Zona Berondong

Zona Berondong
Terpesona


__ADS_3

^^^Dear, yang cewek ada yang punya pengalaman sama berondong. Atau yang cowok punya pengalaman berhubungan sama cewek yang lebih tua.^^^


^^^Ah apapun itu romansa masa remaja itu nggak akan ada habisnya.^^^


^^^Selamat membaca.^^^


Ddrrrtt ddrrttt drrttt


Rina merogoh ponsel di saku seragamnya.


Mas Rio


Tunggu aku di parkiran.


Rina menatap layar ponsel yang masih menyala itu dengan malas. Nita yang penasaran segera merebut ponsel itu dan mengecek isinya.


Nita menyelipkan rambutnya ke belakang telinga dan kembali menyandarkan punggungnya di kursi. "Bales gih."


Rina menatap Nita sejenak. "Kudu ya?"


"Serah elu."


"Yahh, kok terserah sih."


"Ya emang aku kudu gimana Rina."


Rina sudah menceritakan apa yang diperbuat Rio padanya beberapa hari yang lalu. Dia juga menceritakan bagaimana hubungannya dengan Dika berakhir. Nita benar-benar geram dengan Rina yang ceroboh dan tak gegabah dalam mengambil keputusan. Terlebih setelah mendengar kesalahpahaman antara sahabatnya itu dan Dika, Nita makin jengah dengan sahabatnya.


Rina mas dia memandangi layar ponselnya. Dia ragu aku harus mengetik apa di sana.


Setelah mendial sebuah nomor, Rina segera meletakkannya di telinga.


Ttuuuttt ttuuuttt ttuuutt


Bip


"Halo." Rina langsung menyahut begitu panggilan itu tersambung.


"Halo Rin?"


"Ka, kamu bisa jemput aku nggak, kamu bawa mobil nggak?" Yang sedang di telpon Rina sekarang adalah Dika.


"Iya, aku bawa mobil. Kenapa emang?"


"Bisa jemput aku nggak?"


"...." Dika diam saja tak menjawab.


"Kalau kamu nggak bisa, biar Papa aja deh, aku tahu dir..."


"Rin." Dika memotong ucapan Rina. "Tunggu aku. Aku bakal jemput kamu. Sekarang."


Senyum lega terbit pada wajah Rina.


"Di halte depan ya, jangan di gerbang."


"Hemm."


Bipp

__ADS_1


"Gila lu ya!"


"Nit, aku masih takut ketemu Mas Rio."


Nita mendesah pasrah. "Lu pikir dengan lari kayak gini masalah bakal beres." Nita menginterupsi Rina untuk mendekat. "Dan kalau sampai video me**m lu sama Rio kesebar bukannya bakal timbul masalah lain," ucap Nita dengan berbisik.


Senyum Rina memudar. "Terus aku kudu gimana?"


"Ini saranku ya, mau kamu pertimbangkan boleh, enggak kayak biasanya juga terserah."


"Nit, apa, gimana?" tanya Rina tak sabar.


"Lu ikuti permainan Rio, jangan bikin dia marah dulu, pelan-pelan kita cari solusinya. Lagian lu juga nggak tahu kan motif Rio apa ngedeketin kamu."


Rina mengangguk setuju.


Ddrrrtt ddrrttt drrttt


Rina memperlihatkan panggilan itu pada Nita. "Mas Rio nih," ucapnya sambil menunjuk-nunjuk layar ponsel itu pada Nita.


"Angkat gih."


Rina segera menggeser tombol hijau pada layar ponselnya. "Halo Mas."


"Kamu udah buka WA aku kan?!" tanya Rio dengan nada tak sabar.


"I, iya Mas," jawab Rina terbata.


Nita hanya menggeleng frustasi melihat sahabatnya. "Rin, Rin. Ini semu karena kecerobohan dan kegegabahan kamu. Tahu rasa kan sekarang," cicit Nita. Dia kembali menatap Rina. Wajah yang tadi murung mendadak sumringah. Ni bocah kesambet apa gimana?


"Iya Mas, iya. Nggak apa-apa kok." Rina diam sambil mengannguk. "Iya, love you." Rina segera meluk Rina erat dengan memekik tertahan.


Nita hanya bengong dibuatnya.


Nita hanya menggeleng.


"Mas Rio nggak bisa anter pulang. Itu artinya aku bisa sama Dika, yes yes yes." Saking girangnya Rina bahkan sampai lompat-lompat.


"Giliran udah bukan pacar girang banget mau ketemu," cibir Nita.


Rina melepas pelukannya. "Aku bakal bikin batasan yang jelas," ucap Rina mantap.


"Batasan yang jelas itu gimana? Udah mantan masih bisa peluk masih bisa cium-cium? Itu yang di maksud jelas!"


"Nit, jangan keras-keras, nanti ada yang denger," pinta Rina dengan menatap cemas ke sembarang arah.


"Bodo. Lagian siapa sih yang bakal denger."


"Gue!"


Rina dan Nita serempak menoleh ke arah sumber suara.


Nita mengernyit menatapnya. Bukan Tyas yang membuatnya heran, tapi keberadaan sesosok pria di sampingnya. Rio ini orang macam sih. Bisa-bisanya Rina jadian sama dia.


"Mas Rio ngapain di sini?" tanya Rina yang was-was jikalau Rio sempat mendengar percakapannya dengan Nita.


"Mas-mas, kamu pikir Kak Rio Masmu?!" sewot Tyas sambil mengapit lengan Rio. "Ya kan Kak?" lanjut Tyas dengan mendongakkan kepalanya.


Rina hanya bisa menahan geram dengan mengeratkan genggamannya pada ponsel yang sejak tadi berada di tangannya.

__ADS_1


Rio melepas tangannya dari Tyas perlahan. "Kalian yang nggak berkepentingan di sekolah bisa langsung pulang," ucap Rio dingin tanpa menatap Rina sedikitpun.


Rina menarik tasnya dari atas meja dan berjalan hendak meninggalkan kelas. "Permisi." Rina mengucapkan itu dengan dingin kepada Rio dan Tyas karena keberadaan mereka diambang pintu menghalangi langkahnya. Nita mengikuti Rina dengan mengekor di belakangnya.


"Sewot bener sih. Dasar sirik!"


Ucapan itu masih bisa didengar oleh Rina dengan jelas namun tak membuatnya lantas menghentikan langkah.


"Hahaha!" Nita segera menutup mulutnya begitu tawa itu lolos dari sana.


Rina mengacuhkannya dan lebih memilih untuk terus berjalan.


"Rina, hei! Ellah, elu pendek tapi kalau jalan cepet amat." Nita masih susah payah mengejar Rina untuk mensejajarinya.


Hap


Nita yang memegang tangan Rina berhasil membuatnya menghentikan langkah.


"Apaan sih lepasin."


"Enggak! Sebelum elu dengerin gue."


Rina menghela nafas dan menatap sahabatnya. "Oke, mau ngomong apa?"


Nita kembali mengulum senyum. "Gimana rasanya dicuekin pacar terus doi malah sama cewek lain, hwahahahahahaha!"


Rina melepaskan cekalan Nita dengan kasar. Dia kembali berjalan hingga melewati gerbang.


Nita yang semula ingin ke parkiran segera merubah haluan dan mengikuti Rina. Rina mau kemana sih? Jangan-jangan mau bunuh diri lagi. Nita mempercepat langkah hingga akhirnya ia menemukan Rina yang duduk di halte. Cepat-cepat Nita ingin menghampiri Rina. Kesambet apaan dia mau naik bus.


Langkah Nita terhenti melihat sebuah mobil berhenti tepat di depan Rina. Siapa lagi itu. Jangan-jangan Rina mau gaet cowok lain lagi. Matanya memicing melihat sosok yang tinggi dengan seragam SMA keluar dari mobil. Itu Dika bukan ya?


Nita terus mendekat. Dia tersenyum kala netranya mampu menangkap dengan jelas siapa dia. Sebuah ide jahil melintas di pikirannya. Dia kemudian mempercepat langkah agar bisa menghampiri mereka sebelum mereka pergi. "Hei, tunggu!"


Dika yang sedang membukakan pintu mobil bersama Rina yang berdiri di sampingnya segera menoleh kearah sumber suara. "Rin, temen kamu tuh."


"Kenapa?"


"Duduk dulu duduk dulu, hah hah." Nita berusaha menetralkan nafasnya yang masih ngos-ngosan. "Udah kayak film India tahu, kejar-kejaran kayak gini, hah hah hah."


Rina memandangnya dengan tatapan malas. Sementara Dika kembali menutup pintu mobilnya dan bersandar di sana.


Nita nyelonong begitu saja duduk di kursi halte, dengan menginterupsi Rina dan Dika untuk melakukan hal yang sama dengannya. Rina pun segera duduk di sampingnya, sementara Dika masih bertahan berdiri dengan memasukkan satu tangan ke saku celananya.


Rina bengong menatap Dika yang tengah menyugar rambutnya ke belakang.


"Ehm, ehm." Nita berdehem, berharap Rina memperhatikannya.


Namun sepertinya gagal. Rina masih setia memandangi Dika yang berada tepat di hadapannya. Hingga tiba-tiba Rina mendadak gelagapan kala Dika memergoki Rina yang tengah menatapnya.


"Nyesel kan lu," bisik Nita tepat di telinga Rina.


TBC.


Alhamdulillah, selesai juga part ini dear.


Makasih ya yang udah bersedia mampir.


Semoga suka sama ceritanya.

__ADS_1


Jangan lupa dukung author dengan meninggalkan jejak pada setiap kunjungan kalian.


Happy reading, love you all.


__ADS_2