Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Persahabatan Tak Murni


__ADS_3

Ahahahai.


Komen kalian benar-benar membuatku bahagia.


Alhamdulillah Senja cair dan bisa kasih 3 part hari ini.


Mari saling membahagiakan.


*Big hug***. Sayang kalian semua.**


HAPPY READING


“Aku tinggal sebentar…”


Andre bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu keluar. Tak hanya sampai situ, ternyata ia juga membuka pintu dan terus berjalan. Tak begitu lama, Andre sudah  kembali dengan mambawa sebuah benda berbentuk kotak di tangannya.


Andre kembali duduk di samping Hana dan membuka kotak yang ada di tangannya.


“Kamu mau ngapain? Makanan yang aku pesenin belum kamu makan,” ujar Dian setelah tahu apa yang akan Andre lakukan.


“Aku lagi nggak pengen makan, kamu aja yang makan, katanya lapar,” sahut Andre dengan santainya.


Andre dengan cuek mulai menyalakan tembakau giling yang terselip di sela jarinya.


Dian mendengus tak suka. “Tapi aku sudah pesenin khusus buat kamu,” kekeh Dian.


“Sshhh, fuuhhh…” Andre menghembuskan asap putihnya ke udara.  “Coba sini…”


Meski sedikit tak senang, Dian menyodorkan  sepiring spaghetti yang ia pesan untuk Andre. Tak apalah Andre lebih melilih duduk di sana, yang penting ia bisa tahu kalau hanya aku yang paling bisa ngerti maunya.


“Makasih.” Andre menerima seporsi spaghetti dari Dian. Ia mengambil garpu dan menggunakannya untuk menggulung pasta berlumuran saos itu di sana. Tangan kiri Andre meraih dagu Hana membawa wajah cantik wanita ini untuk menghadap ke arahnya. Ia kemudian menyodorkan spaghetti yang baru ia gulung di sana.


Andre menatap Hana dengan wajah kaku tanpa senyum. “Buka mulut,” ujarnya dengan ekpresi yang sama.


Hana masih diam sambil melirik sekilas Dian yang nampak terkejut dengan apa yang Andre lakukan.


“Cepet buka mulut,” ulang Andre dengan nada tak terbantahkan.


Reflex Hana memundurkan wajahnya saat spaghetti itu menyentuh bibirnya.


“Kegedean Ndre,” tolaknya.

__ADS_1


“Enggak. Yang jelas lebih gede aja muat, masa…”


“Andre!” pekik Hana agar Andre tak makin sembarangan berbicara.


Andre dan Hana saling tatap dengan senyum misterius yang hanya dipahami oleh keduanya. Hana menyerah kalah saat ia memutus kontak dengan sepihak karena tak tahan beradu pandang dengan Andre lebih lama. Andre yang merasa  menang kemudian meraih kembali dagu Hana untuk menggodanya.


“Ma kan.” Andre kembali menyodorkan segulung besar spaghetti yang sejak tadi ditolak Hana.


“Nggak muat," tolak Hana sambil menggeleng cepat.


Andre terus memaksa Hana sementara Hana belum menyerah dan terus memalingkan wajah.


Brak!


Raut terkejut muncul seketika di wajah Hana saat Dian meletakkan alat makannya di meja dengan tak biasa, sementara Andre menatap cuek apa yang dilakukan sahabatnya.


“Kenapa sih harus maksa dia yang makan, kan itu memang makanan kamu,” ketus Dian karena merasa diacuhkan.


“Aku sudah kenyang tapi Hana belum karena aku tadi segera mengajaknya pergi saat ia belum menyelesaikan makannya.”


Hana tak berani bersuara. Kenapa Andre bilang begitu, padahal tadi kan dia ngajak pergi karena marah aku enggan memakan makanan yang telah ia siapkan.


“Jadi tadi kalian lagi jalan, kenapa harus bohong?!” protes Dian.


“Jadi sekarang aku yang salah, iya?”


Perlahan tangan Dian mengepal. “Kamu sudah berubah Ndre, aku kecewa sama kamu.”


Dian beralih menatap Hana yang terlihat tak nyaman. “Dan ini semua gara-gara kamu. Udah puas kamu, ha!?” suara Dian meninggi. Ia tak mampu menutupi ketidak sukaannya pada wanita yang akhir-akhir ini selalu membayangi mantan pacarnya.


“Cukup Dian. Kamu sebenarnya ada masalah apa? Kenapa kamu tiba-tiba melibatkan kami dalam ketidak senangan kamu ini?”


Dian tertawa. Jika biasanya manis kali ini terlihat begitu sadis. “Bisa ya Ndre kamu ngomong kayak gitu?”


“Kenapa tidak? Aku sedang tak membual.”


Dian benar-benar jengkel saat Andre menjawabnya dengan biasa saja. Apa perasaannya sudah tak penting lagi untuk Andre saat ini.


Dalam hati Hana merasa gelisah. Ia merasa bukan apa-apa dibanding Dian jika harus bersaing untuk dapat terlihat di mata Andre. Andre dan Dian sudah saling mengenal sejak lama. Mereka berstatus sahabat sekaligus mantan pacar, tapi jika berada ditengah keduanya seperti ini munafik kalau Hana tak menyadari kalau mereka masih menggunakan hati.


“Kamu tak pernah seperti ini Ndre. Kamu tak pernah diam saat melihatku sedih atau marah. Tapi sejak ada dia, kenapa kamu seakan tak peduli padaku lagi.”

__ADS_1


Andre tak langsung menjawab. Dia masih diam sambil sesekali menghisap sisa rokoknya.


Aku harus pergi. Aku nggak bisa terus bertahan di sini.


Hana ingin bangkit, namun Andre lebih cepat menahannya.


Kenapa?


Hana tak bersuara, namun tatapannya sarat akan sebuah tanya.


Andre meraih tangan Hana dan mengenggam erat dengan sebelah tangannya. Ia mematikan rokok dan mulai serius menatap wanita yang pernah berbagi bahagia bersamanya.


“Di, kita nggak bisa terus seperti ini. Persahabatan antara perempuan dan laki-laki itu tak akan pernah bisa murni."


"Bertahun-tahun aku ragu berhubungan dengan perempuan, hanya karena aku takut tak bisa menyandingkan dua wanita yang berstatus sebagai sahabat dan pasangan di satu waktu yang sama. Kamu sadar nggak kalau semua itu semata karena aku tak mau kehilangan waktu denganmu. Aku takut saat kamu sedih aku tak bisa menghiburmu, saat kamu marah aku tak bisa menenangkanmu, saat kecewa saat kecewa tak bisa di sampingmu.”


Dian membeku.


“Aku sakit saat kamu bersama pria lain, tapi aku harus bertahan karena tahu kamu akan membutuhkanku nanti.”


"Maafkah aku."


Andre tak bereaksi sama sekali mendengar penuturan Dian.


Hana menunduk semakin dalam. Untuk apa Andre menahanku? Apa agar aku menjadi saksi bagaimana proses penyatuan kembali cintanya dengan Dian?


“Ndre. Kamu juga tahu kan kalau aku pasti kembali padamu meskipun aku sempat pergi? Kamu tahu kan kan kalau sebenarnya cuma kamu yang aku mau selama ini.”


Dian menghela nafas. “Sekarang aku tak peduli seberapa banyak perbedaan yang menghalangi kita, akan aku lewati asalkan kita bisa kembali bersama. Aku sudah lelah mencari Ndre. Karena nyatanya cuma kamu yang aku mau selama ini.”


Hana berusaha menarik tangannya yang digenggam Andre di bawah meja. Ia tak sanggup lagi. Andre memang selalu menyiksanya, tapi hatinya berkhianat dengan menyerah padanya. Sekuat apa pun ia menolak, faktanya Andre sudah bertahta di hatinya.


Andre menatap tajam Hana yang terus berusaha melepaskan tangannya. Andre tak buta. Ia tahu Hana sudah meneteskan air matanya karena dia.


“Dian.”


Dian menatap Andre penuh harap. Ia yakin akan menang saat menyadari Hana sudah berlinang air mata dalam diamnya.


Perlahan Andre membawa tangan Hana yang sudah ia genggam ke atas meja. Ia menyatukan satu lagi tangannya untuk mengenggam tangan lembut wanita yang dalam beberapa waktu terakhir telah menemani hari-harinya.


Dian tak paham maksud Andre, sedangkan Hana sudah tidak bisa berfikir jernih lagi. Ia hanya ingin segera lari. Pergi dari sana secepatnya saat ini.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2