
...*HAPPY READING* ...
Dengan berat hati Dika harus melepaskan nalurinya dan mengembalikan logika saat mendengar dering tak lirih dari ponselnya.
"****!"
Dika mengumpat saat melihat nama sahabatnya yang tertera. Baru saja ingin menggeser tombol hijau, panggilan itu sudah mati, dan saat hendak ia hubungi kembali, ternyata sebuah pesan sudah dulu nampak dalam display.
^^^Dedi Yohanes^^^
^^^Udah kelar apa belum. Kalau belum gue tunggu sini dulu.^^^
Dika tak membalas pesan itu. Dia lebih memilih untuk mendial nomor tersebut.
"Halo."
"Lu dimana?"
"Masih di dalem."
"Sama siapa?"
"Sama adik kamu lah. Kan situ lagi otw jebol gawang."
"D*mn! Jaga mulut bisa nggak sih?"
"Jaga kelakuan bisa nggak sih?" Bukannya menjawab atau mengelak, Dedi justru balik melontarkan sindiran pedasnya.
"Lu cepet ke sini."
"Emang udah selesai?" tanya Dedi dengan santai.
"Ba**t! Cepet balik."
Dika segera memutus panggilan itu.
"Sayang..."
Dika menoleh dan mendapati Rina sudah Rapi.
"Hmm..." Dika membenahi duduknya dan menyadarkan kepala Rina di bahunya.
"Dedi tahu ya?"
"Hmm..."
Meskipun yang keluar bukan kata, tapi dari gerakan kepalanya, Rina tahu benar maksud Dika.
"Terus gimana?"
"Ya nggak gimana-gimana."
"Tapi..."
"Stt..."
Rina menghela nafas. Ia melingkarkan tangannya di depan perut Dika.
"Ujian kurang berapa bulan sih?"
"Emm, 2 bulan lagi kayaknya."
"Kamu udah mikirin rencana setelah lulus?"
"Aku mau kuliah..."
Rina menatap Dika seolah bertanya.
Dika meraih kepala Rina dan mengusapnya lembut.
"Lakukan apa pun yang kamu suka, yang penting jangan pernah jauh dariku."
Rina mengangguk dan kembali menyadarkan kepalanya pada calon suami berondongnya.
"Janji sama aku bisa nggak?"
__ADS_1
Rina mendongak. "Janji apa?"
"Jangan minta nunda pernikahan begitu aku lulus, ya?"
"Iya. Papa kan juga udah bilang iya."
Mereka saling memeluk hingga pintu di depan mereka dua-duanya terbuka.
"Kakak..."
"Hmm..." Dika hanya berdehem sementara Rina tersenyum lebar.
"Kalian ada urusan apa sih Kak?"
"Urusan?" Dika dan Rina saling memandang.
"Iya urusan. Makanya Kak Dedi tadi minta aku tetep di dalam karena katanya kalian punya urusan."
Blush
Wajah Rina memanas. Untung mobil Dedi gelap, makanya tak ada yang tahu bagaimana muka Rina.
"Eng, emm..." Dika bingung harus berkata apa.
Dedi berusaha menutup mulutnya yang tertawa geli.
"Ta, nanti saja ya introgasinya. Katanya lapar?"
Dedi mengalihkan pembicaraan segera. Ia merasa sudah cukup memberi pelajaran pada bosnya kali ini.
Rista menurut. Perlahan kemudian mobil itu berjalan.
"Ya Tuhan, kapan liburan..."
Semua menatap Rista. Gadis ini hanya mringis dan mengangkat kedua jarinya.
"Peace Kak, peace."
"Liburan model apa sih Dik?" tanya Dika. "Kita kan sering jalan-jalan," lanjutnya.
Rina dan Dedi mengunci mulutnya. Meskipun penasaran, ia ingin memberi ruang pada kakak beradik ini untuk berbicara.
"Kayak apa Ris?"
Rista menoleh. Ia menatap ragu pada kakaknya yang duduk di jok belakang.
"Kayak dulu pas Papa masih ada," ucap Rista akhirnya.
Dika terdiam, sementara Rista kembali menghadap ke depan.
Dedi dan Rina yang merasa dirinya bukan bagian dari keluarga Dika hanya bisa mengunci mulutnya.
"Ded, bubur hantunya masih jauh nggak. Aku kok jadi lapar juga rasanya."
"Bubur hantu apa sih Kak, bubur setan!"
Ucapan ketus Rista berhasil mengundang tawa dari ketiga orang lainnya.
Di sela tawanya, Dedi bersyukur karena kebekuan sebelumnya telah cair saat itu juga.
Dika terus berbalas kata dengan adiknya. Sepertinya aku hampir lupa caranya bercanda. Batin Dika sambil tertawa dan memeluk kekasihnya.
"Ded, buburnya di Aceh apa dimana sih? Lama bener."
"Sabar Kak, yang laper kan Rista kok yang bawel Kakak."
Yang ditanya Dedi yang sewot Rista. Sepertinya Rista belum puas menginterupsi semua perkataan kakaknya.
"Belain aja terooosss. Kakak kamu siapa sih Ris."
Rina masih saja tertawa. Dia tak mau melewatkan momen langka ini, dimana Dika bisa tertawa lepas saat bercanda dengan adiknya. Menanggalkan kedudukannya sebagai bos dan kembali menjadi remaja dan seorang kakak bagi Rista.
"Ya kamu emang kakak Rista, tapi kak Dedi masa depan Rista, wleee..."
"Awas lu ya, batal deh rencana liburan akhir semester ini."
__ADS_1
"Yah Kakak, jangan dong. Rista udah pengen banget liburan abis lebaran ini."
Rista bahkan hingga memutar tubuhnya ke belakang, terus membujuk dengan Raut memohon agar sang kakak merealisasikan keinginannya.
"Kayaknya liburan sama Rina lebih asik deh," kata Dika ambil mencium kilat pipi Rina.
"Ih Kakak. Adek kamu Rista apa Kak Rina sih..."
Rista kembali merengek seperti biasanya.
"Kamu emang adik aku, tapi Rina masa depanku."
Tepat sasaran. Dika mengembalikan umpan Rista saat itu juga.
"Kakaaaaaakkk...."
"Jadi makan nggak, udah nyampe nih..." kata Dedi tiba-tiba.
Saking asiknya bercanda, mereka hingga tak sadar kalau kini sudah tiba di warung tenda tempat bubur setan yang menjadi tujuannya.
"Wah iya. Kok cepet ya," kata Rista.
"Cepet pala lu. Aku aja dari yang kenyang sampai lapar saking jauhnya," balas Dika.
"Udah ih. Masa sama adiknya nggak mau ngalah," sela Rina.
"Nanti dia kesenangan Sayang kalau aku ngalah terus."
"Ya aura kakaknya mana? Biasanya kakak kan selalu melindungi adiknya."
"Nah kan, Kak Rina aja tahu. Kakak itu melindungi, menyayangi, mengasihi. Bukannya ngebully sama mengintimidasi."
"Adiknya kurang ajar, makanya digituin."
Dasar Rista. Ia belum juga mau menyerah. Dedi pasrah saja saat lengan kirinya harus diremat atau ditarik oleh Rista sebagai pelampiasan kekesalannya dengan sang kakak. Ia memilih diam dan tak berusaha melerai. Karena ia tahu benar jika Dika sebenarnya sangat menyayangi Rista.
"Mau pesan semua?" tanya Dedi begitu berhenti di samping penjual bubur.
"Aku komplit ya Bang tapi topingnya pisah. Bisa nggak?" tanya Dika.
"Bisa Mas."
"Kamu gimana sayang?"
"Samain aja lah," jawab Rina.
"Rista komplit, Kak Dedi juga kan?"
Dedi mengangguk.
"Baik, Non. Silahkan ditunggu ya..." kata penjual bubur itu dengan ramah.
Keempat remaja ini segera mencari tempat duduk.
"Nyariin apa sih sayang?" tanya Rina saat melihat Dika yang matanya bergerilya ke setiap sudut warung tenda ini.
"Nyariian setan, kok belum nemu juga ya," jawab Dika dengan wajah serius.
Rina menepuk jidat. Ia lemas dan menyadarkan punggungnya di kursi.
"Ya ampun Kakak. Gimana sih. Logikanya ketinggalan dimana sih Kak..."
Rista juga tak habis pikir dengan kakaknya.
"Iya, ini logis banget, makanya aku pengen lihat muka setannya kayak apa," elak Dika.
"Setannya udah nyangkut di otak kamu," balas Dedi.
"Eh, udah bosen kerja lu."
"Sayang..." Meskipun Rina tahu bahwa Dika hanya bercanda, namun ia tak ingin bercandannya keterlaluan.
Dan bubur pun datang. Dan Dika malam ini benar-benar total dalam memainkan peran menjadi sosok yang super menyebalkan.
TBC
__ADS_1