
*HAPPY READING*
“Sayang, jangan takut, jangan sedih. Sekarang kamu bilang sama aku, siapa yang sudah setega itu sama kamu, ya.”
Rina masih belum mau memberitahu Dika siapa yang telah berani-beraninya menyakiti istri seorang Restu Andika.
Rambut yang sebelumnya telah Dika rapikan, kini sudah berantakan lagi. Namun bukannya terlihat kacau, Dika justru makin memancarkan pesonanya.
“Bertahun-tahun cairan itu disuntikkan kepadaku, tapi sampai saat ini aku belum tahu efek seperti apa yang mungkin muncul akibatnya. Yang aku rasakan hanya badanku suka sakit kalau dia brutal sebelum penetrasi.”
“Sayang, bisa nggak sih to the point. Kamu cuma bikin pusing kalau ngomongnya aja muter-muter.” Dika mulai hilang kesabarannya. Namun Rina malah senang bukannya takut seperti yang semestinya.
Tangan Dika tak lagi memegangi istrinya. Tangan itu mengepal kuat untuk melampiaskan emosi yang membuncah di dadanya.
“Kamu yakin pengen tahu pelakunya?”
Iya lah Rin, pake nanya.
“Iya sayang, iya.”
“Tapi janji dulu jangan apa-apain dia,” mohon
Rina.
“Aku nggak janji," ujar Dika yang jelas sekali sedang emosi.
“Ya sudah, nggak jadi.”
Brak!!
Dika menggebrak meja. Ia benar-benar butuh pelampiasan untuk kekesalannya. Rina sempat berjingkat, namun keterkejutan itu tak bertahan lama.
“Iya aku janji,” putus Dika akhirnya.
“Ehm…”
Rina nyaris tertawa jika saja ia tak segera berdehem untuk menghalaunya.
__ADS_1
“Jarum yang kamu make buat nyuntikin sp**ma itu ukurannya jauh lebih besar dari jarum suntik pada umumnya,” ujar Rina dengan menahan sekuat tenaga tawa geli yang bisa menyembur kapan saja.
Dika diam. Sepertinya otak cerdas laki-laki ini sedikit melambat dari biasanya.
“Apa lagi kalau lagi proses penetrasi, kamu suka kasar dengan tempo yang tak berirama.”
Rina mulai tersenyum-senyum setelah menyelesaikan kalimat keduanya.
“Kamu tahu rasanya seperti apa?” kembali Rina memasang wajah menderita.
Dika menatap kosong kearahnya. Sepertinya Dika sedang berusaha menyambungkan kembali koneksi yang sempat putus sebelumnya.
“Sanngggaaaat nikmat, hahaha…!!!”
Rina segera melompat dari pangkuan suaminya setelah menyelesaikan kalimat ketiga. Ia tak tahu apa yang akan dilakukan Dika jika ia tak segera turun dari sana. Yang jelas badan pegal-pegal akan menjadi efek sampingnya.
Dia masih diam di atas kursi. Ia masih berusaha mencerna apa yang baru saja dikatakan sang istri, hingga membuat wanita ini tertawa girang dan berlari dengan riang.
“Astaga…?!”
Dika berlari dengan kencang. Dengan kaki panjang yang dimilikinya Dika mampu melewati 3 buah anak tangga dalam sekali lompatan saja. Belum juga habis anak tangga, dia sudan berhasil menangkap tubuh Rina. Ia segera mengangkat tubuh ramping istrinya dan membawa naik untuk kembali ke kamarnya.
Rina histeris sambil tertawa. Ia masih berusaha melepaskan diri dari gendongan suaminya. Hal ini tak luput dari pengamatan para asisten rumah tangga yang berhamburan meninggalkan pekerjaan mereka karena mendengar pekikan majikannya. Ternyata pekikan itu berasal dari nyonya rumah mereka yang sedang bercanda dengan suaminya.
“Den Restu sama Non Rina bahagia banget ya kayaknya,” ucap salah seorang di sana.
“Jelaslah bahagia. Mereka nggak akan pernah tuh punya cerita kehabisan beras atau minyak. Jadi apa yang perlu dikhawatirkan dalam hidupnya,” timpal yang satunya.
“Ya itu menurut kita, kalau menurut mereka beda lagi,” timpal Bibi yang sudah bekerja di sana sejak Dika kecil.
“Den Restu itu udah pernah hidup di mana mungkin saya saja nggak akan kuat menjalaninya. Tapi dia masih bisa bertahan, jadi nggak heran kalau dia bisa sesukses sekarang,” tambah Bibi dengan pandangan memerawang.
Bau tak sedap mampir ke indera penciuman mereka. mereka mengendus-endus untuk mencari dari mana asalnya.
“Bau apa ini?”
Tiga orang itu saling beradu pandang.
__ADS_1
“Ayam goreng!” serempak ketiganya. Tiga orang juru masak ini segera berlari ke dapur. Gara-gara melihat adegan kejar-kejaran majikannya, mereka hingga melupakan pekerjaan yang sedang mereka kerjakan.
***
Hana menggeliat dalam tidurnya. Ia masih merasa dicabik-cabik harga dirinya saat mengingat perlakuan Andre padanya. Ingin menangis, tapi ia tak ingin terlihat selemah itu di hadapan pria yang bahkan usianya lebih muda dari dia.
Hana menyembunyikan tubuhnya di balik selimut yang ia cengkeram dengan erat ujungnya.
“Aaaaaaaaaaaaaaa!!!!!” Hana berteriak sekencang-kencangnya untuk melepaskan semua sesak di dalam dadanya. Keyakinan bahwa tak akan ada orang yang mendengar jeritannya membuat ia tak segan menumpahkan tangisnya saat itu juga.
Mengapa kebahagiaan seolah enggan menyapanya. Sejak kecil ia tumbuh dengan berselimut derita. Ditolak dan dicibir, dihina dan diremehkan, hingga baru saja ia merasa sudah mampu di atas awan, ternyata hal ini hanya untuk mendorongnya untuk jatuh semakin dalam.
Ia menangis pilu meratapi nasibnya. “Kenapa hidup ini kejam sekali terhadapku. Apa salahku? Kenapa aku tidak diijinkan untuk bahagia.”
Hana terus menumpahkan tangisnya. Tanpa ia sadari ternyata ada seseorang yang mengamatinya di balik pintu.
Andre menegakkan tubuhnya. Ia tak menyangka ternyata perbuatannya bisa membuat efek seperti ini untuk Hana.
Oke, calm down Andre. Kamu nggak boleh lemah hanya karena melihat air mata seorang Hana. Berdasarkan apa yang telah terjadi sebelumnya, Hana bukanlah wanita yang sederhana pemikirannya. Bisa saja dia berpura-pura menangis hanya untuk membuatmu iba. Andre coba menegakkan kembali keyakinannya.
Andre yang semula ingin melihat kondisi Hana mengurungkan niatnya. Ia berbalik dan meninggalkan Hana seorang diri. Ia harus ke kantor karena hari ini Dika tidak bisa hadir. Sehingga ia yang menggantikan pekerjaan bosnya ini.
Andre, kamu harus fokus pada tujuanmu. Kamu tidak boleh goyah apa lagi hanya karena seorang Hana.
Andre kembali fokus pada kemudinya. Ia menyingkirkan segala hal yang berkaitan dengan Hana, dan memusatkan pikiran pada pekerjaan dan semua tanggung jawabnya.
Setelah puas menumpahkan tangisnya, Hana bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Ia ingin mengguyur tubuhnya dengan air, berharap akan membersihkan harga dirinya yang sudah dicabik-cabik oleh Andre.
Saat Hana mulai menanggalkan pakaiannya, bayangan perlakuan Andre semalam melintas dibenaknya. Ia selama ini tak pernah dekat dengan pria karena ia begitu sibuk memperjuangkan hidupnya. Tapi sekali ada yang sedikit memberinya simpati, dia langsung menancapkan belati untuk melukai batinnya.
Di cap sebagai anak haram hasil dari hubungan gelap ibunya dengan orang kaya itu rasanya tak enak. Terlebih kita hidup di Indonesia yang kental dengan adat ketimurannya. Belum juga Hana melakukan apa-apa, dirinya dipandang sebagai sebuah dosa.
Shower mulai menyala dan air dingin mulai membasahi tubuhnya. Air matanya kembali tumpah. Kenapa dia tak memperkosaku saja dari pada hanya ditelanjangi dan selanjutnya dihina. Aku bisa menyalahkanmu jika kehormatanku hilang kerena ulahmu. Tapi jika bahkan kamu tak menyentuhku, aku hanya bisa menyalahkan diriku atas semua hal buruk yang ditudingkan kepadaku. Apa kehidupanku ini sebuah kesalahan. kenapa aku masih diberi nyawa jika hanya untuk merasakan derita.
Hana mulai mengambil sabun untuk membersihkan dirinya. Ia terus menangis di bawah guyuran air mengabaikan rasa dingin yang terus menyerangnya. Tubuhnya perlahan merosot karena kerena lelah, hingga matanya terpejam karena sudah lenyapnya kesadaran.
TBC
__ADS_1