
Apa ada yang mau*additional****up*hari ini?**
HAPPY READING
“Udah jangan cemas…” ujar Nita pada Hana yang nampak gelisah sambil sesekali menatap Andre yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya.
Setelah acara makan martabak bersama, Andre mulai sibuk menerima telfon yang berkali-kali berhasil membuat ponselnya berdering. Saat baru saja ia selesai menyelesaikan panggilannya yang masuk, ia kembali menghubung orang lain dengan wajah masih sama tegangnya.
Melihat bagaimana usaha Nita menenangkannya, Hana hanya mampu mengangguk dengan senyum yang terlihat dipaksakan.
Nita meraih tangan Miko yang mondar-mandir sejak tadi. “Jangan mondar-mandir terus, ngomong dong,” ujar Nita pada kekasihnya.
“Aku kudu ngomong apa. Aku nggak ngerti apa-apa ini.”
Tak lama kemudian, Andre datang setelah sebelumnya menyimpan ponselnya.
“Kalian ngapain sih?” tanya Andre saat diserang tatapan gelisah dari Hana, Nita dan Miko.
Ketiganya kompak tak ada yang menjawab. Hanya mendengus dan kembali menatapnya cemas.
Andre memilih cuek dan membanting tubuhnya di samping Hana. Ia bersandar setelah sebelumnya minum dari gelas yang Hana punya.
“Sok cool banget sih Ndre. Mulut rombeng lu dikemanain,” sinis Miko.
Andre masih diam. Ia merangkul Hana dan mencium pipinya dengan santai. Ia tak peduli jika Hana kini mendorongnya, ia justru kian merapatkan tubuhnya.
“Apaan sih...,” kesal Andre karena sepupunya ini melemparinya dengan kacang atom yang tadi Nita bawa.
“Lu sejak kapan jadi mesum gini.”
Andre menarik kedua sudut di bibirnya. Ia menyandarkan kepalanya tanpa melepas rangkulannya.
“Malah ketawa lagi,” kesal Miko.
“Dokter Miko ngegas melulu sih. Nanti pasiennya pada takut lo,” goda Andre.
“Kalian jadian setelah sama-sama jadi mahasiswa kedokteran ya?” tanya Hana tiba-tiba. Ia menatap Miko dan Nita bergantian. Ia sesekali juga harus menghalau tangan Andre yang sedang aktif memainkan rambutnya.
“Kita jadian sejak awal masuk SMA,” jawab Nita sambil menatap Miko yang duduk di sampingnya. Sementara Miko hanya menaikkan alisnya saat Hana juga menatapnya.
“Ternyata…” Suara Hana mendadak tercekat. “Isshhh, Andreeee. Malu iihhhh.”
“Kenapa? Kesel?” tanya Andre dengan wajah tengilnya.
“Andre please. Aku malu ya ampun.”
Andre mengangkat tangannya dan melepaskan tubuh Hana seketika. Ia segera melipat kedua tangannya di depan dada dan menyandarkan punggungnya saat itu juga.
__ADS_1
“Gua serem ngebayangin kalau elu cuma berdua sama Hana,” sinis Miko kepada sepupunya.
“Ya nggak usah dibayangin. Simple kan?”
Rasa-rasanya Miko ingin melempar kepala Andre dengan sepatu. “Serah lu deh.”
“Btw pada laper nggak sih?” tanya Nita memecah ketegangan Andre dan Miko. Mereka memang suka bercanda, tapi tak jarang mereka sama-sama baper dan melibatkan emosi dalam arti sebenarnya. Tapi kalian tenang saja. Hal ini tak berlangsung lama, dan mereka akan akur tanpa pernah mengucap maaf.
“Gue laper. Ngunjungi sepupu tapi nggak dikasih makan.”
“Tai lu. Yang ngehabisin martabaknya Nita tadi siapa?”
“Ya martabak doang. Kan gua baru kehabisan energy di keroyok orang.”
“Ya dasar elunya suka onar. Ya siapa tahu itu karena kamu yang bikin gara-gara.”
“Lu…” Andre menahan ucapannya saat ia merasa benda lembut menyentuh pipinya. Setelah menoleh ternyata Hana baru saja menciumnya. Ia tersenyum manis sambil menatap ke arahnya.
“Jangan di debat lagi. Aku pusing,” ujar Hana sambil memegang lengan Andre.
Hana menelan ludah saat Andre mendekatkan wajahnya. Tiba-tiba ia merasa tubuhnya di tarik dan langsung berdiri seketika.
“Maaf Ndre, Hananya aku pinjam.”
Nita sempat meringis sebelum menarik Hana pergi.
Andre menunjuk-nunjuk Nita yang baru saja membawa Hana pergi dan Miko yang tengah menatapnya dengan senyum kemenangan. “Kalian sama-sama ngeselin ya.”
“Ndre.”
“Ape.”
“Lu parah tahu nggak.”
“Apa sih Mik. Palingan besok juga sembuh.” Andre melihat dan meraba luka-lukanya sekali lagi.
“Bukan itu elah, tapi kelakuan elu.”
Andre menghela nafas. Sepertinya emosi Andre kali ini sudah berhasil turun beberapa level di bawah Miko.
“Kenapa emang?”
“Ya elu memperlakukan Hana kayak, hhhh…” Miko sulit melanjutkan ucapannya.
“Kamu nggak ke rumah sakit.” Andre mencoba mengganti topiknya. Ia tahu seberapa lurus sepupunya ini. Mungkin ia dulu juga sama, tapi entahlah sekarang ia bisa menjelma sebagai seorang bajingan.
“Beruntungnya kamu karena aku baru ada shift lagi besok sore. Aku dua hari kemaren nggak pulang karena shiftku nyambung.”
__ADS_1
“Sepadat itu waktu kamu? Nggak capek?” tanya Andre beruntun.
Miko menghela nafas. Wajah kakunya sedikit mengendur. Benarkan, seemosi-emosinya mereka, pasti tak akan pernah berlangsung lama.
“Aku sudah memimpikan pekerjaan ini sejak lama. Apa pun bisnis sampingan yang aku jalani, tapi menjadi dokter tetaplah tujuan utama yang ingin aku penuhi,” terang Miko dengan penuh keyakinan.
Andre menyugar rambutnya. Miko sudah tahu apa yang diinginkannya. Ia telah menemukan apa tujuannya. Tapi aku kenapa begitu abu-abu. Kadang aku merasa semua yang kujalani hanya karena aku harus menjalani, bukan karena aku mau menjalani.
Tiba-tiba bau harum menyeruak di indera penciuman dua laki-laki ini.
“Mereka masak?” tanya Andre pada Miko.
“Nita nggak bisa masak,” ujar Miko menjelaskan.
Keduanya menggerakkan telunjukknya. “Berarti Hana,” serempak kedua pria ini.
Mereka segera bangkit dan berjalan menuju dapur. Miko menahan Andre saat sepupunya ini ingin langsung menyergap pacarnya. Ia tak ingin Andre memvisualisasikan apa yang biasa ia dan Nita saksikan di drama-drama romance. Bermesraan di dapur sepertinya menyenangkan, tapi bagi
Nita dan Miko ini adalah situasi yang sangat canggung dan jauh dari gaya pacaran keduanya. Bukan hanya karena otak keduanya yang begitu lurus, tapi karena padatnya kegiatan sehingga mereka tak pernah memiliki kesempatan.
“Akh…”
“Nita.” kaget Hana setelah mendengar rintihan Nita.
Mendengar Nita memekik, Miko langsung berlari menghampiri.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Miko sambil memegangi jari Nita yang berdarah karena terkena pisau.
Andre yang juga ke sana segera membalik tubuh Hana dan merebut spatula yang dipegang wanitanya.
“Kamu nggak apa-apa kan?” tanya Andre sambil memeriksa keadaan Hana.
Hana meraih lagi spatula yang baru saja Andre letakkan dan membalikkan badan memunggungi Andre. ”Pertama, yang terluka itu Nita, dan kedua ini bisa gosong kalau tidak diaduk.”
Hana melanjutkan kegiatannya mengaduk masakan. Bukan ia tak bersimpati pada Nita, tapi lukanya tak seberapa parah dan Miko pun sudah menolongnya.
Andre memeluk pinggang Hana dari belakang. Hana tak punya pilihan selain membiarkan Andre dan melanjutkan apa yang sebelumnya ia lakukan. Ia terus melakukan apa yang harus ia lakukan, jika tidak maka tak ada makan malam untuk mereka.
“Aku bantu Hana ya,” pinta Nita saat Miko baru memasangkan plester di jarinya.
“Nggak usah lah, biar Andre aja,” cegah Miko
“Sepupu kamu dari tadi cuma ngerecokin. Kasihan kan Hananya.”
Miko menatap pasangan itu dari jauh. “Kamu ngerasa nggak sih kalau mereka udah kayak biasa gitu.”
“Biasa apaan sih?” tanya Nita yang ikut-ikutan memperhatikan pasangan ini.
__ADS_1
“Ya lihat deh,…” Miko menghela nafas. Ia menunjuk Andre dan Hana dengan matanya. Andre terlihat mengekori Hana kemana pun wanita ini bergerak. Hana lebih sibuk mencari celah bagaimana caranya ia bisa bergerak saat kelakuan Andre sangat membatasi geraknya, ketimbang mencegah pria ini yang terus merecokinya. Miko dan Nita tak tahu saja, kalau Andre akan gila saat Hana melawannya.
Bersambung…