Zona Berondong

Zona Berondong
Berangkat


__ADS_3

^^^Thanks a lot ya temen-temen yang udah kasih masukan. ^^^


^^^Makasih juga yang udah berkenan baca karya receh author. ^^^


^^^Semoga laptop cepet sembuh biar bikin ceritanya nggak kejar tayang terus. ^^^


^^^Doain otak Senja encer ya, 😅😅^^^


^^^Big love buat kalian, 😘😘😘^^^


...*HAPPY READING*...


^^^My Husband^^^


^^^Iya hati-hati. Salamin buat Dedi, maaf aku nggak bisa ikut antar ke bandara.^^^


Rista masih memeluk boneka kesayangannya sambil menatap kosong ke luar jendela.


Rina menghampiri Rista dengan sisir di tangannya.


"Kakak sisir rambutnya ya..."


Melihat adik iparnya diam saja, Rina perlahan mulai menyisir rambut lebat sepinggang di hadapannya.


"Kakak iri sama kamu tahu nggak. Kenapa bisa setinggi ini, padahal baru 14 tahun."


Rista tak bergeming. Sepertinya ia tak tertarik dengan tema yang Rina obrolkan. Namun Rina tak menyerah. Ia terus berbicara menceritakan banyak hal termasuk hal-hal tak penting mengenai dirinya.


" Kenapa semua jahat sama Rista? "


Dengan suara serak karena terlalu lama diam akhirnya Rista bersuara.


Meskipun bukan pertanyaan yang mudah, namun adiknya ini mulai mau mengungkapkan perasaannya.


"Siapa bilang. Kita semua sayang sama Rista."


Rista menatap sinis kakak iparnya.


"Kak Rina nggak usah bohong cuma buat ngehibur Rista."


Rina berjalan memutar dan berhenti di depan adik iparnya, kemudian ia menumpukan tubuhnya di daun jendela sehingga membuat tingginya sejajar dengan Rista.


"Kamu punya kakak seperti Dika, sedangkan kakak enggak. Kamu emang kehilangan papa tapi dapat ayah Rudi yang tak kalah sayangnya. Kamu punya mama yang bisa segalanya."


"Itu kelebihan kamu dibanding kakak. Pernah nggak kamu bandingin kamu dengan Dedi?"


Rista mendengus. Ia sama sekali tak ingin mendengar nama itu saat ini. Namun Rina seakan tak peduli. Ia sengaja menghindari tatapan Rista agar seakan tak tahu ketidak senangan adik iparnya ini.


"Tidak hanya anak tunggal, ia juga yatim piatu. Tak cukup sampai di situ, ia juga tak punya sanak saudara. Sebelum ia bekerja bersama Dika, setahu kakak dia harus bekerja serabutan untuk memenuhi hidupnya. Tinggal di kosan kecil yang minim fasilitas karena harta peninggalan orang tuanya sudah habis terjual. "


"Dan satu hal lagi. Kamu sadar nggak kalau kamu itu sangat berharga buat dia."


Bibir Rista bergetar.


" Tapi kenapa hal seperti ini dirahasiakannya? "


Rina meletakkan sebelah tangannya di bahu Rista.


" Karena dia nggak siap ngeliat kamu sedih. "


Jatuh sudah air mata Rista.


" Lalu kenapa dia tetap pergi kalau tahu aku akan sedih?"


Rina menghela nafas.


" Dedi pasti punya alasan, yang sebenarnya mungkin ingin disampaikan tadi sebelum dia pergi."


Rista langsung bangkit membuat boneka yang tadi dipeluknya jatuh begitu saja. Ia berlari menuju pintu dan menariknya begitu saja. Ia bahkan sempat lupa kalau tadi menguncinya.


Begitu keluar kamar, ia langsung lari menurun tangga.


" Kak, Kak Dedi! "


Rudi yang masih di teras bersama Santi segera menghampiri putrinya.


"Nak..."


"Kak Dedi mana Ma," tanya Rista tak sabar.

__ADS_1


Santi tak berani menjawab. Ia memandang Rudi berharap suaminya ini akan berbicara.


"Dia sudah berangkat."


Rina muncul dengan tergesa dan berhenti di samping Rista.


"Kok nggak nungguin Rista sih?!"


Tiga orang lainnya hanya mampu saling menatap. Mana mungkin mereka akan menyalahkan Rista karena tadi ia sendiri yang menolak untuk menemuinya.


"Kok diem aja sih," protes Rista sambil menghentak-hentakkan kakinya.


"Sekarang kamu pengennya gimana Nak?" tanya Rudi dengan sabar.


"Ke Amerika naik pesawat kan, anter Rista ke bandara," kata Rista sambil memegang tangan papanya.


"Kamu siap-siap, Papa siapkan mobilnya."


"Gini aja Pa."


Rudi menghela nafas. Persis seperti Santi jika sudah keras tekatnya.


"Ris, masa mau nemuin Dedi dengan kondisi begini," kata Rina seakan tahu pikiran mertuanya.


"Iya ya."


Rista segera melesat ke kamarnya sekedar untuk ganti baju dan cuci muka.


"Mas..."


Santi menahan Rudi saat pria ini hendak keluar untuk menyiapkan mobil.


"Mau ikut."


"Enggak gitu, tapi apa masih sempet?"


"Masih, kalau nggak macet."


"Dedi terbang jam berapa?"


"Jam 9 sepertinya."


"Sepertinya ia memang berangkat lebih awal karena memang ingin menemui Rista."


Santi yang paham segera melepas tangan suaminya.


"Aku juga siap-siap ya."


***


"Pa, bisa cepetan dikit nggak sih jalannya..."


"Nak, ini macet, di depan juga ada mobil."


"Kok berhenti gini, kalau macet kan biasanya tetep jalan meskipun pelan."


Rudi memperhatikan ke arah luar. Iya juga ya. Nggak biasanya macet sampe kayak gini.


Rudi membuka jendela saat ada pedagang asongan yang mendekat.


"Mas, Mas..."


Merasa dipanggil, pedagang itu segera mendekat.


"Aqua Pak." Dengan wajah bahagia pemuda itu menawarkan dagangannya.


"Saya mau tanya, di depan ada apa ya, kok bisa macet parah gini."


"Oh itu, di depan ada kecelakaan. Ada truk yang hilang keseimbangan dan terguling menghalangi jalan, dan sekarang masih menunggu bantuan untuk mengevakuasinya."


"Oh. Makasih ya."


"Ada lagi?" tanya pemuda itu dengan senyum yang dipaksa.


"Saya beli aquanya 4."


Wajah pemuda itu kembali cerah, saat Rudi membeli dagangannya. Ia segera menyerahkan 4 botol air mineral yang diminta.


"16 ribu Pak," kata pemuda itu dengan wajah sumringah.

__ADS_1


Rudi menyerahkan selembar uang limapuluh ribuan.


Pemuda itu tak lantas menerima uang itu.


"Pasnya aja Pak. Bapak pembeli pertama saya, jadi saya belum ada kembalian."


"Ambil aja."


"Jangan gitu Pak." Pemuda itu nampak berfikir. "Atau bapak bawa aja, kalau lewat sini lagi terus lihat saya bisa bapak kasih."


"Kamu nggak takut saya nggak akan bayar?"


"Saya percaya sama Bapak. Kalau emang rejeki pasti jadi milik saya."


Rudi menarik lagi uangnya mengganti dengan sebuah kartu berwarna abu.


"Ini kartu nama saya, tertera juga tempat kerja saya. Besok lepas dzuhur tolong kamu datang. Akan saya bayar di sana. Sekalian bawa 10 botol lagi."


"Mas, udah kasih aj..."


Rudi menggerakkan tangan dan Santi langsung diam.


Dengan wajah tak paham, pemuda itu menerima kartu nama Rudi.


"Iya Pak."


Tepat saat itu mobil di depan mulai berjalan. Sepertinya truk sudah berhasil di amankan.


"Pa cepet jalan Pa," pinta Rista dengan tak sabar.


Pemuda ini sempat menunduk sebelum mulai menepi.


"Mas cari repot aja sih," gerutu Santi karena melihat tindakan suaminya.


Rudi memilih diam dan melanjutkan perjalanan.


"Kak, masih sempet nggak sih Kak." Rista gelisah sembari terus melihat jam.


"Sabar Ris," kata Rina menenangkan.


Perjalanan yang normalnya 1 jam sampai kini memakan waktu hampir dua jam.


***


Dedi duduk bersama Dika di ruang tunggu. Sandwich di tangannya hanya berakhir sebagai pegangan saja, karena selain gigitan pertama, mulutnya tak tertarik untuk mengunyahnya.


"Jangan galau gitu lah Ded, gue jadi nggak tega ngebiarin elu pergi."


Dedi menatap sahabatnya sebentar sebelum melayangkan pandangan ke arah orang yang hendak bepergian seperti dirinya dengan diantar orang tersayang.


Seandainya kamu juga di sini, mungkin aku akan lebih berat untuk pergi. Jadi memang sebaiknya seperti ini.


Dedi menghirup nafas panjang dan menghembuskannya kuat. Berusaha mengumpulkan tekat untuk benar-benar berangkat.


"Dika. Udah saatnya gue berangkat."


"Iya bro. Hati-hati. Jaga diri baik-baik di sana."


"Pasti."


"Sering kasih kabar sama kita."


"Iya."


Dedi memeluk erat sahabatnya ini. Ia tak akan lupa bagaimana berjasanya Dika dalam hidupnya.


"Tetep kasih gue tumpangan kalau udah kehabisan modal dan balik Indo."


Jika semalam Dedi yang tersedu, kini Dika yang menitikkan air mata.


"Udah pergi sono. Mata gue sepet lihat lu lama-lama," kata Dika sambil berlagak mengucek matanya.


Hanya orang bodoh yang percaya ucapan ini begitu saja. Sangat jelas kini pemuda tampan yang gagah ini tengah menangisi kepergian sahabatnya.


"Gue pamit."


"Jaga diri baik-baik."


Dengan mengucap bismillah, Dedi perlahan melangkahkan kakinya untuk meninggalkan tanah air.

__ADS_1


TBC


__ADS_2