
...Yang mau double up cung, ☝️☝️☝️☝️...
^^^Hai hai. Wong Galek menyapa.^^^
^^^Tapi di Trenggalek sekarang sudah jarang gaplek, 😝😝😝^^^
^^^Ada yang tahu gaplek?^^^
^^^Oke, oke.^^^
^^^Rio ngajak main di part ini.^^^
^^^Permainan macam apa kah itu?^^^
^^^Yuk cari tahu.^^^
^^^Happy reading.^^^
"Rio..."
Gumam Dika begitu mendapati sosok Rio. Dia langsung turun dan menghampirinya.
Rio sedikit terkejut namun kemudian ia merentangkan tangan seolah menyambut Dika. "Welcome Tuan Andika Putra Surya. Ada apa gerangan sampai sudi datang menemui kami, hahahaha...!"
"Cih..." Dika tertawa remeh. "Jadi seperti ini mental penerus Rahardja."
Mendengar nama belakangnya disebut, emosi Rio langsung tersulut. "Jangan kurang ajar kamu anak kecil."
"Sudah tahu hanya menghadapi anak kecil, kenapa kamu harus main kotor." Kembali Dika menatap remeh.
Rio berusaha meredam emosi saat melihat sosok yang berdiri tak jauh dari mobil Dika. "Hai Rina, bagaimana kabar kamu? Ternyata kamu diam-diam pintar mengambil peluang."
Rina hanya diam. Sejujurnya ia masih sedikit takut jika harus berhubungan dengan Rio.
"Apa maksud kamu?!" tanya Dika yang tak paham maksud Rio.
"Ck ck ck. Ternyata selain pandai mencari peluang, kamu pandai juga bersandiwara. Dasar jal**g!"
Dika mencengkeram krah baju Rio. "Jaga mulut kamu."
Rio tertawa remeh. "Memang kamu pikir untuk apa dia terus ngedeketin kamu kalau bukan untuk harta kamu, dan itu semua yang ngasih tahu, aku." Rio sengaja menekan ujung kalimatnya.
Entah mengapa ada kecewa yang meyusup di hati Dika, namun ia teringat perihal adiknya yang belum jelas keberadaannya. Sekilas ia melirik Rina, tampak sekali gadis itu ketakutan.
__ADS_1
"Aku cuma mau tanya, di mana Dian dan Lusi."
"Untuk apa kamu nanyain mereka, apa kamu sudah puas dan ingin menghempaskan dia..." Rio menunjuk Rina dengan matanya.
Dika mencoba bersabar. Ia rasa saat ini yang terpenting adalah menemukan adiknya. Ia yakin kalau Rista sekarang sedang bersama Lusi dan Dian. "Aku cuma mau bawa adikku pulang?"
"Adik? Apa kamu yakin di adik kamu?"
Apa lagi maksudnya ini ya Tuhan. Dika berusaha meredam emosinya. Sabar Dika sabar....
"Restu Andika Putra Surya. Ternyata kamu masih begitu polos menghadapi kehidupanmu. Jika begini, hanya menunggu hari Surya Group hanya akan menyisakan nama, hahaha...."
Dika hanya mampu mengepalkan tangannya. Ia, merasa benar-benar merasa tak punya pijakan saat ini.
Rio berjalan mendekati Dika. "Apa kamu ingin mendengar cerita?" Ia berjalan mengitari tubuh Dika perlahan. "Sepertinya menarik mengupas siapa saja orang-orang di sekitar kamu." Rio tersenyum miring saat melihat Dika mulai masuk dalam permainannya.
Di belakang dua laki-laki ini ada masing-masing satu wanita yang saling memandang dalam diam. Rina dengan tatapan takut, sedangkan Indah tak memiliki daya untuk mencegah Rio melanjutkan permainannya.
Dedi menepuk bahu Rina. "Rin, aku coba cari Rista ya..."
"Dika gimana?"
"Kamu tenang ya, sekarang kamu di sini, jangan tinggalin Dika."
Rina tersentak saat melihat Indah menghampirinya. "Mbak..."
"Kamu bisa ikut aku?" tanya Indah.
Rina menggeleng. "Aku harus sama-sama Dika."
"Rio minta kamu ikut aku." Indah meraih pergelangan tangan Rina untuk mengajaknya ikut serta.
"Nggak bisa Mbak..." Rina berusaha melepaskan cekalan Indah.
"Jangan macam-macam sama Rina." Dika yang baru saja dipersilakan duduk oleh Rio segera bangkit dan membawa Rina di sampingnya.
"Oke, aku nggak akan bahas kita. Sekarang lebih baik ngomongin bisnis."
Indah menatap cemas kekasihnya itu. Rio, aku harap kamu nggak akan bertindak di luar batas.
Dika masih diam menatap Rio. Dia masih berusaha mencerna apa yang dihadapinya kini.
Rina meraih tangan Dika dan menggenggamnya erat. Berusaha menguatkan pria muda yang dicintainya ini.
__ADS_1
"Kamu penerus tunggal Surya Group kan? Tidak kah kamu seharusnya waspada pada setiap orang yang berada di sekitar kamu, padahal jelas-jelas mereka bukan sanak famili kamu...." Rio menjeda ucapannya. Ia ingin melihat bagaimana reaksi Dika dengan pembukaan yang ia berikan. Sebuah smirk nampak di wajahnya, saat merasa Dika mulai termakan ucapannya.
"Dan apa kamu tahu berapa aset yang kamu miliki serta nominal yang dihasilkan perusahaanmu?"
Dika mengernyit.
"Ah, anak seusai kamu pasti belum paham tentang hal-hal seperti ini. Apa kamu tak ingin terlebih dahulu melimpahkan kuasamu agar kamu bisa menikmati masa muda dengan dia misalnya?"
Dika sejenak menarik nafas dengan mata terpejam. "Sebenarnya apa yang ingin kamu katakan?" tanya Dika.
Rio terkekeh. "Aku adalah pewaris tunggal Rahardja Group, dan hartaku sudah cukup banyak. Namun, aku ingin menawarkan bantuan padamu. Kita sama-sama pewaris tunggal perusahaan orang tua kita, aku ingin menawarkan bantuan untuk mengelola perusahaanmu, apa lagi perusahaan kita bergerak di bidang yang hampir sama." Rio menjeda ucapannya, ingin mendengar jika Dika memberikan reaksinya. Sekian detik ditunggu, nampaknya Dika belum ada niat untuk bersuara.
"Kamu tahu Edo kan? Dia tak punya perusahaan, jalannya perusahaanmu ada di tangannya." Kembali Rio menjeda ucapannya. Ia mencondongkan tubuhnya untuk lebih dekat dengan Dika. "Apa kamu pikir ada orang yang benar-benar tulus dan sama sekali tak mau jika ada setumpuk harta di depan matanya?"
"Kamu mau nuduh Om Edo?"
Rio terkekeh. "Tidak, aku hanya ingin kamu waspada. Bagaimanapun juga, Surya masih menjadi jajaran perusahaan besar di Indonesia, aku hanya tidak ingin kamu salah langkah dan salah dalam mempercayai orang."
"Lantas menurut kamu, siapa yang bisa aku percaya?"
Rio nampak berfikir. "Aku sudah kaya, jadi kamu bisa percaya sama aku jika kamu setuju untuk kerjasama."
Dika diam. Rina dan Indah sama sekali tak berani bersuara.
"Apa kamu bisa aku percaya?" tanya Dika dengan tatapan serius.
"Tentu, kamu nggak perlu ragu denganku. Aku nggak butuh uang kamu, aku sudah punya sendiri dengan jumlah yang tak akan habis jika kugunakan sendiri," jawab Rio dengan jumawa.
"Baiklah, aku percaya."
Rio bersorak dalam hati dan segera berusaha menetralkan wajahnya sebelum sebuah tawa kemenangan pecah. Rio segera mengulurkan tangan dengan senyum merekah. "Apa kamu sudah siap dengan sebuah kerjasama?"
"Tunggu." Dika mengacuhkan tangan Rio yang menggantung. "Kamu begitu banyak tahu tentang aku, jadi rasa-rasanya aku perlu menanyakan satu hal." Dika menghela nafas. "Orang seperti apa dokter Rudi Andika."
Sempat cemas, namun senyum itu kembali terbit di wajah Rio. Benar-benar bocah ingusan yang bodoh. Batinnya.
Di sisi lain Rina masih tak percaya dengan rentetan fakta yang baru saja ia temukan di sini.
Ya Tuhan, kenapa aku bisa tak mengerti dengan semua ini. Rio berkali-kali bilang Dika adalah tambang berlian, Dika menyandang nama Surya di belakang namanya, dan papa bekerja sebagai direktur di salah satu cabang Surya Group. Kenapa aku bisa tak curiga saat mendengar Dika magang di sana, kenapa aku bisa percaya begitu saja. Ya Tuhan. Masih pantaskah aku mendamba cinta seorang Restu Andika Putra Surya.
TBC
Telat nggak sih kalau Rina baru tahu siapa Dika sebenarnya sekarang?
__ADS_1