahu saja, dan aku yakin sepertinya memang dia.” Andre memang sengaja membuat Hana penasaran. Karena ia sangat suka polah Hana sangat keingin tahuannya terhadap sesuatu begitu besar.
“Kamu tahu dari mana??” Hana merengek karena Andre tak kunjung mau memberikan penjelasan padanya.
Bukannya menjawab, Andre justru bangkit dan menarik lengannya.
“Iiiihhhh, nggak boleh pergiiii…” Hana merengek lagi sambil memegangi lengan Andre agar tak pergi sebelum memberikan penjelasan padanya.
“Aku mandi dulu…”
“Nggak bo leh,” kekeh Hana sambil memeri penekanan pada setiap kata yang ia ucapkan.
Andre menghela nafas. Akhirnya ia menyerah dan kembali menjatuhkan tubuhnya. Andre menopang berat badan dengan kedua lengannya agar tak menindih Hana.
“Terus kamu maunya gimana? Bau asem nih, aku mau mandi, eh…”
Tanpa di duga Hana justru menarik Andre dan kembali membaringkannya. Jika ia tadi menjadikan lengan pria ini bantal untuknya, maka sekarang ia menyembunyikan wajahnya di ketiak pria yang telah berhasil menyandera segenap jiwa dan raganya.
“Dih, kamu ngapain. Nggak bau apa?” heran Andre melihat kelakuan Hana.
Hana tak menjawab. Ia justru bertahan di posisinya dan menggeleng di sana.
Andre bernafas lega saat Hana tiba-tiba melepaskan tubuhnya, namun sayang tidak dengan cekalan tangannya. “Apa lagi?”
“Sekarang ke tempat Rina ya. Aku mau ngucapin terimakasih sekaligus minta maaf secara langsung.”
“Kan waktu itu sudah…”
“Aku ngerasa belum tenang kalau belum minta maaf dengan baik. Ya walaupun nggak akan merubah apa pun, at least aku tenang dan nggak ngerasa dihantuin lagi.”
Andre menghela nafas. “Hana, kamu masih harus bedrest,” kata Andre memperingatkan.
“Ndre, kalau nggak segera minta maaf aku bisa stress. Bukan kah seorang ibu hamil sebisa mungkin harus menghindari stress?”
Andre terlebih dahulu duduk lalu ia membimbing Hana untuk melakukannya juga kemudian. “Tapi kondisi kamu nggak memungkinkan sayang?”
“Apanya yang nggak memungkinkan? Kita naik mobil kan, bukan jalan kaki. Terus dari mana datangnya rasa capek itu.”
__ADS_1
“Tapi kan jauh. Dan aku tak punya mobil yang tak bergetar saat berjalan.”
“Ndree. Masih satu kota kan, bukan di antartika. Aku pasti tahan lah. Lagian aku bakal duduk tenang bukan mau salto atau lompat indah,” ujar Hana dengan nada dibuat sabar meskipun sebenarnya ia sangat kesal.
“Hannaaa…” geram Andre.
Andre bangkit dari duduknya. Ia berkacak pinggang dan menatap Hana tak percaya. Ia sempat melempar pandangannya ke sembarang arah sebelum kembali menatap Hana dengan tatapan lelah.
“Andre please…” Hana belummenyerah. Ia kembali memohon dengan sungguh-sungguh. Bahkan ia sampai menangkupkan kedua tangannya agar Andre mengabulkan permintaannya.
Andre membanting tubuh lelahnya di samping Hana. Hari ini kesabarannya benar-benar diuji. Kondisi Hana belum stabil, ditambah lagi Dika yang ikutan labil selama dikantor tadi membuat kepala Andre benar-benar pening karena pekerjaan yang hampir semua akhirnya dibebankan padanya. Tiba di rumah ia ingin istirahat, ternyata ia disambut dengan kondisi Hana yang tak mau makan sejak tadi. Masalah makan belum teratasi, sekarang ia sudah ada permintaan lagi yang dengan kondisi yang ada sepertinya akan sulit bagi Andre untuk memenuhinya.
Sehingga, tadi dia yang ingin segera mandi justru kini tengah
berbaring dengan mata terpejam dan angan sudah terbang ke alam mimpi.
“Andre, Andre, Andree…” Hana terus memanggil-manggil Andre namun yang dipanggil sedikit pun tak menjawab panggilannya.
Hana memegang lengan Andre. “Anddreeeeeee…” panggilnya sekali lagi sambil mengguncang-guncangkan tubuh pria ini. Namun sepertinya Andre begitu lelah sehingga sangat sulit baginya untuk membuka mata dan memulihkan kesadarannya.
Meskipun kesal, tapi Hana kasihan juga. Pasti Andre sangat lelah seharian bekerja. Ia pernah menjadi bawahan Andre, jadi ia tahu benar bagaimana mantan atasannya ini saat bekerja. Ia sangat total dan berdedikasi.
Hana memandangi wajah Andre yang tengah terlelap. “Saat kamu sedang bekerja kamu sangat dingin namun mempesona. Jika saja aku berani sejak dulu, mungkin sudah lama perasaanku ini aku ungkapkan.”
Hana menyentuh wajah Andre. Alisnya tertaut dahinya berkerut. Sepertinya Andre tidur dengan membawa banyak beban pikiran. Hana mengusap perlahan alis Andre ke arah berlawanan. Berharap jika kerutan itu hilang, maka beban Andre di alam bawah sadarnya juga akan berkurang.
Perlahan Hana bangkit dan ingin segera menghubungi Rina. Ia tahu Andre tak akan mengabulkan permintaannya, sehingga
kali ini ia harus mengalah dan coba mengerti posisinya.
Saat ponsel yang tadi Rina kirimkan sudah di tangan, Hana baru sadar jika ternyata ia belum sempat menyimpan nomor ponsel yang tadi Rina ikut sertakan di dalam paketnya. Sehingga ia bangkit dan ingin segera mencari bungkus paket tadi yang di dalamnya ada note berisi nomor ponsel Rina.
Namun tiba-tiba ia merasa sebelah tangannya di tahan.
“Andre…” Cepat-cepat Hana menutup mulutnya yang terbuka karena terkejut. Ya ampun, jangan-jangan Andre dengar tadi aku ngomong apa.
“Sekarang aku pengen peluk kamu, kalau lelahku sudah hilang, kita lihat apa permintaanmu mungkin untuk dikabulkan.”
__ADS_1
Andre menarik tubuh Hana dengan lembut. Hana pasrah saja sambil menggigit bibirnya. Ia malu,tapi senag di saat yang sama.
Bersambung…