Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Sakit Perut


__ADS_3

Sebelum baca jangan lupa ucap bismillah.


Ingat, cerita ini hanya fiksi belaka, meskipun meninggalkan efek baper pada akhirnya, xexexexe


*Big hug from ***Senja buat para reader setia.**


HAPPY READING


“Ya Allah, kepalaku kenapa pening sekali, mana mual lagi lihat makanan.”


Rina mengaduk-aduk makanan yang tadi dipesannya. Makanan yang semula begitu ingin dilahapnya, kini malah melihatnya saja ia sudah dibuat pusing dan ingin memuntahkan semua isi perutnya.


Rina menyingkirkan makanan yang sudah ia acak-acak, dan beralih pada makanan yang semula ia belikan untuk suaminya. “Icip dikit nggak apa-apa kali ya,” gumamnya ssat mengingat ia memesan menu yang berbeda untuk Dika.


Tangannya dengan terampil membuka kemasan makanan di hadapannya. Matanya berkata ingin, namun sayang hidungnya tak suka dengan bau sedap yang berasal dari makanan di hadapannya. Cepat-cepat Rina menutup lagi makanan milik Dika dan segera berlari ke kamar mandi.


“Huek, huek…”


Rina mengeluarkan apa pun yang ada di perutnya. Bahkan hingga air yang ia minum pun ikut keluar saat ini juga. Ia lemas sendiri dan duduk setelah sebelumnya membasuh muka dan berkumur untuk membersihkan sisa rasa tak enak dari muntahan yang tertinggal di mulutnya.


Dengan langah sempoyongan ia berjalan menuju ruang istirahat yang ada di dalam ruang kerja Dika. Rina sengaja tak menutup pintu agar dia segera tahu saat Dika sudah kembali nanti.


Saat Rina ingin memejamkan mata, tiba-tiba ia ingat jika sekarang waktunya minum vitamin yang rutin akhir-akhir ini dikonsumsinya. Meskipun enggan, ia berusaja turun dari ranjang untuk mengambil vitamin yang tersimpan di tasnya. Ia menyambar tas yang ia letakkan di sofa, dan membawanya ketempat ia akan istirahat. Rina mengambil 2 jenis pil itu dan menelannya tanpa air. Ia malas untuk bangkit lagi, jadi dia langsung menelannya seperti ini.


Ia segera berbaring, berharap agar pusingnya segera reda.


“Ya ampun, perut aku kok jadi sakit sih.”


Rina yang semula telentang, sekarang miring. Lutut yang semula lurus kini perlahan ditekuk. Semakin lama semakin sakit, dan saat ini ia menekuk lututnya hingga hampir menyentuh dada. Perut yang kian terasa sakit membuat RIna harus menekannya dengan kuat menggunakan kedua tangannya.


“Ya Tuhan, sakit…” rintihnya saat sakit itu makin menjadi.


Saat Rina tak mampu bergerak, rasa sakitnya perlahan berkurang. Namun jika sedikit saja dia bergerak, maka rasa sakit akan menyerang secara tiba-tiba.


“Apa aku mau datang bulan ya? Perasaan aku belum ada dua minggu suci,” gumamnya seorang diri.


Rina masih diam sambil menunggu Dika kembali. Namun sejujurnya ia berharap rasa sakitnya akan hilang sebelum suaminya datang.

__ADS_1


Samar-samar ia mendengar pintu terbuka. Ia yakin itu adalah suaminya. Tak berselang lama pria tampan itu datang dan menghampiri dia yang terbaring di ranjang dengan menahan rasa sakit. Rina mendongak dan tersenyum sebaik yang ia bisa. Wajah lelah Dika berubah cemas saat ia sadar ada


yang tak biasa dengan istrinya.


“Sayang…”


“Jangan,” cegah Rina cepat saat Dika ingin membalik tubuhnya.


“Kamu sakit?”


Rina mengangguk. “Perut aku sakit. Nggak bisa digerakin. Kayak keram.”


Rina menggeleng saat Dika ingin mengangkat tubuhnya.


“Sakit banget kalau harus gerak.”


“Tapi harus kita bawa ke rumah sakit sayang. Atau lebih baik aku panggil dokter.”


Dika merogoh ponselnya untuk menghubungi seseorang, namun tiba-tiba ia urungkan.


Dika menatap Rina yang sudah sangat pucat.


“Kita ke rumah sakit. Kamu tahan dulu sebentar, ya…”


Rina mengangguk. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Dika segera mengangkat tubuh istrinya.


Dika sempat berhenti di depan ketiga staf sekertaris yang terlihat sibuk dengan pekerjaannya. Ketiga wanita itu langsung bangkit dan menunduk hormat saat bosnya tiba-tiba muncul di hadapan mereka. Mereka tak sempat berfikir apa yang terjadi saat ini. Melihat raut panik Dika, mereka yakin sekarang bukanlah saat yang tepat untuk bertanya.


“Batalkan semua jadwal yang mengharuskan kehadiran saya.”


Dika pergi begitu saja setelah memberikan perintahnya. Ia tak memberi waktu para stafnya untuk sekedar menerima perintah.


“Sayang, tahan dulu ya,” ujar Dika pada Rina yang nampak menahan sakit dengan mata dipejamkan rapat-rapat.


***


“Mama kalau capek istirahat saja,” ujar Indah saat baru saja berhasil menidurkan anak keduanya.

__ADS_1


“Sebentar lagi selesai Nak. Kamu saja yang istirahat. Kasihan cucu Oma yang di dalam perut kalau mamanya kecapekan.”


Tangan Mustika melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda. Ia kini tengah membereskan mainan yang tadi digunakan main bersama cucunya.


“Ma, tehnya.”


Mustika dan Indah duduk bersama di balkon kamar Rida. Sejak mereka genap 2 tahun dan lepas ASI, Indah membiasakan kedua anaknya untuk tidur terpisah dari orang tuanya.


“Kamu jangan stress ya, kalau kamu nggak keberatan Mama bisa kok tinggal di sini buat bantu kamu ngurursin anak-anak.”


“Keberatan sih enggak Ma, tapi Indah makasih banget. Tapi kalau Mama di sini, masa iya papa ditinggalin di rumah sendiri?”


“Nggak apa-apa lah. Galih bukan hanya orang dewasa. Tapi dia cukup tua untuk bisa melakukannya sendiri.”


Bahkan mungkin dia tak akan merasa kehilangan jika aku pergi, karena ia selama ini tak benar-benar menginginkanku


ada di sisinya. Lanjut Mustika dalam hati.


“Lagian Mama bahagia saat dekat dengan kalian, dan merasa berguna jika kamu merasa terbantu dengan adanya Mama.”


Indah membalas senyum hangat dari mertuanya. Meskipun dia dan orang tuanya terpisah oleh pulau yang berbeda, namun memiliki mertua seperti Mustika adalah sebuah anugerah yang luar biasa. Sejak Galih dan Rio berseteru, mertuanya ini tak melepaskan anaknya begitu saja. Ia pun tak lantas durhaka pada suaminya meski pun tak suka dengan caranya. Dari Mustika Indah belajar bagaimana bersabar dan menghadapi segala sesuatu dengan kelembutan.


***


“Kenapa kamu nggak bilang?!”


“Ya gimana mau bilang. Kamu baru datang langsung marah-marah tanpa ngasih waktu aku untuk bicara.”


Flashback On 1 jam yang lalu.


Hana yang kini di lantai bawah gedung apartemen Andre dikagetkan dengan adanya penutupan akses keluar masuk secara tiba-tiba.


Ditengah riuhnya protes dan umpatan kekesalah orang yang merasa urusannya terganggu dengan masalah ini, tiba-tiba Hana merasa perutnya sakit. Ia yang awalnya ingin berjalan-jalan di sekitar apartemen, harus rela kembali ke tempat Andre dengan segera. Ia sedang kesal karena Andre yang kalau bicara suka seenaknya, tapi bodohnya ia masih merasa enggan untuk melarikan diri dari pria ini sekarang.


Ia yang tahan segera kembali ke apartemen Andre dengan cepat. Tak lucu jika ia tetap bertahan di sana dan harus berak di celana.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2